You'Re My Everything

You'Re My Everything
Oma


__ADS_3

"Huh!" Bima membuang nafas kasar, sudah hari ketiga di Munich tapi Mr. Robert belum bisa ditemui, yang bikin Bima kesal handphonenya masih belum boleh diaktifkan, benar-benar putus komunikasi dengan siapapun. Bukan hanya handphone, bahkan Bima tidak bisa pergi jauh-jauh dari hotel karena harus standby menunggu kabar dari Mr. Robert sampai beliau bisa ditemui.


"Sabar ya Mas Bima." Bryan terkekeh melihat Bima gelisah, ini sih sudah makanannya Bryan yang sudah biasa seperti ini. "Masih enak kita menunggu di hotel, bukan di Mobil yang terparkir di hutan." lanjut Bryan lagi, terkikik geli melihat Bima yang resah dan gelisah tapi tidak bisa komplen.


"Tidak ada handphone jadi aku tidak bisa komunikasi sama keluarga, khawatir ada sesuatu yang penting." jawab Bima yang tidak pernah putus komunikasi sekalipun dengan keluarganya seperti saat ini, biasanya walau lagi tugas kantor tetap saja mereka terus bertukar kabar dan saling bercanda satu sama lain, tentu saja Bima merasa kesepian, ingat geng rusuh dan sekarang juga Bima kepikiran Magda, pasti dia juga menunggu kabar Bima. Apalagi Bima berjanji akan menemui keluarga Magda.


"Kemungkinan sore ini kita bisa bertemu Mr. Robert. Paling tidak nanti malam setelah urusan selesai dan begitu kita meninggalkan kota ini, handphone Mas Bima sudah bisa aktif." kata Bryan tenangkan Bima sambil tersenyum.


Bima boleh bernafas lega, benar saja apa yang Bryan katakan, lebih cepat dari perkiraan Bryan, menjelang sore hari pada akhirnya Bima bertemu dengan Mr. Robert.


"Maaf tidak sesuai perkiraan, pertemuan harus mundur beberapa hari." kata Mr. Robert saat mereka bertemu, ia tersenyum sekilas pada Bima lalu kembali membaca berkas yang diterimanya dari Bima. Pria nyentrik dengan salah satu telinganya memakai anting kecil. Bima menganggukkan kepalanya balas tersenyum tanpa mengeluarkan kalimat basa-basi.


"Nanti saya akan langsung kordinasi dengan Lucky." kata Mr. Robert akhirnya setelah selesai membaca berkas ditangannya.


"Baik Mr. Robert." kata Bima kembali tersenyum.


"Panggil saja Robert, setelah ini kamu langsung kembali ke Jakarta?" tanya Mr. Robert ramah.


"Belum, saya masih ada urusan lain." jawab Bima.


"Kalau sampai minggu depan kamu masih di Berlin, kita bisa bertemu lagi, ada yang harus kamu bawa ke Jakarta." kata Mr. Robert.


"Saya menunggu kabar saja ya atau kalau ada perubahan saya akan kabarkan pada Bryan." jawab Bima, Mr. Robert anggukan kepalanya tanda setuju.


Setelah berada di Mobil langsung saja Bima aktifkan handphonenya, itu setelah mendapat kode dari Bryan. Jangan ditanya lagi berapa banyak pesan masuk ke handphone Bima, untungnya lagi Bima membawa persediaan power bank lebih dari satu, jadi tidak khawatir akan kehabisan battery. Tidak lama handphonenya berdering, belum juga Bima sempat membaca pesan-pesan yang masuk.


"Bey..." jawab Bima langsung.


"Alhamdulillah Bimaaa, akhirnya bisa dihubungi." Bima tertawa mendengar respon dari Belin.

__ADS_1


"Bima kita sudah di Jakarta, kamu juga sebaiknya pulang ke Jakarta kalau kerjaan kamu sudah selesai." suara Belin terdengar serius tidak ada nada bercanda.


"Loh kok sudah di Jakarta, kan kita mau bertemu orang tuanya Magda, pikun lo?" tanya Bima konyol, masih saja ajak Belin bercanda.


"Ingat, tunda dulu Bim, pulang saja." kata Belin.


"Kenapa sih?" tanya Bima heran.


"Biim..." terdengar suara Ayah Larry.


"Iya Ayah..." jawab Bima mulai khawatir, ada apa ini.


"Pulang dulu nak." kata Larry lembut tapi bikin Bima berpikir macam-macam.


"Ayah, Panta sakit?" tanya Bima tembak langsung.


