
Kini hanya ada tinggal Sisil, Monika dan Lusi yang berada di dalam gedung itu. Para pria anak buahnya Monika sudah berada di luar untuk menjaga. Sisil dengan centilnya berjalan kearah Lusi yang masih terikat. Sisil mengelus pipi Lusi dengan lembut.
"Terserah apa katamu kakak ku sayang" ucap Sisil.
"Ma, aku ingin sekali senjata ku ini menembus wajah nya yang mulus ini" ucap Sisil sambil memainkan pisau kecil yang ada ditangannya.
"Mama setuju sayang. Tunggu dulu atau kita berikan dia hadiah yang lebih nikmat sebelum kita habiskan nyawanya" ucap Monika dengan senyum liciknya.
"Caranya ma?"
"Kita akan memberikan dia kenikmatan dunia yang tidak akan pernah dia lupakan. Lagian dia pasti sudah pengalaman, karena dia sudah memberikannya kepada suaminya" ucap Monika.
"Hahaha. Mama hebat! Aku setuju dengan mama" ucap Sisil.
"Baiklah aku yang akan memilih pria yang memberikan mu kenikmatan" ucap Sisil.
"Kalian akan menerima akibatnya dari semua ini. Ingat, aku akan membalas yang lebih kejam dari apa yang kalian lakukan pada ku" ucap Lusi.
"Hahaha. Kami akan menunggu itu semua kakak ku sayang" ucap Sisil.
Sisil langsung Keluar untuk memanggil anak buahnya. Dengan bahagianya Sisil membawa dua pria yang berbadan besar masuk kedalam. Lusi sapa melihat tatapan dua pria itu sangat liar padanya, tatapan yang sudah sangat siap untuk menerkam mangsanya.
"Kalian silahkan bawa dia kedalam sana. Kalian bisa menikmatinya sepuasnya" ucap Sisil.
"Terimakasih bos!" jawab dua pria itu serentak.
Dua pria itu langsung membawa Sisil kedalam ruangan itu. Sisil berusaha melepaskan diri dari dua pria itu. Lusi sangat takut kalau pria itu akan melakukannya, dia tidak ingin tubuhnya disentuh dengan pria lain selain suaminya sendiri.
Sesampainya mereka di dalam ruangan kecil, Lusi langsung di letakkan di atas lantai. Dua pria itu langsung berkompromi untuk siapa yang lebih dulu melakukannya. Sedangkan Lusi melihat sekelilingnya, untuk menemukan alat yang bisa membantunya.
Saat dia melihat ada serpihan kaca, Lusi berusaha untuk menggapai kaca itu. Saat dia mendapatkan kaca itu dia berusaha untuk membuat kedua pria itu tidak mengetahui apa yang dilakukannya.
"CK... Aku akan membayar kalian lebih tinggi dari wanita tadi." ucap Lusi dengan sinis pada dua pria itu yang masih sibuk berebut untuk Lebih dulu.
__ADS_1
Lusi masih berusaha untuk memotong ikatan tangannya dengan kaca, sampai-sampai tangannya kini sudah terluka karena kaca yang ada ditangannya.
Kedua pria itu dengan seketika langsung berhenti berdebat.
***
Kini Mike dan yang lainnya tengah sudah sampai di daerah desa X, sesuai dengan GPS yang ada di cincin kawin mereka. Samuel yang duduk di belakang bersama istrinya melihat mobil yang tidak asing baginya dari jauh. Saat mobil mereka mulai mendekat dia melihat jelas, kalau itu no BK mobil putranya.
"Berhenti. Sepertinya itu Bian" ucap Samuel tiba-tiba.
Mike Langsung mengerem mobilnya tiba-tiba. Sehingga membuat yang duduk di belakang terpental ke depan.
Bian dan Handoko sangat bingung dengan mobil yang berhenti didepan mobilnya. Mereka sangat cemas kalau ternyata mobil itu adalah anak buahnya Monika yang lagi patroli melihat daerah sekitar.
Saat melihat papanya dan mamanya yang keluar dari dalam mobil, membuat Bian langsung terkejut. Dia langsung keluar dari dalam mobilnya. Begitu juga dengan Handoko juga sangat terkejut.
