
Miranda sangat malas dengan apa yang dikatakan Bian padanya. Lusi sangat ingin memberitahu kepada Mike apa yang dilakukan Bian padanya, tapi dia takut kalau Mike tidak akan percaya padanya.
Karena sudah sangat kesal pada Bian, Lusi langsung mendorong Bian untuk menjauh darinya. Lusi memilih untuk pergi, sebelum dia melakukan hal yang sangat kasar pada Bian. Bian membiarkan Lusi untuk pergi, tapi dalam hatinya dia merasa sangat bahagia karena melihat Lusi marah seperti itu. Dia merasakan ada sensasi yang sangat berbeda dalam dirinya ketika melihat Lusi marah seperti itu.
"Jika anda melakukan hal seperti ini lagi saya tidak akan segan memberikan perhitungan kepada anda" ucap Lusi dengan tegas sebelum keluar dari ruangan itu.
"Aku akan menunggunya sayang. Aku akan pastikan dirimu, hanya menjadi milikku!" ucap Bian dengan tersenyum kecil.
Lusi hanya diam saja mendengar ucapan Bian padanya. Dia memilih langsung pergi, dari pada menanggapi ucapan Bian.
Lusi memilih masuk kedalam pantry untuk membuat kopi pada Mike.
"Pasti kak Mike sudah menunggu." gumam Lusi dalam hati sambil membuat kopi.
***
Mike yang merasa kalau Lusi sudah pergi terlalu lama membuat kopi untuknya, memutuskan untuk menyuruh bodyguard yang dari tadi berdiri di depan ruangannya untuk mencari Lusi. Apalagi tadi dia sempat menghubungi Lusi, ternyata hp Lusi tertinggal di meja kerja Lusi.
Saat bodyguard itu ingin melakukan tugasnya, Lusi sudah datang sambil membawa minuman untuk Mike.
Lusi melihat Mike sedang berbincang dengan bodyguardnya didepan ruangan Mike. Apalagi kini dia melihat raut kecemasan dari wajah Mike.
"Maaf kak, kelamaan. Tadi aku toilet dulu sebelum ke pantry" ucap Lusi berbohong.
"Huf... Baiklah sayang. Lain kali kalau harus bawa handphone mu. Supaya kamu bisa dapat di hubungi" ucap Mike yang kini sudah tampak lega melihat kedatangan Lusi dan penjelasan dari Lusi.
***
Kini Lusi, Mike dan Baim melakukan perjalanan ke Bogor. Sesampainya mereka di Bogor Mike langsung meninjau pembangunan peluasan hotelnya bersama Baim dan Lusi.
Kenny yang berada di tempat, langsung menghampiri Mike yang baru saja keluar dari dalam mobil.
"Siang pak Mike" sapa Kenny dengan sopan.
Mike hanya mengangguk kepalanya saja seperti biasa. Kenny yang sudah sangat mengenal bagaimana sifat Mike jadi tidak terlalu mempermasalahkannya.
__ADS_1
Kenny yang mengerti tujuan Mike datang langsung membawa Mike dan yang lainnya untuk melihat keadaan proyeknya.
Lusi yang mendengar keterangan Kenny, langsung mencatat poin-poin yang penting. Sedangkan Baim dia berjalan disamping Mike, dan sesekali dia yang bertanya pada Kenny.
Setelah memeriksa keadaan proyeknya, Kenny membawa Mike dan Baim untuk melanjutkan obrolan mereka tentang pekerjaan mereka di kamar yang di khususkan untuk Kenny selama dia bertanggung jawab untuk pembangunan proyek itu. Sedangkan Lusi, Mike langsung menyuruh Lusi untuk kembali ke hotel supaya mengambil berkas yang ada di ruangan kantornya di hotel.
Saat Mike yang lagi memeriksa berkas yang diberikan Kenny tentang proyek mereka, Handoko datang bersama dengan Sisil.
"Tuan Mike" gumam Mereka serentak dengan terkejut, mereka tidak tau kalau Mike datang berkunjung.
Mike yang merasa dipanggil namanya langsung melihat kearah pintu dan melihat Handoko dan putrinya datang. Handoko dan Sisil langsung duduk di hadapan Mike dan Kenny tanpa ada jawaban sapaan mereka dari Mike. Handoko dan Sisil langsung melihat keberadaan Lusi didalam, tapi mereka tidak melihat Lusi sama sekali.
Entah kenapa Handoko merasa kalau dirinya sangat kecewa karena tidak melihat keberadaan Lusi di dalam ruangan itu. Berbeda dengan Sisil, Sisil sangat senang melihat Lusi tidak ada, Karena dia ingin mendekati Mike.
"Kapan tuan Mike datang?" tanya Handoko dengan basa basi.
"Satu jam yang lalu" jawab Mike dengan singkat.
