
Tak pernah terpikir oleh Azura jika Tristan akan melakukan hal seintim itu padanya, di dalam lift pula. Bagaimana jika ada orang lain yang melihat semuanya, apa kata orang-orang? anak dari pemilik perusahaan kepergok berbuat mesum di dalam lift, bahkan membayangkannya saja sudah membuat Azura pusing tujuh keliling. Bisa-bisa pengangkatannya menjadi direktur akan di batalkan oleh papah Jupiter.
Sepanjang hari di sisa jam kerjanya Azura lebih banyak melamun, bahkan dia tidak bisa fokus dengan pekerjaannya. Saat sampai rumah pun dia lebih memilih mengurung dirinya di kamar, dengan dalih tidak enak badan. Makan malam pun mamah Theolla yang membawakannya ke kamar.
Apa karena terlalu lama menyendiri membuat Azura pasrah saja saat Tristan mengambil ciuman dari bibirnya, memang ini bukan first kiss seperti anak remaja yang baru berpacaran. Denis lah yang sudah mengambil first kiss Azura dulu saat masa berpacaran, itu pun hanya sekali karena Azura memberikannya di saat Azura dan Denis sudah bertunangan, Azura pikir dulu Denis akan menjadi suaminya, makanya dia pasrah saat Denis mengambil ciuman pertamanya.
Dengan wajah yang sedikit di tekuk Azura duduk di depan meja rias menopangkan sebelah tangannya di dagu. Berulang kali dia meraba bibirnya merasakan sensasi yang tak biasa saat Tristan menciumnnya. Apa mungkin Azura sudah bisa menerima Tristan dan mulai membuka hati untuknya. Entahlah Azura sendiri sangat sulit untuk menjawabnya.
Suara deringan ponsel yang berada di atas nakas, membuat Azura menghentikan lamunannya. Terdapat 10 panggilan tak terjawab dan 15 pesan whatsapp dari Tristan sejak dari tadi siang, namun Azura abaikan begitu saja tanpa berniat untuk membukanya.
"Tristan maunya apa sih? aku kan masih kesel sama dia." gumam Azura tanpa memperdulikan suara ponselnya.
Tiba-tiba Azura menangkap suara ribut-ribut yang berasal dari bawah. Karena penasaran Azura buru-buru keluar kamar dan melihat apa yang terjadi disana. Ternyata suara ribut-ribut itu berasal dari arah ruang tamu, dan Azura langsung menutup mulutnya saat melihat Denis tengah di pukuli Alvero. Mamah Theolla berteriak minta tolong untuk menjauhkan Alvero dari Denis. Beruntung papah Jupiter langsung datang bersama pak Rahmat satpam yang berjaga di depan.
"Bangs*at lo! masih berani datang ke rumah gue!" teriak Alvero, dia meronta ingin kembali menghajar Denis namun kedua tangannya di tahan papah Jupiter dan pak Rahmat.
"Sabar Al, kamu gak bisa main hakim sendiri. Dia bisa melaporkan kamu nanti atas tindakan kekerasan." tegur papah Jupiter.
Denis yang tersungkur dibawah langsung berdiri sambil memegangi sudut bibirnya yang berdarah "maaf om, tante aku datang kesini untuk bertemu Azura." ucap Denis tanpa memperdulikan tatapan tajam yang di hunuskan oleh Alvero.
"Halah perset*an! masih punya muka lo ya buat ketemu Azura, setelah elo mempermalukan keluarga gue bisa-bisanya lo datang lagi kesini."
"Diam Al!"
"Tapi pah, dia kan..."
"Papah bilang diam! kamu masuk ke kamar kamu jika tidak bisa mengontrol diri kamu sendiri! sejak kapan kamu berubah jadi emosian seperti ini."
Alvero yang masih tersulut emosi pun memilih untuk pergi dan masuk kedalam kamarnya. Dia terlalu muak jika harus berhadapan dengan pria yang sudah mempermalukan keluarganya.
__ADS_1
"Duduklah!" ucap papah Jupiter dingin, bagaimana pun Denis tamu di rumahnya sudah seharusnya papah Jupiter memperlakukannya dengan benar, meskipun dulu dia pernah mempermalukan keluarganya.
