
Tristan tersenyum menatap Azura yang sedang lahap menikmati makanannya. Kejadian yang baru saja terjadi di taman membuat Tristan tidak henti menebar senyum kebahagiaan. Pasalnya pengakuan Azura di depan semua orang, menumbuhkan setitik harapan bagi Tristan untuk memiliki Azura seutuhnya.
"Kalian lihat tadi ekspresi si Denis saat Azura ngakuin Tristan sebagai calon suaminya?" Kenzo memulai pembicaraan di tengah acara sarapan mereka.
"Mukanya jelas berubah jadi masam terus dia pergi gitu aja, gue puas banget lihat dia seperti itu. Saran gue ya mendingan lo sama Tristan beneran nikah deh Ra daripada Denis ngejar-ngejar lo terus!"
Uhuk!
Azura yang tengah makan langsung tersedak mendengar ucapan Alvero.
"Minum dulu Ra!" dengan sigap Tristan menyodorkan segelas air yang langsung di terima oleh Azura.
"Duuh kalian berdua cocok banget deh, aku setuju jika Azura nikah sama Tristan." ucap Agnes antusias.
"Iya aku juga setuju kamu sama Tristan, daripada balikan sama Denis." tambah Diandra.
"Kalian tenang saja, aku gak mungkin kembali sama Denis. Dia hanya masa lalu dan akan terus seperti itu selamanya, bagiku gak ada tempat lagi di hatiku buat orang seperti Denis."
"Bagus Ra aku setuju sama kamu, jadi kamu terima saja perjodohan kamu sama Tristan." usul Agnes.
"Apa sih Nes aku belum mau mikirin pernikahan."
"Aku akan menunggu hingga kamu siap Ra!" ucap Tristan tiba-tiba.
"Nah kamu denger sendiri, Tristan aja dengan sabar mau nungguin kamu."
Azura menoleh menatap Tristan yang duduk di sebelahnya, gak ada yang salah memang dengan Tristan tapi Azura masih terlalu takut untuk berhubungan serius bersama seorang pria.
"Maaf ya Tan, aku tadi ngakuin kamu calon suamiku di hadapan Denis." ucap Azura merasa tidak enak, karena secara tidak langsung dia sudah memberi sebuah harapan pada Tristan.
"Tenang aja Ra, justru aku seneng kamu ngakuin aku sebagai calon suami, ya meskipun cuma pura-pura."
"Maaf ya Tan aku jadi gak enak, Denis itu kan partner bisnis kamu."
"It's ok Ra, semua ini gak akan mempengaruhi hubungan kerjasama aku dengan perusahaan Denis kok."
"Beneran gak papa?"
"Iya Azura, selow aja yang ada Denis akan rugi jiga memutus hubungan kerjasama kita. Udah di lanjut lagi makannya, masih banyak tuh!"
"Eheem..." Alvero berdehem, mengusap mulutnya dengan tissue karena sudah selesai dengan makannya.
"Sayang, hari ini kita kan mau fitting baju pengantin. Kita balik duluan yuk keburu siang nanti." ajak Alvero pada Diandra.
"Ya udah, aku juga udah selesai makan kok!"
__ADS_1
Alvero dan Diandra beranjak dari duduknya "kita duluan ya..bye! Tagihannya biar Kenzo yang bayar."
"Kita juga balik yuk Ken aku udah selesai kok, kamu kan janji mau ajakin aku nonton!" ajak Agnes.
Azura heran dengan sikap Agnes, di lihatnya piring Agnes masih penuh dengan makanan, begitu juga dengan Kenzo.
"Loh Nes, makanan kamu masih banyak sayang loh kalau gak di habisin!" ucap Azura.
"Aku udah kenyang Ra, kalian berdua lanjut aja. Aku sama Kenzo mau jalan ke mall dulu."
"Emang kalian berdua pacaran?" tanya Tristan penuh selidik.
Kenzo terkekeh, begitupun dengan Agnes mereka tersenyum malu-malu. Kenzo lalu meraih tangan Agnes dan menciumnya di hadapan Azura dan Tristan.
"Iya sekarang gue pacaran sama Agnes, kita duluan yah semua makanan ini biar gue yang traktir."
Azura membulatkan matanya, karena Agnes tidak pernah cerita jika dia sedang berpacaran dengan Kenzo.
"Gerak cepat lo Ken,"
"Iya donk Tan, lo juga harus bergerak cepat biar gak keduluan orang." ujar Kenzo dengan mata melirik pada Azura.
