
Satu bulan kemudian...
Setelah drama penangkapan Denis berakhir, akhirnya Azura dan Tristan bisa hidup tenang karena orang yang mencelakakan mereka sudah mendekam di penjara. Denis dan Vino masing-masing mendapat hukuman lima tahun penjara atas percobaan pembunuhan terhadap Tristan dan Azura.
Selama satu bulan ini kehidupan rumah tangga Tristan dan Azura di penuhi dengan warna, cinta dan kasih tak henti Tristan berikan untuk sang istri tercinta. Keduanya semakin mesra saja sebagai pasangan suami dan istri, membuat siapapun yang melihat pasti akan iri melihat kemesraan pasangan ini.
Seperti malam ini Tristan dan Azura tengah berkumpul bersama Alvero, Diandra, Kenzo dan Agnes. Mereka berenam tengah menikmati weekend mereka di sebuah cafe yang berada di pusat kota.
Tristan begitu posesif merengkuh pinggang Azura agar tidak duduk terlalu jauh darinya, melihat perlakuan Tristan sukses membuat Alvero dan Kenzo saling mencibir.
"Itu tangan kondisikan donk bro!!" Kenzo hanya menggeleng melihat Tristan yang begitu posesif.
"Oh tidak bisa!! satu senti pun Azura tidak boleh jauh dari gue," Tristan tidak memperdulikan pandangan teman-temannya, dia malah sengaja menyenderkan kepalanya pada bahu Azura.
"Ihh Ay...berat tahu." Jadi selama satu bulan ini Azura mengubah panggilan sayangnya pada Tristan menjadi Ay๐
"Ra sejak kapan Tristan menjadi begitu posesif sama kamu?" tanya Diandra merasa heran dengan tingkah Tristan.
"Sejak dalam kandungan." ucap Tristan asal menanggapi pertanyaan Diandra.
"Lebay amat sih lo!!" kali ini Alvero yang angkat suara.
"Terserah suka-suka gue!!" Tristan tidak mau kalah, kini bahkan Tristan semakin bergelayut manja pada lengan Azura.
"Ya ampuun Tristan tingkah lo rada aneh deh akhir-akhir ini." Agnes yang sedari tadi hanya menyimak pun akhirnya buka suara.
"Ay gak boleh gini malu di lihatin orang," bisik Azura.
Tristan pun melepaskan rengkuhannya dengan wajah yang merajuk "huh ya sudah kita pergi dari sini, kita lanjut di rumah ya sayang."
"Pulang? baru aja setengah jam lo disini masa udah pulang?" ucap Alvero tak terima.
"Gue pusing kalau kelamaan di tempat rame, kalian lanjutkan saja gue sama Azura pulang duluan ya."
Azura pun akhirnya tidak bisa menolak keinginan Tristan yang ingin segera pulang kerumah, meskipun Azura tidak enak sama teman-temannya.
"Gak asyik lo bro!!" hardik Kenzo.
"Maaf ya semuanya, nanti lain kali kita kumpul-kumpul lagi ya." sebelum meninggalkan cafe tersebut Azura terlebih dulu berpelukan bersama Diandra dan Agnes.
__ADS_1
Setelah tiga puluh menit menempuh perjalanan keduanya tiba di kediaman Opa Pramudya. Tristan langsung mengajak Azura untuk masuk kedalam kamar, karena hawa ngantuk yang sudah menyerangnya. Azura hanya menggelengkan kepala karena tidak biasanya Tristan buru-buru untuk tidur.
"Sini sayang!!" Tristan melambai menyuruh Azura mendekat, karena Azura masih betah duduk di depan meja rias membersihkan wajahnya.
"Nanti aku nyusul Ay, ini baru jam berapa aku belum ngantuk."
"Tapi aku maunya tidur di peluk sama kamu sayang, ayolah!!"
"Ya ampun ay, gak biasanya kamu seperti ini kalau mau tidur tinggal tidur saja."
"Gak bisa sayang!! aku maunya sama kamu."
Azura hanya bisa menghela nafas melihat tingkah Tristan yang kekanakan. Dengan terpaksa dia pun menaiki ranjang dan memeluk tubuh Tristan.
