
"Ayah Bima mau i_-" Bima menghentikan ucapannya ternyata di ruangan ayahnya banyak orang.
Bima terbingung melihat Ayahnya memeluk seorang wanita. Dan ia lebih bingung lagi di ruangan ayahnya ada Gio dan orangtuanya.
"A-ayah ada apa ini?" tanya Bima.
Bima Prasetyo anak pertama dari Indra Prasetyo dan Rina. Bima adalah seorang Dokter umum di rumah sakit milik Ayahnya dan nantinya akan menjadi miliknya jika Ayahnya pensiun menjadi Dokter Jantung.
Inilah dia Bima Prasetyo, tak kalah tampan dari Gio. Bima sendiri pun banyak di gilai kaum hawa di luaran sana. Hanya saja ia tidak playboy seperti Gio, malahan ia belum memiliki kekasih sama sekali. Bima masih memilih-milih mencari pasangan, ia tidak mau salah mencari pasangan karena ia tidak ingin mendapat pasangan yang seperti ibu kandungnya sendiri. Bima tipekal orang yang tidak banyak bicara seperti Ayahnya.
Kemudian Indra mengurai pelukannya dari Yasmin. Lalu menyuruh mereka untuk duduk semua di sofa.
"Bima kita, duduk dulu biar Ayah jelasin." Mereka semua pun duduk di sofa. Bima dan Yasmin saling pandang, Bima sendiri seperti tidak asing melihat Yasmin dan begitu pun sebaliknya. Tapi mereka berdua lupa dimana mereka pernah bertemu.
"Ayah Sebenarnya ini ada apa? dan Lo Gio kenapa bisa ada disini?" tanya Bima penasaran. Gio tidak menjawab, ia hanya tersenyum saja menatap Bima.
"Bima, kamu masih ingat kan dengan almarhum mama Nilam?"
"Iya Ayah Bima masih ingat sama mama Nilam. Bima gak akan pernah lupa orang yang telah menyayangi Bima dengan tulus., seperti anaknya sendiri." Jawab Bima jujur. Bima begitu menyayangi ibu sambungnya itu. Walaupun hanya beberapa bulan mama Nilamnya mengurusnya. Tapi Bima bisa merasakan kasih sayang yang di berikan padanya. Berbeda dengan mama kandung nya sendiri yang tidak pernah memperdulikannya. Ia juga sempat sedih dan kehilangan karena begitu cepat mama Nilam meninggal dunia.
"Bima, ini adalah Yasmin adik kamu nak?" ucap Indra sembari merangkul bahu Yasmin.
"Adik? maksud ayah apa?" tanya Bima masih bingung.
"Bima, Yasmin ini adik kamu anak ayah dan mama Nilam.." jawab Indra. Bima menatap lekat Yasmin, di perhatikan nya memang memiliki kemiripan dengan mama Nilam. "Bim ternyata saat mama Nilam pergi dari rumah. Mama Nilam tengah hamil dan itu anak Ayah, sayang." tambahnya lagi.
"Ayah benaran?! jadi selama ini Bima punya adik? tapi kenapa mama Nilam tidak ada memberitahu kita ayah?" tanyanya. Akhirnya keinginan nya memiliki adik dari mama Nilam dulu itu kenyataan.
"Soal itu nanti ayah ceritakan. Apa kamu senang Bim?" Tanya ayah, Indra takut Bima tidak suka dengan kehadiran Yasmin yang secara tiba-tiba.
__ADS_1
"Ayah ngomong apa sih! Ya jelas Bima senang dan bahagia kalau ternyata Bima memiliki adik dan itu dari mama Nilam." Jawabnya senang. Kemudian Bima beranjak dari sofa, lalu mendekat ke Yasmin dan duduk di sebelahnya. "Hai Yasmin.. salam kenal. Aku adalah kaka kamu. Maafkan kakak dan ayah yang baru mengetahui keberadaan kamu. Kamu cantik seperti mama Nilam." Bima mengulurkan tangannya ke arah Yasmin, dan Yasmin pun menyambutnya.
"Salam kenal kak Bima. Gak perlu minta maaf, ayah dan kak Bima tidak salah, ayah dan kakak dari awal kan memang tidak mengetahuiahu keberadaan ku. Semua ini sudah takdir dari yang kuasa." ucap Yasmin bijak.
"Ya Allah sayang.. kamu sangat baik dan bicaranya lembut seperti Mama kamu." ujar Indra. "Itulah yang selalu buat ayah jatuh cinta pada mama kamu. Kelembutan nya, perhatiannya, penyayang dan masih banyak lagi." mendengar itu membuat Yasmin kembali meneteskan air matanya.
"Hei kenapa menangis?" tanya Bima yang melihat Yasmin menangis.
