
Sebulan berlalu, semua kembali berjalan normal setelah Bima disibukkan dengan urusan kantor dan keluarganya. Oma Nina sudah sehat dan kembali ke rumah Panta, karena sejak sakit Oma tidak bisa jauh dari Bima. Bima pulang kantor terlambat saja Oma Nina sudah menangis seperti bayi, bersaing dengan anak Ante Baen yang lahir beberapa minggu lalu. Psst, doa Balen dikabulkan, yang lahir hanya satu dan bukan kembar lagi, bayangkan saja kalau harus melahirkan kembar lagi, seramai apa rumah Balen dan Daniel jadinya.
"Bima, kamu dimana?" belum juga jam pulang kantor, Manta sudah hubungi Bima.
"Masih dikantor Man." jawab Bima sudah tahu pasti mau menanyakan apakah Bima pulang tepat waktu. Karena Oma Nina, Bima sedikit kesulitan jika mau berkencan dengan Magda, untungnya pujaan hati Bima mengerti kondisi Bima saat ini.
"Pulang tepat waktu kan? Tidak lembur?" bisik Manta.
"Iya dong Man." jawab Bima tersenyum. "Man, tanyakan Oma mau makan apa." kata Bima kemudian.
"Oma mau makan apa? Biar Bima beli sekalian pulang kantor." terdengar suara Manta tanyakan pada Oma Nina.
"Tidak mau katanya." lapor Manta pada kesayangannya. Pasti Oma hanya menggeleng saja, sejak sakit Oma hanya bisa menganggukkan kepala, menggeleng, tersenyum, menangis dan tertawa.
"Lagi ada siapa, Man?" tanya Bima karena terdengar suara sedikit ribut.
"C's baru pulang basket nih, temani Oma. Khawatir kamu pulang malam."
"Dikantor sudah tidak terlalu sibuk, mestinya aku sudah bisa kunjungi orang tua Magda kalau Oma tidak sakit ya Man."
"Kamu kalau ngobrol sama Oma coba jelaskan, ditinggal satu minggu dulu." Dania memberi saran.
"Akunya yang kepikiran Oma nanti, jangan deh, aku agak trauma saat tugas kemarin, pulang pikiran tidak karuan sepanjang jalan." desah Bima menolak saran Manta.
"Jadi bagaimana dong?" tanya Dania.
"Lihat perkembagan dulu deh, Man. Apa boleh seperti Manta dulu ya dikamar online?" tanya Bima.
"Tanyakan Magda dong, boleh juga kaau orang tuanya setuju." jawab Magda.
"Man, aku beres-beres dulu deh, kita ngobrol di rumah." kata Bima pada Manta.
"Oke sayang, take care." Dania langsung menutup sambungan teleponnya.
"C's kalian tidak temani Mama jaga adik?" tanya Dania pada si ganteng C's.
"Kata Mam jaga Oma saja. Adik ada Mam sama girl's yang jaga." jawab Chandra.
"Oma, ini cicitnya datang loh, Oma tahu tidak ada C's." lapor Dania pada Oma Nina yang anggukan kepalanya sambil tersenyum.
"Oma mau jalan-jalan di taman?" Charlie menawarkan. Oma gelengkan kepalanya.
"Pasti tunggu Abang Bima?" tebak Cadi setengah bertanya. Oma Nina anggukan kepalanya sambil tersenyum.
"Aku juga kuat angkat Oma seperti Abang Bima." Cadi tunjuk ototnya bikin Oma Nina terkekeh.
__ADS_1
"Percaya?" tanya Cadi, Oma Nina cekikikan sambil anggukan kepalanya.
"Kalau begitu ayo aku angkat." Cadi sedikit bergerak hampiri Oma yang cepat gelengkan kepalanya.
"Oma pasti takut keseleo." Charlie menepuk bahu Cadi keras.
"Ih Cayi, sakit tahu." dengus Cadi mengusap bahunya.
"Hai C's." Belin datang bersama Noah, tambah ramai saja kamar Oma Nina.
"Mau jemput C's? Mereka baru datang loh." sambut Dania sambil menarik bangku untuk Noah duduk.
"Temani Oma dong, cicit Oma kan ada Beyin juga, bukan Bima saja." Belin hampiri Oma dan mengecup punggung tangan Oma yang digenggamnya setelah salami Dania.
