
SUDAH 1 bulan berlalu sejak Ayu bekerja di kafe milik Farhan, ia mulai menguasainya sekarang. Sudah selama itu pula Ayu meninggalkan jauh-jauh harapannya. Ia tidak ingin mengingat lagi apapun tentang Arshaka, terakhir kali Ayu menunggu pesannya dibalas akan menjadi hari yang menyakitkan untuknya, ditambah kenyataan bahwa tiba-tiba Arshaka tidak pernah memposting apapun lagi.
Ayu memaksa dirinya untuk tidak berharap lebih, dia sudah menjadi milik orang lain, setidaknya itu yang terus Ayu ingatkan kepada dirinya sendiri.
"Selamat datang!" Sapa Ayu saat salah seorang pengunjung datang, ia sangat sibuk hari ini, besok maupun besok-besoknya lagi. Dia harus menyibukkan diri.
"Kamu istirahat dulu aja..." Ucap Rina di depan mesin kasirnya tanpa menatap Ayu, dia adalah teman baru Ayu di kafe ini. Memang Rina dikenal sebagai gadis yang sedikit jutek, namun sebenarnya hatinya sangat lembut dan penuh perhatian.
"Dikit lagi jam kerjaku juga habis kok," Ayu masih keukeuh dengan pekerjaannya.
"Kata Mas Farhan kamu ambil shift tambahan ya?"
Ayu meringis ketahuan, "iya, hehe..."
"Kamu jangan ketawa-ketawa gitu, kerja mulu apa sih yang kamu cari? Tipes yang ada!" Ucap Rina lagi memperingatkan namun masih dengan khasnya yang sok tidak peduli itu.
Ayu mondar-mandir kesana-kemari, tidak akan membiarkan pikirannya kosong sedikitpun. Lalu disaat itu seorang pria berdiri di belakang Ayu menyentuh pundaknya. Dia sangat tinggi dan mengenakan topi juga masker hitam, sekilas Ayu mengira itu Arshaka, atau setengahnya berharap, namun saat pria itu membuka maskernya, ternyata hanya pelanggan yang bertanya.
"Toilet dimana ya kak?" Tanyanya buru-buru.
"Disana!" Jawab Ayu menunjuk bilik kamar mandi. Tanpa diduga, lututnya menjadi lemas, Ayu terduduk di tempat. Benar kata Rina, ia butuh istirahat sekarang. Sudah sebulan ini ia memaksa tubuhnya untuk bekerja tanpa henti. "Rin, aku mau ijin pulang duluan ya.. Kayanya lagi nggak enak badan."
"Buruan pulang!" Jawab Rina masih jutek.
Ayu segera mengambil tasnya dan hendak pergi, "tolong sampain ke Farhan ya, nanti jam kerjanya aku ganti di hari libur..."
"Cepet sembuh, buruan pulang! Jangan nongolin muka disini lagi! Pergi sejauh-jauhnya sana!" Kata Rina lagi membuat Ayu tetap terhibur.
Mungkin ia akan mengambil cuti juga besok, di perjalanan pulang Ayu hanya memikirkan jika keputusannya tidak sepenuhnya salah. Disini, setidaknya dia bisa mendapatkan pengalaman baru yaitu bekerja untuk pertama kalinya, selain itu ia merasakan bahwa gajian itu menyenangkan dan lagi, disini dia bisa mempunyai teman baru. Jadi, Ayu ingin mulai menerima keputusannya untuk pindah ke Jakarta kemarin.
Anggap saja ini memang takdirnya, mungkin jika ia masih di desa, sekarang ia sudah menikah dengan orang yang tidak dikenalnya.
Setengah dari perjalanannya, ponselnya berdering kencang. Ayu menghentikan langkah kakinya untuk mengangkat sebentar, rupanya dari Rina. Apa ada yang tertinggal? Batinnya.
"Halo? Iya, Rin?"
"Anu Ayu..."
"Kenapa?" Tanya Ayu penasaran.
"Sebentar..." Rina menggantungkan panggilannya dan seperti sedang mengobrol dengan seseorang, suaranya sama-samar jadi tidak terdengar apa yang mereka katakan. "Ada orang yang mau ketemu kamu..."
"Siapa?" Tanya Ayu lebih penasaran lagi.
"Aku nggak boleh ngomong, katanya kalo aku ngomong nanti kamu nggak mau nemuin dia..."
__ADS_1
Ayu terdiam masih mencoba memikirkan siapa yang mencari dia, terbesit harapan jika itu adalah Arshaka. Tentu tidak mungkin kan?
"Dia cowok..." ucap Rina lagi.
Deg... Ayu tertegun, jantungnya seketika menderu dengan cepat. Apa mungkin jika itu Arshaka? "Siapa?" Tanya Ayu lagi memaksa.
"Nggak tau, dia kesini karna nggak tau alamat kost-mu. Cuman tau kamu kerja di kafe ini karna kamu nulis di bio InstaToon. Katanya dia bakal nunggu kamu disini..." lanjut Rina menjelaskan.
Tentu bukan tanpa tujuan Ayu menuliskan dimana tempat dia bekerja di sosial medianya. Semua wanita pasti tau, sudah menjadi rahasia umum jika hal seperti itu terjadi, seperti kode kecil mereka. Jadi, bukankah sudah jelas jika itu Arshaka?
"Aku udah bilang kalo kamu lagi sakit dan kusuruh balik lagi paling enggak besok..."
"Tunggu!" Ucap Ayu menahannya, "aku kesana sekarang, aku nggak apa-apa..." setelahnya Ayu buru-buru mematikan ponselnya dan berlari kembali ke arah kafe.
