You'Re My Everything

You'Re My Everything
Manja


__ADS_3

Bima tersenyum senang, meskipun Magda baru tahu silsilah keluarga Bima, setidaknya Bima tahu jika Magda menerima dirinya bukan karena Bima salah satu pewaris Suryadi maupun Syahputra. Ini membuktikan kalau Magda bukan perempuan matrealistis, walaupun seandainya begitu sah-sah saja karena Magda juga bukan berasal dari keluarga sembarangan. Semua tahu siapa Maxim, walaupun masih muda sepak terjangnya di Dunia Bisnis sudah tidak diragukan lagi.


"Oma Nina dimana, Papon?" tanya Bima setelah bersihkan wajahnya efek belaian tangan Lucky yang bekas balsem kepipinya.


"Di kamar Oma Misha lagi temani Cinta dan Citra." jawab Kenan.


"Aku ajak Magda kesana ya?" ijin Bima pada Paponnya. Kenan anggukan kepalanya.


"Permisi Papon, Om Lucky." ijin Magda pada Papon dan Lucky, keduanya tersenyum dan anggukan kepala.


"Oma Nina itu Mamanya Papon." Bima jelaskan pada Magda.


"Papon Opa kamu kan? berarti Oma Nina buyut ya? kenapa panggil Oma juga?" tanya Magda.


"Sudah pusing ya, harusnya kan Papon aku panggil Opa, malah ikutan Ante semua panggilnya Papon." Bima terkekeh.


"Tidak penting kan panggil apa yang penting berlimpahan kasih sayang." kata Bima lagi, Magda tertawa saja mendengarnya.


"Keluarga kamu banyak juga ya? aku cuma sama Abang Maxim, Mama dan Papaku anak tunggal loh, jadi kami minim saudara." kata Magda pada Bima sambil ikuti Bima menuju kama Oma Nina.


"Sepupu atau sahabat Mama dan Papa kamu ada kan?" tanya Bima, Magda mengedikkan bahunya.


"Kalau kami, banyak sepupu, bahkan sahabat itu juga jadi saudara makanya jadi keluarga besar yang sangat banyak." kata Bima tertawa.


"Tapi seru ya, tidak ada konflik kah kalau terlalu luas?" tanya Magda.


"Konflik apa ya? selama ini sih kompak-kompak saja, malah saling bantu." jawab Bima.


"Senang sekali kalau begitu." Magda tersenyum.


"Kamarnya agak jauh dari ruang keluarga." Bima nyengir, rumah peninggalan Oma Misha ini memang sangat besar.


"Untungnya keluarga besar ya, kalau hanya berdua saja dirumah sebesar ini malas sekali." jawab Magda.


"Dulu Opa Micko hanya berdua dengan Oma Misha, walaupun ada pekerja tetap saja mereka kesepian, nah Oma Misha bekerja jadi sekretaris Opa Dwi Papanya Papon dan bersahabat sama Oma Nina istri Opa Dwi, jadi sudah seperti keluarga." Bima ceritakan keluarganya. "Eh sekarang malah jadi saudara beneran karena Panta anak Papon menikah dengan Manta anak Opa Micko." lanjut Bima.


"Bisa begitu ya, mereka dijodohkan?" tanya Magda.


"Kenalan dibandara dan saling naksir tuh sebelum tahu anaknya siapa, sudah jodoh juga sih kalau aku bilang, makanya ada aku." jawab Bima, Magda terkikik geli karena Bima bergaya sok ganteng.


"Nanti kamu kenalan sama Ante Baen ya, orangnya seru. Jangan bilang kamu tidak kenal Balena Putri Kenan. Anteku itu terkenal dari kecil." kata Bima banggakan Antenya.


"Iya aku tahu, dulu aku penggemar Balena asal kamu tahu saja. Aku tidak suka susu dulu, tapi akhirnya suka karena iklan susu Balena, jadi kata Mama kalau minum susu bisa pintar seperti Balena, bisa juara berenang, juara Tenis." cerita Magda panjang lebar, Bima tertawa senang mendengarnya.


"Nah kamu tahu tidak Balena itu adiknya Panta." kata Bima bangga.

__ADS_1


"Siapa nih ngomongin Ante?" Balen senyum-senyum GR karena jadi bahan cerita Bima dan pacarnya, selalu saja Bima banggakan dirinya pada siapapun.


"Eh Ante, ini Magdaku." Bima langsung semangat kenalkan Magda pada Balen.


"Hai Magda, kalian mau bertemu Oma kan? ayo aku juga mau ke Oma." Balen langsung menggandeng Magda tinggalkan Bima yang berdecak sedikit kesal, kebiasaan di Ante yang seenaknya sendiri.


"Omaaa, Bima ajak calon istri nih." teriak Balen saat masuki kamar Oma Nina, tampak Oma sibuk bercengkrama bersama Cinta dan Citra, ada pengasuhnya juga disana mengawasi ketiganya.


