
"AKU takut jika bertanya tentang bagaimana kabarmu..." kata Ayu sedikit bercanda.
"Kenapa?"
"Terakhir kali aku bertanya, kamu menghilang."
Arshaka tersenyum menatap mata Ayu, "kabarku, selalu merindukan kamu..."
Wajah Ayu kini memerah, diam-diam ia suka saat Arshaka mengatakannya. Mereka duduk di bagian luar kafe, Arshaka bersedia menunggu hingga makan siang hanya untuk bisa mengobrol lebih panjang dengan Ayu seperti ini.
"Jadi, apa yang buat kamu pindah ke Jakarta?" Tanya Arshaka penasaran, "Aku melihat akun sosial mediamu dan tau kafe ini dari sana."
Batin Ayu ingin menjerit, rasanya ia ingin menjawab sekeras-kerasnya, kamu! Alasannya kamu! Namun kata itu tak bisa terucap sedikit pun.
"Aku cuman pengen cari pengalaman baru aja." Jawab Ayu singkat.
Arshaka mengangguk, mulutnya membentuk huruf o tanda mengerti. Ia masih tampan seperti biasa, hari ini pakaiannya sangat rapi. Lebih rapi daripada terakhir kali Ayu lihat saat mereka masih berada di desa.
Dulu ia hanya bisa melihat Arshaka mengenakan baju kaos oblong pemberian Dhany, namun sekarang ia mengenakan kemeja putih dengan kerah yang sedikit di longgarkan, tidak lupa juga dasi hitamnya.
Sebenarnya, sampai saat ini pun Ayu masih tidak tahu apa pekerjaan dari Arshaka, tentu dia tidak bisa menanyakannya secara terang-tengan begitu. Mereka butuh waktu untuk mengenal lebih jauh.
"Apa kondisimu sudah membaik sekarang?" Tanya Ayu kini ganti penasaran, ia memberikan isyarat jari telunjuknya pada kepala, membuat Arshaka terkikik melihatnya.
"Aku menjalani terapi ke Singapura sebulan terakhir, hari ini aku baru sampai di Indonesia..." Arshaka mengakhiri kalimatnya dengan sedikit memiringkan kepala, ingin lebih memperhatikan Ayu.
"Kenapa melihatku begitu?"
"Kamu cantik!"
Lagi-lagi Ayu tersipu malu, namun ia menikmatinya. "Lalu, apa kamu sudah mengingat semuanya?" tanya Ayu lagi tidak ingin terlihat senang dengan pujian yang diberikan Arshaka barusan.
"Belum terlalu, aku masih harus menjalani konsultasi dan terapi lanjutan disini," Arshaka melihat kekhawatiran dari sorot mata Ayu, "aku tidak berobat ke luar negeri lagi, karna orang tuaku menyuruhku untuk segera menangani sesuatu disini." Lanjut Arshaka menjelaskan agar Ayu tidak khawatir jika ditinggalkan lagi.
"Semoga kamu segera sembuh ya..."
"Kenapa?" Tanya Arshaka karena ia masih melihat entah wajah kekhawatiran atau ketidaknyamanan disana. "Apa ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan?"
"Ah itu..." Ayu ragu-ragu, apakah tidak masalah jika ia mengatakan ini atau lebih baik pura-pura tidak tahu? Namun dengan bukti Arshaka mengetahui akun sosial medianya artinya Arshaka sudah mengetahui bahwa selama ini Ayu melihat foto tunangan mereka.
__ADS_1
"Ya?"
"Aku... cuman mau ucapin selamat atas pertunangan kamu kemarin" pada akhirnya Ayu memutuskan untuk memberi tahunya saja.
"Oh tentang itu, sebenarnya..."
Ayu tiba-tiba tersenyum senang, mencoba menutupi segala keresahannya. "Dia pasti wanita pemilik cincin waktu itu ya! Aku ikut seneng dengernya, semoga kalian langgeng ya...!"
"Ayu, sebenarnya dia--"
"AYU!" Panggil Farhan dari dalam kafe, ia menghampiri Ayu, "jam makan siang udah selesai!" ucap Farhan mengingatkan sembari menunjuk jam tangannya.
Biasanya Farhan tidak pernah seperti ini, dia justru senang jika Ayu mau beristirahat lebih lama. Namun ia resah saja semenjak kedatangannya Arshaka. Melihat mereka mengobrol hanya berdua seperti itu membuat Farhan kesal.
"Ah iya! Maaf jam makan siangku udah habis..."
"Kita lanjut besok?" Tawar Arshaka setengah berharap, ia masih ingin menjelaskan kepada Ayu bahwa bukan itu yang terjadi sebenarnya.
"Aku nggak janji..." Jawab ayu segera masuk, jelas itu hanya terdengar seperti alasan klasik untuk menghindar dari seseorang.
Sebenarnya, Ayu pun ingin mengobrol lebih lama dengan Arshaka, namun ia ingat jika Arshaka bukanlah miliknya dan lagi ia sudah berjanji kepada dirinya sendiri bahwa ia hanya ingin bertemu dengan Arshaka satu kali lagi saja.
