
Bandung, Tujuh Tahun Lalu
Suara peluit panjang terdengar hingga keluar peron. Serangkaian kereta menuju Semarang siap diberangkatkan. Xora bergeming kaku di tempatnya berdiri. Telapak tangannya terasa dingin sekaligus kaku. Gadis dua puluh lima tahun itu menatap nanar punggung tunangannya yang sedang check in di loket kereta. Seharusnya bulan depan mereka menikah. Namun takdir bicara lain. Pernikahan keduanya harus ditunda karena sang lelaki harus segera berangkat ke Jakarta selama seminggu lalu melanjutkan perjalanan hingga Amsterdam untuk mengisi posisi kosong di perusahaan tempatnya bekerja.
"Jangan sedih, Xora. Aku janji setelah semua urusan selesai, aku akan langsung menikahimu dan membawamu kemana pun aku pergi," janji Tristan setelah ia kembali dari loket.
Air mata Xora mulai merembes. Rasa getir tiba-tiba menyeruak di dalam dadanya, sesak. Sedikit marah tapi tak ada yang bisa ia lakukan. Mimpi Tristan di depan mata, karirnya baik, tidak mungkin Xora menahannya hanya untuk egonya sendiri. Menerima dengan ikhlas lah satu-satunya jalan.
Tristan memeriksa barang bawaannya sekali lagi. Setengah jam lagi keretanya datang. Masih ada sedikit waktu bersama Xora. "Kamu mau kita duduk dulu?" tanya Tristan.
"Enggak usah, kamu langsung masuk aja," ucap Xora dengan bibir mengerucut. Saking bingungnya, ia malah mengekspresikan kekesalan daripada kesedihan. Sebenarnya sedih, hanya saja rasanya campur baur, hasilnya kesal tanpa alasan.
Melihat kekasihnya merajuk, Tristan langsung tahu maksud kalimat 'kamu langsung masuk saja' itu berarti sebaliknya. "Ya udah, dua puluh menit di kedai kopi itu. Yuk." Tristan menggamit lengan Xora lalu menuntunnya menuju tempat yang dimaksud, memesan dua cangkir kopi, lalu duduk menatap wajah sendu Xora.
"Aku kan enggak pergi selamanya," kata Tristan kemudian. Lelaki itu lantas mengangkat tangan dan menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya. "Aku pasti kembali untuk cincin yang satu lagi."
Mendengar kata-kata itu, air mata Xora semakin menganak sungai.
"Hey, jangan menangis. Kita kan masih bisa telepon atau video call."
Xora yang biasanya banyak bicara masih diam saja sejak tadi. Hanya satu atau dua kalimat yang keluar dari mulutnya. Tristan tahu betul jika Xora seperti ini, berarti gadis itu memang sedang sangat sedih dan bingung. Mengenal Xora sejak SMA adalah waktu yang lumayan panjang untuk saling mengenal. Waktu itu Tristan sudah kelas 12, sedangkan Xora yang lugu baru masuk SMA. Klasik bukan? Tapi itulah awal mula mereka saling mengenal hingga sekarang.
Aroma kopi menyeruak di udara. Dua cangkir kopi telah disajikan di atas meja. Tristan menyeruput secangkir espreso-nya. Sementara Xora hanya memandangi latte di dalam cangkir.
__ADS_1
"Ixora …." bisik Tristan yang sedang berusaha mengembalikan kesadaran sang kekasih. "Waktuku cuma sedikit. Jangan diam saja."
Xora meremas tangannya. Lalu ia regangkan kembali dan menarik napas dalam-dalam. ia meraij gagang cangkir dan menyeruput Latte-nya.
"Say something, Xora."
Xora menegakkan duduknya dan menatap Tristan lekat-lekat. "Aku benci kamu."
Tristan tersenyum satire mendengar kata-kata gadisnya itu. "Itu jauh lebih baik dibandingkan kamu diam aja. Aku lega," seru Tristan sambil tertawa. "Oke, sepertinya aku harus pergi sekarang."
Xora diam lagi.
"Kamu nggak mau nganter aku sampai batas ruang tunggu?"
"Pegang janjiku, Xora."
Tristan pun melepaskannpelukan Xora dan berjalan memasuki peron menuju gerbong kereta dan benar-benar hilang di balik keramaian. Xora menunggu hingga peluit panjang terdengar dan keretanya berangkat. Tristan Eka Xandrio--tunangannya--sedang dalam perjalanan menjauh dari Xora.
"Halo, sudah lama?"
Kania berdiri di samping meja Xora dan Kala. Buru-buru Xora berdiri dan menyalami kliennya itu. "Ah enggak, kok, Mbak Kania. Oh iya, kenalkan ini Mas Kala dari Savoureux Catering."
__ADS_1
Kala turut berdiri dan menyalami Kania. "Silahkan duduk, Mbak," ucap Kala.
"Sendirian lagi, Mbak?" tanya Xora.
"Enggak, sama calon suami saya. Tapi dia lagi di toilet," kata Kania sambil memanggil pelayan dan memesan dua minuman. "Jadi gimana konsepnya?" tanya Kania tanpa basa-basi.
Pertanyaan Kania barusan bagaikan memacu adrenalin Xora. Gadis itu membenarkan duduknya dan siap berbicara. "Saya punya beberapa konsep yang pastinya akan Mbak Kania suka." Kania mengeluarkan buku catatan dan pena. "Yang pertama …."
"--sebentar, tahan dulu. Tex harus dengar juga." Kania menekan layar ponsel dan menempelkannya di telinga beberapa lama. "Nggak diangkat," gumamnya. "Ayolah Tex … lama banget." Kania menekan ulang nomor Tex. Terdengar nada sambung dari ponsel Kania. Xora dan Kala saling berpandangan.
Tak lama kemudian suara halo terdengar sayup-sayup dan Kania setengah kesal bicara di telepon, "Tristan, kamu di mana, sih? Lama banget di toilet!"
Tristan?
Tex?
Jangan-jangan ….
Tristan Eka Xandrio
TEX
Kepala Xora tiba-tiba pening bukan main. Jantungnya berdebar-debar tak mau diatur.
__ADS_1
Kau kah itu, Tex?