
"Bima kok malah ndak keliatan?" tanya Balen pada Mama Lulu yang sedang sibuk menata meja, Balen ikut-ikutan menata meja sesekali mencicipi makanan yang tersedia, tentu saja seijin mama Lulu.
"Kamu makan terus Baen." tegur Nona pada anaknya.
"Ini cucu mamon di perut yang minta." jawab Balen, Nona menoyor kepala anaknya.
"Mamon ndak boleh jolim sama Ibu hamil loh." tegur Balen, sekarang mendapatkan cubitan gemas dipipinya.
"Mamon mau?" Balen menawarkan, abaikan pipinya yang sedikit kebas efek dicubit Mamon.
"Tidak." Nona gelengkan kepalanya.
"Kamu sudah bertemu calonnya Bima, Baen?" tanya Oma Lulu.
"Sudah, waktu nikahnya Beyin." jawab Balen.
"Bagaimana first impression?" tanya Oma Lulu lagi.
"Bagus-bagus aja." jawab Balen santai.
"Yang benar kasih infonya Baen." tegur Nona.
"Ih Mamon kalau ndak percaya tanya Aban aja lah, Tania juga sudah lihat orangnya." jawab Balen lagi.
"Wah Daniaaaa." Lulu langsung memanggil Dania.
"Oma, Manta still not coming yet." Cadi beritahukan Oma Lulu.
"Abang Bima's coming Omaaa." Charlie berlari mengejar Bima saat mendengar Abangnya turun dari Mobil.
"Abang Bima with his girl Chan, come... look that girl so pretty." Charlie beritahukan Abangnya yang sedang bermain dengan Delvina.
"Chandra, sini lihat." ajak Charlie lagi.
"Tidak bisa, aku lagi jaga Cipin." jawab Chandra tenang
"Pin, sini." panggil Charlie pada Delvina.
"Mau disini aja ah." jawab Delvina malas.
"Abaaang." panggil Charlie tersenyum lebar menyambut Bima, sesekali melirik pada Magda.
"Your girlfriend so pretty Abang." kata Charlie lagi apa adanya tanpa bisik-bisik.
"Wah kamu pintar merayu ya." Magda tertawa geli melihat Charlie yang terus menatapnya sambil senyum-senyum.
"Pasti naksir ya?" tanya Bima jahil, Charlie anggukan kepalanya.
"Tidak boleh dong." kata Bima mengacak anak rambut Charlie.
"Cuma naksir saja kok." jawab Charlie polos, Magda kembali tertawa.
"Kenalan dulu sama Kakak Magda." Bima tunjuk Magda.
"Hai Sis, aku Cayi." Charlie perkenalkan diri dengan nama panggilnya.
"Hai Cayi, kamu handsome." puji Magda pada Cayi.
"Banyak yang bilang begitu." jawab Charlie, Magda jadi kembali tertawa, Bima juga nyengir lebar dibuatnya.
"Sebenarnya kamu di bilang handsome karena tadi kamu bilang Kakak Magda pretty." kata Bima nyengir jahili adiknya.
"Abang, kata Abang kita mirip. Kenapa tidak senang aku dibilang handsome?" tanya Charlie.
"Senang dong Cayi, Where's Mam?" tanya Bima.
"Di dalam, ayo masuk. Semua sudah menunggu." Charlie bergaya tuan rumah.
"Siapa saja semua?" tanya Bima ikuti langkah Charlie sambil menggandeng Magda.
__ADS_1
"Aku, Cadi, Chandra, Cipin, Cinta, Citra." jawab Charlie nyengir.
"Ih kalian saja yang menunggu?"
"Iya karena Abang lama sih." protes Charlie.
"Maaf deh, Papon..." Bima langsung berhenti saat melihat Kenan duduk di ruang keluarga sambil membaca koran.
"Hei Bim." Kenan alihkan pandangannya.
"Magda ini Papon, Papanya Panta." Magda langsung ulurkan tangannya salami Kenan.
"Mirip tidak sama aku?" tanya Bima pada Magda.
"Sedikit tapi tidak terlalu." jawab Magda jujur.
"Assalamualaikum Opa." sapa Magda pada Kenan.
"Panggil Papon saja tidak apa." kata Kenan pada Magda.
"Where's Mamon?" tanya Bima pada Kenan.
"Ada." sahut Charlie cepat, Bima dan Magda tertawa.
"Diruang makan?" tanya Bima.
"Ditaman belakang." jawab Charlie lambaikan tangannya kembali bergaya tuan rumah arahkan tamunya ketaman belakang.
"Tunggu dong, Opa Micko mana? kok Papon sendirian?" tanya Bima.
"Disini Bim." teriak Opa Micko dari balik ruangan.
"Lagi dipijit dia." kata Kenan pada Bima.
"Opa aku lupa bawa buah." kata Bima basa-basi.
