
AYU melihat dirinya di depan cermin. Memastikan bahwa gaun yang dikenakannya sudah cocok ia pakai. "Gimana menurutmu?" Tanya Ayu pada Rina.
"Cocok! Lagian kenapa kamu mau repot-repot dandan gini segala sih, Yu? Sampai beli baju baru..."
Ayu menghela napas sedikit khawatir, "aku cuman pengen ngerasa lebih percaya diri aja, lagian dia bilang aku harus pakai baju yang rapi kan?"
"Kamu kira-kira tau nggak dia mau ngajak kemana?"
Ayu menggeleng, "enggak, tapi dia bilang katanya mau ngajak makan malam aja sambil ngomongin tentang berita itu..."
Rina mengerti, ia mendekati Ayu dan membantunya merapikan rambut, "kalau gitu, kamu harus menegakkan badanmu, Yu! Kamu cantik, aku yakin kamu pasti bisa lewatin ini..."
Ayu senang mendengar kalimat itu. Sejak berita itu muncul di media, sejak itu pula Ayu belum mendapat kabar apapun tentang Arshaka. Ia sedikit lega karna setidaknya mereka sudah tidak berkabar beberapa hari terakhir ini dan lagi, Ayu sudah mengatakan tentang hubungan mereka yang tidak akan berjalan lancar.
Jadi, secara teori, Ayu dan Arshaka memang sudah mengakhiri hubungannya. Ayu tidak perlu merasa cemas dan bersalah lagi, ia bertekad untuk tetap kuat jika nanti Salina menyudutkannya.
Memang terjadi kesalah pahaman sebelumnya, Ayu hanya ingin minta maaf kepada Salina.
"Kamu sudah siap?" Tanya Rina pada Ayu.
Ayu mengangguk, sudah ada sopir yang ditugaskan Salina untuk menjemput Ayu disana. Mereka keluar dan Rina berpesan kepada Ayu untuk tetap berhati-hati.
...\~oOo\~...
"Apa kamu tidak lihat aku sedang sibuk?!" Teriak Arshaka saat Henry memintanya untuk segera bersiap.
Ia sangat kesal kepada Rudi, di dalam kondisinya yang seperti ini, saat ia harus bertemu dengan Ayu atau setidaknya berbuat sesuatu tentang berita itu, Rudi justru mengurung Arshaka. Melarangnya keluar dan menyita segala aksesnya untuk bisa berhubungan dengan Ayu bahkan orang lain. Jika ingin membuat janji dengan Arshaka hanya bisa melalui asistennya, Henry.
Arshaka merasa tertekan, ia lalu berteriak dengan kencang melampiaskan kekesalannya, melemparkan segala kertas-kertas berkas yang ada di hadapannya, ia lelah. Ia menjatuhkan segala yang ada di meja hadapannya, sudah muak dengan pekerjaan yang Rudi berikan kepadanya.
Henry kemudian menghampiri Arshaka, memungut satu per satu kertas yang berjatuhan. "Apa Anda mau membatalkan acaranya?"
Arshaka mengambil napas dengan berat, "orang tuaku juga disana?"
"Iya, saya diperintahkan untuk mengantar Anda kesana..." jawab Henry sembari mengangguk masih berjongkok untuk membereskan kekacauan yang Arshaka buat di ruang kerjanya.
"Kalau gitu aku nggak bisa batalin acaranya?"
"Saran saya, Anda harus kesana jika tidak mau Pak Rudi marah lagi..."
Arshaka berpikir, ia tak punya pilihan lain, "lagi pula kenapa sih Salina tiba-tiba mengajak makan malam gini?"
__ADS_1
"Saya tidak tahu, Pak. Katanya, ada yang ingin ia sampaikan..."
Arshaka kemudian mengambil jasnya, dan menyuruh Henry berhenti membersihkan meja kerjanya. Mereka segera pergi dari sana.
Diperjalanan, pikiran Arshaka sudah tidak berada di tubuhnya. Ia memikirkan bagaimana keadaan Ayu sekarang. Gara-gara Anthony si brengsek itu semuanya jadi runyam.
Mereka kini berhenti di salah satu restoran mewah yang terkenal disana, Arshaka lekas turun sebelum Henry membukakan pintu mobil untuknya.
"Kamu tunggu disini saja!" Perintah Arshaka kepada Henry.
Pria itu menurut. Meskipun ia utusan dari Rudi, namun Henry adalah tipe orang yang setia. Sejak ia bekerja di bawah Arshaka, ia berjanji akan setia kepada Arshaka apapun yang terjadi.
Lalu Arshaka berjalan pergi memasuki pintu restoran tersebut.
Disana, ia sudah disambut oleh pelayan yang akan mengantarnya ke ruang VIP khusus untuk makan malam bersama. Ia melewati sebuah koridor yang dibangun dengan mewah. Pelayan itu membukakan pintu mempersilahkan Arshaka untuk masuk.
Namun apa yang di dapatinya adalah, tidak hanya Salina, tidak hanya orang tuanya yang duduk disana, namun juga Ayu.
Arshaka sejenak terdiam, mencoba mencerna apa yang sedang terjadi disini dan kenapa bisa ada Ayu.
"Sudah datang, sayang?" Sambut Salina berjalan mendekati Arshaka dan dengan lembut mencium pipinya, namun sebelum itu Arshaka menghindari, ada Ayu yang dengan polos masih bisa tersenyum seakan tidak terjadi apapun disana.
"Ada apa ini?" Tanya Arshaka kepada Salina kesal. Ia paham betul bahwa ini yang menjadi alasan kenapa Salina tiba-tiba mengajaknya untuk makan malam bersama. Ini adalah perbuatannya.
Ayu tidak berani menatap Arshaka sedikitpun, ia sadar tempatnya bukan disini.
