You'Re My Everything

You'Re My Everything
Sabar


__ADS_3

Seminggu sudah berlalu, beberapa keluarga sudah kembali ke Jakarta. Hanya keluarga inti saja yang Masih tertinggal di Malang.


"Kamu kapan mulai aktifitas Bim?" tanya Noah pada Bima via telepon, Noah dan Belin sudah di Jakarta Tiga hari yang lalu bersama geng rusuh lainnya.


"Lusa Bang, kenapa?"


"Kata Aca ternyata kamu jauh lebih cengeng dari Baen. Jangan meratap kepergian Oma, banyak yang harus kamu lakukan, ingat kamu juga ada janji mau menemui keluarga Magda kan?" Noah ingatkan Bima yang terdengar menghela nafas.


"Ya." jawab Bima.


"Terdengar tidak ada semangat hidup, kamu mau menyusul Oma?" Noah memancing emosi Bima.


"Noah bilang apa sih?" terdengar teriakan Belin dari belakang, salah malah istrinya yang terpancing.


"Bima memprihatinkan baby." Noah menjauhkan suaranya.


"Tapi jangan bilang gitu juga." omel Belin.


"Bey.. Bang Noah, sudah jangan ribut." Bima menengahi pasangan suami istri itu.


"Makanya Bima semangat dong, masih ada kita yang harus kamu pikirkan, Papon, Mamon, Panta, Manta, Opon, ayo balik Jakarta, Magda apa kabar tuh, keburu dilamar orang loh." Belin langsung saja nyerocos, bikin Bima ketar-ketir.


"Aku telepon Magda dulu." jawab Bima langsung menutup sambungan telepon Noah dan Belin.


"Dasar, baru sadar dia kalau punya pacar." omel Belin sambil cemberut, tentu saja Bima tidak mendengar karena ia sedang sibung hubungi pacarnya saat ini.


"Calon istri bukan pacar." jawab Noah kalem.


"Belum dilamar masih pacar, lambat nih Bima." masih saja komentari Bima.


"Kan karena Oma sakit, Bang Maxim dan Magda maklum kok." Noah membela Bima, sudah seakrab itu memang Noah sama geng rusuh.


"Bima kapan lamaran ya, aku, Kia sama Kak Torry janjian mau pakai baju samaan." Noah terkikik geli, belum juga terlaksana para wanita sudah sibuk dengan baju yang akan dipakai.


"Baen samaan juga?" tanya Noah bayangkan sahabatnya.


"Belum tanya Ante sih, pasti mau juga lah." jawab Belin yakin.


"Memangnya semua akan hadir acara lamaran Bima?" tanya Noah.


"Wajib hadir wakilin Oma." jawab Belin cekikikan, belum juga ada undangan, penuh percaya diri sekali.

__ADS_1


"Aku pakai baju apa?" Noah mulai ketularan istrinya pikirkan mau pakai baju apa.


"Tidak usah pakai baju Bang." celutuk Billian, memang saat ini Belin dan Noah sedang berada dirumah Ayah Leyi.


"Ish anak dibawah umur mana boleh ngomong menjurus-jurus." dengus Belin kemudian julurkan lidahnya pada Billian.


"Sembarangan, sudah bisa bikin anak ini." jawab Billian.


"Heh bicara apa sih ini?" Nami mulai mau ceramahi Billian sepertinya.


"Minta dicarikan istri nih anak Nami." celutuk Belin menggoda adiknya, Billian langsung kicep, maksud hati mau menggoda abang iparnya malah dapat balasan yang bikin mati kutu.


"Mau Nami jodohkan sama anak temani Nami yang di Singapore?" tanya Rumi tanggapi serius, sudah semangat carikan jodoh untuk anak bungsunya.


"Kalau anak Singapore siapa Nami, pasti aku kenal." wah Noah ikutan saja kepo, Billian pandangi ayahnya dengan tatapan minta dibela. Larry terkekeh melihat ekspresi bungsunya.


"Bisa cari sendiri pasti anak ganteng Ayah." cepat tanggapi memang ayahnya, Billian langsung saja tersenyum lebar sambil tunjuk Ayah dan acungkan jempolnya.


"Ayah know me so much." jawab Billian tengil.


"Mana, sampai sekarang sama Vina teman kantorku hanya sebatas baksos Ayah."


"Iya siapa dong yang sedang kamu keker saat ini?" tanya Rumi.


