
Lusi merasakan kalau saat tangan Handoko sangat dingin. Dengan erat Lusi terus menggenggam tangan Handoko sambil menatap Handoko dengan sendu.
"Maaf, kan papa nak" ucap Handoko dengan terbata bata dan suaranya pun sangat lemah.
Meskipun suara Handoko pelan, Lusi dan Mike masih bisa mendengarnya. Mendengar permintaan maaf dari Handoko Lusi duduk di samping papanya, dan tanpa perlu arahan tangannya kini sudah mengelus wajah papanya dengan air matanya yang tidak bisa dia bendung lagi supaya tidak keluar.
Dengan menahan supaya suara tangisannya tidak keluar, Lusi menggeleng kepalanya. Dia tidak ingin Papanya meminta maaf padanya dengan cara seperti itu.
"Aku akan memaafkan papa kalau papa bisa kembali sehat" ucap Lusi dengan suara yang seperti ditahan.
Handoko mendengar Lusi memanggilnya papa tentunya membuat dia sangat bahagia. Panggilan yang sudah sangat dia rindukan sejak bertemu dengan Lusi. Sebenarnya dia ingin sekali memeluk putrinya disaat awal mereka bertemu di Bogor. Tapi karena dia ingat dengan janjinya pada Monika untuk tidak lagi berhubungan dengan Lusi putri pertamanya dan harus melupakan Lusi, dia mengurungkan niatnya untuk memeluk Lusi. Apalagi Monika pernah akan membunuh Lusi sewaktu masih kecil kalau dirinya masih bertemu dengan Lusi.
"Papa sangat senang mendengar mu memanggil ku papa lagi..." ucap Handoko dengan tersenyum.
"Maaf kan papa telah membuat kamu menderita dan karena papa mama mu meninggal" ucap Handoko kembali.
Lusi hanya geleng-geleng kepala saja dengan terus menangis. Sedangkan Mike terus memperhatikan mereka berdua.
"Pa..pa sangat bahagia melihat mu baik-baik saja." ucap Handoko.
Setelah mengatakan itu, Handoko menatap Mike kemudian dia mengulurkan tangannya pada Mike. Mike yang mengerti langsung mengulurkan tangannya di atas tangan Lusi.
"Berjanjilah untuk menjaganya dan selalu mencintainya. Berikanlah cinta yang tidak pernah ku berikan kepadanya. Aku percaya kamu dapat menjaganya dengan baik." ucap Handoko pada Mike sambil menggenggam tangan Lusi dan Mike.
"Terimakasih....sudah memberikan ku ijin untuk menyaksikan....pernikahan putriku.." UC Handoko yang mulai bicara dengan pelan-pelan.
Tiba-tiba saja Handoko mulai merasa susah bernafas, dengan cepat Mike memanggil dokter.
Dengan sigap dokter dan perawat masuk kedalam untuk memeriksa keadaan Handoko. Ketika Handoko diperiksa dokter, Lusi menangis dalam pelukan Mike. Renaldo dan yang lainnya tampak sangat bingung dengan apa yang terjadi didalam.
__ADS_1
Setelah Handoko kembali bernafas normal, dokter langsung mempersilahkan Lusi untuk mendekat karena Handoko ingin berbicara lagi padanya.
"Papa..." ucap Lusi dengan menangis sambil menggenggam tangan Handoko.
Handoko pelan-pelan mengangkat tangannya untuk menghapus air mata putrinya. Handoko terus menampilkan senyumnya pada putrinya, dia tidak ingin Lusi melihat dia kesakitan.
"Apa bisa papa memeluk mu?" tanya Handoko.
Tanpa ragu Lusi langsung memeluk papanya. Renaldo dan yang lainnya sudah dipersilahkan dokter untuk masuk, Karena waktu Handoko tidak lagi banyak. Mereka sangat senang melihat Lusi mau berdamai dengan Handoko.
"Maaf kan papa sayang." ucap Handoko sambil memeluk Lusi dan tanpa sadar air matanya menetes.
Lusi yang mengetahui kalau papanya menangis langsung menatap papanya, kemudian dia langsung menghapus air matanya. Handoko menatap kearah Mike yang berdiri di sampingnya, kemudian dia menyuruh Mike untuk mendekat. Mike menggenggam tangan Handoko, dia menatap papa mertuanya itu dengan lembut.
"Terimakasih sudah mencintai putriku. Tolong berjanjilah untuk menjaganya dengan segenap hatimu" ucap Handoko.
