
Ketiganya kompak jalankan ibadah sepertiga malam di tempat masing-masing, terus saja berdoa sambil menunggu waktu shubuh. Setelah sholat shubuh Aca dan Bima terpaksa tinggalkan Nona bersama perawat untuk bersihkan diri. Walaupun Aca dan Bima siap antarkan Mamon ke toilet, tetap saja Mamon memilih bersama perawat perempuan.
Handphone Bima berdering, sepagi ini Magda sudah hubungi dirinya.
"Sayang..." panggil Bima mesra pada Magda.
"Kamu sama Aca mau sarapan apa? sebelum kekantor aku mampir ke rumah sakit sebentar." kata Magda pada Bima.
"Apa ya, bingung mau makan apa." jawab Bima.
"Aku bawakan roti saja kalau bingung."
"Mau makan kamu saja." jawab Bima konyol, Magda tertawa dibuatnya.
"Jangan macam-macam deh." Aca yang ternyata menguping buka suara.
"Ada yang nguping." adu Bima pada Magda, mereka tertawa bersama.
"Bim, aku sudah jalan kesana, beneran tidak mau dibawakan roti?" tanya Magda.
"Nanti kita sarapan bersama dikantin sini saja sayang." jawab Bima tersenyum senang karena akan segera bertemu Magda. Kemarin karena sedang kalut Bima tidak sempat bicara banyak dengan Magda.
"Oke, aku titip teleponnya ya, kamu intip-intip Oma Nina deh."
"Iya sayang, kamu hati-hati dijalan, kangen..." rengek Bima, Aca mencibir, Abangnya agak lebay pagi ini, sok manja gitu, Aca bergidik dibuatnya. Bima menoyor kepala Aca begitu menutup sambungan teleponnya.
"Kangeeen..." Aca menirukan gaya Bima, kembali mendapat toyoran dari Abangnya.
"Iri ya, tidak ada yang telepon." kata Bima menggoda Aca.
"Risa masih tidur jam segini." jawab Aca.
"Tidak sholat shubuh? cari istri yang rajin ibadahnya, jangan cuma lihat cantiknya." Bima ingatkan Aca.
"Iya." jawab Aca nyengir.
"Ingat yang lebih sering bersama anak kita itu Ibunya, jadi harus yang Bagus akhlaknya, supaya anak kita juga Bagus akhlaknya." wow Aca langsung tepuk tangan mendengar ocehan Abangnya.
"Lupa ya pernah pacaran sama Mak Lampir?" Aca terkikik geli.
"Rese..." Bima kembali menoyor kepala Aca sambil tertawa.
"Kak Magda sholatnya rajin loh." kata Aca pada Abangnya.
"Iya dong, semoga istiqomah karena Iman kan naik turun." jawab Bima.
"Iman yang mana." dasar Aca malah melihat ke rudal Abangnya.
"Otak lo." Bima kembali ingin menoyor adiknya, tapi kali ini Aca mengelak sambil terbahak, Bima pun ikut terbahak dibuatnya.
__ADS_1
"Tuh Kak Magda." tunjuk Aca pada Magda yang sedang berjalan cepat kearah mereka.
"Cantik banget calon istri gue." gumam Bima bikin Aca kembali bergidik, Abangnya terlihat bucin saat ini.
"Gue jemput Cadi ya." pamit Aca pada Bima.
"Masih pagi Aca, gue mau sarapan dulu sama Magda." omel Bima pada adiknya.
"Ya sudah gue bobo sama Mamon." kata Aca kemudian.
"Dokter visit jam berapa?" tanya Bima.
"Biasa jam depan, masih satu jam lagi." Aca melihat jam dipergelangan tangannya.
"Ya sudah tidur deh, nanti sebelum jam delapan gue disini, biar bisa temui dokter."
"Ikut sarapan yuk Ca." ajak Magda.
"Tidak deh, aku ngantuk Kak." jawab Aca nyengir, semalaman belum tidur karena saat mau tidur malam ngobrol bertiga.
"Kamu masuk dulu bertemu Mamon apa nanti setelah sarapan?" tanya Bima.
"Nanti saja." malah Aca yang menjawab sambil mendorong tubuh Abangnya.
"Ya sudah nanti saja, biar Aca bisa tidur." Bima terkekeh, segera merangkul Magda menuju kantin, mesra sekali mereka berdua, tampak serasi. Aca malah asik menilai Bima dan Magda. Jujur mereka pasangan favorite Aca.
