You'Re My Everything

You'Re My Everything
Tidak takut


__ADS_3

Dengan penuh emosi, Lusi langsung membuka pintu kamar itu. Saat pintu terbuka, Lusi langsung berteriak memanggil Bian. Cinta hanya diam saja memilih mengikuti dari belakang Lusi.


"Bian breng*** keluar!" teriak Lusi.


"Ayo keluar" teriak Lusi sambil turun kebawah.


Bian dan beberapa anak buahnya langsung berlari dari taman belakang setelah mendengar suara teriakan Lusi.


Saat dia berada di lantai bawah dia melihat pria yang dari tadi ingin sekali memberi perhitungan. Melihat wajah Bian, membuat dia teringat dengan apa yang dikatakan suaminya. Kalau orang tuanya Bian, adalah orang yang telah membunuh mamanya. Lusi menatap Bian dengan tatapan dingin, karena bukan hanya karena dia anak dari pembunuh. Tapi orang yang telah berusaha memisahkan dirinya dengan suaminya dan ingin membunuh suaminya.


Bian dengan santainya berjalan mendekati Lusi, dia sangat senang melihat Lusi bangun dan langsung mencari dirinya.


Saat Bian sudah berada di dekatnya, tanpa ada rasa takut Lusi memberikan tendangan ke perut Bian. Sehingga membuat Bian jadi terhempas ke lantai.


Bian meringis kesakitan karena tendangan Lusi sangat kuat, dan anak buahnya yang berada di belakangnya ingin membantu Bian untuk bangkit berdiri.


"Jangan pernah mendekati ku. Aku sangat jijik berdekatan dengan pria seperti mu!" ucap Lusi dengan tatapan dingin melihat Bian yang berusaha bangkit berdiri dengan bantuan.


"Lepaskan. Tangkap wanita itu, bodoh" ucap Bian emosi pada anak buahnya.


Anak buahnya Bian langsung melakukan apa yang dikatakannya. Saat mereka ingin menarik tangan Lusi, tanpa mereka duga Lusi langsung memberikan perlawanan.


Akhirnya didalam rumah Bain terjadi pertarungan antara Lusi melawan anak buahnya Bain tujuh orang. Cinta yang masih berdiri di tangga, tampak takjub melihat bagaimana Lusi bisa mengalahkan anak buahnya Bian. Begitu juga Bian, dia tidak menyangka kalau Lusi memang sangat hebat dalam bertarung.


Hanya dalam tempo Lima belas menit anak buahnya Bian pada terkapar di lantai. Didit langsung memanggil anggotanya yang lain. Dua puluh orang anggota Bian masuk secara bersamaan.


Lusi merasa heran dengan dirinya, dia merasa tenaganya mulai habis. Tapi karena tidak ingin menyerah, Lusi menghadapi anak buahnya Bian dengan tenaga yang tersisa.


Setelah lima belas menit bertarung, saat Lusi mematahkan tangan lawannya, Lusi langsung tergeletak dengan lemas.


Bian yang melihat kalau Lusi tidak memiliki tenaga lagi, Bian langsung menyuruh anak buahnya untuk menangkap Lusi.


"Cepat ikat dia bodoh!" teriak Bian.

__ADS_1


Akhirnya Lusi tangannya di ikat kembali dan langsung dibawa kembali ke kamar Cinta. Sesampainya di dalam kamar Lusi langsung diikat di kursi.


"CK... Kalau saja Kamu tidak melawan, kamu tidak akan ku ikat seperti ini." ucap Bian sambil mengelus wajah Lusi.


Karena lemas, Lusi tidak bisa menolak Bian menyentuh wajahnya. Dia merasa jijik dengan sentuhan tangan Bian diwajahnya.


"Cinta, apa kamu melakukan tugas mu?" tanya Bian pada Cinta yang duduk di pinggir tempat tidur.


"Tidak." jawab singkat Cinta dengan tatapan tajam.


Mendengar jawaban itu membuat Bian langsung menatap tajam ke arah Cinta. Cinta tidak lagi merasakan takut, karena dia sudah bertekad tidak akan pernah melakukan apa yang dikatakan Bian lagi.


"Lepaskan aku, cepat. Jika kamu tidak melepaskan ku, maka suamiku tidak akan pernah memberikan pengampunan pada mu!" ucap Lusi.


"Hahaha. Aku tidak takut sama sekali. Aku ingin lihat apakah suami mu akan berhasil menemukan mu atau tidak. Atau mungkin saja saat ini suami mu sudah mati" ucap Bian


"CK... Suami ku tidak mungkin kalah dari pria bodoh seperti mu!"