Setelah di persilahkan Denis langsung duduk, di ikuti papah Jupiter, mamah Theolla dan juga Azura.
"Apa maksud kedatangan kamu kemari?" tanya papah Jupiter langsung ke intinya.
"Aku hanya ingin meminta maaf pada keluarga besar om, terutama buat Azura karena dulu aku sudah mempermalukan keluarga kalian." ucap Denis sungguh-sungguh.
"Maaf kamu basi Denis!" ketus Azura.
"Sayang.." mamah Theolla menggeleng, agar Azura tidak tersulut emosi seperti Alvero.
"Apa dengan kamu meminta maaf bisa mengembalikan semuanya seperti semula? itu tidak akan Den, meskipun kami sudah melupakan kejadian itu tapi bagi Azura semua itu akan membekas selamanya dan menjadi trauma tersendiri bagi dirinya."
"Saya tahu om, saya tidak pantas mendapatkan maaf kalian tapi ijinkan aku menebus semua kesalahanku dulu."
"Caranya?"
"Biarkan aku menikahi Azura dan menghilangkan trauma itu."
"Pikiran kamu kejauhan Denis, kalau pun Azura akan menikah itu bukan bersama pria seperti kamu yang pernah menyakitinya. Saya sudah mempersiapkan calon yang tepat untuk pendamping hidup Azura."
Tanpa di sangka tiba-tiba Denis berlutut di bawah kaki papah Jupiter "saya mohon om, saya tahu kesalahan saya fatal tapi saya bersungguh-sungguh ingin kembali sama Azura."
"Kamu gak tahu malu banget ya Denis! tadi papahku bilang apa, aku sudah punya calon suami jadi kamu jangan berkhayal untuk kembali sama aku!" sentak Azura.
"Bangunlah!" papah Jupiter menepuk-nepuk bahu Denis, dia lalu beranjak dari duduknya.
"Urus Denis mah obati lukanya, papah ke kamar dulu!"
Azura menolak dengan keras ketika mamah Theolla menyuruh Azura untuk mengobati luka Denis yang di sebabkan pukulan Alvero. Karena desakan dari mamah Theolla dengan terpaksa Azura menyetujuinya.
__ADS_1
๐๐๐
Denis menatap Azura dengan intens saat Azura mengobati luka yang berada di area sekitar wajah dan juga bibirnya. Pukulan Alvero ternyata mengundang berkah bagi Denis karena kini dia bisa melihat wajah Azura dari jarak yang dekat.
"Kamu tambah cantik ya Ra, aku nyesel banget dulu gak jadi nikahin kamu."
Mendengar ucapan Denis, Azura menekan dengan keras luka di wajah Denis sehingga Denis meringis kesakitan.
"Awww....sakit Ra pelan-pelan donk!"
"Udah selesai, lebih baik sekarang kamu pergi dari sini dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku dan juga keluargaku!" usir Azura dengan sebelah tangannya menunjuk ke pintu.
"Apa gak bisa kita bicara dulu sebentar?"
"Aku gak punya banyak waktu buat ngobrol sama mantan brengs*ek."
"Ya aku dulu memang brengs*ek, tapi aku sudah menyadari kesalahanku apa sedikit pun kamu gak bisa lihat aku Ra?"
Azura berdecak kesal karena Denis tidak kunjung pergi dari rumahnya "denger ya Denis! aku sudah mau menikah jadi tolong kamu jangan ganggu aku lagi, aku gak mau calon suamiku jadi salah paham!"
Denis tertawa mendengar ucapan Azura dia lalu berbisik tepat di samping Azura "bukannya Alvero ya yang sebentar lagi mau nikah? bukan kamu? jadi sebelum ada janur kuning aku masih ada harapan buat milikin kamu lagi."
"Dasar gila!!" sentak Azura dia lalu beranjak dari duduknya menuju pintu.
"Silahkan ini pintu keluarnya!!"
Karena sudah di usir Denis pun terpaksa keluar, seringai terbit dari bibirnya sebelum dia benar-benar pergi "aku pulang dulu sayang sampai..."
Bruk!
Azura langsung menutup pintunya dengan keras sebelum Denis melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
๐๐๐
...Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, vote, koment dan masukin daftar favorit๐dukungan kalian sangat berharga bagi author. Terima kasih๐๐...