
"Ahhh..." suara lenguhan yang tertahan dari mulut Azura, membuat gairah Tristan semakin terpancing.
Tristan semakin liar mengeksplor seluruh rongga di dalam mulut Azura, membuat Azura tersengal karena kehabisan nafasnya. Dengan sekuat tenaga Azura mendorong dada Tristan hingga ciuman itu terlepas begitu saja.
"Plak!!"
Satu tamparan meluncur bebas di area pipi Tristan, membuat Tristan tersadar akan kesalahan yang dia perbuat.
"Dasar gilaa!!" menggunakan punggung tangannya Azura menghapus seluruh jejak bibir Tristan di area bibirnya. Setelah itu Azura berlari ke kamar mandi, meninggalkan Tristan yang mematung karena kaget.
Tristan mengacak rambutnya karena menyesal sudah mencium Azura di saat ingatannya belum kembali, hubungannya pasti akan semakin jauh saja mengingat Azura pasti akan sangat membenci dirinya.
"Azura...sayang maafin aku, harusnya aku bisa menahan diriku." gumam Tristan menatap pintu kamar mandi yang tidak kunjung terbuka.
Tok tok tok !!!
"Azura maafin aku..please kamu keluar ya!!"
Tak ada sahutan.
"Aku akan nunggu kamu hingga kamu keluar!!"
"Pergi!!! Aku gak mau bertemu dengan kamu lagi Tristan!!" teriak Azura di dalam kamar mandi.
Tristan menyadari kesalahannya, dia lalu memilih keluar dari kamar Azura daripada membuat Azura semakin membenci dirinya.
Setelah merasa tak ada suara Tristan lagi, Azura lalu keluar dari kamar mandi. Dia duduk di depan meja rias dan menatap pantulan dirinya di cermin. Azura menyentuh bibirnya, merasakan hangatnya bibir Tristan yang menempel beberapa menit yang lalu. Namun dengan cepat dia menggelengkan kepalanya, terbayang wajah Denis dan timbulah rasa bersalah dalam dirinya.
"Maafkan aku kak.." lirih Azura dengan rasa penyesalan yang besar.
"Harusnya tadi aku menolak tapi kenapa aku malah diam saja, dan ciuman tadi kenapa begitu tidak asing, seolah aku sering melakukannya dengan Tristan." Azura memegang kepalanya berharap ada sesuatu yang dia ingat, tapi nihil semua memori tentang Tristan satupun tidak ada yang dia ingat, hanya memori masa kecilnya saja yang masih melekat.
Azura memilih merebahkan tubuhnya di atas kasur dan melupakan kejadian yang sangat menyiksa hatinya. Bayangan Denis tiba-tiba saja muncul namun secepat kilat berganti bayangan Tristan yang tersenyum kearahnya. Buru-buru Azura menutup wajahnya dengan bantal demi untuk mengusir bayangan Tristan.
๐๐๐
Hari berganti hari minggu pun sudah berganti minggu, genap dua bulan sudah sejak peristiwa kecelakaan itu terjadi. Belum ada perubahan yang signifikan pada kondisi Azura, padahal Azura sudah melakukan terapi berulang kali. Seperti saat ini Azura tengah melakukan kontrol di sebuah rumah sakit swasta di temani mamah Theolla.
"Tadinya Tristan mau kesini nak buat nemenin kamu kontrol, tapi mendadak dia ada meeting penting." ujar mamah Theolla saat mereka duduk di kursi tunggu.
__ADS_1
"Gak usah mah!! Lagian aku masih malas bertemu dia. Aturan kak Denis aja yang nemenin aku."
Terhitung dua minggu sudah berlalu sejak Tristan mencium Azura, selama itu pun Azura selalu menghindar dari Tristan. Saat Tristan datang kerumah, Azura memilih untuk berdiam diri di kamar dan tidak ingin bertatap muka dengannya.
"Kamu gak boleh gitu sayang, bagaimana pun Tristan orang yang begitu dekat sama kamu, marahnya jangan kelamaan kasihan kan dia."
"Salah siapa dia berbuat kurang ajar sama aku, gak tahu apa aku ini udah tunangan sama kak Denis."
Mamah Theolla hanya menghela nafas panjang mendengar Azura terus membahas Denis. Selama dua minggu ini papah Jupiter selalu mencari alasan jika Denis sedang ada pekerjaan di luar kota, sehingga Azura tidak merengek meminta bertemu dengannya.
"Apa sedikit pun kamu gak ada rasa sama Tristan?"
"Rasa apa yang mamah maksud?"
"Ya rasa keterikatan antara kamu sama Tristan?"
"Mamah ini sebenarnya ngomong apa sih? Jangan ngaco aku mana ada..rasa seperti itu sama Tristan."
