
Sudah dua bulan Gio belum juga menemukan keberadaan istrinya. Rasanya ia sudah hampir akan gila. Semua keluarganya tidak ada yang mau memberitahukan dimana istrinya itu. Mereka sengaja ingin menghukumnya karena sudah menyakiti istrinya sendiri.
Gio udah sangat-sangat merindukannya, hingga membuatnya susah bernafas. Tepat nya dirinya sudah 4 bulan tidak bertemu sang istri.
Bahkan Gio juga sudah memohon pada Bima, pada Ayah Indra, dan papanya untuk memberitahukan dimana istrinya sekarang. Tapi mereka tidak satu pun ada yang mau memberitahukan.
"Pak besok anda ada jadwal ke Bali. Untuk mengecek bangunan Resort disana." ucap Sarah memberitahukan jadwal Gio besok.
"Apa tidak bisa Leo yang menggantikan saya pergi kesana?" Ujar Gio yang rasa enggan untuk terbang ke Bali.
"Maaf pak, tidak bisa. Masalahnya pak Leo masih berada di Singapura untuk mengantikan Pak Gio bertemu klien disana." jawab Sarah.
"Ya tuhan.. saya sampai lupa kalau Leo masih berada di Singapura. Baiklah, besok saya akan terbang ke Bali." Semenjak ia kehilangan istrinya, Gio tidak pernah datang meeting maupun pergi keluar kota dan luar negeri untuk bertemu dengan kliennya. Gio menyerahkan Leo untuk mengganti nya. Sedangankan Ia hanya berada di ruangannya saja dan tidak mau di ganggu oleh siapapun.
Besok ia harus pergi ke Bali dan itu tidak bisa di gantikan oleh Leo, karena Leo masih ada di Singapore.
"Kalau gitu saya permisi pak." pamit Sarah.
__ADS_1
"Tunggu Sarah." ujar Gio menghentikan Sarah saat akan keluar dari ruangannya. Sarah pun menghentikan langkahnya.
"Iya pak, apa pak Gio perlu sesuatu?" tanya Sarah.
"Apa Yasmin sampai sekarang tidak pernah menghubungi mu?" tanya Gio
Sarah menghela nafasnya, "tidak ada pak Gio. Sudah hampir 4 bulan kami belum ada komunikasi lagi."Jawab Sarah yang merasa iba dengan keadaan bos nya sekarang. Yasmin pergi entah kemana bahkan dirinya dan juga Leo sudah mencarinya, tapi sayang mereka tidak menemukan Yasmin juga.
"Baiklah kamu boleh keluar. Dan siapkan semua berkas yang harus saya bawa ke Bali, besok." perintah Gio.
"Iya, tuan." balas Sarah. Setelahnya ia pun keluar dari ruangan bosnya.
__ADS_1
Tubuhnya juga semakin kurus karena ia hanya makan sehari sekali. Itu pun kalau ia merasa perutnya benar-benar terasa sangat lapar.
Tidak seperti dulu, ia masih terlihat begitu rapi, dan pipinya juga masih berisi.
Cukup kali ini aja dia melakukan kesalahan, dan kalau ia menemukan istrinya nanti, dia tidak mau mengulangi kesalahan lagi. Ia benar-benar tidak sanggup di tinggal oleh istri nya. Kalau malam hari ia akan memandangi foto sang istri dan ia akan tertidur kalau sudah memeluk pakaian Yasmin.
*
Di tempat yang berbeda. Di sore harinya wanita cantik tengah berjalan di pinggir pantai. Membiarkan rambutnya yang di gerai berantakan karena angin. Wanita itu terus berjalan sembari sesekali ia mengelus perutnya yang sudah mulai terlihat membuncit. Yap betul. Siapa lagi dia kalau bukan Yasmin.
"Nak, apa kamu merindukan papa?"Tanya Yasmin pada calon anaknya. "Mama sangat merindukan nya, sayang.. ingin rasanya mama pulang menemui papa. Tapi.. kedua kakek dan uncle Bima tidak mengijinkan kita menemui papa, sayang." ucap Yasmin mengajak anak dalam kandungan nya berbicara sembari mengelus perutnya. "Sabar ya nak, mama yakin papa akan menemukan kita." ucapnya lagi.
Sebenarnya ia tidak mau pergi untuk bersembunyi. Tapi gimana lagi, Ayah, papa mertua nya dan juga kakaknya Bima maksa menyuruh nya untuk bersembunyi dari Gio sekaligus refreshing. Mereka ingin memberikan pelajaran pada suaminya itu yang masih marah padanya. Padahal bukan dirinya lah yang salah. Ia pun mau tidak mau mengikuti kemauan para kakek dan kakaknya.
"Non ayo kita balik, hari sudah mulai gelap." ucap mbok Ita yang menjaga Yasmin selama berada di Villa milik keluarga Gio. "Non gak baik kalau ibu hamil berada diluar Maghrib-maghrib begini.." tambah mbok Ita lagi.
__ADS_1
Yasmin tersenyum menatap mbok Ita, "iya mbok.. kamu dengar nak? si mbok bawel ya kan?" Si mbok Ita pun menggelengkan kepalanya sembari tersenyum mendengar ucapan Yasmin.
Meraka berdua pun berjalan menuju Villa yang tidak jauh dari pantai tersebut, dengan Yasmin menggandeng tangan mbok Ita.