
"Saya mau Yasmin tinggal bersama saya sampai hari pernikahan mereka. Dan satu lagi, saya juga ingin ijab Qabul di selenggarakan di rumah kami. Gimana?" Tanya Indra pada keluarga Adijaya.
"Kalau kami terserah Yasmin nya aja. Mungkin Dokter benar, Yasmin tinggal bersama kalian sampai hari pernikahan mereka. Lagian kalian bisa saling mengenal sebagai keluarga." jawab Mita.
"Yasmin, gimana nak? apa kamu mau tinggal dengan ayah dan kak Bima?" tanya Indra pada putrinya. Yasmin menatap Gio sejenak, untuk meminta persetujuan nya. Gio yang tahu isyarat dari Yasmin hanya mengedipkan kedua matanya sembari tersenyum bahwa ia menyetujui nya.
"Ya uda, Yasmin mau. Lagian Yasmin ingin lebih kenal dan dekat lagi dengan ayah dan kakak Bima." Jawab Yasmin senang. Melihat senyum dari Yasmin karena senang bisa tinggal dengan ayahnya, membuat Gio bahagia.
*
"Mas kita mau kemana?" tanya Yasmin. Saat ini mereka sudah berada di dalam mobil dan akan menuju ke suatu tempat. Setelah pertemuan dan perbincangan di ruangan Dokter Indra tadi. Gio meminta ijin pada semuanya untuk membawa Yasmin keluar sebentar dan nanti Gio akan mengantarkan Yasmin pulang ke rumah Indra, ayah Yasmin. Lagian sebelum seminggu mau pernikahan, mereka akan di pingit. Jadi Gio tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk bersama dengan, Yasmin.
Tadinya Bima ingin ikut, takut Gio macam-macam dengan Yasmin, adiknya. Soalnya Bima tahu siapa Gio, si playboy cap kadal. Tapi Indra langsung melarang nya, Indra tahu seperti apa rindunya nanti kalau sudah di pingit. Jadi ia memberikan kesempatan untuk mereka menghabiskan waktu. Mendengar calon Ayah mertua melarang Bima ikut, membuat Gio senang bukan kepalang karena Bima tidak jadi ikut dengan mereka. Kalau Bima sampai ikut, Gio pasti tidak akan bisa bermesraan dan tidak bisa mencuri-curi untuk mencium Yasmin.
"Mas.. kok gak di jawab sih! aku lagi nanya loh!" ucap Yasmin sembari menatap Gio yang lagi menyetir.
"Ini suprise sayang, sabar ya entar lagi sampai kok." jawab Gio akhirnya sambil mengelus kepala Yasmin dengan lembut.
Setengah jam akhirnya mereka sampai. Yasmin bingung kenapa Gio berhenti di sebuah rumah yang bisa di bilang cantik.
"Ayo sayang kita masuk?" ajak Gio yang sudah menggenggam tangan Yasmin. Kemudian mereka masuk kedalam.
"Mas ini rumah siapa?" tanya Yasmin penasaran.
"Ini rumah kita, sayang." jawab Gio.
"Ru-rumah kita?"
__ADS_1
"Iya, Ara.. setelah kita menikah nanti, kita akan tinggal disini. Kalau kita tinggal di Apartemen mas, apartemen nya kan kecil." jelas Gio sembari menarik pelan ujung hidung Yasmin.
'kecil apanya?! Apartemen sebesar itu di bilang kecil. Terus besarnya seperti apa?' ucap Yasmi dalam hati.
"Mas bukannya ini terlalu besar ya?" tanya Yasmin sembari melihat sekeliling rumah yang begitu indah dan perabotannya bagus ia yakin pasti harganya sangat mahal.
"Gak besar, dan gak kecil juga sih sayang, Pas lah buat keluarga kecil kita nanti." Kemudian Gio membawa Yasmin kelantai atas, menuju kamar mereka.
"Wah mas, kamarnya besar banget?" Gio tersenyum melihat Yasmin seperti suka dengan kamarnya.
"Sayang apa kamu suka dengan rumahnya?" tanya Gio.
"Suka mas, suka banget." Jawab Yasmin langsung. "Kapan mas membelinya?" Yasmin menatap Gio dengan lekat sembari menunggu jawaban dari lelaki itu. Gio bukannya menjawab, ia malah menarik pinggang Yasmin agar lebih dekat dengannya.