Lagi-lagi mamah Theolla hanya bisa menghela nafas panjang mendengar penuturan Azura.
"Kira-kira kapan kak Denis pulang dari luar kota mah?"
Mamah Theolla mengedikan bahunya, dia bingung harus menjawab apa karena kenyataannya Denis tidaklah keluar kota.
"Kak Denis.." gumam Azura.
Mamah Theolla mengikuti arah pandang Azura, dia pun sama terkejutnya melihat Denis bersama wanita hamil.
Azura langsung beranjak dari duduknya, dia melangkah dan menghampiri Denis yang sudah berlalu pergi.
"Kak Denis!!" teriakan Azura memenuhi lorong rumah sakit, membuat Denis dan wanita hamil itu berbalik dan menghentikan langkahnya.
Denis tersentak kaget saat mendengar suara Azura yang memanggil dirinya, buru-buru dia melepaskan genggaman tangannya pada wanita hamil di sampingnya.
"A..a...azura?"
Azura tidak menghiraukan sapaan Denis, matanya hanya fokus pada wanita hamil yang berdiri di samping Denis.
"Dia siapa kak?" tunjuk Azura pada si wanita hamil dengan tatapan yang begitu tajam.
__ADS_1
"Dia..dia..hanya saudaraku Ra."
Tiba-tiba si wanita hamil mengalungkan tangannya pada lengan Denis "saudara apa sih yank? kita kan udah nikah satu bulan yang lalu."
Azura menutup mulutnya mendengar ucapan si wanita hamil, sementara mamah Theolla melongo kaget tidak menyangka jika Denis sudah menikah kembali.
"Hei mba dengar ya kak Denis ini tunanganku,kamu jangan ngaku-ngaku ya jadi istri dia!!" ucap Azura sengit pada si wanita hamil.
"Anda yang jangan ngaku-ngaku, Denis ini suamiku dan sekarang aku sedang hamil anak dia."
Azura mendorong tubuh Denis dengan keras "maksudnya apa nih kak? kamu selingkuh dari aku..kita kan udah tunangan kenapa kamu malah nikah sama wanita lain!!" luruh sudah air mata Azura, hatinya begitu sakit melihat kenyataan yang ada di depan matanya.
Sementara Denis serba salah harus berbuat apa, kenyataannya wanita hamil itu memang istri barunya. Dengan perut yang sudah membuncit Riri meminta Denis untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Riri adalah salah satu dari teman kencan Denis yang sudah dia nikmati tubuhnya. Mereka menikah satu bulan yang lalu saat Denis sudah datang menemui Azura. Saat Denis menikah dengan Riri usia kandungan Riri saat itu sudah memasuki 6 bulan.
"Jawab kak!!!" teriak Azura.
"Udah sayang kamu yang tenang ya," mamah Theolla mencoba menenangkan Azura.
"Jadi ini alasan kamu bilang keluar kota padahal kamu nikah sama wanita lain kan? jawab Denisss!!"
Karena Denis tidak kunjung menjawab Azura lalu memukuli Denis dengan tasnya "dasar pengkhianat!! aku benci sama kamu!!"
Mamah Theolla kewalahan menghadapi amukan Azura begitupun dengan Denis, sementara Riri hanya mematung menyaksikan adegan di depan matanya. dia tidak bisa berbuat apa-apa karena takut terjadi sesuatu dengan kandungannya.
"Hentikan Azura!! Hentikan!! hubungan kita sudah berakhir lima tahun yang lalu, kamu sekarang sedang sakit dan menganggap kita masih bertunangan padahal kenyataannya tidak!!" beber Denis sudah kepalang basah akhirnya dia membongkar semuanya.
Azura menggeleng dengan air mata terus mengalir "nggak!!itu semua gak benar!!"
"Itu benar Azura..aku cape dengan kepura-puraan ini, sekarang kita sudah hidup masing-masing dan kamu pun sudah menikah dengan Tristan!!"
"Denis!!" mamah Theolla melotot agar Denis tidak meneruskan ucapannya, bukan hak Denis untuk memberitahukan semuanya pada Azura.
"Nggak..itu nggak mungkin!!" Azura berteriak histeris dan memegang kepalanya yang terasa berdenyut nyeri. Ingatan-ingatan tentang kegagalannya saat dulu menikah dengan Denis mulai berkelebat. Rasa sakit karena pengkhianatan, rasa kecewa dan air mata bercampur menjadi satu hingga sosok Tristan muncul membawa senyuman di wajah Azura.
Setelah itu pandangan Azura menjadi gelap, tubuhnya pun limbung namun dengan cepat mamah Theolla menangkap tubuh Azura.
"Azuraaa...!!"
bersambung..
__ADS_1
๐๐๐
...Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, vote, koment dan masukin daftar favorit๐dukungan kalian sangat berharga bagi author. Terima kasih๐๐...