
"Lucky Man." panggil Aefar sambil tersenyum melihat sahabatnya datang. Ia selalu memanggil Lucky, Lucky Man, karena sahabatnya ini selalu saja beruntung.
"Akhirnya bertemu juga kita." Lucky hampiri Aefar dan mereka berpelukan. Bima senyum-senyum saja dibelakang Lucky.
"Karena kamu sibuk." jawab Aefar, kemudian menyambut ukuran tangan Bima.
"Lebih sibuk pejabat lah." jawab Lucky, Aefar terkekeh.
"Tugas negara." jawab Aefar.
"Sudah sibuk urus negara masih saja urus Bisnis." Lucky gelengkan kepalanya.
"Itu harus, lagi pula kita ciptakan lapangan kerja, justru bagus bukan?" Aefar mengangkat alisnya sambil tersenyum.
"Ayo masuk." ajak Aefar pada keduanya, setelah mereka berada diruang tamu,
"Ini siapa?" tanya Aefar pada Lucky, matanya mengarah pada Bima yang tersenyum sambil anggukan kepalanya.
"Keponakanku." jawab Lucky merangkul Bima, tinggi badan mereka hampir sama.
"Oh anak kakakmu yang dulunya juga pernah tinggal di London ya? Waktu cepat sekali berjalan, dulu masih kecil, sering kita ganggu lewat telepon kan." tanya Aefar memastikan, Lucky anggukan kepalanya, saat kuliah dulu, Lucky suka video call dengan keponakannya, Bima dan Aca. Karena satu kamar dengan Aefar sudah pasti Aefar tahu sedikit banyak tentang keluarga Lucky.
"Sabtu tidak pacaran boy?" tanya Aefar, Bima tertawa saja dibuatnya. Masih belum dapat celah, mau sembarangan bicara tidak mungkin.
"Kerja dulu dong baru pacaran." jawab Lucky menggoda Bima.
"Masa kalah sama Om kamu, pacarnya banyaaak." Aefar gelengkan kepalanya.
"Sama saja yang ngomong juga kurang lebih begitu." jawab Lucky, keduanya terbahak.
"Aku cukup satu saja." jawab Bima nyengir, bayangkan Magda saja bikin Bima senyum-senyum.
"Iya bagus satu saja Bim, setelah menikah aman." kata Lucky.
"Mantan pacar bikin ribut sama istri heh?" tanya Aefar, Lucky terkekeh.
"Kadang, ada beberapa yang bikin sewot Kia." jawab Lucky, Aefar dan Bima terbahak.
"Nah lucu nih Far, Pacarnya Bima sekarang adik iparnya Hilma." kata Lucky mengadu pada Aefar.
"Itulah kalau dulu pacarnya bertebaran dimana-mana, Salah satu resikonya ya seperti ini." jawab Aefar santai. Wanita paruh baya datang bawakan minuman dan kudapan ke ruang tamu.
"Terima kasih." kata Aefar dengan bahasa Indonesia yang terpatah-patah, tapi bisa dibilang lancar.
Setelahnya Lucky dan Aefar mulai membahas pekerjaan, Bima menyimak saja.
"Siapa kira-kira orang yang bisa dipercaya untuk mengantar dokumen ini ke Inggris dan Jerman?" tanya Lucky pada Aefar yang kerutkan keningnya sedikit berfikir.
"Kamu saja yang urus Luck." kata Aefar kemudian.
"Bima saja, bagaimana?" tanya Lucky.
"Memang Bima tidak ada kerjaan disini?" tanya Aefar.
"Bisa diatur." jawab Lucky naikkan alisnya pada Bima yang sok cool.
"Aku belum punya Visa Schengen." jawab Bima kemudian.
"Bisa diatur." jawab Aefar pada Bima. Bikin Bima nyengir, Om dan temannya ini benar-benar kompak.
__ADS_1
Jadilah Bima mendapatkan kemudahan untuk kunjungi calon mertuanya kalau diterima. Langsung saja Bima memeluk Lucky saat berada di Mobil
"Geli ah Bima." omel Lucky berusaha selamatkan diri dari keponakan kesayangannya.
"Makasih Om." Bima mencium pipi Lucky.
"Ih geli banget." Lucky mengusap pipinya, Bima terbahak melihatnya malah ditambah mau cium Lucky lagi, tapi Om nya itu sigap langsung menoyor kepala Bima.
"Syabda pasti bangga punya Papa seperti Om Lucky." kata Bima.
"Muji kalau dapat maunya saja." dengus Lucky.
"Om, aku hanya antar dokumen?" tanya Bima.
"Iya."
"Setelah itu bebas?" tanya Bima.
"Iya."
"Antar ke Mafia atau bukan?" tanya Bima lagi.
"Bukaaan, tidak ada urusan sama Mafia." jawab Lucky judes.
"Ish galak." dengus Bima.