"Keker? Aku kan bukan sniper, Nami."


"Ayah bagaimana ini? Masa anak mantan playboy sampai sekarang tidak pernah punya teman wanita yang spesial sih?"


"Wah Nami, pacaran itu dilarang agama tahu." sok sok an bergaya ustadz Billian saat ini.


"Gaya lo, kita juga tidak suruh pacaran, tapi cari lah calon istri." sahut Belin.


"Sabar ya jangan terburu-buru, aku tuh cari pasangan yang bisa klop sama kita keluarga besar, jangan nanti seperti Bima sama Tantri bikin parno kan." Billian pandangi Belin.


"Vina oke loh Bil, aku setuju." Belin support Billian yang gelengkan kepalanya.


"Kenapa?" Tanya Belin penasaran, ingin tahu perasaan adiknya terhadap Vina teman kantornya yang kalem, cocoklah sama Billian.


"Aku belum kepikiran kesana sih Bey, saat ini masih senang berteman saja. Kenapa kamu sekarang sering sekali promosikan Vina sih, aku juga sudah kenal baik tidak perlu di promosikan." cerocos Billian, tidak ada makanan saat ini dihadapan mereka, karena mereka sedang duduk di taman belakang dekat kolam berenang, tadi Belin dan Noah temani Ayah Leyi berenang.


"Kamu tidak tertarik sama Vina?" tanya Belin melirik Noah kemudian Nami, Larry tampak sibuk keringkan badannya dengan handuk.

__ADS_1


"Ayah..." lagi, Billian minta bantuan ayahnya.


"Jangan mengandalkan Ayah, ini kan perasaan kamu bukan Ayah." omel Belin yang tahu kelakuan adiknya.


"Aku belum mau pacaran." jawab Billian bersungut, seperti bocah yang dipaksa makan.


"Tapi kamu suka perempuan kan? Jaman sekarang lagi musim tidak peduli jenis kelamin yang penting kasih sayang." tanya Belin serius.


"Ish otaknya, sudah aku bilang aku juga bisa bikin anak kalau aku mau, sabar dulu sih." Billian sudah mulai kesal.


"Sayang jangan dipojokkan adiknya." Larry mengingatkan.


"Kasihan Vina yah, kalau Billian terus saja mendekati tanpa kejelasan, yang suka Vina juga banyak, lihat mereka jalan berdua terus kan nanti cowok-cowok yang mau sama Vina mundur. Jangan menghambat jodoh orang dong Bil."


"Memangnya ada keluhan dari Vina?" tanya Billian pada kakaknya. "Kalau memang ada yang suka Vina dan Vinanya juga mau aku tidak masalah, Bey, kami hanya berteman, aku suka berteman dengan Vina." jawab Billian.


"Jangan nangis ya kalau Vina punya pacar." Belin tersenyum sambil naikkan alisnya.


"Aku ikut bahagia, kalau dia bahagia." jawab Billian mantap. Noah terbahak mendengarnya.


"Kenapa tertawa?" tanya Billian.


"Seperti lagu." jawab Noah nyengir lebar.


"Ingat pengalaman ya jagain jodohnya Om Daniel?" Belin menggoda suaminya, semua langsung tertawakan Noah.


"Ya, bisa saja nanti kamu seperti itu Bil." Noah tidak tersinggung ditertawakan.


"Tapi abang ada rasa menyesal tidak?" tanya Billian serius, Noah gelengkan kepalanya.


"Bersyukur." jawab Noah tersenyum.


"Ya bersyukur dapat aku, yang tidak kalah cantik sama Ante." jawab Belin mengibas rambutnya dengan gaya sok cantik, tentu saja bikin yang lain cekikikan.


"Iya betul aku bersyukur, istriku tidak kalah cantik dan tidak kalah centilnya." jawab Noah sambil tertawa dan memeluk istrinya gemas, sudah tidak malu dihadapan mertuanya bersikap begitu.


"Jadi kapan kasih aku keponakan nih?" celutuk Billian pada keduanya.


"Sabar dong, nanti juga dikasih Allah, kan pabrik mah produksi terus." jawab Belin bikin Larry dan Rumi gelengkan kepalanya.


"Tuh Ayah, gimana aku tidak suka bicara sembarangan kalau kakaknya saja kasih contoh begitu." adu Billian pada Ayah Leyi yang cengengesan pandangi kedua anaknya.

__ADS_1


__ADS_2