Wedding Disaster

Wedding Disaster
Hati yang terluka


__ADS_3

Hari mulai beranjak sore sebagian karyawan di PT Widjaya grup sudah membubarkan diri. Sementara di ruangannya Azura masih berkutat dengan beberapa laporan yang dia pelajari, rasa lelah karena seharian bekerja tidak membuat Azura mengeluh justru kini dia mulai mencintai pekerjaan barunya.


Tok tok tok !


Suara pintu yang di ketuk membuat Azura mendongakan kepalanya "Masuk!".


Sisil yang mulai hari ini resmi menjadi asisten pribadi Azura terlihat datang membawa beberapa file di tangannya.


"Maaf bu ini ada beberapa berkas yang harus di tanda tangani!"


"Simpan di atas meja saja Sil, nanti saya tanda tangani."


Sisil lalu menyimpan berkas tersebut di meja kerja Azura "kalau gitu saya permisi dulu bu."


"Tunggu Sil!"


"Iya bu?"


"Jika pekerjaanmu sudah selesai, kamu bisa pulang! Suami kamu kan biasanya udah jemput jam segini."


"Loh ibu bagaimana?"


"Aku sebentar lagi juga pulang, kamu gak usah khawatir."


"Baiklah kalau gitu saya permisi dulu."


Azura kembali berkutat dengan pekerjaannya sementara Sisil langsung pamit undur diri.


Di lobi kantor Sisil masih terlihat duduk di kursi tunggu, seperti biasa setiap sore sang suami selalu menjemputnya tapi kali ini entah kenapa dia belum juga menampakan batang hidungnya. Berulang kali Sisil melihat jam yang melingkar di tangannya, sudah hampir setengah jam dia menunggu.


"Aku pulang naik taxi saja, mungkin mas Reza gak akan jemput aku."


Baru Sisil melangkah keluar tiba-tiba dia mendengar ada yang memanggil namanya. Sisil menoleh kebelakang dan ternyata setengah berlari Arga mengejarnya.


"Arga kamu disini juga?"


"Iya kebetulan aku habis meeting bersama tuan muda dan pak Alvero. Ini kamu mau pulang?"


Sisil mengangguk.


"Mau naik apa?"


"Mungkin taxi, soalnya suamiku gak jemput."

__ADS_1


"Oh gitu. Mau bareng aku? Sepertinya kita satu arah?" tawar Arga.


"Gak usah Ga, nanti malah merepotkan aku pulang naik taxi aja."


"Tidak merepotkan sama sekali, ya udah kamu tunggu sini aku bawa mobil dulu ya!"


Sisil pun akhirnya menerima ajakan Arga untuk ikut menumpang dengan mobilnya.


Sore itu jalanan ibu kota terlihat padat, berbagai kendaraan terlihat menumpuk karena kemacetan di jam pulang kerja. Suasana seperti ini sudah tidak asing lagi, kemacetan seolah menjadi ikon bagi penduduk ibu kota.


Mobil yang di kendarai Arga pun melambat karena dia terjebak dengan kemacetan, Sisil yang berada di sebelahnya terlihat fokus menatap keluar jendela.


"Ada yang kamu pikirin Sil?" pertanyaan dari Arga membuat Sisil menolehkan kepalanya.


Sisil tersenyum dan menggeleng pelan.


"Selamat ya ku dengar kamu sudah naik jabatan menjadi asisten pribadi nona Azura." ucap Arga. Perlahan mobilnya kembali melaju meninggalkan kemacetan.


"Kamu kok bisa tahu?"


"Tadi pak Alvero yang ngasih tahu perihal ini. gimana rasanya menjadi seorang asisten?"


"Lumayan pusing juga lebih baik jadi staff biasa saja, sepertinya aku harus belajar banyak sama kamu Ga."


"Boleh, aku bisa jadi guru privat buat kamu." kekeh Arga.


"Mas Reza.." gumam Sisil.


"Kenapa Sil?" Arga lalu mengikuti arah pandang Sisil pada mobil yang berhenti di sebelahnya. Pintu mobil itu sedikit terbuka sehingga bisa dengan jelas melihat apa yang terjadi disana. Seorang pria tengah membelai rambut seorang wanita yang bersandar pada pundaknya. Sesekali si pria nampak menciumi puncak kepala wanita.


"Kamu kenal orang itu?"


Dengan perasaan terluka Sisil menyaksikan pemandangan di sebelahnya, hatinya sakit seperti di cabik oleh benda tajam. Meskipun Sisil dan Reza menikah tanpa cinta, tapi Sisil begitu menghormati pernikahan ini. Tak ada niat sedikit pun bagi Sisil untuk menghianati pasangannya. Dia menjalani pernikahan ini dengan ikhlas tanpa pernah mengeluh sedikitpun.


"Dia suamiku."