"Kita duluan ya Ra, Tan..baek-baek kalian berdua!"
๐๐๐
"Mereka berdua cepet juga ya, padahal belum lama kenal." ujar Tristan.
"Mungkin udah jodohnya kali,"
Azura dan Tristan lalu melanjutkan kembali acara makan yang sempat tertunda tadi. Keduanya tidak terlalu banyak bicara dan fokus pada makanan mereka. Sesekali Tristan mencuri pandang menatap Azura yang terlihat cantik dengan rambut di ikat ekor kuda. Sungguh menggemaskan pikir Tristan, jika bisa ingin rasanya dia mencubit pipi Azura.
"Kok bengong Tan? Kenapa gak di habisin makannya?" tanya Azura heran karena Tristan terus menatap Azura mengabaikan makanannya yang masih tersisa.
"Eh...aku kenyang Ra, ya udah kita mau kemana lagi?"
"Balik aja kali ya,"
"Masa balik Ra, mumpung libur kita jalan juga."
"Pake baju kayak gini? Nggak deh, kita pulang aja."
"Mau pake baju apapun di mataku kamu terlihat cantik Ra."
"Gombal!" Azura beranjak dari duduknya di ikuti Tristan dari belakang, setelah keluar dari cafe tempat mereka makan Azura dan Tristan memutuskan untuk kembali ke taman yang berada tepat di sebrang jalan. Tristan meraih tangan Azura saat mereka hendak menyebrang jalan yang penuh hilir mudik kendaraan bermotor. Awalnya Azura kaget dengan perlakuan Tristan, namun seulas senyum terbit dari wajah cantiknya, Azura membiarkan tangannya di genggam hingga mereka sampai di taman.
__ADS_1
"Kamu tunggu disini sebentar ya Ra!"
Azura mengangguk membiarkan Tristan berjalan menjauh darinya, ternyata Tristan menghampiri salah satu pedagang yang berjualan di taman itu. Lima menit kemudian Tristan datang membawa dua permen kapas di tangan kiri dan kanannya.
"Nih buat kamu satu." Tristan menyodorkan salah satu permen kapasnya yang langsung di terima Azura.
"Kayak anak kecil aja Tan masa kita makan permen kapas!" cebik Azura.
Tristan tertawa lebar "aku hanya ingin mengenang masa kecil kita, aku inget banget dulu kamu suka beliin aku permen kapas ini."
Azura dan Tristan hanyut dalam pikiran mereka masing-masing, apalagi jika bukan mengingat memori masa kecil mereka. Di makannya sedikit demi sedikit permen yang mengandung banyak gula tersebut, baik Azura maupun Tristan merasakan manis saat permen kapas itu masuk kedalam mulutnya.
"Zura.."
"Hmmm..."
"Kamu tahu persamaan kamu sama permen kapas ini?"
Azura menggeleng, membiarkan Tristan melanjutkan ucapannya.
"Tentu saja kalian itu sama-sama manis," ujar Tristan terkekeh, sontak Azura mencubit pinggang Tristan karena gombalannya di rasa sangat garing.
"Berhenti menggombal Tristan! apa itu cara kamu untuk menarik perhatian cewek-cewek kamu di Jerman...ckck sungguh menyebalkan."
Tristan tersenyum melihat raut wajah Azura berubah jadi kesal, dia lalu meraih tangan Azura mengecupnya dengan segenap perasaan.
"Aku tidak seperti itu Ra, dari dulu hingga sekarang hati aku ini sudah terikat sama kamu, meskipun aku gak tahu wajah kamu."
Azura menarik tangannya yang di genggam oleh Tristan "tapi sayangnya aku gak percaya!"
"Apa aku terlihat bercanda Ra, aku bahkan serius ingin menikah denganmu!"
"Diantara kita tidak ada perasaan apapun, apa bisa dua orang yang tidak saling mencintai itu menikah?"
"Kamu salah Azura! mungkin kamu belum ada perasaan apapun sama aku, tapi aku dari awal kita bertemu aku sudah tertarik sama kamu!"
Deg
Azura menatap wajah Tristan, sedikitpun dia tidak menemukan kebohongan disana.
bersambung...
๐๐๐
...Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, vote, koment dan masukin daftar favorit๐dukungan kalian sangat berharga bagi author. Terima kasih๐๐...
__ADS_1