You'Re My Everything

You'Re My Everything
Handoko Tertusuk Pisau


__ADS_3

Karena Handoko yang muncul tiba-tiba, membuat pisau yang seharusnya ditujukan pada Lusi kini mengenai dirinya Handoko. Pisau itu tertancap di perutnya, tentu saja membuat Monika kaget. Tangannya yang sudah kena lumuran darah dari perutnya Handoko, menutup mulutnya karena keterkejutannya.


Handoko tetap diam saja menahan rasa sakit di bagian perutnya. Pelan-pelan Handoko memutarkan tubuhnya menghadap putrinya. Dia menampilkan senyumnya pada putrinya, kemudian dia mengangkat tangannya untuk menyentuh wajah Lusi. Lusi dan Mike yang belum mengetahui apa yang terjadi hanya diam saja sambil mengkerutkan keningnya.


Lusi dapat merasakan sentuhan tangan Handoko, sentuhan yang dari dulu sangat dia rindukan sejak dia masih kecil. Sentuhan yang tidak pernah dia rasakan. Handoko tetap menampilkan senyumnya, dia tidak memperdulikan rasa sakitnya. Dia sangat bahagia karena Lusi tidak menghindari sentuhannya.


Beberapa detik kemudian Handoko terjatuh dengan tersenyum. Tentu saja membuat Mike dan Lusi terkejut. Mike langsung menangkap tubuh Handoko sebelum tubuh Handoko mendarat di lantai.


"Pak Handoko" teriak Lusi dengan terkejut.


Semuanya yang berada di dalam langsung terkejut, mereka langsung berlari menghampiri Handoko yang sudah tergeletak. Lusi dan Mike yang melihat pisau di tertancap di perutnya Handoko membuat mereka terkejut.


Secara refleks Lusi langsung menggenggam tangan Handoko, dan air matanya sudah mengalir. Renaldo dan yang lainnya yang sudah berkumpul melihat keadaan Handoko sangat terkejut melihat pisau di perutnya Handoko.


"Kenapa seperti ini? Han, kenapa bisa seperti ini?" tanya Samuel dengan cemas melihat keadaan adik iparnya itu.


"Lebih baik kita bawa dia kerumah sakit sekarang!" ucap Jhonson.


Handoko hanya terus tersenyum memperhatikan wajah Lusi yang tampak cemas padanya dan menggenggam tangannya. Handoko merasa bahagia melihat putrinya mengkuatirkan dirinya. Saat Felix ingin menggendong Handoko untuk dibawa, Handoko langsung memuntahkan darah.


Melihat itu membuat Lusi jadi langsung menangis dengan menggeleng kepalanya. Entah kenapa dia merasa takut terjadi hal yang buruk pada papanya.


"Ku mohon bertahanlah" ucap Lusi saat Felix membopong tubuh Handoko untuk dibawa ke kerumah sakit.


Mike langsung menarik Lusi untuk melepaskan genggamannya. Semuanya dapat melihat bagaimana Handoko sangat enggan untuk melepaskan genggaman tangan Lusi. Tapi karena Mike terus menarik istrinya, supaya Felix bisa langsung lari membawa Handoko ke rumah sakit, akhirnya tangan mereka terlepas. Mike menarik Lusi yang terus menangis ke dalam pelukannya. Dia tahu bagaimana perasaan Lusi saat ini, meskipun Lusi mengatakan kalau Handoko bukan lagi papanya. Didalam hatinya yang terdalam Lusi masih sangat merindukan papanya dan peduli terhadap Handoko.


"Aku takut.... Bagaimana terjadi sesuatu padanya" ucap Lusi dalam tangisannya.


Sedangkan Monika masih mematung menatap suaminya yang kini berlumuran darah. Renaldo dan Jhonson langsung memerintahkan anak buah mereka untuk membawa Monika untuk disatukan dengan Sisil. Samuel, Venesia dan Bian hanya bisa diam saja melihat Monika di bawa pergi oleh anak buahnya Renaldo.


Samuel dan Venesia tampak bingung kenapa Monika hanya diam saja ketika dibawa pergi, dan tanpa sengaja mereka melihat tangan Monika berlumuran darah. Mereka akhirnya mengetahui siapa yang menusuk perutnya Handoko. Hal yang membuat mereka bingung adalah Kenapa Monika menusuk perutnya Handoko.

__ADS_1


"Sayang tenanglah. Tidak akan ada hal buruk terjadi padanya" ucap Mike untuk menenangkan istrinya.


