
Pagi mulai menyapa, lalu lalang kendaraan bermotor mulai terlihat di sejumlah ruas jalanan ibu kota. Sebagian orang kembali menyibukan dirinya dengan berbagai aktifitas yang menguras tenaga, mencari nafkah untuk keluarga tercinta.
Di sebuah perusahaan terlihat seorang pria tengah beradu mulut dengan seorang wanita, si pria hanya duduk manis di atas kursi kebesarannya mendengar si wanita yang terus mengoceh semenjak kedatangannnya.
"Dimana otak kamu Denis, rencana kita hampir berhasil tapi semua gagal gara-gara kecerobohan kamu yang membongkar semuanya, sehingga Azura kembali mengingat semuanya. Padahal nih ya sedikit lagi aku bisa mendapatkan hati Tristan." ujar Karina sambil berkacak pinggang dengan mata menatap tajam kearah Denis.
"Udah ngomongnya?"
"Kamu banyak berubah Den semenjak nikah sama ******* itu."
"Tutup mulut kamu Karin!! Riri itu istri aku sekarang, yang berarti dia kakak sepupu kamu dan kamu harus menghormatinya karena ada anak aku di dalam perut Riri."
"Cih!! Kamu percaya begitu saja bayi itu anak kamu?"
Denis beranjak dari duduknya mendengar ucapan Karina, dia langsung menarik lengan Karina dengan keras.
"Keluar kamu dari sini jika ingin membuat keributan!!"
"Lepasin Denis!!" Karina meronta mencoba melepaskan cekalan Denis, namun Denis semakin kuat menarik lengan Karina dan membawanya keluar dari pintu.
"Pergi lo dari sini!! Awas saja jika sampai lo menginjakan kaki lagi di kantor gue!!"
"Lo bakalan nyesel karena udah ngusir gue Den!!"
Denis tidak memperdulikan ucapan Karina dan menutup pintu dengan keras. Karina yang sudah kesal pun buru-buru pergi dari kantor Denis.
Sementara itu di waktu yang sama namun di tempat yang berbeda Arga terlihat mendatangi sebuah gudang yang sudah terbengkalai. Disana terlihat pak Damar dan beberapa anak buahnya yang sudah menunggu. Mereka lalu memasuki sebuah ruangan dengan pencahayaan yang minim. Terlihat seorang pria duduk di atas kursi dengan tangan terikat dan mulut di tutup lakban.
"Dia adalah Vino.. orang yang sudah menyabotase mobil milik tuan muda di hari pernikahannnya." ucap pak Damar.
Arga mendekati orang itu dan duduk berhadapan dengan Vino dan membuka lakban yang menutup mulutnya.
"Jadi benar lo yang sudah merusak rem mobil bos kami?"
Vino yang sudah babak belur hanya menyeringai, tidak menjawab ucapan Arga.
"Jawab bren*gsek!!"
"Ciih!! Apa untungnya kalau gue jawab."
"Ternyata lo memilih di bawa ke kantor polisi daripada menjawab pertanyaan gue." Arga menarik kerah baju milik Vino dan menatapnya tajam.
"Cepat katakan apa motif lo melakukan ini semua? Dan siapa dalang di balik semua ini?"
"Kalian tidak akan mendapatkan apapun karena menangkap gue, karena gue tidak berniat untuk membongkar semuanya."
Bugh
__ADS_1
Bugh
Bugh
Karena kesal Arga menghajar Vino hingga tersungkur ke lantai. Vino diam saja tidak bisa melawan karena kedua tangannya terikat.
"Jika dia tidak mau ngomong kita serahkan saja ke kantor polisi pak, percuma juga menahannya di sini."
"Saya terserah kamu saja Ga, tapi apa tidak sebaiknya kita menunggu tuan muda pulang?"
"Tuan muda masih beberapa hari lagi berlibur, saya tidak ingin mengganggu waktunya dengan nona Azura."
"Baiklah kita bawa dia ke kantor polisi, mudah-mudahan saja dia mau bicara siapa dalang di balik semua ini."
Setelah menimbang baik dan buruknya akhirnya Arga dan pak Damar membawa Vino ke kantor polisi.
๐๐๐
Tiga hari sudah berlalu semenjak Tristan dan Azura berlibur ke Puncak. Tak banyak yang mereka lakukan selama tiga hari tersebut, hanya berdiam diri di dalam Villa tepatnya di dalam kamar, karena Tristan begitu posesif tidak mengijinkan sang istri keluar dari kamar.
