You'Re My Everything

You'Re My Everything
Kelicikan Monika dan Sisil


__ADS_3

Kini Lusi duduk di kursi yang kosong dengan tangan yang diikat kebelakang dan mulutnya di lakban.


"Emmm" Lusi terus memberontak untuk dilepaskan.


"Bukakan tutupan mulutnya" ucap seorang wanita datang dari belakang.


Pria yang berdiri di belakang Lusi langsung membukakan lakban hitam yang menutupi mulutnya Lusi.


"Breng***... Kalian berdua memang wanita gila" teriak Lusi pada Monika dan Sisil yang senyum-senyum terus menerus.


Flash back


"Halo Bian keponakan Tante tersayang" sapa Monika dengan tersenyum licik pada Bian saat muncul dari belakang anak buahnya.


Ternyata yang datang adalah Monika dan Sisil sambil membawa banyak preman-preman.


"Tante Monika? Kenapa kalian bisa tahu, aku disini?" tanya Bian dengan dingin melihat Tantenya bersama adik sepupunya.


"Hahaha. Kakak tenang dulu, Napa! Aku akan kasih tahu bagaimana bisa kami bisa ada disini" ucap Sisil sambil berjalan melenggak-lenggok jalannya dengan centil dihadapan anak buahnya Bian.


"Sebenarnya kami tidak sengaja melihatnya. Saat kami ingin pulang ke Bogor, kami melihat mobil kakak. Dan yang paling membuat kami terkejut adalah Lusi ada disamping kakak dengan tidak sadarkan diri."


"Kami mengikuti kak Bian sampai ke rumah ini. Awalnya kami sangat senang karena kakak menculik Lusi, tapi ketika mendengar kalau kakak ingin menikahinya membuat diriku marah. Aku tidak suka dia masuk kedalam keluarga kita. Aku ingin dia pergi selamanya dari bumi ini, tapi sepertinya kakak tidak akan melakukannya. Jadi kami ingin ambil alih tugas itu. Apa kakak ingin tahu kenapa bisa kami tahu semuanya. Karena kami sudah membeli beberapa anak buah kakak. Hahahaha" ucap Sisil.


Bian langsung melihat kearah luar jendela dari kamar, dia melihat beberapa anak buahnya sudah terkapar di tanah dengan lumuran darah.


"Sekarang kami ingin mengambil Lusi untuk ikut bersama kami. Oh, ya kami mengucapkan terima kasih pada kakak karena membuat keinginan kami lebih gampang" ucap Sisil.


"Bawa dia" ucap Monika kepada anak buahnya akan ada didekatnya.


Saat anak buahnya Monika ingin mendekati Lusi, Bian langsung menjadi tamengnya. Dia menatap tajam ke arah anak buahnya Monika.


"Didit, Vicky kalian tahu apa yang harus kamu lakukan?" ucap Bian pada anak buahnya.


Akhirnya terjadilah perkelahian didalam kamar itu, anak buahnya Monika yang terlalu banyak membuat Vicky dan Didit kalah. Vicky dan Didit tergeletak di lantai dengan tidak sadarkan diri karena sudah babak belur.


"Lusi lebih baik kalian segera lari, tolong bawa Cinta" ucap Bian pada Lusi.


"Lebih baik kita bekerja sama untuk menghabisi mereka" ucap Lusi dengan tatapan tajam pada Sisil.

__ADS_1


"Apa kamu yakin?" Lusi langsung mengangguk kepalanya dengan penuh keyakinan.


Bian dan Lusi langsung berkelahi dengan anak buahnya Monika. Bian yang sudah sangat pintar beladiri membuat beberapa anak buahnya Monika langsung terkapar. Begitu juga Lusi dapat mengalahkan lawannya.


Monika dan Sisil sangat terkejut melihat Lusi yang pintar alih beladiri. Saat Melihat anal buahnya mulai terkapar, Monika melihat Cinta yang terbaring lemah.


Dengan cepat Monika langsung menarik Cinta sambil menodongkan pisau di lehernya. Sisil membantu mamanya untuk menarik Cinta.


"Berhenti kalian berdua, atau tidak nyawanya akan jadi taruhan" ucap Sisil.


Bian dan Lusi langsung menghentikannya ketika melihat Cinta di tangan Monika dan Sisil.


"Tante jika terjadi sesuatu padanya, aku tidak akan pernah memaafkan Tante!" ucap Bian.


"Hahaha. Oh, ya?" ucap Monika sambil ketawa bahagia melihat Bian dan Lusi panik.


"Sisil apa kamu mau coba?" tanya Monika pada Putrinya.


Tentu saja membuat Sisil langsung semangat, awalnya sisil mengelus pipi Cinta dengan lembut. Bian dan Lusi terus memperingati Sisil untuk tidak menyakiti Cinta.


