Wedding Disaster

Wedding Disaster
Sama-sama salah


__ADS_3

Warning!!! ada adegan 21+ yang di bawah umur harap menyingkir๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ


๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚


Sisil mengerjapkan matanya saat sinar mentari masuk melalui celah gorden di kamar milik Arga. Dia menyesuaikan pandangannya melihat Arga yang tidur pulas di atas sofa. Sisil tersenyum jika teringat kejadian semalam yang hampir saja membuat Arga lupa diri. Karena merasa bersalah Arga memutuskan tidur di atas sofa, dan membiarkan Sisil tidur sendiri di atas ranjang miliknya.


Memakai baju kedodoran milik Arga, Sisil buru-buru masuk kedalam kamar mandi. Dia mencuci muka lalu menggosok giginya di depan wastafel, ada yang berbeda saat Sisil memandang dirinya di depan cermin. Bibirnya sedikit bengkak karena ulah Arga semalam yang menciumnya dengan ganas. Bahkan di sekitar area dadanya terdapat banyak tanda kemerahan, yang membuat Sisil tersipu jika mengingat kejadian semalam.


"Jangan Ga.." sebelum Sisil menyelesaikan ucapannya, Arga kembali menyapu bibir Sisil dengan posisi Arga yang mengungkung tubuhnya.


Sisil yang tidak siap dengan perlakuan Arga hanya bisa pasrah mengikuti permainan Arga. Ciumannya semakin dalam dan menuntut lebih. Bahkan sebelah tangan Arga sudah membuka kancing kemeja Sisil satu persatu hingga terbuka sepenuhnya.


Ciuman Arga turun menuju leher jenjang Sisil, di sesapnya kulit putih mulus nan menggoda itu. Sisil yang semakin terbakar gairah hanya bisa mendongakan kepalanya dan merem*as rambut Arga. Setelah puas dengan leher jenjangnya, ciuman Arga turun menuju tulang selangka dan berakhir di depan dua gundukan sintal yang masih berpenghalang kain berenda.


Arga semakin kalap dan menarik kain yang menutupi tubuh atas Sisil tanpa meminta persetujuan dari Sisil. Tanpa menunggu lama Arga mulai membenamkan wajahnya di atas dua gundukan itu, dia mulai menyes*ap, mengulu*mnya dan sebelah tangannya memilin dengan perlahan.


"Ahhh....Ga...ja..ngan!" des*ah Sisil karena tidak tahan menghadapi perlakuan Arga, antara menikmati dan rasa takut yang mendera.


"Nikmati aja sayang.."


Tangan Sisil semakin kuat merem*as rambut Arga saat Arga memberi tanda kepemilikan di sekitar area dada Sisil.


"Sshh...ahh..."


Arga semakin tersulut gairahnya saat mendengar suara desa*han dari mulut Sisil. Sebelah tangannya langsung menaikan rok span milik Sisil dan bergerak bebas menuju lembah kenikmatan milik Sisil yang masih berpenghalang.


Arga menegang saat tangannya menyentuh sesuatu yang sangat berharga bagi Sisil. Begitupun dengan Sisil dia terkejut dan langsung menggeleng cepat. Kesadaran Arga langsung pulih saat melihat tubuh Sisil yang sudah setengah telanjang. Buru-buru dia mengambil selimut dan menutupi tubuh Sisil.


"Maaf Sil.." Arga menunduk karena merasa bersalah. Meski tubuh bagian bawahnya sudah sangat menegang, tapi Arga akan merasa bersalah jika melakukan itu sebelum pernikahan.


Sisil tersenyum, bukan hanya Arga yang salah tapi Sisil pun salah karena dia menikmati semua perlakuan Arga.


"Kita sama-sama salah Ga,"


"Aku janji akan nikahin kamu secepatnya, biar kejadian seperti ini tidak terulang lagi."

__ADS_1


"Iya Ga, aku tunggu janjimu."


Arga lalu mencium kening Sisil dengan penuh kelembutan "tidurlah!! Aku nanti biar tidur di sofa saja."


Sisil cemberut dan menatap kemejanya yang tergolek lemah di lantai. Bagaimana dia bisa tidur jika dalam keadaan setengah telanjang.


Arga yang paham kemana arah pandang Sisil langsung membelai rambutnya, "Kamu gak keberatan kan jika pakai baju ku dulu?" tawar Arga.


Sisil tersenyum lalu mengangguk "iya Ga daripada aku gak pake baju,"


Tok tok tok !!


Suara ketukan pintu dari luar membuat Sisil tersadar dari lamunannya.


