
Handoko dan Sisil langsung mendekati Bian, didepan semua orang Bian mencium tangannya Handoko. Sehingga banyak yang bertanya-tanya hubungan antara mereka.
"Kenapa om dan Sisil kemari?" tanya Bian
"Om ingin membahas masalah pekerjaan. Apa bos mu ada di ruangannya?"
"Ada om, Mari saya antar" ucap Bian dengan tersenyum.
Saat mereka lagi menunggu lift, dari depan mereka Baim keluar dari lift VIP.
"Pak Handoko, nona Sisil silahkan untuk ikut saya. Dan pak Bian silahkan lanjutkan pekerjaannya" ucap Baim dengan sopan dan menatap mereka dengan dingin.
Bian pun langsung mengangguk kepalanya untuk mengikuti ucapan Baim. Bian tidak bisa menolak karena perintah Bian, berarti perintah dari Mike juga.
Akhirnya Handoko dan Sisil mengikuti Baim, memakai lift VIP. Sesampainya mereka di lantai paling atas, Handoko dan Sisil sangat terkejut melihat Lusi yang lagi asyik bekerja.
Sedangkan Lusi tampak sangat santai saja, karena dia dari awal sudah tau akan kedatangan mereka. Lusi sebenarnya ingin sekali menghajar papanya dan ingin bertanya langsung tentang kecelakaan mamanya. Tapi karena dia teringat janji kalau dia tidak boleh bertindak gegabah.
Dengan sopan Lusi langsung bangkit berdiri dan menundukkan kepalanya untuk memberikan hormatnya kepada tamu yang datang.
"CK... Ternyata kita kebetulan bertemu di sini. Aku ingin membuat perhitungan dengan mu" ucap Sisil dengan emosi, saat dia ingin mendekati Lusi tangannya di tarik kasar oleh Baim.
"Nona tolong jaga sikap anda. Ini bukan perusahaan anda." ucap Baim dan menghempaskan Sisil.
"Ini bukan urusan anda" ucap Sisil dengan emosi.
"Ini urusan saya. Apalagi anda saat ini membuat keributan di kantor ini. Jika anda tidak bisa diajak kerja sama lebih baik anda pergi dari sini" ucap Baim.
"Maaf kan putri saya pak Baim." ucap Handoko sambil menarik tangan putrinya dan mengedipkan matanya.
__ADS_1
Sisil yang tahu kode dari papanya, dia langsung memilih untuk diam. Tapi pandangannya tetap tajam kepada Lusi. Sangat berbeda dengan Handoko ada tatapan yang sangat berbeda pada Lusi. Dari awal Handoko, tidak pernah sekalipun memandang Lusi dengan tajam. Dia hanya diam saja, dia akan bertindak kalau istrinya yang lebih dulu.
"Silahkan pak" ucap Baim untuk mempersilahkan Handoko jalan.
Baim langsung mengetok pintu ruangan Mike, setelah mendengar jawaban dari dalam barulah Baim membukanya.
"Sepertinya kalian sudah tahu kalau saya membatalkan kerjasama kita" ucap Mike memandang Handoko dan Sisil sangat dingin.
"Anda tidak bisa memutuskannya secara sepihak, kami tidak sekalipun melakukan kesalahan terhadap perusahaan anda" ucap Handoko dengan emosi.
"Hahahaha. Kalian memang tidak melakukannya dengan perusahaan. Tapi kalian telah kesalahan besar dengan keluarga saya." ucap Mike.
"Kami tidak suka bekerja sama dengan orang yang memiliki karakter yang sangat buruk terhadap orang lain. Jika kalian saja bisa bersikap buruk terhadap orang lain, apalagi nanti kalau ada kesempatan kalian pasti bisa melakukannya dengan perusahaan saya" ucap Mike dengan dingin.
"Tapi, kami sudah meminta maaf! Saya mohon tuan tolong jangan batalkan kerjasama kita" Handoko memohon kepada Mike dengan wajah sendu.
Para pemegang saham meminta Handoko untuk mendapatkan proyek itu kembali, kalau tidak mereka akan menjual saham mereka kepada Putra yang kini sudah dialihkan kepada putranya yang bernama Felix. Jika itu terjadi maka Felix lah yang menjadi pemimpin perusahaannya. Handoko sangat tahu Felix sangat tidak menyukai dirinya apalagi sewaktu acara pesta kemarin istrinya telah menyakiti Miranda, istrinya Felix.