Plak...


Plak...


"Sisil..." teriak Bian emosi.


"Berhenti Bian. Kalau kamu melangkah sedikitpun, ujung pisau ini bisa menggoreskan dilehernya yang mulus ini" ucap Monika saat melihat Bian ingin berjalan kearah mereka.


Sontak saja membuat Bian langsung berhenti melangkah. Hatinya terasa teriris ketika melihat wajah kesakitan Cinta. Dan apalagi Cinta terus menangis untuk dilepaskan karena ketakutan.


"Baik. Apa yang Tante mau?" tanya Bian dengan dingin terhadap tantenya sendiri, yang kini sudah menjadi musuhnya.


"Serahkan dia! Maka kami akan melepaskannya" ucap Monika.


"Baik. Kalian boleh membawa ku" ucap Lusi tiba-tiba sebelum Bian memberikan jawaban atas permintaan Monika.


Bian langsung menatap Lusi sambil menggelengkan kepalanya. Dia tidak setuju dengan tindakan Lusi.


"Tidak apa-apa. Yang penting saat ini, Cinta." ucap Lusi pada Bian yang mengerti kalau Bian tidak setuju dengannya.

__ADS_1


"Hahaha. Baiklah. Kalian ikat dia" ucap sisil pada anak buahnya yang masih tampak sehat.


Tangan Lusi langsung diikat kebelakang, sedangkan Sisil langsung menyuruh anak buahnya untuk menghajar Bian. Sampai Bian terkulai lemas. Bian ingin sekali membalasnya tapi disaat dia ingin membalas Monika langsung menekan pisau yang dipegangnya ke leher Cinta. Mendengar jeritan Cinta membuat Bian kembali diam menerima pukulan.


Bian yang wajahnya sudah babak belur dan darah segar keluar dari mulutnya, terkulai lemas di lantai. Saat melihat Bian tidak bisa berdaya lagi, Monika langsung melepaskan Cinta.


Saat mereka ingin keluar dari dalam kamar itu, Sisil dengan liciknya langsung mengambil guci yang ada di depan kamar.


Bugh...


Sisil memukul kepala Cinta dengan guci itu, sehingga membuat Cinta langsung terjatuh ke lantai.


"Cinta..." teriak Bian melihat Cinta yang sudah tergeletak di lantai.


Sisil tersenyum sinis melihat hal itu. Entah setan apa yang membuat Sisil menjadi wanita yang tidak lagi memiliki perasaan. Bian berusaha untuk bangkit, dia ingin melihat keadaan Cinta.


Bian membantu Cinta untuk bersandar di dinding dekat pintu kamar. Dia melihat ada darah yang mengalir dari kepala belakang Cinta. Meskipun darahnya tidak keluar banyak darah, membuat Bian sangat cemas pada keadaan Cinta.


Sedangkan Monika dan Sisil yang ingin memaksakan Lusi untuk masuk kedalam mobilnya, Handoko tiba-tiba muncul.


"Mon, lepaskan putriku!" teriak Handoko emosi.


"Tidak akan. Aku akan membawa dia bertemu dengan mama kandungnya" ucap Monika.


"Tidak, Mon. Ku Mohon tolong jangan sakiti putri ku" Handoko berusaha memohon kepada Monika untuk melepaskan Lusi. Sampai-sampai Handoko berlutut di hadapan Monika dan Sisil.


"Papa! Apa papa tidak sayang pada ku lagi?" tanya Sisil dengan sendu karena mendengar papanya memohon seperti itu.


Lusi sangat terkejut melihat papanya sampai berlutut di hadapan Monika, supaya untuk melepaskannya. Dalam hatinya dia merasa sangat Sakit melihat papanya seperti itu hanya karena dirinya.


"Papa sayang sama Sisil. Tapi Lusi juga anak papa, nak. Papa tidak ingin melihatnya terluka hanya karena papa. Papa mohon tolong lepaskan Lusi, bagaimanapun dia juga kakak kamu, sayang" ucap Handoko pada Sisil.


"Jangan menghasut putri ku Han! Kalian bereskan dia, tapi jangan sampai kelewatan" ucap Monika.


"Maaf, pa. Sisil tidak ingin mengikuti permintaan papa. Papa dan Mike hanya menjadi milikku sendiri" ucap Sisil.


Sisil langsung masuk ke dalam mobil, setelah itu Lusi dan Monika. Sedangkan anak buahnya menghajar Handoko lebih dulu. Karena Handoko yang belum siap-siap langsung tersungkur di tanah. Karena pukulan diperutnya sangat kuat dan satu tinju yang mendarat di wajahnya.


Flash back end

__ADS_1


__ADS_2