"Yasmin sedih karena tidak bisa merasakan kasih sayang dari ibu, tidak bisa mendapatkan perhatian dari ibu, apalagi pelukannya. Yasmin dari dulu menginginkan dan menunggu saat-saat itu.." Bima langsung memeluk adiknya. Membuat Gio yang melihat itu melebarkan matanya dan ia tidak suka, karena Bima main peluk Yasmin gitu saja. Untung di ruangan lagi banyak orang kalau tidak, sudah di tonjok tuh wajah Bima.
"Jangan sedih, kakak dan ayah akan memberikan itu pada kamu." Indra pun ikut memeluk putrinya. Mereka bertiga pun berpelukan.
"Sayang maafin ayah yang tidak bisa menjaga mama, sehingga membuat kamu kehilangan kasih sayang dari mama bahkan dari kami semua." ucap Indra merasa bersalah dan menyesal yang tidak bisa menyelamatkan Nilam saat kecelakaan itu.
Dokter Indra menatap Reza setelah melepaskan pelukannya dari anak-anak nya.
"Pak Reza, Ibu Mita, dan nak Gio terimakasih berkat kalian saya bisa bertemu dengan Yasmin, putri saya dan Nilam." ucap Indra.
"Sekali terimakasih."
"Dok, ada satu lagi yang mau kami bicarakan pada anda." sambung Reza
"Tentang apa lagi nih pak Reza?" tanya Indra.
"Niat kami kesini selain untuk mempertemukan Dokter dengan Yasmin, kami juga ingin menjadikan Yasmin sebagai menantu saya." ucap Reza mengucapkan niat uang sebenarnya.
"Menantu?" Indra menatap Yasmin yang tersipu malu.
"Ia om. Gio dan Yasmin selama ini sudah menjalin hubungan. Sebenarnya Gio dan keluarga sudah menentukan pernikahan kami dan karena om adalah Ayah dari Yasmin, jadi om berhak tau dan say juga ingin meminta restu dengan Om." kali ini Gio yang berbicara pada Indra.
"Kalian sudah lama menjalin hubungan?" tanya Bima sembari menatap Gio. Seketika Bima ingat sesuatu, dan ia pernah melihat Yasmin dimana.. "tunggu dulu, gue inget sekarang. Yasmin waktu itu yang ada di apartemen Lo kan? saat Lo sakit?" tanya Bima memastikan.
__ADS_1
"Hahaha.. Lo inget aja sih. Gue kira Lo gak ingat lagi, kalau Lo Uda pernah bertemu dengan Yasmin." jawab Gio yang masih terus tertawa. "Iya, waktu itu Yasmin merawat gue saat sakit di Apartemen." ucap Gio lagi.
"Oh ya ampun.. ternyata gue Uda pernah bertemu adik gue sendiri. Pantes aja saat gue menatap Yasmin, dia mirip banaget sama Mama Nilam. Dan gue kira itu hanya kebetulan aja. Tapi ternyata benar Yasmin anak mama Nilam, adik Gue." Bima langsung memeluk Yasmi senang.
"Jangan peluk-peluk Lo!" ucap Gio sembari menatap tajam Bima.
"emangnya kenapa? Yasmin adik gue." Bima menjulurkan lidahnya mengejek, Gio.
"Gue calon suaminya. Gue gak suka lihat Lo peluk-peluk calon istri gue." ucap Gio kesal.
"Dasar Posesif. Emangnya gue uda ngijinin lo nikahin adik gue? minta restu dulu sama gue!"
Mereka pun yang ada disitu hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Gio dan Bima.
"Sayang duduk disini aja, dekat sama aku." bujuk Gio meminta Yasmin pindah dan duduk di sebelahnya.
"Enak aja. Lo mau nikahin adik gue kan? jadi Lo gk boleh dekat-dekat adik gue dan bertemu dengannya dulu. Orang bilang apa ya? hah ya.. dipingit. Jadi kalian berdua di pingit sampai waktu pernikahan kalian tiba." ucap Bimo sembari menyeringai licik.
'emang enak Lo gue kerjain.' ucap Bima dalam hati.
"Apa? dipingit? yang benar aja dong Lo Bim.."
"Mama setujuh apa kata nak Bima, kalau kalian harus dipingit." sambung mama Mita.
Membuat Bima tertawa terbahak-bahak penuh kemenangan karena ada sekutunya disini.
"Gimana Dokter Indra, apa anda merestui niat anak saya yang mau menikahi Yasmin?" tanya Reza lagi.
"Kalau saya, itu terserah anaknya aja. Kalau dia juga menginginkan pernikahan ini, saya setujuh. Tapi saya ada syarat.." mereka semua menatap ke Dokter Indra.
"Apa syaratnya om?" tanya Gio penasaran.
__ADS_1