"Itu sudah keputusan mutlak tuan Handoko" ucap Renaldo tiba-tiba yang sudah berdiri didepan pintu ruangan Mike.
Mike langsung bangkit berdiri dari tempat duduknya ketika melihat papanya, dibelakangnya juga ada Lusi dan pengacara mereka Samuel.
Dengan gagahnya Renaldo masuk, Lusi dan Samuel juga ikut masuk. Renaldo duduk di sofa dengan menyilang kakinya, dengan dingin dia menatap Handoko dan Sisil yang masih berdiri. Karena tatapan Renaldo yang sangat dingin membuat nyali Handoko dan Sisil sangat takut. Ketika Renaldo sudah duduk, Mike juga langsung duduk di samping papanya. Gaya mereka duduk tidak ada yang berbeda, tatapan mereka juga sangat dingin. Sehingga membuat lawan mereka sangat takut pada mereka. Mereka hanya bersifat hangat hanya kepada keluarga mereka saja.
"Saya tidak akan pernah mau bekerja sama dengan orang yang tidak mempunyai hati dan karakternya yang sangat buruk" ucap Renaldo.
Mendengar ucapan Renaldo membuat Handoko langsung bersujud di hadapan Renaldo. Sisil sangat terkejut melihat papanya merendahkan harga dirinya dihadapan semua orang, apalagi di hadapan Lusi.
"Papa ayo bangun. Kenapa papa seperti ini?" ucap Sisil dengan sedih melihat papanya seperti itu.
__ADS_1
Lusi sebenarnya sangat sedih melihat papanya yang sudah tua, bersujud di hadapan orang. Tapi rasa sedihnya itu langsung ditepisnya karena tiba-tiba dia teringat kalau kecelakaan mamanya seperti yang sudah direncanakan.
"Saya mohon tuan. Saya janji akan melakukan apapun yang yang anda minta" ucap Handoko.
"Apa kamu yakin?" tanya Renaldo dengan tajam.
"Ya, tuan saya sangat yakin" ucap Handoko dengan wajah sendu.
"Baiklah, Kamu dan keluarga mu harus bisa mendapatkan maaf dari putri mu" ucap Renaldo dengan menatap Lusi yang berdiri di samping Mike.
Mendengar syarat dari Renaldo, membuat Lusi sangat terkejut. Lusi memandang calon mertuanya itu, dia tidak mengerti kenapa Renaldo memberikan syarat seperti itu pada Handoko.
Begitu juga dengan Handoko dan Sisil sangat terkejut mendengarnya. Handoko sangat tahu siapa yang dimaksud Renaldo, dia sempat melirik ke arah Lusi yang dari tadi terus diam. Sedangkan Sisil langsung mendekati Renaldo apa yang maksud dari syarat Renaldo itu.
"Maaf pak Renaldo, apa maksud anda? Kami harus meminta maaf kepada putri papa saya? Hanya saya saja putri dari papa saya, tidak ada yang lain" ucap Sisil dengan emosi.
"Saya sangat yakin kalau papa mu mengerti apa yang saya katakan" ucap Renaldo menatap tajam Sisil.
"Sebelum anda mendapatkan maafnya, jangan harap saya akan memberikan proyek itu kepada kalian. Saya hanya kasih waktu yang satu Minggu ini" ucap Renaldo.
***
Kini Lusi makan siang bersama dengan keluarga besar Mike di restoran yang ada di hotel milik keluarga Mike. Di sana ada Kakek dan nenek Mike dan Miranda. Miranda dan Felix juga ikut makan siang bersama. Karena Geral dan Mesya yang meminta untuk makan siang bersama. Mereka ingin sangat dekat dengan calon cucu menantunya itu, walaupun mereka sudah sangat mengenal siapa Lusi. Tapi mereka ingin semakin dekat dengan Lusi.
"Sayang ingat ya kalau cucu nenek itu menyakitimu, kamu bisa beritahu pada kakek dan nenek" ucap Mesya sambil menggenggam tangan Lusi yang duduk di sampingnya.
Mendengar ucapan Mesya membuat Lusi sangat bahagia dan bersyukur. Akhirnya dia bisa m merasakan kasih sayang dari seorang nenek lagi. Karena dari kecil dia tidak pernah merasakannya. Dia sangat ingat kalau orang tua papanya meninggal dalam kecelakaan seminggu sebelum hari dimana mamanya kecelakaan. Sedangkan mamanya sudah yatim piatu sejak duduk di bangku kuliah, karena sakit keras.
****
__ADS_1