
Azura buru-buru keluar dari mobil Tristan tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dia terlalu malu dan gugup karena insiden ciuman yang terjadi di dalam mobil. Sepanjang jalan menuju ruangannya Azura tidak lepas memegang dadanya yang berdebar dengan ritme yang cepat. Azura merutuki kebodohannya yang dengan mudah terlena oleh pesona Tristan yang memabukan.
"Kenapa aku malah menikmati ciumannya, aduh mau di taruh dimana ini muka aku." ucap Azura dalam hati.
Tiba di ruangannya keadaan masih sepi hanya ada beberapa orang yang sedang mengobrol, Azura melewatinya begitu saja dan langsung duduk di meja kerjanya. Pikirannya kembali berkelana pada kejadian beberapa menit yang lalu, refleks Azura menyentuh bibirnya dan tersenyum malu-malu.
"Ini gila! Apa aku sudah mulai jatuh hati pada Tristan?" gumamnya.
"Siapa yang gila?" sebuah suara mengagetkan Azura, dia menoleh ternyata Sisil yang datang dia langsung duduk di sebelah Azura yang di sekat oleh sebuah penghubung.
"Sisil, bikin kaget aja!"
"Lagi mikirin siapa sih? Cowok ya?"
"Apa sih? Ngaco."
"Jujur aja udah, lalu ada hubungan apa antara kamu sama pak Tristan?" Sisil yang sudah penasaran dari kemarin langsung menanyakan perihal Tristan.
"Pak Tristan yang mana?"
"Tentu saja pak Tristan CEO dari PT Diamond."
"Aku gak kenal dia Sil."
"Loh kemarin dia kan ngajakin kamu ngobrol, terus kapan hari juga dia sering nemuin kamu kan."
"Maaf ya Sil aku gak bisa cerita sekarang, mungkin suatu saat kamu akan ngerti." ucap Azura merasa tak enak. Karena bagaimana pun Sisil sekarang sudah menjadi temannya, tapi tidak mungkin juga Azura mengakui Tristan sebagai calon suaminya bisa geger nantinya.
"Hmmm, baiklah meskipun aku kepo nih tapi aku gak bisa maksa kamu buat cerita."
"Kamu emang teman terbaik aku pengertian banget sih,"
"Iya donk, kamu tahu gak Ra malam minggu besok perusahaan akan ngadain pesta perpisahan pak Teguh, sekalian katanya ngenalin direktur keuangan yang baru."
Deg
"Pesta?"
Sisil mengangguk "iya, pak Teguh kan orang lama disini jadi pak Jupiter mengadakan acara pesta perpisahan untuk kepindahan pak Teguh."
"Kenapa harus ada pesta segala?" gumam Azura.
"Loh justru itu bagus Ra, suntuk kerja terus kali-kali donk perusahaan ngadain acara kayak gini."
Azura hanya terdiam mendengar ucapan Sisil, padahal dia sudah nyaman dengan posisinya saat ini. Tapi mau gimana lagi keputusan papah Jupiter sudah mutlak dan tidak bisa di ganggu gugat.
__ADS_1
Braakk!!
Suara meja yang di gebrak menyadarkan Azura dari lamunannya, terlihat Nita dan Citra yang berdiri dengan tangan yang menyilang di dada.
"Heh Azura!"
Azura langsung mendongakan kepalanya melihat Nita dan Citra yang sudah berdiri di depan mejanya.
"Ada apa mbak?"
"Lo jawab jujur, sebenarnya lo itu siapanya pak Tristan?
"Maksudnya?"
"Halah jangan pura-pura kita udah lihat semuanya, kemarin lo masuk ke lift petinggi perusahaan bareng pak Tristan gak mungkin kan lo gak kenal dia." ucap Nita berapi-api.
"Hmmm...tadi juga lo keluar dari mobilnya pak Tristan, bisa banget lo ya godainnya." tambah Citra dengan senyum sinisnya.
"Tapi mba aku emang gak kenal pak Tristan."
"Lo pikir kita percaya, setelah tahu pak Teguh di pindah tugas ke Surabaya lo pasti cari mangsa baru kan dan godain pak Tristan." tuduh Nita.
"Dasar wanita penggoda!" tambah Citra.