"Manta istirahat deh, biar aku disini." kata Belin pada Dania.
"Dari tadi juga istirahat disebelah Oma." Dania tersenyum.
"Mau mandi mungkin." sahut Noah.
"Oh iya, Oma Dania mandi dulu ya." pamit Dania pada Oma Nina. Setelah Oma menganggukkan kepalanya Dania pun tinggalkan kamar Oma Nina.
Beruntungnya punya keluarga besar yang kompak, Oma Nina tidak pernah dibiarkan sendirian di kamar, sesibuk apapun pasti geng rusuh bergantian temani Oma Nina. Balen belum bisa keluar rumah setelah melahirkan, jadi hanya bisa video call saja.
"Mama sama Papa lusa sudah di Jakarta kok, santai saja Bim." jawab Magda.
"Bam Bim Bam Bim, yang mesra dong panggilnya." protes Bima karena Magda terus saja memanggil nama.
"Oke Mas Bima." Magda terkikik geli.
"Gitu dong." Bima mengecup pipi Magda yang sedang menyetir, dasar Bima mestinya biar diantar jemput, dia yang setiri Magda, tapi kalau Bima yang setir mana bebas mau ciumi pipi Magda kan, tunggu lampu merah dulu baru bisa.
"Mas, kalau Mama Papa di Jakarta, kamu bisa temui mereka dirumah?" tanya Magda.
"Hari kerja bisa? Aku lebih gampang tinggalkan kantor daripada tinggalkan Oma." Bima menghela nafas panjang, Magda tersenyum sambil fokus menyetir.
"Bisa, nanti aku ambil cuti deh saat kamu mau berkunjung." jawab Magda.
"Siapa yang jemput Mama, Papa?" tanya Bima.
"Bang Maxim sama Kak Hilma." jawab Magda.
"Mereka di Jakarta?"
"Mereka jemput ke German." jawab Magda, Bima anggukan kepalanya.
__ADS_1
"Kamu sudah bilang Mama belum kalau sudah punya Mas Bima?" tanya Bima bikin Magda tertawa.
"Serius ini aku tanya."
"Belum." Magda tersenyum penuh arti.
"Sebel ih, jadi Mama Papa belum tahu kamu sudah punya calon suami?" tanya Bima.
"Lucu deh Mas, Mama tanya cincin waktu aku kesana dua minggu lalu."
"Tanya apa?"
"Itu beli dimana Bagus, biasanya kalau Mama tanya begitu pasti aku buka kasih Mama pakai, tapi sekarang aku tetap pakai waktu jawab dikasih teman." Magda bercerita sambil memandang kedepan sesekali menoleh pada Bima.
"Mama bilang pasti yang kasih teman spesial." Magda tersenyum pada Bima.
"Very special, kamu jawab kan?" tebak Bima berharap, Magda naikkan alisnya.
"Kamu bilang begitu?" tanya Bima.
"Iya." jawab Magda nyengir.
"Mama tanya aku?" Bima betul-betul berharap.
"Ketemu dulu ah, malas cerita." jawab Magda, langsung mendapatkan cubitan gemas dipipinya.
"Sombong." dengus Bima.
"Kita jemput Mama di bandara lusa?" tanya Bima kemudian.
"Aku meeting di Chiangmai." jawab Magda.
"Masa Mama datang kamu meeting." protes Bima.
"Besok malam berangkat, lusa malam sudah dirumah kok." Magda menjelaskan.
"Sudah tidak sabar mau nikahi kamu." Bima bersandar manja dibahu Magda.
"Mas, aku lagi nyetir." protes Magda.
"Ok sayang." Bima terkekeh tegakkan badannya.
"Mas kalau menikah, kamu juga tidak bisa tidur sama aku kan? Karena harus tidur sama Oma?" tanya Magda.
"Bisa dong, tugas aku kan temani Oma sampai menjelang tidur, kalau sudah mengantuk Oma pasti usir aku, minta ditemani suster." kata Bima sambil bayangkan jika ia sudah menikah nanti, setelah dari kamar Oma pindah kamarnyang sambut istri bukan guling lagi, menghayal dulu saja ya Bim.
__ADS_1