"Hiks hiks.. Kenapa dia menyelamatkan ku, mas? Bukankah selama ini dia tidak pernah memperdulikan ku? Kenapa tidak seterusnya saja dia seperti itu? hiks hiks"


"Tenanglah. Itu karena sebenarnya dia sangat menyayangi mu" ucap Mike.


Mendengar celotehan Lusi membuat Samuel, Venesia, Bian, Jhonson dan Renaldo mengetahui penyebab pisau itu berada di perutnya Handoko.


"Sayang, lebih baik kita kerumah sakit." ucap Jhonson sambil menepuk pundak Lusi dengan lembut.


***


Karena rumah sakit satu-satunya yang ada di desa itu tidak memiliki peralatan yang lengkap untuk operasi membuat mereka harus mencari rumah sakit yang lain. Setelah satu setengah jam keluar dari desa itu, mereka akhirnya mendapatkan rumah sakit. Untung Handoko nafasnya Handoko masih ada saat mereka menemukan rumah sakit.


Dengan cepat dokter dan perawat di rumah sakit itu langsung menangani Handoko. Handoko langsung dibawa ke ruang operasi untuk ditangani. Mereka hanya bisa berdoa di luar berharap Handoko dapat diselamatkan.


Apalagi kata dokter Handoko mengalami banyak kehilangan darah.


Samuel melihat telepon dari orang kepercayaannya, dengan cepat dia langsung mengangkat teleponnya.


"Feri apa yang terjadi?" tanya Samuel.


"Tuan dimana? Saya ingin melaporkan tentang wanita hamil yang tuan temukan di rumah tuan Bian" ucap Feri dari balik telepon.


"Ah, ia.. Bagaimana dengan wanita itu? Apa dia baik-baik saja? Kalian di rumah sakit mana?"" tanya Samuel dengan cemas.


"Kami ada di rumah sakit Kasih, tuan. Dokter ingin bertemu dengan suami wanita ini tuan!" ucap Feri.


"Baiklah. Tunggu sebentar. Kebetulan kami juga berada di rumah sakit Kasih" ucap Samuel.


Ternyata Rumah sakit Kasih tidak jauh dari rumah pribadi milik Bian. Rumah sakit dimana Handoko juga dibawa untuk ditangani.

__ADS_1


"Bian, papa ingin berbicara pada mu" ucap Samuel pada putranya.


Bian tidak mendengar ucapan Samuel sehingga membuat Samuel menepuk pundaknya. Bian yang tampak terus memperhatikan Mike, jadi terkejut karena Samuel tiba-tiba menepuk pundaknya.


"Ah... Ya, pa! Apa ada sesuatu?" tanya Bian dengan bingung.


"Tadi kami menemukan wanita hamil di rumah mu. Apa kamu tahu siapa suaminya?" tanya Samuel.


Mendengar peta papanya membuat, Bian langsung bangkit berdiri dengan raut wajah sendu. Dia merutuki dirinya karena melupakan Cinta dan calon anaknya. Padahal dia sudah berjanji akan datang menemuinya.


"Cinta! Kenapa dengan Cinta pa? Di mana dia sekarang?" tanya Bian dengan berteriak dan air matanya menetes.


Tentu saja membuat Samuel dan Venesia terkejut mendengar teriakkan Bian. Begitu juga dengan yang lainnya. Sedangkan Lusi yang mendengar nama Cinta juga langsung menatap suaminya.


"Bian kenapa dengan dirimu? Siapa wanita itu?" tanya Venesia pada Bian.


"Pa, tolong katakan dia dimana?" tanya Bian lagi tanpa menjawab pertanyaan mamanya.


"Tenang Bian. Dia berada di rumah sakit ini juga. Feri menghubungi papa, kalau dokter ingin bertemu dengan suaminya" ucap Samuel menjelaskan.


Bian sebenarnya merasakan rasa sakit di sekujur tubuhnya, tapi dia memaksakan dirinya untuk pergi mencari ruangan Cinta dirawat.


Samuel dan Venesia tentu saja merasa bingung, mereka memutuskan untuk mengikuti Bian dari belakang. Begitu juga dengan Lusi, Lusi menarik suaminya untuk mengikuti dirinya.


"Maaf saya ingin bertanya dimana ruangan wanita yang bernama Cinta dirawat" tanya Bian pada perawat yang dibagian informasi.


" Nyonya Lusi saat ini berada di ruangan ICU tuan. Maaf anda siapa nyonya Cinta?"


"Dimana ruangan ICU?" tanya Bian lagi.


Bian langsung berlari ke arah yang ditunjuk perawat itu. Begitu juga ke dua orang tuanya dan Lusi bersama Mike mengikuti Bian dari belakang.

__ADS_1


****


__ADS_2