
Bian yang lagi tidur karena kelelahan, mendapatkan kabar dari anak buahnya kalau rencana gagal membuat dia sangat murka.
Bian langsung membanting gelas yang ada di dekat nya ke kaca. Tentu saja hal itu membuat Cinta yang terlelap tidur karena kelelahan jadi terganggu.
Cinta langsung bangun dan menarik selimutnya untuk menutupi tubuh nya yang masih polos.
Dia melihat Bian duduk di sofa yang hanya memakai celana pendek meremas rambutnya. Cinta tidak langsung bersuara, dia melihat sekitarnya yang sudah tampak sangat kacau. Cinta sangat yakin kalau terjadi sesuatu yang membuat Bian jadi marah.
"Mas, kamu kenapa?" tanya Cinta dengan gugup.
Bian yang mendengar suara Cinta langsung bangkit berdiri dan berjalan menatap tajam ke Cinta. Tentu saja hal itu membuat Cinta takut pada Bian.
"Sekarang kamu bersihkan tubuh mu dan siap-siap!" ucap Bian.
Karena takut membuat Bian semakin marah, Cinta langsung mengikuti perintah Bian. Cinta sebenarnya masih sangat lelah. Apalagi kini dia tengah hamil muda, dan baru saja Bian memaksanya untuk memberikan kepuasan membuat dia sangat lelah. Cinta dengan sekuat tenaga pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Setelah lima menit Cinta sudah tampak rapi, begitu juga dengan Bian. Bian memilih membersihkan tubuhnya di kamar pribadinya.
"Sekarang kamu ikut dengan ku!" ucap Bian dengan dingin.
Cinta dengan terpaksa mengikuti Bian dari belakang. Cinta sangat takut kalau Bian menyakitinya, apalagi saat ini masih tengah malam. Cinta masuk kedalam mobil dengan perasaan takut.
"Mas, kita mau kemana? Apa kamu mau mengantar aku pulang?" tanya Cinta dengan gugup.
"Kamu akan tau nanti" ucap Bian dengan dingin.
Cinta memperhatikan kearah mana Bian membawa dirinya. Saat mereka melewati jalan tol, lalu mobil mereka memasuki jalan yang sangat sepi dan jarang ada penduduk membuat Cinta semakin takut.
Cinta sangat terkejut melihat ada rumah yang besar ditengah hutan, apalagi rumah itu dijaga ketat oleh pria yang berdiri tegap.
"Keluar!" ucap Bian saat mobil mereka berhenti di depan pintu rumah itu.
Cinta dengan diam mengikuti perintah Bian. Cinta semakin gusar dengan keadaannya saat ini.
Cinta melihat tidak ada satupun yang ada di dalam rumah itu. Yang ada hanya beberapa orang penjaga rumah itu. Cinta sangat penasaran pemilik rumah itu.
__ADS_1
"Mulai saat ini kamu akan tinggal di sini. Berapa usia kandungan mu?" tanya Bian dengan dingin.
Jleb...
Cinta terkejut mendengar pertanyaan Bian. Karena dia belum ada mengatakan pada Bian tentang kehamilannya.
Ternyata saat Bian lagi menikmati tubuh Cinta, Cinta selalu meminta dirinya untuk tidak menyakiti anak mereka. Bian sebenarnya sangat terkejut, tapi karena dia belum merasa puas dan masih butuh pelampiasan, Bian memilih untuk mengabaikannya saat itu.
"Ka..mu tau dari mana?" tanya cinta dengan gugup.
"Jawab saja, jangan banyak bertanya. Dan apa kamu yakin itu anak ku?" Tanya Bian dengan merendahkan harga diri Cinta.
"Apa maksud pertanyaan kamu mas? Tentu saja ini anak kamu! Apa kamu lupa kamu yang mengambil kesucian ku? Aku hanya melakukannya dengan mu!" ucap Cinta dengan emosi karena mendengar pertanyaan Bian padanya.
"Hahaha. Apa kamu yakin? Bisa saja kamu melakukan hal itu dengan pria lain. Aku tidak akan pernah mengakui kalau itu anak ku!"
"Kalau begitu untuk apa kamu membuat aku tinggal di sini?" tanya Cinta dengan emosi.
