
"Selamat tuan, istri anda beneran hamil. Dan kandungannya sudah menginjak 4 Minggu." ucap Dokter kandungan yang bernama Sintia.
Gio, Mita dan juga Yasmin. Mereka sama-sama meneteskan air matanya bahagia. Yasmin tidak menyangka, ia di berikan kepercayaan hamil secepat ini.
"Dok saya mau tanya, ada gak obat anti mual? Soalnya istri saya mual terus. Apalagi kalau berdekatan dengan saya. Pasti istri saya langsung mual dan muntah. Kok bisa seperti itu ya Dok?" tanya Gio pada Dokter Sintia.
"Itu di sebabkan perubahan hormon dan bisa juga hormon yang tidak stabil pada masa kehamilan. Tapi hal itu biasa dan sering terjadi pada ibu hamil. Karena kondisi itulah ibu hamil menjadi lebih sensitif. Seperti mudah marah, kesal dan sedih. Bahkan sampai seperti yang tuan alami. Tapi tuan tenang saja, itu hanya bersifat sementara." jawab Dokter Sintia menjelaskan.
"Sepeti itu ya Dok. Tapi kalau berhubung suami istri, saat istri sedang hamil gimana Dok?" tanya Gio lagi yang tak malu pada Dokter Sintia. Dan itu langsung membuat Yasmin terkejut sekaligus juga malu dengan pertanyaan dari suaminya. Yasmin pun menatap tajam suaminya dengan kesal.
"Kenapa sayang? kan gak salah kalau mas tanya seperti itu pada Dokter, ya kan Dok?" tanyanya.
"Iya.." jawab Dokter Sintia. "Kalau untuk berhubungan badan jangan dulu, ya tuan? karena kehamilan Bu Yasmin masih mudah dan sangat rentan. Jadi jangan sampai membuatnya kelelahan." ucap Dokter.
*
__ADS_1
Seminggu telah berlalu. Tetapi Gio belum juga bisa memeluk istrinya tercinta. Bahkan sekarang Yasmin menginap di rumah ayahnya, karena ia enggan melihat wajah sang suami. Sepertinya calon bayinya ini sengaja menyiksa Papa nya. Padahal Gio uda sangat merindukan Yasmin, ia rindu peluk sang istri, ia rindu menciumnya dan ingin sekali Gio mengelus perut milik istrinya. Tapi apalah daya, sang istri tak mau melihatnya, bahkan tak mau sekamar dengannya. Itu membuat Gio uring-uringan dan frustasi.
"Sayang ayo pulang dengan mas. Mas kangen banget loh sama kamu?" bujuk Gio yang saat ini sudah berada di rumah mertuanya.
"Mas ngapain kesini, pulang sana! aku gak mau lihat mas. Aku masih mual kalau dekat-dekat sama mas." ucap Yasmin yang duduk di depan sang suami yang hanya terhalang dengan meja.
"Sayang, apa kamu gak kangen sama mas.. Sayang mas juga pengen ngelus perut kamu, kangen juga dengan dedenya." rengek Gio yang tidak perduli disana ada ayah mertuanya.
"Jangan paksa. Kalau adik gue gak mau. Apa Lo mau lihat dia muntah terus?!" sambung Bima yang baru saja turun dari tangga, lalu duduk di samping Yasmin. "anak Deddy emang paling the best, menghukum papamu yang playboy itu." Ucap Bima tersenyum sinis menatap Gio.
"Iya, aku akan jadi Daddy nya." Jawab Bima santai.
"Enaknya aja, itu anak gue. Kalau Lo mau jadi Daddy nikah sana biar Lo punya anak sendiri." kesalnya.
"Loh emang kenapa kalau gue mau jadi Daddy nya, terserah gue dong? lagian diakan keponakan gue." balas Bima sembari mengelus perut Yasmin. Melihat Bima dengan mudah mengelus perut istrinya, membuat Gio sangat kesal. Dirinya saja gak bisa mengelus, dan Bima enak saja dengan santai mengelus perut istrinya. Kalau saja Bima bukan kakak iparnya pastinya uda ia tonjok tuk muka Bima.
__ADS_1
Yasmin langsung beranjak dari sofa dan berjalan menuju kamarnya, ia malah pusing melihat suami dan kakaknya berdebat.
"Loh sayang mau kemana?"tanya Gio.
"Mas pulang aja! Aku mau kekamar pusing lihat kalian berdebat terus." jawab Yasmin ketus.
"Sayang, jangan gitu dong. Mas kangen kamu Lo? kalau gak, mas tidur sini ya? sayang?" Yasmin bukannya menjawab ia malah terus saja berjalan menuju kamar nya.
Sampainya di dalam kamar, Yasmin menangis. Sebenarnya ia pun juga kangen dengan suaminya. Ia kangen pengen di peluk suaminya. Ia tidak bisa tidur nyenyak kalau tidak ada Gio di sampingnya. Tapi mau gimana lagi, ia selalu saja mual dan muntah berdekatan dengan suaminya. Tadi saja ia udah tahan-tahan untuk di mual dan muntah di depan sang suami.
"Gio sabar ya nak, biasanya yang seperti itu gak lama kok. Maklum hormonnya masih tidak stabil. Mending kamu pulang saja dulu. Kalau kamu paksa pun percuma. Entar kalau sudah normal, pasti anak Ayah akan langsung pulang kerumah. Bahkan bisa saja nanti, Yasmin yang menempel ke kamu terus." ucap Indra yang sedari tadi diam saja sembari memperhatikan mereka.
Gio menghela nafasnya, pasrah. Akhirnya ia tidak bisa membawa Yasmin pulang bersamanya. Dan ini Uda yang ke tiga kalinya ia membujuk sang istri.
"Baik lah ayah kalau gitu." ucap Gio menyetujui omongan papa mertua. "Gio pulang dulu Yah." Dengan lemas Gio beranjak dari sofa, lalu berjalan menuju pintu. Sedangkan Bima tersenyum senang melihat Gio sengsara di buat anaknya sendiri.
__ADS_1
"Iya.. kamu tenang saja. Yasmin ayah jaga dengan baik disini." Gio pun mencium tangan mertuanya, setelah itu ia pun masuk mobil dan melajukan mobilnya keluar dari rumah sang mertua.