Arga tersentak mendengar penuturan Sisil, pemandangan yang beberapa menit terjadi di sebelahnya menandakan jika pria tersebut mempunyai hubungan khusus dengan wanita yang duduk di sampingnya.


"Apa perlu kita kejar mobil itu Sil?" Arga kembali melajukan kemudinya karena lampu merah sudah berubah menjadi hijau. Bahkan mobil di sebelahnya sudah terlebih dulu meluncur jauh di depan sana.


"Sepertinya aku tahu kemana mereka pergi."


๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚

__ADS_1


Seorang pria dan wanita saling bergandengan tangan begitu mereka masuk ke dalam lift sebuah apartemen. Keduanya tersenyum penuh cinta saling mendamba satu sama lain, tatapan orang-orang di dalam lift tidak mereka perdulikan karena dunia serasa milik mereka berdua. Keduanya langsung keluar dari lift begitu tiba di unit apartemen milik Reza, suami dari Sisil.


"Buruan sayang buka pintunya!" bisik si Wanita.


"Sabar sayang sebentar lagi," Reza nampak gemas melihat tingkah wanita yang kini berada di pelukannya. Wanita yang sudah satu tahun ini dia kenal sebagai staff di kantor tempat dia bekerja, dan terpaksa Reza menjalani hubungan terlarang ini secara diam-diam karena Reza harus terjebak menikah dengan gadis yang tidak di cintainya.


Begitu pintu apartemen terbuka si wanita dengan agresif langsung mengalungkan lengannnya di leher Reza, sementara Reza langsung menarik tengkuk si wanita dan melum*at bibir sensual miliknya. Tiga hari tidak berjumpa karena Reza pergi keluar kota, membuat keduanya seperti mendapat oase di tengah gersangnya gurun pasir. Tanpa melepaskan tautan bibirnya Reza mendorong tubuh si wanita menuju kamar tempat mereka biasa memadu kasih.


Tanpa menunggu lama Sisil yang sudah berdiri di depan pintu apartemen milik suaminya, langsung membukakan pintu karena Sisil pun mengetahui passwordnya. Tapi sebelum Sisil masuk Arga terlebih dulu menahan lengannya.


"Tunggu Sil! apa kamu siap melihat sesuatu yang terjadi di dalam sana?"


"Aku harus memastikan jika kecurigaanku selama ini benar, mas Reza sudah menghianatiku." ucapnya pasti tanpa ada keraguan sedikitpun.


Arga hanya bisa pasrah saat Sisil melangkah masuk kedalam, Arga mengikuti Sisil menguatkan wanita itu jika terjadi sesuatu di dalam sana. Dan benar saja begitu masuk kedalam suasana hening tercipta, sayup-sayup terdengar suara desa*han dari dalam kamar.


Dengan hati yang berkecamuk Sisil mengikuti suara menjijikan itu kearah kamar yang tertutup rapat. Arga kembali menahan lengan Sisil agar tidak meneruskan langkahnya, karena Sisil pasti akan terluka melihat pemandangan di dalam sana. Tapi Sisil tidak perduli dia hanya ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri. Dan..


Brak!


Sisil membuka pintu dengan keras, dia tertegun melihat suaminya tengah mencumbu wanita lain. Air matanya luruh seketika, bahkan selama empat bulan menikah sekalipun Reza tidak pernah menyentuh dirinya.


"Sisil.."


Kedua tubuh yang tengah menyatu itu otomatis langsung memisahkan diri mendengar pintu yang dibuka sangat keras, Reza buru-buru meraih celananya menutupi bagian bawah tubuhnya, sementara si wanita langsung membungkus tubuhnya dengan selimut.


"Brengs*ek kamu mas!" satu tamparan mendarat di pipi Reza dan Sisil langsung menarik rambut si wanita yang bersembunyi di belakang tubuh Reza.


"Dan kamu wanita *******! apa tidak malu heh merebut suami orang." teriak Sisil penuh kemarahan.


"Stop Sisil!" Reza menahan tangan Sisil agar berhenti menjambak kekasih gelapnya.


"Jadi kamu lebih membela wanita ini mas daripada istri kamu sendiri?" sentak Sisil penuh emosi.


"Maaf Sil tapi memang dia wanita yang aku cintai bukan kamu."


Sakit.


Sisil memegang dadanya yang berdenyut nyeri, perkataan Reza membuat hati Sisil begitu terluka. Meski tak ada cinta dalam pernikahan mereka, tapi Sisil sakit hati karena merasa di khianati.


Arga yang berdiri di ambang pintu langsung menghampiri Sisil dan membawanya keluar dari tempat terkutuk itu.


bersambung...

__ADS_1


๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚


...Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, vote, koment dan masukin daftar favorit๐Ÿ’ždukungan kalian sangat berharga bagi author. Terima kasih๐Ÿ™๐Ÿ˜...


__ADS_2