You'Re My Everything

You'Re My Everything
Bahasa


__ADS_3

"Aku baru landing." lapor Bima pada Magda setelah sebelumnya hubungi Panta dan Manta, ia sudah berada di Berlin saat ini. Opa, Papon dan yang lain rencananya akan menyusul setelah pekerjaan Bima selesai, mengingat Panta juga tidak bisa meninggalkan pekerjaan ya terlalu lama. Jadi mereka menunggu aba-aba dari Bima. Tetap persyaratan dari Manta, Bima yang harus temui calon mertuanya terlebih dahulu, karena Dania tidak mau membuat calon besan bingung kalau keluarga besar Bima datang langsung melamar Magda.


"Aku kangen Bim, padahal kamu baru berangkat kemarin." rengek Magda manja, Bima tersenyum saat dengarkan respon Magda saat ini, sudah berani bilang kangen dia. Kemajuan yang sangat pesat kan, bikin hidung Bima kembang Kempis saja.


"Video call mau?" Bima menawarkan tidak membalas bilang kangen, tapi pikir Bima, Magda pasti tahu kalau Bima juga pasti lebih kangen dari Magda, buktinya baru landing saja sudah langsung kabari Magda.


"Masih meeting tidak bisa video call." Magda bersungut, buat Magda pekerjaan terasa mengganggu kesenangannya saat ini, padahal sebelum bertemu Bima, Magda sangat senang bekerja. Saat ini saja Magda terpaksa keluar ruangan tinggalkan meeting sejenak demi menjawab telepon kekasihnya.


"Kalau begitu ditahan dulu kangennya, aku urus pekerjaan dulu. Sayang, aku tidak tahu bisa hubungi kamu lagi kapan." kata Bima pada Magda.


"Kenapa?" tanya Magda tidak terima, meetingnya hanya dua jam, tapi Bima tidak bisa dihubungi setelah meeting.


"Sepertinya hari ini sibuk, menurut Bryan setelah ini kami langsung menyusul Mr. Robert yang ternyata harus ke Munich pagi ini, jadi aku bertemu asistennya dulu." Bima menjelaskan.


"Ya sudah, semoga lancar urusan kamu ya Bim."


"Iya sayang, kamu sudah makan kah?" tanya Bima.


"Sudah, kan ada catering di kantorku sekarang, jadi sebelum jam dua belas makanan kami sudah tersedia di meja, kamu makannya bagaimana disana, takutnya tidak cocok." Magda khawatirkan Bima, di negara orang tentu Bima harus jaga kesehatan.


"Aku bisa makan segala yang halal kok, tenang saja, kalau sampai tidak ada makanan yang cocok, masih ada buah." jawab Bima tersenyum, perhatian sekali calon istrinya.


"Bim, tapi aku belum bilang Mama kalau sekarang aku punya pacar loh." kata Magda kemudian, Bima jadi nyengir.


"Kamu bilang dong, calon menantu mau berkunjung." Bima terkekeh.


"Tapi kamu kontak sama Bang Maxim terus kan?" tanya Magda.


"Iya, Papa dan Mama kamu tahu kalau aku mau datang." jawab Bima.


"Bang Maxim ijinkan kamu datang temui Mama?" tanya Magda.


"Iya, kenapa?" tanya Bima jadi penasaran Magda seperti khawatir.


"Aku berharap Bang Maxim kasih tahu Mama kalau kamu pacar aku." Magda senyum malu-malu gitu, padahal Bima tidak melihat.


"Bukan pacar ah, calon suami." jawab Bima tengil, Magda tambah mesem-mesem saja.

__ADS_1


"Bim, aku sudah harus masuk ruangan lagi." Magda menghela nafas panjang ketika sekretarisnya berikan kode jika Magda sudah ditunggu diruangan, beneran kan ini sangat mengganggu kesenangan, bikin sebal saja kalau begini caranya, batin Magda.


"Oke sayang, enjoy your meeting ya." kata Bima tersenyum, walau Magda tidak melihat ketampanannya yang maksimal saat ini. Bima tak lagi mendengar suara Magda, ia segera berjalan cepat menuju imigrasi sambil menggeret koper kecilnya yang berisi berkas penting yang nanti harus diserahkan pada Mr. Robert.


Setelah segala urusan imigrasi selesai Bima langsung temui Bryan, utusan Lucky yang menjemput dirinya.


"Hari ini jadwal padat, mohon maaf handphone Mas Bima harus non aktif hanya untuk satu hari ini, karena Mr. Robert tidak mau keberadaannya hari ini diketahui orang lain." Bryan berbahasa Indonesia dengan lancar meskipun wajahnya bukan Indonesia banget.


"Ok." baru saja hendak matikan handphonenya, deringan telepon terdengar dari handphone Bima.


"Biim..." rupanya Belin yang hubungi Bima, suara Belin terdengar semangat sekali.


"Bey sorry, kita tidak bisa bertemu hari ini ternyata." langsung saja Bima beritahukan Belin, sudah rencana malam ini Belin dan Noah akan menyusul Bima ke Jerman.