"Mas.." Yasmin menundukkan kepalanya malu.
"Mas.." panggil Yasmin yang langsung sadar saat tangan Gio sudah menyentuh dan mencium dadanya. Ia takut, takut mereka keterusan sampai melakukan yang belum seharusnya. Tapi untungnya Yasmin uda tidak trauma lagi, kalau saja kemaren ia tidak berobat ke psikiater, mungkin saja saat Gio seperti ini sekarang traumanya akan muncul dan akan membuat ia ketakutan.
"Mas.."
"Hmm." Gio masih asik dengan dada milik Yasmin.
"Mas kita belum nikah loh. Mas.." Yasmin berusaha menahan rasa aneh yang muncul pada seluruh tubuhnya karena Gio masih terus menyentuh dadanya. Yasmin mencoba menarik tubuh Gio agar menjauh dari tubuhnya.
Seketika Gio sadar apa yang di lakukannya. Gio langsung memeluk Yasmin dan meminta maaf padanya. Ia jadi ingat pada Yasmin, yang pernah trauma karena hampir di perkosa dengan Rangga. Kalau seperti ini apa bedanya dia dengan Rangga.
"Sayang, maafin mas. Maaf, maaf sayang. Mas benar-benar minta maaf." ucap Gio merasa bersalah. "Maaf, sayang. Mas benar-benar gak tahan kalau sudah dekat kamu." Yasmin tersenyum sembari mengelus rambut Gio.
"Iya mas.." ucapnya lembut.
__ADS_1
"Kita nikahnya besok aja ya, sayang? mas benar-benar gak bisa jauh dari kamu." rengek Gio. Membuat Yasmin tertawa mendengar rengekan Gio, meminta besok nikahnya.
"Kok ketawa sih, sayang.. mas beneran loh maunya besok nikahnya."
"Sabar mas.. kan gak lama lagi." ucap Yasmin yang mengelus wajah tampan Gio. Karena wajah Gio tepat berada di depan wajah Yasmin.
"Tapi terlalu lama, say.. hmmpp." Gio melebarkan matanya karena Yasmin mencium bibirnya. Saat Yasmin mau melepaskan, Gio langsung menahan tengkuk leher Yasmin agar tautan bibir mereka tidak terlepas. Beberapa menit Gio pun melepaskan ciumannya.
"Kamu sudah berani menggoda mas ya, sayang?" pipi Yasmin langsung memerah. Ia malu karena sudah berani mencium Gio terlebih dahulu. Sungguh menggemaskan sekali melihat pipi merah Yasmin. Kemudian Gio mencium kening Yasmin lama. "Kita pergi makan malam dulu ya? baru itu mas antar kamu pulang ke rumah Ayah Indra." Gio pun bangkit dari atas tubuh Yasmin. Lalu membantu Yasmin untuk berajak dari ranjang.
"Kamu suka gak rumahnya?" tanya Gio lagi sembari merangkul bahu Yasmin.
"Suka banget mas." Jawab Yasmin yang memeluk pinggang Gio sambil menatap Wajah Gio.
Gio pun mencium pipi Yasmin senang dan bahagia.
"Kamu mau konsep pernikahan seperti apa sayang? biar entar mas bilang sama mama, kan mama yang urus semuanya." tanya Gio, saat ini mereka sudah di Restoran sedang menunggu pesanan mereka.
"Kalau Yasmin, ngikut aja mas.." jawab Yasmin yang memang tidak memiliki konsep apapun jika suatu hari ia menikah.
"kalau warna, kamu suka warna apa? setidaknya warna dekorasinya, warna kesukaan kamu." ucap Gio lagi.
"Yasmin suka warna-warna yang lembut mas, gak suka yang terlalu cerah."
"Oke, entar mas bilang sama mama."
Pesanan mereka pun datang, Gio dan Yasmin langsung menyantap makanan nya. Sesekali Gio menyuapi Yasmin dan begitu pun sebaliknya. Yasmin tidak manyangka bersama Gio bisa membuatnya sebahagia ini. Berbeda saat dulu ia dengan Rangga, ia dulu memang bahagia, tapi tidak sebahagia apa yang ia rasakan kepada Gio.
Gio memperlakukan nya begitu lembut dan penuh kasih sayang. Ia seperti sangat di cintai dan yang paling membuat nya bahagia adalah tatapan Gio ke padanya, tatapan memuja dan cinta.
__ADS_1