
NAPAS Ayu mulai terdengar gusar, ia mondar-mandir sesekali mengigiti kuku jarinya. Pikirannya melayang entah kemana, kini dirinya sedang bersama Arshaka di ruang tunggu rumah sakit.
Arshaka sendiri masih diam belum memulai pembicaraan dan justru itu yang lebih dikhawatirkan oleh Ayu. Kenapa pria ini tidak mengatakan apapun, padahal sudah jelas dirinya sedang dituduh.
“Arshaka…” panggil Ayu menghentikan langkahnya ragu-ragu.
Namun Arshaka justru berdiri tak menatap mata Ayu sedikit pun, “aku mau cari kopi bentar…” ucapnya melangkah pergi.
Apa ini? Kenapa Arshaka mendadak dingin kepadanya?
Ayu kemudian duduk di bangku yang sebelumnya ditempati oleh Arshaka.
Tak menunggu lama setelah itu, datanglah Kinan dengan langkah yang terburu-buru. Ia sudah menyoroti mata Ayu sejak di kejauhan.
Saat mendekat, tangannya segera menggapai rambut panjang Ayu dan ia tarik hingga Ayu harus menunduk kesakitan. “Apa yang kamu lakukan pada Salina? Hah?!”
“Tante… aargh, sakit…” rintih Ayu mencoba menyingkirkan tangan Kinan namun ini sangat sulit.
“Jawab!!!”
“Tante aku tidak menyakiti Salina sama sekali…”
Kinan enggan mendengar alasan Ayu, ia lalu mendorong kepala Ayu hingga gadis itu tersungkur di lantai ubin rumah sakit yang keras.
Ayu kini berusaha berdiri, tidak ingin Arshaka datang cepat dan memergokinya dengan keadaan seperti ini.
“Jangan coba-coba menyakiti putriku! Sampai kapanpun, kamu tidak akan pernah menggantikan posisi Salina, mengerti!!!” Teriak Kinan sangat marah. Ia pasti sudah sangat menyayangi Salina hingga dianggapnya anak sendiri.
Kenapa ini sangat menyakitkan? Ayu harus mendengar kalimat itu terucap dari calon mertuanya sendiri.
Saat Ayu sudah berdiri, ia hendak berpamitan, rasanya ia tidak tepat sekarang untuk berada disini, “saya akan datang lagi nanti…”
“Jangan pernah mendekati keluargaku lagi! Sebaiknya kamu pergi sejauh mungkin! Tidak ada yang mengharapkan kehadiranmu disini!!!” Usir Kinan membuang muka enggan melihat wajah Ayu sedikitpun.
Ayu tidak ingin mendengarnya, sangat tidak ingin.
Ia melangkahkan kakinya perlahan, berharap akan berpapasan dengan Arshaka nanti di persimpangan agar bisa berpamitan. Namun ia tak ada disana.
Ayu menelan ludahnya sendiri, ia pergi sendirian kini. Hanya dengan tubuhnya dengan jiwa yang sudah pergi entah kemana.
...\~oOo\~...
Hari sudah berlalu, “Kamu masih mau nekad ke rumah sakit, Yu?” Tanya Rina menggigit potongan apelnya, ia sedang berada di apartemen menemani Ayu.
Sebelumnya Ayu sudah menceritakan semua kejadian sebenarnya kepada Rina dan tentu saja hanya sehabatnya itu yang akan mempercayai segala cerita gilanya.
Ayu tak lupa membawa rangkaian bunganya, hanya setangkai bunga untuk menghiasi kamar inap Salina nanti.
“Aku akan menemanimu kalau kamu mau…” ucap Rina lagi sedikit iba.
__ADS_1
Ayu hanya menggeleng, “makasih, Rin, tapi ini masalah yang harus kuselesaikan sendiri.”
“Kamu yakin bisa menghadapi orang gila itu?!” Tanya Rina sama sekali tidak berempati dengan fakta Salina sekarang yang masuk rumah sakit karena ulahnya sendiri, “maksudku, tega banget dia nuduh kamu mau bunuh dia?”
“Aku paham…” ucap Ayu pasrah, “dia kaya gitu karna lagi terdesak…”
“AYU! Meskipun dia terdesak atau saking cintanya sama Arshaka, caranya itu udah salah!” Rina sangat emosi mendengar Ayu malah memaklumi kelakuan Salina.
“Iya, Rin. Aku tau kok,”
“Terus?”
“Aku mau buktiin kalo aku nggak salah.” Ucap Ayu dengan yakin, ia pasti bisa membuktikan kepada Arshaka dan kedua orang tuanya bahwa itu semua adalah ulah Salina sendiri.
...\~oOo\~...
Sudah 2 hari semenjak Salina dirawat di rumah sakit, kini Ayu sudah berada di depan ruangan tempat Salina dirawat.
Ia masuk dan kebetulan sedang tidak ada siapa pun disana, Arshaka sempat mengabari bahwa Salina sudah membaik walaupun tangannya kini harus rela menerima banyak perban yang membalutnya.