"Bukan, Oma Nina yang sakit, Oma panggil kamu terus. Sekarang kita semua sedang dirumah sakit." jawab Ayah Larry.


"Kita tidak boleh masuk, Nak."


"Panta ada dekat Ayah? Bima bicara sama Panta bisa?"


"Sebentar..." terdengar suara grasak grusuk.


"Bima, Panta masih ribet belum bisa diganggu." malah suara Belin. Kalau semua kumpul di rumah sakit sudah pasti Bima khawatir.


"Bey, Oma bagaimana?" tanya Bima.


"Panggil Bima, Bima terus." jawab Belin.

__ADS_1


"Gawat kondisinya?" tanya Bima lagi.


"Iya, Bim tutup dulu teleponnya, Mamon pingsan." Belin langsung matikan sambungan teleponnya. Ya Allah otak Bima jadi sulit berpikir, ia termenung sesaat.


"Pesan dari Pak Lucky, saya harus antar Mas Bima ke Bandara malam ini juga, pesawat carteran sudah siap." suara Bryan membuyarkan lamunan Bima.


"Iya." jawab Bima. Hatinya sudah tidak karuan, Oma sakit, Mamon pingsan. Bima sampai lupa hubungi Magda sampaikan ia belum bisa menemui keluarga Magda. Begitu sampai di bandara langsung naik pesawat, ingin cepat sampai di Jakarta. Tujuan Bima langsung ke rumah sakit.


Bima menyusuri koridor Rumah Sakit dengan langkah cepat, tak pedulikan beberapa perawat yang menyapanya saat Bima lewati, bukan Bima sombonh tapi fokusnya kini hanya pada Oma Nina dan Mamon.


"Bagaimana kondisi Oma?" tanya Bima pada Marko asisten Om Lucky yang pertama kali Bima temui, ia juga yang menjemput Bima. Sepanjang perjalanan Bima takut bertanya, mentalnya tidak siap. Setelah tiba di rumah sakit dan mendekati ruang ICU baru Bima berani bertanya.


"Masih belum sadar, hanya sada memanggil nama Mas Bima terus." jawab Marko. Bima memang bukan cicit kesayangan Oma Nina, tapi mereka sangat dekat. Bahkan Bima berani melamar Magda berkat dorongan Oma Nina. Oh Allah, Bima baru ingat ia belum menghubungi Magda ataupun Bang Maxim, padahal Bima sudah berjanji akan segera menemui mereka jika pekerjaannya sudah selesai. Nanti saja kalau sudah bertemu keluarganya baru Bima hubungi Bang Maxim dan Magda.


"Bim, kamu baru sampai?" baru saja dipikirkan ternyata Magda ada diantara Panta dan Manta.


"Sayang, maaf..." Bima menarik nafas panjang, Magda anggukan kepalanya seakan mengerti untuk kata maaf yang Bima ucapkan.


"Kamu mandi dulu Bim, baru masuk temui Oma." Dania menyambut anaknya bukan dengan pelukan hangat, malah suruh mandi, Manta memang selalu mengutamakan kebersihan.


"Aku sudah mandi di pesawat." jawab Bima ulurkan tangannya pada Manta, Bima saja yang peluk, kalau tunggu Manta mungkin sampai tahun depan juga tidak akan peluk Bima, Manta memang tidak terlalu romantis. Untung saja Bima menuruni sedikit sifat Papon dan Opa Micko.


"Masuk saja, Oma tidak sadar tapi sebut nama kamu terus." Kenan menepuk bahu cucunya, setelah Bima lepaskan pelukannya pada Manta.


"Iya Papon." Bima segera bergegas masuki ruangan ICU, memang Bima yang paling ditunggu-tunggu rupanya.


Suasana diruangan ICU sebenarnya bikin Bima agak berdegup panik, melihat Oma dengan penuh selang didada dan dimulut. Ya Allah Oma memang sudah tua, tapi sebelum Bima berangkat Oma tampak sangat sehat, bahkan semangat menyuruh Bima segera menikah. Benar saja, setiap tarikan nafasnya Oman memanggil nama Bima.


"Oma, Bima datang." Bima langsung menundukkan badannya mengecup pipi Oma, tampak air mata Oma mengalir dari matanya yang terpejam.

__ADS_1


"Bima tidak jadi temui keluarga Magda, begitu dengar Oma sakit, Bima langsung pulang. Maafkan Bima tidak bisa videocall Oma seperti biasa kalau Bima keluar Jakarta. Handphone Bima kemarin harus dimatikan karena urusan pekerjaan." Bima terus saja berceloteh seakan Oma sedang mereka sedang ngobrol dikamar Oma seperti biasa.


__ADS_2