"Aku tidak ingin kamu menyebarkan gosip kepada semua orang kalau kamu tengah hamil dan mengatakan kalau itu anak ku. Dan satu hal lagi kamu aku buat kesini supaya aku bisa gampang menyuruh mu untuk melayani ku!" ucap Bian dengan menekan pipi Cinta.
"Apa maksudnya? Kamu mau menyuruh ku untuk melayani mu? Tidak akan! Aku ini bukan ****** mu! Apalagi kamu tidak mau mengakui dia anak mu!"
"Ck... Siapa bilang kamu bukan ****** ku? Kamu itu ****** ku! Setiap aku datang kemari kamu harus melayani ku sampai aku puas. Atau kamu ingin orang tua mu yang ada dikampung mengetahui apa yang kamu lakukan?" ancam Bian.
Tentu saja membuat Cinta jadi diam, dia tidak ingin membuat orang tuanya kesusahan karena dirinya.
"Tenang saja, meskipun dia bukan anakku. Aku kan memenuhi kebutuhannya dengan mu. Aku akan selalu mentransfer uang ke rekening mu!" ucap Bian.
"Didit...." Bian memanggil anak buahnya yang berada di luar.
"Ya, bos."
"Antar dia ke kamarnya. Buat dia disamping kamarku. Oh, ya dimana mereka?"
"Mereka ada di belakang bos!"
__ADS_1
"Baiklah. Pastikan dia tidak keluar dari kamarnya" ucap Bian sambil menatap Cinta yang dari tadi diam sajak dia mengancam Cinta.
***
Lusi menjelaskan kronologi kejadian apa yang terjadi pada mereka saat mereka ingin pulang pada semuanya.
Renaldo dan yang lainnya melihat Miranda, Lusi dan Dina tampak baik-baik saja membuat mereka merasa lega.
"Son, apa kamu sudah mengetahui siapa dalang semua ini?" tanya Renaldo pada putranya itu.
"Belum, pa. Tapi tenang saja kami sudah menangkap salah satu dari mereka dan aku sudah membuat dia satu ruangan dengan pria tua itu" ucap Mike.
Renaldo langsung diam, begitu juga yang lainnya.
"Maaf apa kakak menyekap orang lain? Siapa maksud pria tua yang kakak sebut dari tadi?" tanya Lusi dengan penasaran.
Renaldo dan yang lainnya langsung diam, mereka sangat mengetahui siapa yang dimaksud Mike. Hanya Lusi saja yang tidak tau, karena mereka tidak ingin membuat Lusi bertindak gegabah.
"Aku akan memberitahu setelah pernikahan kita. Aku tidak ingin membuat kamu terlalu banyak pikiran saat ini. Tidak apa-apa kan?" ucap Mike sambil menggenggam tangan Lusi.
"Baiklah. Dan aku ingin memberitahu sesuatu pada kak Mike, tapi aku harap kak Mike dan yang lainnya jangan langsung emosi" ucap Lusi.
"Baiklah. Kamu ingin mengatakan apa sayang?" tanya Mike dengan lembut.
"Ini masih dugaan ku saja. Aku merasa ini semua perbuatan pak Bian!" ucap Lusi dengan pelan.
Mendengar nama Bian tentu saja membuat Mike, Felix dan Renaldo langsung terkejut. Mike sebenarnya menduga Bian dalang hal yang menimpa Lusi, Dina dan adiknya.
"Nak, apa kamu yakin? Kamu kenapa bisa mengatakan hal ini?" tanya Renaldo.
"Semalam, tidak sengaja saya bertemu dengan pak Bian di pantry. Dia sempat membisikkan sesuatu kepada saya, kalau dia akan membawa saya pergi menjauh dari kak Mike besok. Saya awalnya tidak mengerti maksudnya, tapi karena ucapan salah satu dari mereka yang mengatakan kalau saya tidak boleh terluka, membuat saya berpikir kalau pak Bian lah bis mereka!" jelas Lusi.
Renaldo dan yang lainnya hanya tampak diam saja setelah mendengar penjelasan dari Lusi. Sedangkan Mike kini sudah menahan amarahnya, Lusi menyadari saat ini Mike menahan amarahnya. Karena Lusi melihat Mike mengepalkan tangannya dengan erat.
***
__ADS_1