“Apa kamu sudah sembuh?” Tanya Ayu meletakkan setangkai bunga di dalam pot kaca yang berisi air.
Salina menoleh, lalu tersenyum puas melihat raut wajah Ayu yang tidak bahagia.
“Sepertinya sudah membaik ya…” lanjut Ayu tanpa peduli pertanyaannya dijawab atau tidak. Ia kemudian duduk di kursi samping tempat Salina berbaring.
“Bagaimana rasanya?” Tanya Salina tiba-tiba.
“Kekalahan.” Salina menyeringai puas.
Ayu hanya diam tidak menjawab, sudah jelas sekali bahwa Salina sangat senang dengan hasil dari perbuatannya kemarin.
“Kamu tau, itu adalah kelemahan Arshaka dari dulu. Dia sangat takut kalau aku terluka, bukti bahwa dia masih sangat mencintaiku!” Ucap Salina bangga, “aku akan lebih senang jika kamu beneran ingin membunuhku.”
Ayu hanya menatap gadis itu tidak percaya.
“Aku bisa saja lebih menyakiti diriku sendiri, dan aku bisa melakukan apapun yang kumau!”
Kini Ayu menghela napas tanpa ingin meresponnya.
“Arshaka selalu menemaniku selama aku di rumah sakit. Apa kamu kesepian?” Salina merasa bahagia kepada dirinya sendiri, karena Arshaka hanya ada di dekatnya saat ia sakit.
“Aku memang menyuruhnya menemanimu, mengingat kamu sangat bergantung dengan keluarga Arshaka…” sindir Ayu melihat luka di tangan Salina dengan tatapan nanar.
Salina menatap Ayu dengan mata penuh dendam.
“Bagaimana rasanya?” Ayu membalik pertanyaan Salina sebelumnya.
“Apa?!”
__ADS_1
“Keputusasaan.”
Salina meremas tangannya di balik selimut, ia sangat membenci Ayu. Terutama hari ini.
Ia tidak pernah mengira jika Ayu bisa bersikap berani kepadanya. Salina merasa harga dirinya sangat terinjak-injak.
“Aku tidak akan pernah membencimu, Sa…” ucap Ayu kemudian.
Ia sangat tahu jika Salina sangat membencinya, terkadang Ayu pun tidak menyukai sikap gadis itu, namun dari lubuk hati Ayu yang terdalam, ia sama sekali tidak ingin menyimpan dendam kepada Salina.
“Tidak usah sok!” Jawab Salina acuh.
“Kita masih muda, Sa, kamu sangat cantik dan berkecukupan, kenapa melakukan hal seperti ini yang menyakiti dirimu sendiri…”
“Karna aku tidak ingin melihatmu bahagia…”
“Apa kamu bahagia jika bisa balas dendam kepadaku?” Tanya Ayu penuh iba.
Salina melihat Ayu dengan tatapan tidak suka, “sayangnya, iya. Aku tidak akan pernah membiarkan kamu merebut Arshaka dariku!”
Ayu terdiam, hendak mengatakan sesuatu namun ia tahan.
Percuma saja memberitahunya, Salina tetap akan keras kepala dengan segala egonya.
Tak lama setelah itu, seseorang muncul dari balik pintu. Seseorang yang sedang diperdebatkan oleh keduanya. Arshaka.
Ia segera menghampiri Salina senang melihatnya sudah sadarkan diri.
“Arshaka!” Panggil keduanya nyaris bebarengan.
“Ayu? Kamu kesini?” Tanyanya kemudian menyapa.
“Iya, aku segera kesini setelah kamu kabari keadaan Salina sudah membaik.” Ayu menunjuk sebatang bunga yang ia bawa barusan, “aku membawakan sesuatu juga untuknya…”
Arshaka hanya membalas senyuman, lalu mendekati Salina, membenarkan posisi selimut yang terbuka agar Salina tetap hangat.
Sedetik ia memegangi kening Salina dengan penuh perhatian, di hadapan Ayu, tidak salah lagi!
Ayu menautkan alisnya, jika di depan Ayu saja Arshaka bisa berperilaku seperti ini, bagaimana dengan kemarin-kemarin saat mereka hanya ditinggal berdua?
Dada Ayu seketika sesak, namun ia harus menahannya.
“Kamu udah makan tadi?” Tanya Arshaka, bukan kepada Ayu namun sepenuhnya kepada Salina. Tatapannya, hanya tertuju pada Salina.
“Iya, tadi ada suster yang nganter makanan kok…”
“Gimana tangan kamu? Udah nggak sakit?” Tanya Arshaka lagi sembari menyentuh perban di tangan Salina sebentar.
Ayu heran apa dirinya sedang tidak terlihat disana? Apa tubuhnya tiba-tiba berubah menjadi gas? Kenapa Arshaka seperti menganggapnya tidak ada?
__ADS_1
Disini Ayu juga merasa sangat sakit, mungkin bukan tubuhnya, tapi hatinya.