Plak...


"Jangan pernah mengatakan ku bodoh" ucap Bian emosi.


"Hahaha. Kenapa? Kamu tidak terima? Kamu itu memang bodoh" hina Lusi lagi.


Bian ingin sekali lagi menampar Lusi, tapi tidak jadi karena melihat tatapan Lusi yang sangat dingin padanya. Untuk meredakan emosinya, Bian langsung berjalan kearah meja yang ada di samping tempat tidur Cinta. Dia mengambil surat perceraian yang dibuatnya, dia ingin Lusi menandatangani surat itu.


"Sekarang kamu harus tanda tangani ini. Jika kamu menolak, maka nyawa suami mu taruhannya" ucap Bian.


"Kamu pikir aku takut? CK... Aku tidak pernah takut dengan ancaman orang. Kamu tidak akan pernah bisa membunuhnya!" ucap Lusi.


"Baiklah. Aku akan mengubah sasaran ku. Aku akan membunuh sahabat mu yang lagi hamil itu?" ucap Bian sambil tersenyum licik.


"Bodoh. Aku tidak akan takut dengan ancaman mu. Dengar kan aku jika kamu menyentuh sehelai rambutnya, nyawa mu tidak akan pernah tertolong lagi" ucap Lusi.

__ADS_1


Mendengar ucapan Lusi membuat Bian sangat marah. Sehingga dia mencampakkan kertas yang dipegangnya itu dengan kasar ke lantai.


Bian langsung mengcekam pipi Lusi dengan satu tangannya sambil menatap tajam Lusi. Tapi Lusi malah bukannya takut tapi dia malah menatap Bian dengan dingin.


"Jangan pernah anggap remeh diriku. Jika aku tidak bisa mendapatkan mu, maka tidak ada satupun orang yang bisa mendapatkan mu" ucap Bian.


Setelah mengatakan itu Bian langsung melepaskan cekramannya dan memilih pergi.


"Anak sama orang tua sama saja, sama-sama pembunuh. Apakah kamu melakukan ini atas perintah dari orang tuamu dan Tante mu?" ucap Lusi sebelum Bian pergi keluar dari dalam kamar.


Mendengar ucapan Lusi membuat darah Bian semakin mendidih. Tapi ada hal yang membuat dia terkejut. Ketika Lusi mengatakan papanya seorang pembunuh. Bian langsung memutarkan tubuhnya dan menatap Lusi dengan tatapan penuh pertanyaan.


"Apa maksud mu? Apa yang kamu katakan tentang keluarga ku?"


"Kenapa? Apa kamu tidak percaya? Sekarang aku mengerti kenapa aku tidak pernah sekalipun membalas perasaan mu, itu semua karena mama ku tidak ingin putrinya menikah dengan Putra seorang pembunuh." ucap Lusi


***


Kini Mike dan semuanya lagi menunggu kabar dari orang suruhannya Samuel. Sudah hampir setengah jam mereka menunggu kabar. Felix yang melihat istrinya mulai tampak lelah, langsung menyuruh istrinya untuk istirahat.


"Sayang kamu lebih baik istirahat, sekarang" ucap Felix.


"Tidak, mas. Aku mau menunggu kabar tentang Lusi" ucap Miranda dengan wajah sendu.


"Sayang, benar apa kata suami mu. Kamu harus istirahat, mama akan menemani kamu di kamar" ucap Veby pada menantunya. Miranda tetap menggeleng kepalanya.


Mike yang melihat adiknya tetap tidak mau istirahat, Mike langsung berjalan kearah adiknya. Lalu Mike berlutut di hadapan Miranda sambil memegang kedua tangan adiknya itu.


"Da, kakak janji Lusi akan kembali dengan selamat. Kalau kamu tetap disini, kamu akan membuat kami semua jadi tambah cemas dengan keadaan mu. Pikirkan calon anak kalian yang masih ada dalam kandungan mu" ucap Mike dengan lembut.


"Tapi, kakak janji harus bawa Lusi pulang. Aku tahu kalau dia pernah takut dengan semua orang, tapi aku tidak ingin dia terluka" ucap Miranda.


Mike hanya mengangguk kepalanya saja. Setelah mendapat jawaban dari Mike, Miranda bersama Veby dan Dina membawa Miranda ke kamar untuk istirahat.

__ADS_1


****


__ADS_2