Wedding Disaster

Wedding Disaster
Masa Lalu


__ADS_3

SUDAH 3 hari berlalu sejak insiden makan malam bersama. Berita tentang skandal Arshaka yang berselingkuh dari tunangannya jelas sudah diklarifikasi dari pihak perusahaan, mereka berkata bahwa itu hanya kesalah pahaman dan Arshaka tidak mengenal perempuan itu. Kira-kira, seperti itu artikel tersebut dimuat.


Arshaka sendiri tidak bisa melakukan apapun selama kekuasaan masih berada di tangan orang tuanya.


Mereka hanya bisa memojokkan pihak wanita yang salah tanpa menanyai pendapat dari Arshaka sendiri.


"Apa Anda baik-baik saja, Pak?" Tanya Henry selalu ingin memastikan keadaan Arshaka karena kejadian beberapa hari ini yang membuat perasaannya menjadi lebih cemas, belum lagi perkara dirinya dan Rudi.


Sejak kejadian rumor skandal itu tersebar dan Rudi yang menonjok putranya sendiri bahkan ia berani menghantamkan kepala Arshaka ke pintu kayu, mulai dari situ Arshaka sudah mendapat perlakuan yang buruk dari Rudi.


Hampir setiap hari ia harus berhadapan dengan Rudi yang kasar terhadapnya, setiap ia melakukan sedikit saja kesalahan.


Mungkin memang sedari dulu Papa-nya berlaku seperti ini, menuntut agar Arshaka selalu sempurna di hadapannya. Hanya saat Arshaka masih sakit Rudi masih bisa menahan amarahnya, namun kini Arshaka sudah tau bagaimana sifat asli Papa-nya.


"Bisa ambilkan obat di laci sana?" Pinta Arshaka memegangi kepalanya yang tiba-tiba sangat nyeri itu, "aku sedikit pusing akhir-akhir ini..."


"Baik, Pak!" Henry kemudian segera mengambil obat dari dokter itu.


"Apa lukaku terlihat jelas?" Tanya Arshaka menyibakkan rambutnya yang sebelumnya menutupi dahi, menunjukkan sebuah bekas luka akibat benturan dari pukulan tongkat baseball dari Papa-nya semalam.


"Astaga!" Bahkan Henry saja kaget melihat luka tersebut, "apa saya harus mengantar Anda ke rumah sakit saja?" ia nampak sangat khawatir.


Arshaka menggeleng, "tidak, makasih. Aku lebih baik mati jika hidup seperti ini. Menjadi budak dari orang tuaku sendiri..." Arshaka mengulurkan tangannya meminta obat itu dari tangan Henry.


Ia lalu meminumnya dan mengajak Henry untuk pergi bersama dalam rapatnya siang ini.


Semuanya tampak baik-baik saja, rasa sakit Arshaka sedikit terobati, ada Henry yang selalu menemaninya.


Namun di saat rapat yang penting ini dimulai, kepala Arshaka seketika kembali nyeri, sangat sakit hingga ia tidak dapat menahannya lagi.


"Pak?" Panggil Henry khawatir melihat Arshaka memegangi kepalanya dengan sedikit rintihan kesakitan.


Semua mata mengarah kepada Arshaka yang sedang berdiri di depan hendak memberikan presentasinya.


Semuanya terlihat buram dan semakin buram, tangan lain Arshaka memegangi lengan Henry dengan kuat. Telinganya berdengung, ia hanya dapat mendengar suara Henry memanggilnya dengan samar-samar.


Kemudian semuanya gelap. Arshaka pingsan.


...\~oOo\~...

__ADS_1


"Kamu harus bersikap baik pada Salina, oke!" Ucap Kinan tersenyum melihat putranya yang tampan dengan jas pernikahan.


Arshaka sendiri ragu, apakah benar ia akan menikahi Salina? Setelah apa yang dilakukannya tahun lalu? Meskipun disisi lain ia memaksa dirinya untuk mempercayai gadis itu, bagaimana pun juga, mereka telah bersama selama 3 tahun terakhir ini.


"Salina, aku percaya padamu..." ucap Arshaka memegangi cincin pernikahan mereka dengan senyuman.


Kinan kemudian pergi setelah memberitahu Arshaka bahwa Salina sudah siap di ruangannya.


Waktu tinggal 1 jam lagi, pernikahan mereka akan segera dimulai.


Arshaka ingin memberikan buket bunga yang cantik dan menyapa calon istrinya sebentar, ia berjalan menuju ruang ganti pengantin perempuan, namun tak ia dapati seorang pun disana. Bahkan Salina tidak ada di tempat.


Arshaka kembali berjalan mencari keberadaan Salina, ia menduga Salina mungkin sedang mencari makanan atau pergi ke kamar kecil. Namun tak ia dapati Salina di tempat-tempat tersebut. Hingga kaki membawa Arshaka untuk memasuki kamar pengantinnya.