"Maaam." sambut Cinta saat melihat Mamanya, tersenyum tunjukkan mainan ditangannya.


"Maaam dendong." rengek Citra saat lihat Balen segera berdiri peluki Mamanya.


"Ini siapa, Cipin?" tanya Balen.


"Butan Mam." Citra gelengkan kepalanya.


"Cinta?" tanya Balen.


"Atu Inta." protes Cinta langsung acungkan jarinya.


"Duh kalian sih terlalu mirip, Mama kan bilang tadi jangan pakai baju yang sama, Mama jadi bingung bedakan kalian." semua tertawakan Balen yang tidak bisa bedakan si kembar.


"Mereka kembar tiga, Mamanya bingung deh, pakai baju maunya selalu sama." Balen gelengkan kepalanya pandangi Magda yang terkekeh.


"Itu diperut kembar lagi jangan-jangan." Bima tertawakan Balen.


"Oma ini Magda." Bima mendorong pelan Magda agar mendekati Oma Nina yang berbaring di kasur.


"Sebentar Oma bangun dulu." Oma Nina berusaha bangun dari tempat tidur, sementara Balen menggendong Citra.


"Tidak usah Oma, tiduran saja." Magda mendekat dan duduk dipingiran kasur.


"Bantu Oma bangun ya." pinta Oma Nina, Magda pun ulurkan tangannya dengan sigap membantu Oma Nina duduk dari tidurnya.


"Sudah tua jadi begini deh." Oma Nina terkekeh, posisinya sekarang sudah duduk.


"Masih cantik Oma." kata Magda jujur, kecantikan Oma Nina masih tampak nyata.


"Oh itu sih jelas, lihat dong cucu buyutnya ganteng begini." sahut Bima tengil. Belin mencibir sambil senyum-senyum.


"Oma lagi menunggu giliran, semua yang seumur Oma sudah dipanggil Allah." kata Oma Nina terkekeh.


"Jangan begitu Oma, mesti tunggu anak Bima lahir dong, biar bisa main sama Oma seperti C's." kata Bima ikut duduk disebelah Oma Nina, sementara Citra langsung bergelayut dileher Bima. Perhatian semuanya beralih pada Citra.


"Danteng." katanya ciumi Bima.

__ADS_1


"Nih si genit, suka ciumi cowok ganteng." kata Balen tunjuk anaknya.


"Denit aja ndak apa." jawab Citra tidak peduli lalu kembali ciumi Bima.


"Siapa saja yang ganteng?" tanya Bima pada Citra.


"Shemuanya." sahut Cinta.


"Semuanya tuh siapa sebut." perintah Bima.


"Banaak deh." jawab Cinta, semua jadi tertawa.


"Ini anak Ante yang paling denit nih." Bima mencubit pipi Citra gemas.


"Nggak ya." protes Cinta, kembarannya dibilang genit.


"Kamu juga ya mau dibilang denit?" tanya Magda menggoda Cinta.


"Nggak ya." Cinta gelengkan kepalanya.


"Ini sih paling manja minta gendong terus, untung kurus." kata Balen.


"Ante tidak apakah gendong anak lagi hamil besar?" tanya Magda.


"Ndak apa, habisnya dia rewel kalau ndak di gendong. Yang dua untungnya ndak iri kalau yang satu minta gendong Mama." Balen ciumi Cinta gemas.


"Turun Cinta Mama capek tuh, sini sama Abang." Bima ulurkan tangannya.


"Atu aja ya shama Abim." Citra ambil posisi duduk dipangkuan Bima.


"Berdua bisa kok, sini Cinta." Bima benarkan posisi Citraa lalu mengambil Cinta dari Balen, kasihan melihat perut Antenya tertekan.


"Maaam, Pap cari." Cadi terengah masuki kamar memanggil Mamanya.


"Tuh Ante biangnya yang lebih manja cari Ante." Bima terkikik geli, Om Danielnya sekarang lagi manja-manjanya, Ante Baen tidak bisa hilang sedikit.


"Sayang..." benar saja Daniel menyusul Cadi.


"Daniel masih mual?" tanya Oma Nina pada cucu menantunya.


"Sedikit Oma, makanya mau minta Baen usap-usap perut." jawab Daniel.


"Om masih connect kalau aku kenalkan Magda?" tanya Bima.


"Masih Bim, halo Magda." Daniel lambaikan tangannya tersenyum ramah, lalu mengambil tangan Balen arahkan keperutnya.

__ADS_1


"Tuh manja kan, maunya diusap-usap perut terus." kata Balen ajak Daniel duduk di sofa kamar, Bima dan Magda tersenyum saling pandang.


"Anak ke tujuh dan mereka tambah mesra saja. Wajib kita contoh." bisik Bima bikin senyum Magda tambah lebar saja.


__ADS_2