Bahkan Ayu tiba-tiba merasa pakaiannya sangat tidak cocok, dimana kepercayaan dirinya yang tadi muncul sebelum datang kesini?
Ia tidak mengira bahwa Salina akan mengajaknya makan malam bersama dengan Arshaka dan kedua orang tuanya, ia mengira Salina hanya ingin mengobrol berdua saja dengannya.
Salina menarik tangan Arshaka dengan manja, memintanya untuk duduk di sampingnya.
"Ayu, kamu tidak ingin menyapa Arshaka?" Tanya Salina dengan senyum bahagia karna merasa dirinya yang sedang mengendalikan situasi ini.
Ayu memberanikan diri untuk melihat Arshaka walaupun hanya beberapa detik, "Apa kabar, Arshaka?"
Pria itu merasa iba dengan Ayu, ia tidak kuat melihat gadis yang dicintainya merasa tertekan seperti ini. "Ayu, ayo kita pergi dari sini!" ucap Arshaka berdiri lagi bersiap untuk pergi, ia hampir menggandeng tangan Ayu ingin mengajaknya keluar dari tempat ini, namun Ayu menghindar.
"Duduk, Arshaka!" Perintah Rudi dengan keras, "apa kamu tidak mendengar kata Mami-mu? Makanannya akan dingin..."
Arshaka mendegus tidak percaya dengan ucapan Papa-nya. Yang dapat ia lakukan sekarang hanya menuruti perkataan mereka. Arshaka kembali duduk.
__ADS_1
Tidak ada kata terucap lagi, semua sibuk dengan makanannya yang seketika menjadi hambar kecuali milik Salina yang sangat nikmat. Sesekali Arshaka mencuri pandang ke arah Ayu, namun Ayu tetap menunduk tidak berani membalas tatapan itu.
"Jadi, ternyata Mami sudah pernah bertemu dengan Ayu ya?" Salina membuka obrolan, memancing kekesalan Arshaka.
"Kita pernah bertemu di Desa waktu Arshaka kecelakaan, ya kan Ayu? Aku bahkan sudah membayar perawatan Arshaka saat disana..." Kinan menyuap potongan steak-nya. "Apakah itu belum cukup untukmu?"
Ayu merasa dirinya sedang direndahkan.
"Ayu mengembalikan uangnya padaku." ucap Arshaka menatap mata Kinan.
"Oh, benarkah? Kalau begitu, kamu pasti menginginkan yang lebih ya dari pada sekedar uang?"
Ayu menelan ludahnya, berusaha untuk menjawab sebisa mungkin, "maaf Tante, tapi saya tidak menginginkan apapun. Sepertinya ada kesalah pahaman. Saya dan Arshaka tidak memiliki hubungan apapun sekarang..."
"Ayu?" Panggil Arshaka tidak percaya dengan ucapan Ayu, kalimat itu entah kenapa membuatnya sangat sakit.
"Sekarang?" Tanya Salina diselingi dengan tawa. "Itu artinya kalian sempat menjalin hubungan?"
Ayu menunduk takut untuk menjawabnya.
"Apa yang aku lakukan dengan Ayu bukanlah urusan kalian!" Sahut Arshaka membuat Ayu mengerutkan keningnya, jawaban itu justru menjadi bumerang baginya.
Rudi menggebrak meja makannya, "Apa yang barusan kamu katakan!" Ia sudah sangat marah kepada Arshaka, "Apa maksudmu ini bukan urusan kita?! Hidup keluarga dan perusahaan sekarang ada di tanganmu dan kamu mempertaruhkan semuanya hanya demi wanita murahan ini?!"
Kata-kata itu, menusuk hati Ayu yang paling dalam, setidaknya dia tidak ingin mendengar kalimat itu keluar dari mulut orang tua Arshaka, seseorang yang ia sayangi.
"Pa! Jaga mulut Papa!" Teriak Arshaka ikut emosi.
"Kamu berani membentakku?!" Rudi semakin menaikkan suaranya.
"Papa boleh menghinaku, memukulku atau bahkan membunuhku! Tapi jangan sekali-kali menghina perempuan yang ku sayangi..."
"Arshaka!!!" Teriak Salina dan Kinan nyaris bebarengan, mereka marah karena berani-beraninya Arshaka mengatakan kalimat tersebut di depan orang tua dan tunangannya.
Rudi melempar piring makanannya, semua yang ada di hadapannya pecah berantahkan di atas lantai. Ia berdiri hendak menghampiri Arshaka yang sudah pasrah jika harus menerima pukulan lagi.
Tangan Ayu bergetar, ia merasa sudah merusak keluarga seseorang. Gara-gara keegoisannya, Ayu merasa ini semua adalah kesalahannya karena ingin memperjuangkan cintanya, yang ia kira semua akan mudah dan berjalan dengan lancar. Namun tidak, ia telah merusak semuanya.
Ayu segera membereskan dirinya dan berdiri, ia sudah menahan air matanya sedari tadi, dadanya sangat sesak, "Maaf..." ucapnya membuat orang disana menatap memperhatikannya, "terima kasih atas undangan makan malamnya, saya harus pergi sekarang. Saya berjanji agar tidak ada kesalah pahaman yang terjadi kedepannya..." Ayu lalu menunduk untuk berpamitan.
"Ayu!" Panggil Arshaka hendak mengejar Ayu keluar dari ruang makan, namun tangan Salina menggenggamnya dengan erat.
__ADS_1
"Lepasin!" Perintah Arshaka yang dihiraukan oleh Salina.
"Apa kamu tidak tau apa yang bisa kulakukan kepadanya jika kamu masih mau mengejar perempuan itu?" ancam Salina membuat Arshaka terpaksa tetap berada di tempatnya.