"Opa kenapa sih?" tanya Bima.
"Jatuh dari kuda." bisik Charlie pada Bima.
"Ya ampun, patah kakinya Papon?" tanya Bima.
"Syukurnya tidak." jawab Kenan terkekeh.
"Lagian Opa sudah tua masih berkuda saja." teriak Bima.
"Enak saja tua, masih tujuh belas tahun kok." jawab Kenan meledek Micko, mereka tertawa bersama.
"Siapa yang pijit Opa?" tanya Bima.
"Aku." terdengar suara Lucky, Bima terbahak dibuatnya.
"Sok iye Om Lucky."
"Memang Iye, Bim telepon Om Winner suruh kemari, Oma Lulu lupa kasih tahu Om Winner tuh." kata Lucky lagi.
"Oma anaknya sendiri lupa." Bima terkekeh.
"Duduk Magda, kamu seperti di setrap Bima." kata Kenan pada Magda yang sedari tadi masih berdiri.
"Oh iya lupa, kamu duduk sayang." kata Bima tanpa ragu panggil Magda sayang didepan Papon.
"Aku telepon Om ku dulu, kamu ngobrol sama Papon saja." Bima menepuk bahu Magda.
"Cayi, panggil Mam bilang Abang sudah datang." bisik Bima, Charlie anggukan kepalanya. Sementara Bima hubungi Winner, Kenan mengajak Magda ngobrol seputaran keluarga.
"Iya Papon, Mamaku sakit sudah lama, terapi di Jerman. Kemarin sih kata Abangku, Mama semakin membaik, semoga bulan depan sudah bisa kembali ke Indonesia." kata Magda ceritakan Mamanya.
"Jadi kamu sendiri di Jakarta?" tanya Kenan.
__ADS_1
"Ada yang temani di rumah, orang kepercayaan Mama." jawab Magda.
"Om Winner tidak bisa datang Opa, sedang antar Mamanya si Tante." lapor Bima pada Micko.
"Oke, aaah Luck sakit." teriak Opa Micko.
"Papa jangan banyak bergerak dulu." Lucky tertawa.
"Gaya sih Papa, kenapa naik si hitam, biasanya yang coklat juga." protes Lucky.
"Opa naik kuda hitam, parah Opa. Sudah tahu itu liar." Bima gelengkan kepalanya.
"Duh bau minyak gosok nih Pa, masa ada tamu Papa bau balsem." kata Lucky tertawakan Micko.
"Kamu sih sudah Papa bilang pakai minyak yang punya Mama." percakapan keduanya bikin Kenan dan Bima tertawa.
"Sudah jangan kelahi." Bima menggoda keduanya.
"Bim, mandikan Opa nih." kata Lucky cekikikan.
"Mau Opa?" teriak Bima.
"Opa cuma keseleo ya, masih bisa jalan." sungut Micko, semua kembali tertawa.
"Om bau balsem." Bima menutup hidungnya saat Lucky keluar ruangan.
"Salam." Lucky ulurkan tangannya.
"Tidak mau, belum cuci tangan." tolak Bima.
"Sombong." Lucky menepuk pipi Bima.
"Ish rese Om Lucky." Bima terlambat selamatkan pipinya, semua tertawa dibuatnya.
"Hai Magda." Lucky lambaikan tangannya pada Magda.
"Dih seperti kenal saja." Bima terkekeh.
"Kenal lah, kan adiknya Maxim." Lucky mencibir.
"Aku pernah temani Kak Hilma bertemu Bang Lucky." jawab Magda.
"Rese Om tidak bilang kalau sudah kenal." Lucky terbahak mendengar protes Bima.
"Lagian urusan kantor juga sering bertemu." kata Lucky menuju wastafel disusul Bima.
"Oh ya, kamu tidak cerita." kata Bima.
"Aku tidak tahu kalau kamu keluarga Pak Micko." jawab Magda tersenyum.
"Kamu kenal Opa juga? Micko itu Opa aku." Bima beritahukan Magda.
"Kamu tahunya Bima itu siapa?" tanya Kenan.
"Tahunya saudara Belin." jawab Magda polos, Kenan tertawa.
"Kurang ngetop kamu Bim." kata Kenan.
"Kalau sama Kenan Syahputra kamu kenal?" tanya Bima.
"Oh yang pengusaha shipping itu kan?"
"Orangnya tahu?" tanya Bima, Magda gelengkan kepalanya.
"Itu perusahaan besar, aku belum pernah bertemu, Bang Maxim mungkin sudah." jawab Magda, Bima tertawa.
"Itu Opa aku juga, nih orangnya." tunjuk Bima pada Kenan yang cengengesan.
"Papon? Kenan Syahputra?" tanya Magda memastikan, Kenan menganggukkan kepalanya sambil terkekeh.
__ADS_1