"Aku besok ke—"
"Arshaka, kamu bisa pulang sekarang. Makasih sudah mau menemuiku," kata Ayu menahan rasa sedihnya. "Oh iya! Aku hampir melupakannya..." Ayu mengambil sesuatu dari tasnya, ia sudah mempersiapkan ini sejak pertama kali gajian kemarin. Ayu memberikan sebuah amplop ke tangan Arshaka, "ini uang dari orang tua kamu kemarin, aku mengembalikannya karna tidak berhak menerimanya."
Arshaka sedih, ia ingin mengembalikannya namun takut Ayu tersinggung dan ia juga sudah yakin pasti Ayu mengumpulkan ini dengan kerja kerasnya. Lalu Ayu segera masuk kafe meninggalkan Arshaka sendirian diluar.
...\~oOo\~...
Dokter menyuntikkan sesuatu di bahu lengan Arshaka, pria itu sedikit meringis. Bukan karna sakitnya suntikkan, tapi betapa menyakitkannya jika ia mengingat kejadian tadi siang saat di kafe bersama Ayu.
Ia seperti ingin putus asa, apakah ini memang akan menjadi kali terakhir mereka bertemu? Arshaka berusaha mengirimi Ayu pesan, namun dari banyaknya pesan yang ia kirim tak ada satupun yang Ayu balas.
"Sudah," ucap Dokter mengelus bekas suntikkan di bahu Arshaka.
"Apa aku masih harus minum obat, Dok?"
"Iya, kamu harus rutin meminumnya jika ingin ingatanmu segera kembali..."
__ADS_1
Arshaka hanya mengangguk, ia lebih diam dari biasanya.
"Apa menurutmu kamu sudah mengingat semuanya?" Tanya dokter itu hendak menuliskan sesuatu di layar komputernya.
Arshaka menggeleng, "Aku sudah mengingat tentang masa kecil, remaja, namun kejadian beberapa tahun ke belakang masih susah teringat..."
"Tidak apa-apa, pelan-pelan saja. Jangan dipaksakan, minum obatnya secara rutin kamu akan mengingatnya perlahan nanti." Nasihat dari Dokter sebelum Arshaka meninggalkan ruang periksa.
Arshaka keluar dari ruangan tersebut, sudah ada Salina yang menunggunya diluar. Dia hanya diam saat gadis itu melingkarkan tangannya pada lengan Arshaka. Rupanya Ia sudah terbiasa dengan kehadiran Salina disana.
Arshaka tidak lagi mengomel jika gadis itu membuntutinya, ia tidak lagi ingin protes jika gadis itu membuatnya kesal. Entah mengapa, namun semuanya terasa semakin biasa untuk Arshaka.
Ditambah dengan fakta bahwa mereka sempat tinggal bersama saat di Singapura, mungkin hal itu juga yang mendekatkan keduanya.
"Sepertinya kamu sudah sembuh kenapa masih harus berobat?" Tanya Salina merasa Arshaka sudah cukup baik-baik saja sekarang.
"Aku masih belum mengingat apa yang terjadi beberapa tahun belakang."
"Tidak ada yang penting tahun-tahun lalu..." komentar Salina seadanya.
"Kenapa? Kamu takut aku tahu tentang sesuatu?"
Salina manyun kesal dengan alis yang bertaut, tubuhnya semakin menempel pada tubuh Arshaka. "Ih kamu tuh ya! Aku nggak takut tuh, kaya aku ada salah aja," ucapnya disertai tawa.
Arshaka hanya diam tak menjawab, mereka kini sedang berjalan menuju ke arah parkiran. Sesekali pria itu berpindah posisi agar Salina tetap berada di dalam badan jalan.
Mungkin bagi Arshaka itu lah yang akan dilakukan setiap pria, namun Salina menganggap itu hal romantis dan petunjuk bahwa Arshaka diam-diam telah membuka hatinya untuk Salina. Hanya perhatian kecil dan remeh yang tidak sengaja Arshaka lakukan, namun dengan perlahan bisa juga menghancurkan benteng pertahanan hatinya.
Arshaka membukakan pintu mobil untuk Salina, lalu ia segera mengambil tempatnya.
"Arsha..." Panggil Salina pelan, mereka sudah duduk disana, Arshaka hendak menyalakan mesin mobil.
Saat Arshaka menoleh, Salina sudah mendekat ke tubuhnya ia bisa merasakan aroma pria itu. Selama ini, semenjak Arshaka kembali, mereka sama sekali belum pernah mencium satu sama lain. Dengan perlakuan Arshaka barusan, perhatian kecilnya, membuat Salina semakin percaya diri bahwa ia sudah berhasil membuka hatinya.
Salina mendekat, batang hidung mereka sudah nyaris tertempel hingga sebuah notifikasi pesan dari ponsel Arshaka berbunyi.
Salina melihat ponsel yang layarnya menyala di depan itu, ia hanya bisa membaca tulisan "aku bisa bertemu hanya di hari Minggu..."
"Siapa?" Tanya Salina spontan.
__ADS_1
"Client," jawab Arshaka mendorong tubuh Salina kembali menjauh. Ia sendiri bingung apa yang telah ia lakukan, kenapa ia berusaha menyembunyikan Ayu? Dan kenapa pula ia hampir luluh dan mencium Salina?