"Saya ingin proyek ini selesai dengan waktu yang sudah ditentukan" ucap Mike ketika melihat hasil selama satu Minggu proyek itu berjalan.
"Permisi pak ini berkas yang anda minta" Lusi datang sambil membawa berkas yang diinginkan oleh Mike.
Handoko dan Sisil terkejut melihat Lusi ternyata ikut bersama dengan Mike.
"Terimakasih" Mike langsung mengambil berkas yang dibawa Lusi.
Lusi tampak sangat cuek dengan keberadaan Handoko dan Sisil yang ada dalam ruangan itu. Lusi memilih untuk duduk di samping Mike yang kosong.
Mike memeriksa berkasnya, setelah melihat hasilnya Mike langsung menatap kearah Handoko yang dari tadi terus memperhatikan Lusi.
***
Kini mereka semua makan siang bersama di restoran yang ada di dalam hotel. Handoko selalu memperhatikan bagaimana Mike memperlakukan Lusi dengan sangat baik, begitu juga Lusi juga sangat memperhatikan Mike.
Sisil dan Kenny yang melihat keromantisan Mike dan Lusi merasa cemburu. Tapi didalam hati Kenny dia juga merasa bahagia, karena melihat Lusi sangat bahagia bersama dengan Mike. Makanya karena itu dia mundur untuk membuat Lusi jatuh cinta dengannya. Karena dia sadar, kebahagiaan Lusi hanya bersama Mike.
__ADS_1
"Oh ya kak Kenny, jangan lupa ya datang ke acara pernikahan kami Sabtu ini" ucap Lusi selagi dia bertemu dengan Kenny jadi dia bisa mengundang Kenny secara langsung.
"Tapi..." Kenny berusaha untuk menolak karena dia merasa tidak nyaman di acara pernikahan Mike dan Lusi nantinya.
"Datanglah, kami akan sangat senang kalau anda mau datang. Lagian Lusi sudah menganggap anda adalah kakaknya" ucap Mike yang mengerti kalau Kenny ingin menolak.
"Baiklah, aku akan datang" ucap Kenny dengan mengalah.
Dia tahu kalau Lusi sangat berharap kedatangannya di acara yang sangat penting bagi Lusi. Apalagi Lusi sudah menganggapnya sebagai kakak seperti yang dikatakan Mike. Sedangkan Handoko yang lagi menikmati makanannya sangat terkejut mendengar kalau putri yang dibuangnya akan menikah beberapa hari lagi.
"Apa maksudnya? Kalian akan menikah?" cicit Sisil dengan terkejut. Sisil tidak menyangka kalau Lusi dan Mike akan menikah dalam waktu yang dekat.
"Bagaimana mungkin kamu tidak memberi tahu kepada papa kalau kamu mau menikah beberapa hari lagi? Bukankah seharusnya papa ada disana untuk menjadi wali mu!" ucap Sisil tidak terima, dia ingin papanya menentang pernikahan Mike dan Lusi sehingga perikanannya mereka gagal.
Handoko hanya diam saja apa yang dikatakan oleh Sisil pada Lusi. Sedangkan Lusi kini sudah tampak menatap tajam Sisil, karena mendengar celotehan Sisil padanya. Untung saja mereka saat ini berada di ruangan VIP sehingga tidak ada yang mendengar apa yang dikatakan Sisil.
"CK... Apa maksud nona Sisil mengatakan ini? Siapa papa saya yang anda maksud? Yang perlu anda tahu kalau papa saya sudah meninggal kecelakaan sejak saya kecil" ucap Lusi dengan dingin.
Mendengar dari mulut putrinya sendiri kalau dia sudah meninggal membuat hatinya terasa sakit. Sedangkan yang lainnya hanya tampak diam saja mendengar celotehan Sisil.
"Sisil diam lah" ucap Handoko dengan sendu.
"Tapi, pa...." Sisil tidak melanjutkan ucapannya karena melihat tatapan Handoko yang dingin padanya.
Sisil langsung menatap kesal kearah Lusi, yang tampak senyum-senyum padanya.
"Maaf tuan Mike, sepertinya kami lebih dulu balik. Karena saya punya janji dengan istri saya" ucap Handoko tiba-tiba. Dia tidak ingin putrinya membuat Mike sangat marah karena telah menyakiti hati Lusi dengan kata-kata putrinya itu.
"Baiklah. Terimakasih bersedia makan siang bersama kami" ucap Mike.
Handoko hanya mengangguk kepalanya dengan tersenyum. Handoko yang sudah bangkit berdiri langsung menyenggol lengan putrinya karena masih terus duduk.
Sisil yang mendapat kode dari Papanya langsung bangkit berdiri dengan kesal. Handoko dan Sisil pun langsung pergi meninggalkan ruangan itu tanpa permisi pada yang lainnya.
****
__ADS_1