"Ish sok penting lo, kapan dong? Kita sudah dibandara nih." dengus Belin dengan kening berkerut.


"Kalian lanjut honeymoon dulu ya, tagihan nanti kirim saja ke Om Lucky saja." dasar Bima, tetap saja Lucky yang dijadikan donatur. Belin langsung cekikikan dibuatnya, Bima pun begitu.


"Bey sudah ya." Bima langsung menutup telponnya kemudian tunjukkan handphonenya pada Bryan setelah di non aktifkan.


Belin mendengus kesal, ia mencoba hubungi Bima lagi tapi sekarang handphone Bima malah tidak aktif.


"Bima sok penting deh Ay, pertemuan hari ini batal, jadi kita lanjut honeymoon di Jerman saja katanya tadi dan biaya ini kita rembers ke Om Lucky." kata Belin sambil terkikik geli.


"Kalian ini selalu saja manfaatkan Bang Lucky, memangnya tugas kantor bisa di rembers." Noah ikut terkikik geli sambil gelengkan kepalanya. Tentu saja itu tidak akan Noah lakukan.


"Kita kan niatnya dampingin Bima." jawab Belin, Noah memencet hidung istrinya gemas, otaknya masih sedikit gesrek kalau sudah bicara dengan Bima dan geng rusuh lainnya.


"Noaaah." Belin mengusap hidungnya yang terasa gatal karena dipencet. Noah terbahak langsung merangkul Belin yang duduk disebelahnya, sekilas kemudian mengecup dahi istrinya.


"Jadi kita duluan yang bertemu Mama dan Papanya Magda." kata Noah terkekeh.


"Tidak apa ya?" tanya Belin.


"Tidak apa dong, kan kita sekalian besuk Tante. Kata Mama sih kondisinya sudah jauh lebih baik." jawab Noah, Belin anggukan kepalanya, ikuti saja rencana suaminya.


Sementara itu Bima harus bersabar karena harus melanjutkan perjalanan darat hingga beberapa jam ke depan. Tanpa handphone, hanya bisa mendengarkan suara musik yang ada di mobil sambil melihat pemandangan yang mereka lewati.

__ADS_1


"Kamu tuh orang Indonesia ya Bryan?" tanya Bima pada Bryan yang duduk dibangku penumpang depan.


"Bukan." Bryan tersenyum menoleh ke belakang.


"Bahasa Indonesia kamu lancar sekali." Bima acungkan jempolnya.


"Saya belajar, karena Bos sering ke Indonesia." jawab Bryan polos.


"Berapa lama belajar Bahasa?" tanya Bima.


"Dua tahun, sampai lancar begini." jawab Bryan bangga.


"Hebat." Bima tersenyum tulus.


"Saya cuma bisa Bahasa Jerman dan Indonesia. Pak Lucky malah bilang Pak Bima bisa lima bahasa."


"Iya betul, sayangnya dari kelima bahasa itu, saya tidak bisa bahasa Jerman." Bima dan Bryan tertawa bersama. Tinggal supir yang lirik-lirik penasaran dengan pembahasan kedua orang ini, walaupun begitu Pak Supir ikut tertawa juga, padahal tidak mengerti apa yang sedang dibahas.


"Si bapak bisa bahasa Indonesia juga?" tanya Bima tunjuk Pak Supir. Bryan langsung gelengkan kepalanya.


"Tertawa itu menular kan?" kata Bryan, Bima anggukan kepalanya setuju.


"Pak Lucky sudah tahu kan?" tanya Bryan pada Bima.


"Sudah, tadi begitu landing, saya langsung hubungi Pak Lucky." jawab Bima, panggilnya Pak Lucky juga dong.


"Saya pun sudah kasih tahu kalau kita tidak aktifkan handphone sementara dalam perjalanan menuju Munich." Bryan menjelaskan pada Bima.


"Kita berapa lama dalam perjalanan?" tanya Bima.


"Enam jam lebih sedikit." jawab Bryan, Bima anggukan kepalanya, lumayan juga ya, kenapa juga tidak lewat udara, pikir Bima.


"Kita tidak sempat siapkan pesawat pribadi karena ini diluar rencana, seharian Mr. Robert tidak ada jadwal ke luar kota beberapa hari kedepan. Mas Bima capek?" tanya Bryan, Bima gelengkan kepalanya.


"Kalau capek Mas Bima tidur saja, kalau sudah sampai saya bangunkan." Bryan terkekeh.


"Belum ngantuk sih, tadi tidur terus di pesawat." jawab Bima.

__ADS_1


"Kalau begitu saya saja yang tidur, Mas Bima silahkan ngobrol sama Pak Supir." dasar Bryan suka bercanda juga dia, bagaimana bisa Bima ngobrol sama Pak Supir sementara Bima tidak bisa bahasa Jerman dan Pak Supir tidak bisa bahasa Indonesia.


Bima jadi tertawa sambil gelengkan kepalanya, mau buka aplikasi translator juga tidak bisa karena handphone mereka bertiga tidak boleh diaktifkan sampai urusan dengan Mr. Robert selesai.


__ADS_2