
Kini Lusi, Dina, Miranda dan Cinta menjemput Sari dari tempat kostnya. Saat mereka sampai di depan kostnya Sari, Mereka langsung menghubungi Sari untuk keluar dari dalam kamarnya.
Kebetulan hari itu hari weekend, Jadi Sari bisa dengan leluasa untuk berdandan. Entah kenapa dia merasa perasaannya sangat gugup, untuk menemui pria yang dijodohkan Lusi dan yang lainnya padanya.
Saat Sari masuk kedalam mobil, Sari langsung diperhatikan dari atas sampai kebawah.
"Perfek" ucap mereka serentak sambil tersenyum.
"Mbak, kenapa perasaan ku tidak enak ya? Mbak, saya mau tanya pria yang akan mbak kenalkan pada saya apa saya mengenalnya?" tanya Sari karena semalam dia melupakan sesuatu tentang siapa pria yang akan dikenalkan padanya.
"Hahaha. Kenapa? Kamu gugup ya? Tenang saja, pria yang kami kenalkan pada mu sebenarnya pria ini sudah sangat mengenal mu" jelas Lusi.
"Dia juga memiliki perasaan dengan mu" timpal Miranda yang duduk di samping supirnya.
Tentu saja membuat matanya Sari langsung membulat.
"Suka? Mengenal? Tunggu dulu! Apa dia juga bekerja di hotel milik pak Mike, ya mbak?"
Mereka berempat pun langsung mengangguk kepalanya dengan tersenyum.
"Sudah santai saja. Dia pria yang sangat baik. Tapi tunggu dulu, kamu memang tidak pernah punya pacar kan?" tanya Cinta lagi memastikan.
"Tidak, mbak!"
"Kalau begitu apa saat ini kamu menyukai seseorang?" tanya Cinta lagi.
Sari hanya diam saja, dia sangat bingung dengan apa yang harus dia jawab. Karena saat ini sebenarnya dia memiliki perasaan pada pria yang sangat jauh sempurna baginya. Dia tidak pernah berani untuk mengungkapkan perasaannya karena dia merasa kalau dia sangat tidak pantas untuk pria itu. Dia berpikir seperti itu karena dia hanya lah seorang anak yang broken home. Kedua orangtuanya sudah bercerai sewaktu dia duduk di bangku SMP kelas satu.
Saat papa resmi bercerai mamanya, langsung menikah dengan selingkuhannya. Sedangkan mamanya menikah setelah dia tamat SMA. Maka karena itu saat dia SMP dia tinggal bersama mamanya, tapi saat waktu SMA dia tinggal bersama Papanya. Karena dia merasa tidak nyaman saat suami baru mamanya menatap dirinya dengan tatapan mesum.
Sebenarnya dia ingin sekali keluar dari rumah papanya setelah beberapa hari tinggal di rumah papanya. Karena mama tirinya sering menjadikan dirinya jadi budak. Tapi dia berusaha untuk bertahan, karena dia masih membutuhkan papanya untuk membiayai sekolahnya. Sewaktu tamat SMA dia langsung keluar dari rumah papanya karena sudah tidak tahan lagi, karena papanya selalu membela mama tirinya.
__ADS_1
Hal itulah yang membuat Sari kadang takut berhubungan dengan seorang pria. Apalagi kalau pria itu sangat sukses dan tampan karena dia takut suatu saat pasangannya akan meninggalkan dirinya kalau sudah bosan, seperti papanya.
"Kalau kamu diam berarti kamu menyukai seseorang saat ini" ucap Cinta. Dina dan yang lainnya langsung menatap kearah Sari.
"Kita berhenti dulu dipinggir pak!" ucap Miranda tiba-tiba.
Dia merasa kalau saat ini Sari tidak berani bicara karena ada orang lain. Setelah supir pribadi Miranda keluar, Miranda mengubah posisi duduknya untuk melihat kebelakang.
"Kalau kamu mempunyai pria yang sangat kami sukai kenapa tidak beritahu pada kami? Kenapa juga kamu menerima pria yang akan kami kenalkan pada mu? Kami tidak ingin membuat kamu menyesal nantinya" jelas Miranda.
