
Diruang kerja milik Tristan terlihat tiga orang pria tengah membicarakan suatu hal yang penting. Dia adalah Tristan, Arga dan pak Damar orang kepercayaan Opa Pramudya.
"Jadi pria yang terlihat di cctv itu bernama Vino Hendrawan, dia pernah bekerja pada Denis Adhitama sebagai asisten pribadinya selama tiga tahun. Namun saat ini di ketahui jika Vino sudah tidak bekerja pada Denis lagi, bahkan sekarang orang yang bernama Vino itu sudah pindah ke kota Semarang." terang pak Damar menceritakan penemuannya pada Tristan.
"Apa mungkin kecelakaan ini ada hubungannya sama Denis?"
"Belum bisa di pastikan tuan. Karena saat ini Vino sudah tidak bersama Denis lagi."
Tristan tampak termenung dan menghubungkan semua kejadian sebelum dirinya menikah dengan Azura.
"Seret orang yang bernama Vino itu kehadapan saya, dengan begitu kita akan mengetahui kebenarannya."
"Baik tuan muda, secepatnya anak buah saya sedang mencari keberadaan Vino."
"Terima kasih atas informasinya pak,"
"Sama-sama tuan, kalau begitu saya pamit undur diri."
Setelah pak Damar keluar kini tinggalah Tristan dan Arga di ruangan itu. Mereka terlihat sibuk dengan pikirannya masing-masing.
"Jam berapa meetingnya Ga?"
"Masih ada waktu satu jam lagi tuan,"
"Baiklah kita berangkat sekarang, klien kita ini merupakan orang yang penting jangan sampai mereka yang menunggu kita."
Arga mengangguk patuh, dia segera bersiap membereskan berkas-berkas yang akan di bawanya untuk pergi ketempat meeting. Setelah semua siap mereka berdua lalu pergi meninggalkan kantor.
๐๐๐
Sementara itu di sebuah rumah sakit swasta, Azura masih terbaring pingsan di atas ranjang pasien sejak setengah jam yang lalu. Denis dan istri barunya langsung pergi begitu mengetahui keadaan Azura. Mamah Theolla tidak tinggal diam, dia buru-buru menghubungi papah Jupiter untuk mengabarkan keadaannya.
Mata Azura terbuka sempurna, dia melihat mamah dan papahnya yang berada di samping kiri dan kanannnya. Azura lalu beringsut duduk bersandar pada kepala ranjang.
"Sayang bagaimana keadaanmu?" tanya papah Jupiter.
__ADS_1
"Kenapa aku bisa di sini pah?"
"Tadi kamu pingsan saat kita akan kontrol sayang," jelas mamah Theolla.
Azura lalu mengingat sekilas kejadian yang menimpanya hari ini, pertemuannya dengan Denis dan si wanita hamil serta pengakuan Denis mengenai jati dirinya yang sudah menikah dengan Tristan.
Kilasan-kilasan kejadian lima tahun yang lalu melintas begitu saja, saat Denis meninggalkan dirinya di saat pernikahan mereka sudah di depan mata. Rasa sesak tiba-tiba menyeruak begitu saja, membuka kembali luka lama yang sudah tertutup rapat.
"Sayang kamu baik-baik saja kan?" tanya mamah Theolla khawatir karena melihat Azura diam saja dengan pandangan lurus kedepan.
Azura memegang kepalanya merasakan sakit yang berdenyut nyeri. Bayangan Tristan pun muncul begitu saja, kecelakaan yang menimpanya lalu kejadian sebelum kecelakaan saat Azura menikah dengan Tristan dan rencana bulan madu mereka yang gagal karena kecelakaan yang terjadi.
"Pah cepat pah, panggil dokter!!" tanpa menunggu lama papah Jupiter langsung keluar dan segera memanggil dokter Pras.
Azura yang terlihat kesakitan membuat mamah Theolla semakin khawatir, Azura tidak berkata apapun hanya terus memegang kepala dengan kedua tangannya.
"Aku ingat semuanya mah," ucap Azura dengan air mata yang sudah berlinang.
"Ingat? Kamu ingat apa sayang?"
Mamah Theolla menutup mulutnya terkejut dengan ucapan Azura. Tidak berselang lama papah Jupiter datang di ikuti dokter Pras dan seorang suster. Tanpa menunggu lama dokter Pras langsung memeriksa keadaan Azura.
"Aku udah ingat semuanya dok," tutur Azura.
Dokter Pras lalu tersenyum "putri bapak dan ibu sepertinya sembuh lebih cepat dari apa yang saya perkirakan."
"Benarkah dok?" tanya papah Jupiter dan mamah Theolla bahagia.
"Betul ingatanya sudah kembali ke masa sekarang, tapi saya tetap akan melakukan serangkaian pemeriksaan untuk memastikan kesembuhannya."
"Lakukan yang terbaik untuk anak saya!!"
"Baiklah saya permisi dulu ya pak, bu." dokter Pras lalu keluar di ikuti suster yang bertugas.
Papah Jupiter dan mamah Theolla langsung menghampiri ranjang milik Azura untuk memastikan keadaannya.
__ADS_1
"Mah, pah dimana Tristan?"
"Jadi beneran ingatan kamu sudah kembali nak?"
"Papah ini kenapa gak percaya sih, aku udah ingat pah kecelakaan itu, aku juga udah ingat jika aku udah nikah sama Tristan."
Papah Jupiter dan mamah Theolla langsung memeluk Azura dengan erat, mereka begitu bahagia melihat kesembuhan putri mereka.
"Tristan pasti akan bahagia sayang mendengar kabar bahagia ini," ujar mamah Theolla setelah pelukannya terlepas.
"Lalu sekarang dimana Tristan mah?"
"Dia sedang ada pertemuan penting dengan kliennya nak, tunggu meetingnya selesai ya lalu kita kabari dia. Sekarang kamu kembali beristirahat, ingat kamu baru saja pulih."
Azura mengangguk patuh lalu kembali merebahkan tubuhnya, dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Tristan untuk meminta maaf. Azura sadar selama dua bulan ini dia sudah banyak menyakiti hati Tristan, karena malah mengingat Denis sebagai tunangannya.
"Papah akan hubungi Alvero dan Diandra dulu ya, jika kamu berada di rumah sakit ini." papah Jupiter lalu keluar dari ruang perawatan Azura.
"Apa Tristan akan memaafkan aku mah?"
"Kenapa kamu berbicara seperti itu sayang, Tristan bukan orang yang pendendam, selama ini dia begitu sabar menanti kesembuhan kamu."
"Benarkah mah?"
"Tentu saja, karena dia sangat mencintaimu sayang."
Hati Azura menghangat mendengar penuturan mamah Theolla, rasanya Azura sudah tidak sabar untuk bertemu dengan kekasih halalnya.
"Tristan aku kangen sama kamu." ucap Azura dalam hati.
bersambung..
๐๐๐
...Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, vote, koment dan masukin daftar favorit๐dukungan kalian sangat berharga bagi author. Terima kasih๐๐...
__ADS_1