Dari pagi, siang, sore hingga malam mereka terus melakukan kegiatan yang begitu memacu adrenalin, tak ada kata bosan dari kamus keduanya. Tristan yang terus meminta jatahnya tidak pernah mendapat penolakan dari Azura, keduanya menikmati kebersamaan sebagai pengantin baru.
"Sayang aku bosan berada di kamar terus, hari ini kita jalan-jalan keluar ya?" pinta Azura penuh harap. Dia menekan-nekan dada bidang milik Tristan saat keduanya selesai melakukan aktifitas yang melelahkan.
Tristan yang masih berpeluh keringat memeluk Azura semakin erat dan mencium puncak kepalanya penuh kasih sayang.
Azura langsung duduk begitu mendengar ucapan Tristan "beneran sayang?"
"Iya sayangku."
"Makasih ya sayang.." Azura mencium bibir Tristan sekilas lalu turun dari ranjang untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket. Tristan hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Azura yang begitu menggemaskan, buru-buru Tristan menyusul Azura ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Satu jam kemudian Azura dan Tristan sudah siap untuk berjalan-jalan di sekitar area perkebunan teh. Keduanya memutuskan untuk memakai sepeda menikmati hamparan kebun teh yang menghijau, apalagi hari masih pagi sehingga cuaca masih terasa sejuk dan segar.
"Mang, bi...kita berangkat dulu!!" ucap Azura yang sudah duduk di depan di bonceng oleh Tristan.
"Iya non, den..hati-hati di jalannya!!"
Mang Dadang dan bi Siti menatap kepergian kedua majikannya yang semakin menjauh dari pandangannya.
"Akhirnya ya pak, den Tristan dan non Azura keluar kamar juga...ibu heran deh mereka tidak bosan apa sepanjang hari tinggal di dalam kamar." ujar bi Siti sambil melanjutkan acara menyapu halaman.
"Hush!! ibu gak boleh ngomong gitu namanya juga pengantin baru, ya wajarlah bu kayak gak pernah ngerasain aja ibu ini." timpal mang Dadang dengan kedua tangannya sibuk memotong rumput.
"Tapi kita dulu gak segitunya deh pak,"
"Ibu aja yang lupa."
__ADS_1
"Masa sih pak?"
"Namanya faktor usia lanjut jadi ibu pelupa sekarang,"
"Huh si bapak ini!!" bi Siti hanya mencebik mendengar ucapan dari mang Dadang.
Azura dan Tristan memilih mengistirahatkan tubuhnya, setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh mengitari hamparan perkebunan teh yang menghijau milik Opa Pramudya. Keduanya beristirahat di sebuah kursi kayu yang menghadap ke perkebunan, disana banyak para pekerja yang tengah memetik daun teh.
"Nih minumlah!! kamu pasti capek." Azura menyodorkan sebotol air mineral yang di belinya di jalan tadi.
Tanpa menunggu lama Tristan langsung menghabiskan setengah dari air mineral tersebut.
"Suasananya sejuk banget ya sayang, gak ada yang namanya polusi udara."
"Iya makanya aku betah banget kalau tinggal disini Tan,"
Obrolan mereka terpangkas saat ponsel Tristan berdering.
"Telepon dari Arga, aku angkat dulu ya sayang!!"
Azura tersenyum dan mengangguk mengiyakan.
"Ada apa Ga,"
"Maaf tuan mengganggu waktunya, orang yang kita cari sudah tertangkap dan sekarang sudah saya serahkan ke kantor polisi."
"Serius Ga? baguslah jika begitu,"
"Tapi dia belum buka suara mengenai siapa dalang di balik semua ini,"
"Tunggu gue pulang Ga, lo urusin dulu semuanya nanti setelah cuti gue selesai tuh orang biar jadi urusan gue."
"Baik tuan. Kalau gitu selamat menikmati liburannya!"
Tristan lalu menutup panggilannya bersama Arga, Azura yang penasaran menatap Tristan penuh tanda tanya.
"Ada apa?"
"Orang yang mencelakai mobil kita sudah tertangkap dan sudah di bawa ke kantor polisi sayang."
Azura membelalakan matanya mendengar ucapan Tristan, dia mengucap syukur karena orang yang membahayakan nyawanya sudah mendekam di kantor polisi.
bersambung...
๐๐๐
...Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, vote, koment dan masukin daftar favorit๐dukungan kalian sangat berharga bagi author. Terima kasih๐๐...
__ADS_1