"Sayang papa punya satu permintaan, apa kamu bersedia untuk mengabulkannya?"
"Aku janji akan mengabulkannya pa" ucap Lusi. Handoko sangat senang mendengar jawaban dari menantunya itu.
"Papa tahu umur papa tidak lama lagi. Papa ingin dikuburkan di samping makam mama mu. Karena papa ingin diakhir hidup papa, papa ingin disampingnya" ucap Handoko dengan sendu.
Lusi tidak langsung menjawabnya, dia ingin menatap papanya. Dari mata papanya dia dapat melihat kesungguhan papanya. Lusi langsung mengangguk kepalanya dengan tersenyum, dia tidak ingin bertanya alasan papanya meminta untuk dimakamkan di samping makam mamanya.
Mendapatkan jawaban dari putrinya membuat Handoko sangat bahagia. Dia menatap wajah putrinya dan Mike dengan tersenyum, kemudian...
Tit....tit...tit...
Monitor berbunyi dan tampilannya garis lurus yang menandakan bahwa Handoko telah pergi untuk selamanya.
__ADS_1
Melihat papanya menutup matanya sambil tersenyum membuat Lusi langsung memeluk papanya dengan menangis. Dia merasa bersalah karena di detik terakhir papanya, dia baru memaafkan papanya dan memanggil Handoko papa. Padahal papanya dari kemarin Papanya meminta maaf padanya. Dengan keras kepala dan egoisnya dia tidak ingin memanggil Handoko sebagai papanya.
***
Sudah tiga hari Cinta masih terbaring dengan keadaan koma. Bian dengan setia duduk di samping Cinta sambil menggenggam tangan Cinta dengan erat.
Venesia dan Samuel tidak bisa berbuat apa-apa untuk putra mereka. Siapapun yang melihatnya, mereka dapat melihat bagaimana besarnya rasa penyesalan Bian apa yang telah dia lakukan pada Cinta. Dan mereka dapat melihat kini Bian sangat mencintai Cinta.
Selama tiga hari itu juga, Bian tidak sekalipun ingin makan dan minum, hingga membuat kedua orangtuanya sangat kuatir padanya.
"Bi,. ayo dong sayang makan." bujuk Venesia pada Bian.
Lagi-lagi Bian hanya diam saja, tidak ada sedikit pun respon darinya. Dia hanya bicara berbisik pada Cinta, meminta maaf pada Cinta terus menerus dan meminta Cinta segera bangun.
***
Setelah kepergian Handoko untuk selama-lamanya Lusi dan Mike menjalani kehidupan mereka sudah seperti biasanya. Lusi memutuskan untuk tetap bekerja menjadi sekretaris suaminya. Mike dan papa mertuanya tidak mempermasalahkannya karena saat ini belum ada yang bisa menggantikan posisi Lusi saat ini.
Handoko di kuburkan sesuai dengan permintaan terakhirnya, dimakamkan di samping Cahaya. Mama kandung dari Lusi. Saat Handoko dimakamkan, Lusi tidak mengijinkan Monika dan Sisil untuk melihat Handoko untuk terakhir kalinya.
Samuel dan Venesia yang mengetahui keputusan Lusi, hanya bisa diam saja. Mereka sudah memutuskan untuk tidak lagi mau ikut campur dan membantu Monika dan Sisil. Karena apa yang dilakukan Monika dan Sisil sudah sangat keterlaluan. Mereka sangat marah karena Monika dan Sisil mencoba membunuh Bian, keluarga mereka sendiri.
Monika dan Sisil masih disekap dalam sebuah rumah persembunyian keluarga Renaldo. Mereka di satukan dengan dua pria yang telah berani mencoba memperkosa Lusi. Sedangkan anak buah Monika yang lainnya sudah diberikan hukuman yang setimpal. Setelah itu mereka dibuang ke LA untuk dijadikan penjaga kandang buaya milik Jhonson.
Mike mengetahui kalau istrinya akan diperkosa karena Lusi sendiri yang mengatakannya. Mike meminta Lusi untuk menunjukkan pria yang mana saja yang mencoba menodainya.
Setelah mengetahuinya, Mike Langsung memberikan pelajaran kepada dua pria itu setelah itu kedua pria itu di sekapnya kembali. Mike ingin dia sendiri yang memberikan hukuman pada mereka berempat.
***
__ADS_1