"Maaf kan saya, mbak. Saya tidak memberitahukannya karena saya merasa itu tidak terlalu penting. Lagian pria itu sangat sempurna, saya merasa kalau saya tidak akan level padanya." jelas Sari dengan wajah sendu sambil menundukkan kepalanya.
"Kenapa kamu berkata seperti itu?" tanya Lusi lagi.
"Seperti yang mbak tahu kalau saya anka broken home. Sedangkan dia pria yang memiliki keluarga yang sangat sempurna. Kadang kala kalau melihat wajah yang tampak sangat dikagumi oleh wanita lain, membuat aku takut kalau dia seperti papa ku!" jelas Sari lagi.
"Apa kami mengenalnya?" tanya Lusi lagi, karena dia merasa kalau pria yang disebut Sari, dia kenal.
"Baiklah. Itu adalah hak mu! Sekarang kamu mau kenalan dengan pria yang akan kami kenalkan pada mu?" Sari hanya mengangguk kepalanya.
"Kamu kenalan saja dulu, setelah itu kamu sendiri yang memutuskannya!" ucap Miranda.
***
Kini mereka berhenti di salah satu restoran yang sangat terkenal. Saat mereka masuk, Sari merasa detak jantungnya berdegup kencang. Dia sangat bingung kenapa dengan jantungnya.
"Apa aku sakit jantung? Tapi masa hanya karena bertemu dengan pria, jantung ku berdegup kencang!" gumam Sari dalam hati sambil meremas bajunya.
"Yuk, masuk" ucap Lusi sambil menggandeng tangan Sari. Karena sentuhan tangan Lusi membuat Sari sadar dari lamunannya.
Jleb....
__ADS_1
Sari sangat terkejut melihat pria yang kini sedang berdiri di hadapannya. Sedangkan Luis dan yang lainnya malah tersenyum dan sambil mengedipkan matanya pada pria yang dihadapannya.
" Pak Baim, kenapa disini?" gumam Sari yang masih tampak bingung.
"Sar, dia lah pria yang kami maksud" bisik Miranda ditelinga Sari.
Tentu saja membuat Sari sangat terkejut, matanya kini membulat dan mulutnya kini seperti kena kunci. Sehingga membuat dirinya tidak bisa bicara dan menyapa Baim, yang tidak lain adalah atasannya sendiri. Melihat Sari yang terus diam, membuat Miranda langsung menyenggol lengan Sari. Sedangkan Baim, dia tahu kalau saat ini Sari pasti tampak sangat terkejut akan kehadirannya.
"Em... Sepertinya kami pergi dulu. Kalian bisa mengobrol berdua" ucap Lusi dengan tersenyum.
Miranda dan yang lainnya langsung keluar dari ruangan itu, yang tersisa hanya Sari dan Baim saja.
"Duduklah!" ucap Baim pada Sari.
Sari yang masih tampak kikuk langsung mengangguk kepalanya, lalu dia duduk sesuai dengan apa yang dikatakan Baim.
Miranda dan yang lainnya berharap kalau Baim dapat memenangkan hatinya Sari.
***
Keesokan harinya, Lusi dan ketiga sahabatnya kini langsung ke tempat kostnya Sari. Mereka sudah mengetahui dari Baim tentang acara makan malam Sari dan Baim setelah mereka pulang.
"Silahkan, mbak. Maaf saya hanya bisa menyajikan minuman teh manis saja" ucap Sari.
"Tidak apa-apa. Kami datang kesini hanya ingin bertanya sesuatu pada mu!" ucap Lusi.
"Saya tahu, kalau mbak pasti sudah tahu dari pak Baim" ucap Sari dengan menundukkan kepalanya. Entah kenapa dia merasa bersalah kepada empat wanita yang sudah seperti kakak baginya saat dia mulai bergabung di Hotel Golden.
"Ya, kami ingin tahu alasannya dari mulut sendiri" ucap Lusi.
Ternyata semalam saat mereka habis makan malam, Baim mengatakan isi hatinya pada Sari. Saat dia menggenggam tangan Sari, mata Sari sudah berkaca-kaca. Tentu saja membuat Baim bingung, saat Baim ingin bertanya Sari langsung menarik tangannya dan langsung lari.
__ADS_1
***