"Hey kalian berdua! jika gak ada buktinya jangan nuduh Azura sembarangan." Sisil langsung turun tangan dan membela Azura, padahal sebenarnya Sisil pun penasaran diantara Azura dan Tristan itu ada hubungan apa. Karena bukan hanya dirinya yang penasaran tapi Nita dan juga Citra.
"Bisa saja kalian salah lihat kan."
"Heh Sil, lo itu buta kali ya? lo di kasih guna-guna apa sama dia sampe-sampe belain tuh wanita penggoda." teriak Nita sambil menghunuskan tatapan tajam pada Azura.
"Berhenti bilang Azura wanita penggoda Nit!" Sisil balas berteriak bahkan kini tangannya mencengkram keras lengan Nita.
Nita yang merasa kesakitan tidak mau kalah, sebelah tangannya lalu menjambak rambut Sisil. Dan jadilah kini dua wanita itu saling menjambak, Azura dan Citra tidak diam saja mereka mencoba memisahkan keduanya tapi gagal.
Keributan yang terjadi di meja Azura memancing beberapa karyawan lain untuk menonton adegan yang langka terjadi. Dimana kedua senior mereka ribut dan saling menjambak. Bahkan kini mereka terlihat menyoraki dan memberikan semangat.
"Ada apa ini?" suara bariton dari seorang pria menghentikan aksi Nita dan Sisil. Karyawan lain pun langsung memberi jalan melihat direktur mereka dan pemilik perusahaan ini lewat.
"Ada yang bisa menjelaskan kenapa kalian bisa ribut di jam kerja?" tanya papah Jupiter dengan aura dinginnya.
Semua karyawan langsung menunduk tidak berani menatap presiden direktur perusahaan ini.
"Maaf pak kekacauan ini akan saya atasi." ucap pak Teguh merasa tidak enak karena ulah karyawan dari divisi keuangan.
"Suruh mereka menghadap keruangan saya!"
__ADS_1
๐๐๐
Azura, Sisil, Nita dan Citra kini hanya bisa menunduk di hadapan pak Teguh dan papah Jupiter. Satu pun dari mereka tidak ada yang berani bersuara melihat aura dingin yang di pancarkan dari papah Jupiter.
"Jika di antara kalian tidak ada yang bicara saya pastikan ini hari terakhir kalian kerja disini." tegas pak Teguh.
"Maaf pak saya hanya membela Azura, Nita dan Citra mengatakan Azura wanita penggoda." aku Sisil.
"Betul Nita?"
"Saya hanya melihat kenyataan pak,"
"Kenyataan apa yang kalian lihat?" tanya papah Jupiter.
Nita dan Citra saling berpandangan.
"Jawab pertanyaan pak Jupiter!!" ulang pak Teguh dengan nada yang tegas.
"Sebenarnya..kita melihat Azura masuk lift petinggi perusahaan bersama pak Tristan, dia juga terlihat turun dari mobil mewahnya."tutur Nita menjelaskan
"Apa hal seperti itu bisa di katakan wanita penggoda?"
"Bukan hanya sekali kita melihatnya, dia sering gonta-ganti pria." tambah Citra.
Papah Jupiter hanya bisa memejamkan matanya mendengar tuduhan seperti itu pada Azura.
"Cukup. Kalian keluar dari ruangan saya! kecuali Azura tetaplah disini." ucap papah Jupiter akhirnya. Sisil, Nita dan Citra langsung keluar dari ruangan presiden direktur.
"Pak Teguh kamu urus karyawan yang bernama Nita dan Citra, mereka telah memfitnah putri saya."
"Pah...jangan pecat mereka!" tukas Azura, dia sudah paham kemana arah pembicaraan papahnya.
"Mereka sudah keterlaluan sama kamu sayang."
"Tapi mereka kan gak tahu siapa aku yang sebenarnya, cukup di kasih surat peringatan saja pah kasian jika mereka di pecat."
"Baiklah papah ikutin mau kamu, pak Teguh dengar kan apa yang Azura bilang urus ketiga karyawan tadi."
"Pah Sisil gak salah, dia hanya membela aku."
"Tetap saja sayang dia sudah membuat keributan di jam kerja,"
"Baiklah saya akan urus semua ini, saya pamit dulu pak, nona Azura." pak Teguh menundukan kepalanya sebelum akhirnya keluar dari ruangan papah Jupiter.
bersambung..
__ADS_1
๐๐๐
...Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, vote, koment dan masukin daftar favorit๐dukungan kalian sangat berharga bagi author. Terima kasih๐๐...