"Mama, papa" cicit Bian sambil menahan rasa sakit di bagian perutnya dan wajahnya.
Venesia langsung berlari memeluk putranya, hatinya terasa hancur melihat putranya yang tampak sangat kacau. Begitu juga dengan Samuel.
Bugh...
Mike menarik Bian yang berada dalam pelukan Venesia, dengan emosi dia langsung memukuli wajah Bian.
Venesia langsung menjerit karena putranya terus dipukul Mike sampai mengeluarkan darah dari mulutnya.
"Tolong jangan sakiti putraku" ucap Venesia dengan menangis dalam pelukan suaminya. Samuel hanya diam saja, karena dia pun juga sangat marah pada putranya karena telah melakukan tindakan kriminal.
Felix berusaha menghentikan Mike yang masih terus memukul Bian.
"Mike hentikan. Kamu bisa membunuhnya" teriak Felix berusaha untuk menghentikan Mike.
"Tuan Samuel tolong putramu" teriak Felix pad Samuel.
__ADS_1
Samuel dan Venesia langsung membantu putranya untuk bangkit berdiri, sedangkan Mike kini sudah ditahan Felix.
"Ah... Lepaskan aku, Fel! Karena dia istriku dalam bahaya" ucap Mike dengan emosi.
"Maaf! Aku...Ta..hu aku... Melakukan kesalahan besar... Kamu bisa membunuhku.. Tapi setelah kita... membantu Lusi keluar..." ucap Bian terbata-bata.
"Benar katanya son... Kamu tenang dulu, sekarang yang penting istri mu dulu" ucap Renaldo untuk menenangkan putranya itu.
"Benar apa yang dikatakan Handoko. Istriku dan putri ku Sisil sudah tidak bisa tidak dikendalikan. Dan yang perlu kalian tahu, kalau anak buah mereka memiliki senjata tajam." ucap Handoko.
Semuanya langsung melihat kearah Handoko yang tampak sangat kacau. Mereka sudah mengetahui semuanya dari Feri apa yang dilakukan Handoko untuk menghentikan Monika dan Sisil.
"Sekarang kamu masuk, Mike. Kita harus bersiap untuk menyelamatkan istrimu!" Ucap Jhonson.
Mike yang sudah tenang, langsung mengikuti apa yang dikatakan Jhonson. Karena apa yang dikatakan mereka semuanya benar, saat ini istrinya yang lebih penting dulu.
Dengan persiapan penuh mereka langsung masuk kedalam mobil mereka masing-masing. Saat mereka sampai depan gerbang itu, mereka langsung menabrak pagar pabrik itu. Sehingga membuat beberapa anak buahnya Monika langsung berlari menghadang mereka.
Dimana tempat Lusi disekap, Lusi sedang bertarung menghadapi dua pria itu. Lusi telah berhasil melepaskan ikatannya, disaat kedua pria itu kembali berdebat untuk lebih dulu. Mereka menolak tawaran Lusi untuk menjadi anak buahnya. Karena mereka mengatakan tidak ingin menyia-nyiakannya kesempatan untuk menikmati wanita cantik seperti Lusi dengan secara gratis dan sepuasnya mereka. Kalau masalah uang mereka bisa mendapatkannya lain kali.
Dengan sekuat tenaga Lusi memberikan pelajaran kepada dua pria itu karena telah berani ingin menodai dirinya.
***
Monika dan Sisil yang lagi menikmati minuman dan makanannya tiba-tiba langsung bangkit berdiri dari tempat duduknya.
"Kenapa diluar sangat ribut, ma?" tanya Sisil pada Monika.
"Bos... Gawat ada yang menyerang kita" teriak anak buahnya sambil berlari ke arahnya.
Tentu saja membuat Monika dan Sisil ketakutan. Mereka langsung menyuruh anak buahnya yang ada di dalam untuk menghadapi lawan mereka. Sedangkan Monika dan Sisil langsung berlari ke arah dimana Lusi disekap.
Saat mereka membuka pintu ruangan itu dia melihat Lusi sedang berada di atas tubuh anak buahnya sambil menarik tangan anak buahnya ke belakang.
__ADS_1
****