You'Re My Everything

You'Re My Everything
Lapar


__ADS_3

"Jangan lupa telepon Papon, Bima." Opa Micko ingatkan Bima.


"Iya Opa." Bima sudah tahu harus menelepon Papon untuk beritahukan kalau dia akan mengajak Magda ke rumah Opa Micko, uffh Bima menarik nafas panjang, sebenarnya hanya ingin kunjungan santai saja, kenapa Oma jadi undang banyak orang, Bima gelengkan kepalanya.


"Pusing kan?" Lucky terkikik geli.


"Waktu Om Lucky tidak begini kan?" Bima protes.


"Lupa kamu ya? Om malah langsung disiapkan penghulu dan tamu undangan?" Lucky mengingatkan, gantian Bima yang terkikik geli.


"Belok kanan Om." Bima arahkan Lucky yang ikuti petunjuk Bima.


"Nah kalau sudah belok kanan sudah tidak ada halte." kata Bima, Lucky langsung terbahak.


"Om, nanti langsung jemput Panta? kasih tahu dulu biar mereka siap-siap. Ini jam makan siang sebentar lagi." Bima ingatkan Lucky.


"Panta sama Manta kamu mah tidak usah dikasih tahu pasti sudah siap, Om yakin." jawab Lucky.


"Telepon Papon, Bim. Nanti kamu lupa lagi." Lucky ingatkan Bima.


"Aku telepon group keluarga Syahputra saja." jawab Bima, langsung saja hubungi semuanya biar tidak ada komplen di kemudian waktu.


"Hello..." terdengar suara centil Balen.


"Ya Bim..." menyusul suara Mamon.


"Sudah kumpul semua belum?" tanya Bima tengil.


"Kenapa Boy?" sekarang suara Ayah Eja.


"Opa Eja, Opa Micko undang kita semua makan siang loh." kata Bima.


"Kenapa mendadak sekali? Papa Lemon sama Mama Roma on the way Bandara." suara Raymond terdengar.


"Mau kemana?" tanya Bima.


"Menyusul Oma Monik dong." jawab Mama Roma.


"Syukur deh." jawab Bima senang, biar saja sedikit yang datang, supaya Magda tidak kaget.


"Papa Lemon mau menyusul Kak Kia loh." Bima beritahukan Lucky.


"Iya." jawab Lucky santai.


"Luck, Syabda ikut ke Bandara nih." teriak Roma.


"Ya ampun, nanti menangis lihat Opa dan Omanya masuk, dia tidak ikut." Lucky langsung khawatir.


"Sama Panta dan Manta kok, santai." jawab Roma.


"Panta sama Manta kalau begitu langsung saja ke rumah Opa Micko habis dari Bandara." kata Bima.


"Iya." jawab Nanta singkat.


"Opa Eja bisa hadir? Papon sama Mamon bisa hadir kan?" tanya Bima.


"Ini acara kamu atau Opa Micko sih?" sindir Mamon.


"Oma Lulu, Mamon. Oh iya Opa Micko lagi kurang fit jangan lupa bawakan buah ya." kata Bima sambil cekikikan.


"Pacar kamu tuh suruh bawa buah." celutuk Balen.


"Eh Ante, nanti datang kan? kuat lagi hamil bawa enam anak?" tanya Bima.

__ADS_1


"Kuat, triplets yang gendongkan mbaknya masing-masing, C's sudah mandiri, Ante digendong Om Daniel." jawab Balen, semua langsung tertawa mendengarnya.


"Baen bagaimana hamil anak ke tujuh, ada keluhan?" tanya Raymond.


"Ndak ada Aban, yang mengeluh Aban Daniel." jawab Balen cekikikan.


"Menyesal ya menikah sama kamu, anaknya jadi banyak?" tanya Raymond.


"Enak aja... Aban ndak nyesal kan nikah sama Baen?" tanya Balen, sudah pasti pada Daniel yang ada disebelahnya.


"Tidak." jawab Daniel.


"Beneran?" tanya Balen mulai rewel.


"Siapa yang bilang menyesal?" tanya Daniel terdengar.


"Aban Lemon." jawab Balen.


"Baen, anak sudah mau tujuh masih saja ambil hati ocehan Abang kamu ini." kata Roma tertawakan Balen.


"Jadi makan siang aja di rumah Papa Micko ya, ada acara lain?" tanya Balen.


"Ndak ada Ante, Oma Nina ajak ya." kata Bima mengingat Oma Nina tadi malam menginap dirumah Balen.


"Iya dong, masa ditinggal." jawab Balen.


"Mobil cukup tidak Baen, mau aku jemput?" Lucky menawarkan.


"Nanti antar pulang lagi?" tanya Balen.


"Iya dong." jawab Lucky.


"Oke Baen tunggu." jawab Balen senang.


"Bima, ini Magda yang di Singapore itu?" tanya Balen.


"Iya Ante." sahut Aca yang dari tadi diam saja.


"Sudah ya, ditunggu kehadirannya." Bima akhiri sambungan teleponnya.


"Eh Papon bareng Opa Eja atau bagaimana?" tanya Bima.


"Iya Bim, kenapa? kamu mau jemput?" tanya Kenan.