"Itu dokumen harus sampai ditangan Mr. Albert. Jangan titip ke sekretarisnya, kalau Mr. Albert masih meeting ya kamu harus tunggu." Lucky menjelaskan.
"Ok."
"Kamu bebas kalau Mr. Albert sudah bilang Ok, kalau belum ya kamu masih standby ikut arahan Mr. Albert." Lucky kembali menjelaskan.
"Ok."
"Lah, kapan ketemu calon mertua dong aku." Bima monyongkan bibirnya.
"Bisa lah sambil menunggu konfirmasi dari Mr. Albert." jawab Lucky.
"Oh baiklah." Bima tersenyum senang.
"Kamu om antar atau turun dijalan?" tanya Lucky.
"Ya ampun Om, masa anaknya diturunin di jalan."
"Anakku di rumah." jawab Lucky.
"Aku kan anak Om juga."
"Kamu anaknya Baen bukan anak Lucky." dengus Lucky.
"Ish aku bilang Opa nih aku diturunin di jalan." ancam Bima, Lucky terbahak saat Bima benar-benar menelepon Opa Mickonya.
"Opaaa..." teriak Bima padahal belum ada suara Opa Micko.
"Ish..." Lucky gelengkan kepalanya.
"Halo Opa." Bima tidak sabaran, karena tanda handphone sudah tersambung tapi suara Opa Micko belum terdengar.
"Ya Bim?" terdengar suara serak Opa, sepertinya habis bangun tidur.
__ADS_1
"Opa kok suaranya serak?" tanya Bima.
"Opa kurang enak badan, kenapa boy?" tanya Opa Micko.
"Mau aku bawakan apa?" tanya Bima.
"Tidak usah." jawab Opa Micko.
"Aku mau kerumah Opa."
"Datang saja, kamu sudah di jalan?" tanya Micko.
"Sudah, tapi jemput Magda dulu, nanti ke rumah Opa sama Magda ya." ijin Bima.
"Opa lagi tidak fit tuh. Papa bukannya lagi diluar kota?" tanya Lucky.
"Kamu sama Om Lucky, Boy?" tanya Opa Micko.
"Iya Opa, ini Om Lucky mau antar aku ke rumah Magda." jawab Bima melirik Lucky.
"Aku turunin di Jalan Pa." teriak Lucky.
"Opa tuh, masa Om Lucky sama anaknya begitu."
"Anak aku Syabda kan Pa." teriak Lucky lagi.
"Ish kalian bikin tambah pusing saja, kesini saja cepat, Lucky ajak Syabda kesini Papa kangen."
"Om dengar tidak?" tanya Bima. "Aku tidak loudspeaker Opa." Bima terkikik geli.
"Kenapa Pa?" tanya Lucky, Bima loudspeaker handphonenya.
"Ajak Syabda kesini, Papa kangen." ulang Opa Micko.
"Iya nanti Kak Dania sama Mas Nanta juga aku ajak, aku turunin Bima di halte dulu." jawab Lucky mencibir pada Bima.
"Jahat." sungut Bima, Lucky terkekeh.
"Oma masak apa Opa, aku belikan makanan saja nanti kalau tidak masak." Bima menawarkan.
"Oma sudah pesan catering, buat sambut cucu menantu." teriak Oma Lulu, Lucky langsung terbahak mendengarnya, kelakuan Mamanya ya memang begitu langsung sigap walaupun mendengar sekilas, setiap acara keluarga pun mereka harus ke boutique langganan Mamanya supaya bisa pakai baju kembaran walau model tidak sama.
"Oma setuju aku sama Magda?" tanya Bima.
"Kalau tidak setuju mana mungkin pesan catering." jawab Opa Micko.
"Baiklah, pesan sedikit saja Oma, kan cuma kita saja." Bima ingatkan Oma.
"Minimal pesanan Lima puluh orang, cukup lah pesan segitu." kata Oma Lulu.
"Buset Oma, aku kan hanya berdua Magda, nanti Om Lucky berempat Panta dan Manta, Aca juga datang kalau tidak ada acara, kenapa harus pesan lima puluh orang?" protes Bima.
"Barusan Oma sudah chat Papon dan Mamon juga supaya makan siang dirumah, Baen sama Daniel juga Oma suruh datang, anak Baen kan banyak ya cukup lah, tidak berlebih." jawab Oma Lulu.
"Mama bikin acara keluarga padahal tidak ada Istriku ih." protes Lucky.
"Ini acara dadakan karena Bima juga baru bilang mau ajak Magda ke rumah." jawab Oma Lulu.
"Dadakan saja langsung pesan catering dan undang banyak orang." Bima terkekeh.
__ADS_1
"Tidak sopan kalau Magda hanya kamu kenalkan dengan kami, Papon dan Mamon belum. Harus adil Bima." jawab Oma Lulu.
"Iya-iya." Bima pasrah saja, resiko punya keluarga besar yang hobby kumpul.