"Kamu bisa tidur semalam?" tanya Magda pandangi Bima yang duduk disebelahnya, mereka sudah berhadapan dengan makanan saat ini.
"Aku tidak bisa tidur." kata Magda nyengir.
"Kenapa?" tanya Bima.
"Pikirkan kamu, pasti perasaan kamu tidak karuan."
"Terobati karena langsung lihat kamu kemarin." jawab Bima jujur.
"Masa?"
"Beneran sayang, tapi maaf karena pikiran aku kalut, aku tidak ingat mau telepon kamu." jawab Bima lagi.
"Ya ya ya, aku maklum." Magda tersenyum manis bikin Bima gemas, kalau bukan ditempat umum pasti sudah Bima ciumi.
"Kamu tuh pengertian banget." kata Magda mengusap pipi Magda lembut.
"I feel you, Mamaku juga sakit kan, jadi aku tahu rasanya." jawab Magda, Bima anggukan kepalanya.
"Aku kangen banget sama kamu waktu tidak bisa dihubungi, aku cemas sekali takut kamu kenapa-napa." cerocos Magda sambil nikmati makanan dihadapannya.
"Aku juga kangen, siapa sangka tidak bisa hidupkan handphone beberapa hari." Bima terkekeh.
__ADS_1
"Tidak dapat signal?" tanya Magda.
"Bukan, memang aturan pekerjaan seperti itu." jawab Bima tanpa menjelaskan secara detail.
"Repot juga kalau kamu kerjanya begini terus." sungut Magda, Bima terkekeh.
"Sayang, kalau kita menikah sepertinya tidak bisa tinggal di Singapore, Oma Nina minta aku urus Syahputra Group di Malang. Kamu mau nanti kita tinggal di Malang?" tanya Bima pada Magda.
"Istri harus ikut suami kan? tapi aku harus jelaskan sama Mama pelan-pelan." kata Magda pada Bima.
"Iya nanti aku juga ikut jelaskan sama Mama kamu, eh sayangnya belum bisa tepati janji kunjungi Mama kamu, tersinggung tidak ya orang tua kamu?" tanya Bima sedikit khawatir.
"Ya sudah tidak tepati janji mau ajak anaknya pindah ke Malang lagi." Magda bercandai Bima.
"Wah iya ya, bagaimana itu?" Bima tanggapi serius. "Telepon Bang Maxim sekarang ya." kata Bima lagi langsung saja menghubungi Maxim.
"Bim, bagaimana Oma kamu?" kakak beradik sama-sama pengertian, langsung saja tanya kondisi Oma Nina begitu angkat telepon.
"Masih di ICU bang, maaf ya jadi batal berkunjung." Bima sampaikan maafnya.
"Tidak apa Bim, kita malah aneh kalau kamu tetap paksakan kunjungi kami disini." Maxim terkekeh.
"Iya sih, tapi aku tidak enak hati sama Mama dan Papa Bang Maxim."
"Tidak masalah, mereka juga tahunya yang mau datang temanku, bukan pacarnya Magda." jawab Maxim.
"Berarti Papa dan Mama belum tahu aku ya Bang?" Bima sedikit kecewa.
"Tadinya mau kujelaskan begitu kamu disini Bim." jawab Maxim.
"Ya sudah nanti kalau suasana disini sudah enak aku berkunjung Bang." jawab Bima.
"Jangan dipikirkan dulu, kamu fokus sama urusan keluarga kamu dulu saja Bim, Oma kamu butuh kamu banget saat ini."
"Kok Abang tahu?" tanya Bima.
"Belin sama Noah siapa lagi." Bima tertawa dibuatnya.
"Aku malah belum hubungi mereka, ok lah Bang, makasih atas pengertian Abang." kata Bima tulus.
"Oke Bro, jaga kesehatan ya, kamu tidak boleh sakit." pesan Maxim pada Bima, bikin Bima merasa punya Abang saja dibuatnya.
"Oke Bang, Salam buat Papa dan Mama."
"Nanti disampaikan."
"Kalau minggu depan Oma sembuh, aku tugas kesana lagi Bang." lapor Bima.
"Masih saja pikirkan pekerjaan." Maxim terkekeh.
__ADS_1
"Ya tapi aku mau fokus ke Oma dulu." Bima jadi nyengir, laporan sama Om Lucky saja belum, malah lapor sama calon Abang ipar, dasar Bima.