Ia tidak sakit, setidaknya kalimat itu yang terus-terusan Ayu ucapkan dikepalanya. Katanya, jika mengatakan kata-kata tertentu berulang kali, hal itu akan menjadi kenyataan bukan? Maka, sekarang Ayu lakukan.
Napas Ayu semakin memburu, langkah kakinya semakin lebar, ia hanya ingin cepat sampai disana dan berharap bahwa yang ia pikiran sungguh terjadi. Ia berharap, bahwa kenyataan tidak membohonginya.
Ia berhenti tepat di luar kafe, berusaha mengatur kembali napasnya agar tidak tersengal, mencoba kembali tenang dan tidak terlihat juga dia sedang buru-buru. Ayu mengambil tissu yang ia simpan di tas dan mengelap segala jejak keringatnya. Berharap bahwa penampilannya saat ini tidak terlalu buruk untuk menemui seseorang.
Ia harus memasang wajah tenang dan senyum, lalu Ayu bersiap membuka pintu. Namun apa yang di dapatinya hanyalah, Maya yang berdiri disana dengan seorang pria yang Ayu ketahui adalah mas Bima.
"Surprise! Kamu terkejut nggak mba dateng kesini sama mas Bima?" Tanya Maya menghampiri Ayu hendak memeluknya.
Ayu tidak bisa berkata apa-apa lagi, mungkin memang harapannya yang terlalu tinggi. Ia kemudian menyingkirkan tangan Maya segera. "Ngapain mbak kesini?!"
Sudah pasrah, Ayu tak menjawab apapun perkataan dari Maya. Ia langsung pergi meninggalkan Maya tanpa berpamitan dan tentu saja berpesan untuk tidak mengikutinya atau menemuinya lagi.
...\~oOo\~...
Badan Ayu terasa lebih hangat hari ini. Maya menuruti perkataan Ayu kemarin bahwa ia tidak akan mengikuti Ayu, namun sampai hari ini pun ia dan Bima masih berada di Jakarta. Maya hanya memberi tahu bahwa mereka menginap di hotel dan akan menemui Ayu lagi saat ia sudah sembuh.
Masa bodoh, Ayu mengabaikan pesan kakaknya itu.
Ponselnya berdering lagi dari Rina.
"Halo, Ayu?"
"Ya? Kenapa, Rin?"
"Kamu hari ini masih sakit ya?"
"Iya, aku sudah ijin sama Farhan buat cuti seharian..."
"Oh, ini ada yang cariin kamu lagi..." ucap Rina khawatir.
__ADS_1
Ayu menghela napas, sudah pasti itu kelakuan Maya, memangnya siapa yang akan mencarinya? "Suruh pulang aja, aku nggak berminat ketemu siapapun!"
"Ayu, tapi dia bilang ka—" belum sempat Rina menyelesaikan kalimatnya, Ayu sudah menutupnya. Dia sudah lelah jika itu ulah Maya lagi. Sekarang, ia hanya ingin beristirahat.
...\~oOo\~...
Esoknya Ayu masuk kerja lebih pagi dari biasanya karena Maya mengajaknya bertemu disana. Maya sudah duduk dengan roti dan kopi sebagai sarapannya, tentu saja bersama Bima.
"Kapan mbak pulang?"
"Oh! Roti ini enak banget, Yu! Nanti kamu yang bayarin ya!" Ucap Maya dengan mulutnya yang penuh.
Lalu Ayu mengeluarkan isi dompetnya, memberikan beberapa lembar uang kertas kepada Bima, "Mas ini ongkos buat mbak Maya pulang, tolong bawa dia segera pergi dari sini ya..."
"Loh, Ayu, kan mas belum sempet main-main sama kamu?"
"Mas nggak lihat aku mau kerja?"
Bima terdiam sesaat menyuap kembali roti isinya, "yaudah, kamu semangat ya kerjanya! Nanti mas balik kesini lagi kalo kamu udah nggak repot dan maaf kemarin belum sempet ngabari malah tiba-tiba kesini sama Maya..." jelasnya panjang kali lebar.
Ayu duduk menunggu mereka segera pergi dari sini, setelahnya ia bersiap memberisihkan meja kasir. Entah karena menstruasi atau memang mentalnya sedang terganggu, namun Ayu sangat sensitif akhir-akhir ini.
Semakin ia berusaha untuk melupakan Arshaka semakin pula ia mengingatnya, semua hal mendadak membuatnya kesal. Terutama perlakuan kakaknya kemarin, membuat Ayu enggan untuk berharap lagi.
"Pagi-pagi udah cemberut, Ayu!" Sapa Rina baru datang, ia mengambil lap yang di pegang oleh Ayu. "Kamu jaga kasir aja..." lanjutnya sambil mainan HP.
Ayu masih manyun sembari mengutak-atik mesin kasir.
"Kemarin ada yang nyariin kamu..." ucap Rina lagi tanpa menatap Ayu, ia sibuk dengan ponselnya.
"Mbak Maya lagi kan sama Bima yang kemarin itu?"
"Bukan."
"Bukan?" Ayu melihat Rina penasaran, menunggunya menjawab namun sebelum itu seorang pengunjung datang untuk membeli sesuatu.
"Pesan Americano dingin satu!"
Ayu mengetik pesanannya, "ada lagi?"
"Samaaa...." ucapnya berpikir lama hingga membuat Ayu menengadahkan wajahnya dan melihat siapa yang ada di hadapannya, "aku kangen sama kamu."
"Oh! Itu kemarin yang nyariin kamu!" Kata Rina menunjuk dan tiba-tiba berdiri menyadari siapa yang datang dan segera pergi ke kamar kecil.
"Kamu udah sembuh?" Tanyanya lembut dengan senyuman.
__ADS_1
"Arshaka?"