"Sil kamu di dalam?" tanya Arga dari luar.


"I..iya..Ga..aku di dalam." Sisil buru-buru merapihkan penampilannya dan membuka pintu kamar mandi.


Arga tersenyum melihat Sisil menggunakan kaos dan celana panjangnya yang kebesaran. Dia lalu menyerahkan paper bag kehadapan Sisil.


"Ini baju ganti kamu, semoga cocok ya."


Arga mengangguk dan membiarkan Sisil masuk kembali ke kamar mandi.


๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚


Sinar matahari kebetulan siang itu sangat merajai bumi, sebagaian orang memilih tetap tinggal di dalam rumah daripada harus berjibaku di luar bermandikan peluh yang membuat badan tidak nyaman. Sementara itu di sebuah rumah, tepatnya di depan kamar Azura, terlihat Azura tengah menatap tajam kearah Tristan dengan tangan yang bersidekap di dada.


"Kamu mau apa lagi kesini?" tanya Azura dengan nada sinis berdiri di depan pintu kamarnya.


"Tentu saja ingin bertemu sama kamu." jawab Tristan kalem.


Azura menyeringai "dari dulu kemana saja? kamu gak lihat aku sudah bertunangan sama kak Denis!!" Azura mengacungkan tangannya memperlihatkan sebuah cincin yang melingkar di jari manisnya.


"Itu cincin pernikahan kita sayang, bukan cincin pertunangan kamu sama Denis." ucap Tristan di dalam hati. Ingin rasanya Tristan memeluk dan mencurahkan segala rasa yang ada untuk Azura, namun dia harus menahan itu hingga waktunya tiba.

__ADS_1


"Aku sudah minta maaf berkali-kali sama kamu, tolong jangan ungkit lagi kejadian itu karena aku pun sudah menyesalinya."


"Benarkah? tapi semua ini sudah terlambat Tristan, andai saja kamu datang beberapa tahun yang lalu." Azura membalikan tubuhnya bersiap untuk kembali kedalam kamarnya, namun Tristan buru-buru mencegahnya dengan menahan pintu itu agar tidak tertutup.


"Lepas!!!"


"Please..jangan seperti ini Azura!!"


"Pergilah!! aku tidak mau bertemu kamu!!"


"Aku masih ingin bicara." Tristan akhirnya berhasil membuka pintu kamar Azura hingga terbuka sepenuhnya, buru-buru dia menutup pintu tersebut dan berjalan mendekati Azura.


"Hey!!! kamu mau apa?" tanya Azura panik karena tiba-tiba Tristan menutup pintu kamarnya.


Grepp!!


Tristan langsung membawa tubuh Azura kedalam pelukannya "please..sebentar saja Ra."


Tak ada penolakan dari Azura, dia hanya berdiri mematung merasakan tangan Tristan yang memeluk dirinya dengan erat. Azura bisa merasakan perasaan yang berbeda dan jantungnya berdebar dengan cepat saat berada dalam dekapan Tristan.


"Kenapa aku bisa senyaman ini berada di pelukan Tristan? maafkan aku kak Denis." ucap Azura di dalam hatinya.


Melihat Azura yang diam saja, Tristan melepas pelukannya dan menatap wajah istri tercintanya yang menunduk malu-malu. Tak ada Azura yang galak lagi, dia kini berubah menjadi pendiam karena perasaannya yang campur aduk.


Tristan mendongakan wajah Azura dan memangkas jarak di antara mereka.


Cup!!


Keberaniannya tiba-tiba saja muncul untuk melabuhkan bibirnya di atas bibir Azura yang sudah berminggu-minggu tidak dia rasakan semenjak Azura kehilangan ingatannya. Azura membulatkan matanya, ingin rasanya dia menolak tapi seluruh tubuhnya tiba-tiba mendadak kaku.


Merasa tak ada penolakan, Tristan mulai menahan tengkuk Azura untuk memperdalam ciumannya. Dia menggiring tubuh Azura hingga bersandar pada dinding kamar Azura. Tristan memberi gigitan-gigitan kecil agar Azura membuka mulutnya. Dan benar saja saat Azura membuka sedikit mulutnya, Tristan langsung menerobos dan mengeksplor seluruh rongga di dalam mulut Azura.


"Ahhh..." suara lenguhan yang tertahan dari mulut Azura, membuat gairah Tristan semakin terpancing.


bersambung...

__ADS_1


๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚


...Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, vote, koment dan masukin daftar favorit๐Ÿ’ždukungan kalian sangat berharga bagi author. Terima kasih๐Ÿ™๐Ÿ˜...


__ADS_2