Kamar yang seharusnya mereka tempati untuk bulan madu nanti malam.


Ia membuka pintu dan mendapati seorang pria yang sedang duduk santai menciumi calon pengantinnya yang masih mengenakan gaun pernikahan duduk di atasnya.


Arshaka mengenal betul siapa pria itu, dia adalah pria yang sama di tahun lalu saat Salina ketahuan selingkuh. Ia merasa sangat konyol, seharusnya ia sadar bahwa selama ini Salina sudah berbohong terhadapnya.


Ia bilang bahwa hubungannya dengan pria tersebut sudah selesai, namun apa yang dilihat Arshaka ini menjawab semua pertanyaannya. Bahwa selama ini hubungan mereka tidak pernah berakhir.


Bahkan ia dapat melihat paha Salina yang terbuka dari sini sedangkan tangan pria itu berada diatasnya, menikmati tubuh calon istrinya tanpa rasa bersalah sedikitpun.


"Apa yang kalian lakukan?"


Salina dan pacar selingkuhannya itu terperanjat kaget. "Arshaka?!"


"Silahkan, lanjutkan!" Ucap Arshaka ketus menggebrak pintu hingga menutup, ia ingin cepat-cepat pergi dari tempat ini. Harusnya dia sadar sedari dulu.


Salina sendiri segera merapikan gaunnya dan mengejar Arshaka sebelum meninggalkannya, ia berlari dan menghadang calon suaminya itu.


"Arshaka, dengarkan aku dulu!"


"Tidak ada yang harus kudengarkan, semuanya sudah sangat jelas!"


"Tidak, Arshaka! Aku... aku sedang khilaf, oke?!"


Arshaka tertawa mendengar alasan anehnya, "khilaf hingga bertahun-tahun maksudmu?"

__ADS_1


"Aku memang melakukannya, tapi hatiku sepenuhnya milikmu Arsha!" Ucap Salina menggenggam lengan Arshaka, mencegahnya untuk pergi.


"Jadi, maksudmu hatimu untukku tapi tubuhmu untuk pria lain, begitu?"


Salina meneteskan air matanya, ia memohon agar Arshaka tidak pergi meninggalkannya. "Ini semua salahmu juga! Kamu tidak pernah ada waktu untukku dan selalu sibuk dengan urusanmu!"


"Sekarang kamu berlagak yang jadi korban? Dalam situasi seperti ini? Seriously, Salina?" Tanya Arshaka tidak percaya dengan apa yang barusan Salina katakan.


"Jadi, ini semua salahku?! Aku tidak akan mencari pria lain jika kamu memperhatikanku, KA!"


"Maka, kamu tidak akan selingkuh jika benar-benar setia padaku!" Arshaka menghempaskan tangan Salina dan berjalan dengan cepat meninggalkan gadis itu di belakang.


"Arshaka!" Teriak Salina, "aku akan mengadukan ini ke orang tuamu jika pernikahan kita sampai batal!"


"Kuharap kamu mengatakan alasannya dengan jujur!" Balas Arshaka tidak peduli, ia tetap pergi meninggalkan aula pernikahannya.


Apa sih itu cinta, gumam Arshaka dalam hati. Teganya Salina yang sudah ia percaya selama ini menghianatinya. Bukan untuk yang pertama kalinya.


Arshaka melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, meskipun ponselnya berdering dari Salina maupun orang tuanya, Arshaka tidak peduli, ia hanya ingin pergi dari tempat terkutuk ini.


...\~oOo\~...


Ingatan menyakitkan itu datang kembali, Arshaka membuka matanya, ia berada di kamar rumah sakit. Kepalanya masih terasa sakit, namun kini hatinya menjadi lebih sakit saat mengingat kenangan lama yang kembali.


"Arrghh..." erangnya lirih membuka mata perlahan. Ia melihat ada Henry yang menunggunya sadar dan tentu saja Salina yang duduk di sampingnya.


"Arshaka, kamu sudah sadar?" Seru Salina senang menggenggam tangan Arshaka dengan erat.


Arshaka melihat mata Salina kemudian menghempaskan tangan Salina, ia tidak ingin menyentuh wanita itu lagi, ia sudah mengingat semuanya.


Semua hal yang terjadi di hidupnya dan yang utama adalah, alasan mengapa ia gagal menikah dengan Salina.


"Kamu kenapa?" Tanya Salina khawatir.


"Apa kamu puas sekarang?"


"Apa maksudmu?


"Saat aku hilang ingatan, pasti menjadi mainan yang menyenangkan ya untukmu..." sindir Arshaka dengan tawa kecil.

__ADS_1


Jantung Salina ingin lepas rasanya, ia menyadari bahwa kini Arshaka pasti sudah mengingat semuanya. Ingatan masa lalu Arshaka telah kembali dengan sempurna.


__ADS_2