"Nah ini baru istriku!!" Tristan menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher Azura, mengendusnya dan sesekali menghis*ap leher jenjang milik Azura. Saat tengah menikmati sensasinya tiba-tiba Tristan merasakan pusing yang mendera, buru-buru dia menjauhkan wajahnya dari ceruk leher Azura.
"Kenapa?" tanya Azura heran melihat Tristan yang sedikit menjauh.
"Kamu ganti parfum ya sayang?"
"Hah?" Azura hanya melongo mendengar pertanyaan Tristan.
"Kenapa aku tiba-tiba mual mencium bau parfum kamu?"
"Ganti sayang!! aku gak kuat mencium baunya." Tristan tiba-tiba menutup tubuhnya dengan selimut dan membelakangi Azura.
"Ini kenapa lagi sih Tristan?" gumam Azura dalam hati.
๐๐๐
Pagi mulai menyapa, hangatnya cahaya sinar mentari mulai masuk ke celah-celah gorden kamar yang sedikit terbuka membangunkan seseorang yang masih bergelung di dalam selimut. Azura yang baru keluar dari kamar mandi hanya menggelengkan kepala melihat Tristan yang kembali terlelap. Tanpa pikir panjang Azura langsung membuka seluruh gorden kamar, sehingga cahaya matahari masuk sepenuhnya.
"Tutup gordennya!! ini silau banget sayang!!"
"Udah siang ay..kamu gak berangkat ke kantor?"
"Baru jam berapa ini masih sangat pagi." ucap Tristan dengan suara seraknya.
"Udah jam 7 ay..aku harus berangkat pagi-pagi karena ada meeting penting, ya udah kalau kamu mau tidur lagi aku berangkat sendiri saja!!"
__ADS_1
"Jangan!! ya udah aku mandi dulu, pokoknya kamu gak boleh berangkat sendiri." Tristan buru-buru masuk kekamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Lima belas menit kemudian Tristan sudah rapi dengan setelan kemejanya, dia lalu bergabung bersama Azura dan Opa Pramudya yang sudah terlebih dulu berada di meja makan. Terdapat aneka jenis lauk pauk yang sudah tersaji di meja makan yang sangat menggugah selera. Azura dengan sigap melayani Tristan mengambilkan nasi dan lauk pauknya.
"Lauknya mau pake apa ay?"
"Semur ayam, telur dadar, gurame saus padang, orek tempe, goreng tahu, di kasih sambal sedikit kayaknya enak tuh."
Azura mengernyitkan dahinya melihat Tristan yang memilih sejumlah lauk, karena tidak biasanya dia seperti ini. Setiap makan paling Tristan memilih dua jenis lauk yang berbeda.
"Tumben amat kamu makan banyak Nak?" tanya Opa Pramudya heran.
"Iya nih Opa menu sarapan kali ini sepertinya enak-enak, makanya aku mau coba semuanya."
Satu suap, dua suap Tristan makan dengan lahap namun di suapan ketiganya Tristan menghentikan kunyahannya karena rasa mual yang tiba-tiba mendera. Buru-buru dia berlari kearah wastafel untuk memuntahkan semua isi perutnya.
Azura langsung berlari untuk menyusul Tristan ke dalam kamar mandi dan memijit tengkuknya "ay apa yang terjadi sama kamu?"
"Entahlah tiba-tiba aku merasa mual, mungkin asam lambungku sedang naik."
"Ya sudah aku ambilkan obat ya?"
"Gak perlu sayang, aku minta air hangat saja."
Azura pun menuruti keinginan Tristan untuk mengambil air hangat, sementara Tristan kembali ke meja makan.
"Apa kamu sakit cucuku?"
"Tidak Opa, mungkin asam lambungku sedang naik."
Azura datang lalu menyodorkan segelas air hangat untuk Tristan "kalau kamu gak enak badan aku berangkat sendiri saja ke kantor."
"Jangan sayang, aku masih kuat nyetir kok. Ya udah kita berangkat yuk!!"
Azura mengangguk mengiyakan permintaan Tristan, setelah berpamitan dengan Opa Pramudya keduanya lalu berangkat ke kantor.
"Sepertinya ada yang aneh dengan cucuku, apa mungkin cucu menantuku tengah hamil?"
bersambung...
__ADS_1
๐๐๐
...Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, vote, koment dan masukin daftar favorit๐dukungan kalian sangat berharga bagi author. Terima kasih๐๐...