"Aku tidak bawa Mobil, supir saja yang jemput ya."


"Tidak usah Nak, nanti Opa sama Oma Kiki yang jemput Papon dan Mamon, kamu santai saja." Reza langsung buka suara.


"Oke Opa, Papon, Mamon semuanyaa, Papa Lemon sama Mama Yoma have a nice flight." sekarang Bima benar-benar matikan sambungan teleponnya.


"Loh dimana nih Om?" tanya Bima pada Lucky.


"Nyasar sepertinya." Lucky nyengir lebar.


"Om kok tidak tanya? ini daerah mana ya." Bima terbahak, mungkin dekat rumah Magda tapi mereka berada di blok yang lain. Bima mengotak atik aplikasi penunjuk jalan di handphonenya.


"Terlalu cepat Om beloknya." kata Bima, lalu berikan arahan pada Lucky, akhirnya mereka pun tiba di depan rumah Magda.


"Ok, sampai bertemu nanti ya." kata Lucky lambaikan tangan setelah turunkan Bima.


"Om tidak mau kenalan duluan?" tanya Bima.


"Nanti saja sekalian." jawab Lucky.

__ADS_1


"Makasih Om." Bima lambaikan tangan begitu Lucky lajukan mobilnya perlahan. Bima pun masuk kehalaman rumah Magda, tidak lama terdengar pintu dibuka dari dalam padahal Bima belum menekan bel.


"Sudah selesai urusannya?" tanya Magda, Bima terpana melihat Magda yang hari ini cantiknya bukan main.


"Bim." Magda kibaskan tangannya ke wajah Bima.


"Cantik banget sih, aku jadi bengong deh." jawab Bima, Magda terkikik geli.


"Aku lapar." rengeknya pada Bima.


"Mau pesan online dulu? sambil menunggu Mobil aku diantar kesini." Bima menawarkan.


"Kita kesana saja Bim, nanti Mobil kamu menyusul kita, boleh?" tanya Magda.


"Boleh, yuk. Naik apa kita sekarang?" tanya Bima.


"Jalan kaki saja, dibelakang komplek ini ada hidden gem. Makanannya enak-enak." Magda langsung promosi.


"Oh ya? ada apa saja?" Bima menggandeng tangan Magda, mereka berjalan menuju tempat yang Magda maksud. "Sudah cantik begini malah jalan kaki, nanti make up kamu luntur." bisik Bima.


"Bisik-bisik maksudnya apa?" tanya Magda curiga.


"Mau sun tapi lagi di luar." jawab Bima, Magda memukul bahu Bima sambil monyongkan bibirnya.


"Tuh minta dicium kan." bisik Bima lagi, Magda langsung mencubit perut Bima.


"Sakit sayang."


"Genit sih." dengus Magda, Bima langsung merangkul Magda.


"Genitnya sama kamu saja, sayang setelah kamu sarapan yang kesiangan ini, kita ke rumah Opaku ya, aku mau kenalkan kamu sama keluargaku." kata Bima.


"Ramai?" tanya Magda.


"Sudah pasti, siapkan mental." Bima tertawa.


"Aku senang ramai, seperti waktu dirumah Orang tuanya Belin?" tanya Magda.


"Iya itu kan anak muda, sekarang banyak yang senior."


"Oke." jawab Magda santai, Bima menarik nafas lega, pacarnya ini memang selalu saja siap diajak kemanapun dalam kondisi apapun.


"Nih Bim, lihat deh aneka macam bubur, duh bikin ngences kan. Ini bubur kampiun dari padang aku suka makan, es Pisang ijo juga ada tuh Bim, kamu mau apa, tuh ada kolak Pisang juga, duh Bim ada serabi, aku makan yang mana nih?" Bima tertawa melihat Magda yang panik karena dihadapkan dengan banyak menu yang menggugah seleranya.


"Aku mau lupis." kata Bima tidak Panik seperti Magda.


"Aku juga mau, tapi mau ini juga." tunjuk Magda pada bubur sumsum.


"Kamu pesan bubur sumsum saja, nanti lupis berdua sama aku." kata Bima.


"Oke, Mas Bubur Sumsum, Lupis, Kolak Pisang sama Serabi ya." pesan Magda.


"Sayang, siapa yang makan kamu pesan banyak?" tanya Bima bingung.


"Iya kan berdua." jawab Magda.


"Aku cuma mau lupis, nanti pesanan kamu bisa kamu habiskan?" tanya Bima.


"Kan ada kamu." jawab Magda nyengir, ya ampun bagaimana kalau Magda lagi hamil ya? batin Bima dalam hati.


"Mas, istri saya lagi ngidam, boleh nanti dikasih mangkok cadangan ya, karena pasti tidak habis." kata Bima pada penjualnya.


"Loh Mbak Magda sudah menikah?" tanya penjual tersebut, sementara Magda kembali mencubit perut Bima karena bicara sembarangan.

__ADS_1


"Belum Mas, doakan saja." jawab Magda tersenyum sementara Bima meringis mengusap perutnya.


"Hihi saya kira mas nya serius." si Mas penjual cekikikan sendirian.


__ADS_2