You'Re My Everything

You'Re My Everything
Nyetrika


__ADS_3

Pertemuan dengan keluarga Bima membuat Magda bahagia, bagaimana tidak, triplets menempel pada Magda abaikan Mama, Papa dan pengasuhnya. Bahkan Citra yang suka cowok ganteng abaikan Bima, Lucky dan Aca. Biasanya jika ada ketiga pria tersebut yang lain diabaikan.


"C's ambil adiknya, kasihan Kakak Magda." kata Nona pada cucu lelakinya.


"Nooo." teriak Delvina cepat.


"Cipin jangan teriak begitu, Nak." Daniel ingatkan gadis kecilnya.


"Wote Pap." jawabnya tersenyum manis pada Daniel. Magda tertawa geli lalu mencubit pipi gadis kecil yang cantik itu.


"Kamu bisa berenang?" tanya Magda pada Cipin.


"Bisha." jawabnya acuh, Magda kembali tertawa.


"Bohong!" sahut Bima bercandai Magda. Anak Ante mana ada yang tidak bisa berenang, dari bayi sudah dilempar ke kolam sama Papanya. Apalagi ketiga Abangnya setiap selesai sholat shubuh sudah sibuk latihan berenang.


"Benel bisha." jawab Delvina keningnya berkerut.


"Mana buktinya?" tantang Bima.


"Ayo tetolam tita belenang." merasa tertantang langsung mengajak Bima ke kolam berenang.


"Mau apa ke kolam?" tanya Bima pura-pura bodoh.


"Belenang ih." jawabnya sambil menepuk bahu Bima, Delvina termasuk tomboy diantara kedua saudara kembarnya, Citra cenderung centil sementara Cinta terlihat sebagai anak bontot yang manja sama Papa, Mama dan kelima saudaranya.


"Ndosah tetolam setalang, panas pin." Citra ingatkan kembarannya.


"Ndak apa tan ada ailna, dinin tau." jawab Delvina.


"nanti tamu item mutana, jelek. Pelempuan halus tantik Pin." kata Citra mencontek pembicaraan para mamak-mamak.


"Hitam juga cantik kok, eksotik." sahut Magda.


"Talo item lambutna halus teliting, balu tantik, Tipin lambutna lulus tau, masa item." Magda gelengkan kepalanya, Citra berlagak seperti gadis ramaja lalu kibaskan rambutnya, semua kembali terbahak, melihat Citra yang sok cantik.


"Baen waktu kecil ndak secentil Citra loh." kata Balen gelengkan kepalanya.


"Mengikuti zaman lah." sahut Lucky, semua kembali terbahak, sementara Daniel menyender manja dibahu istrinya.


"Ini anak ketujuh sepertinya mirip Ante loh, setelah enam anak semua mirip Om Daniel." kata Aca pada Balen.


"Sok tahu Aca, tapi kalau betul mirip Ante, Aca dapat hadiah." Balen tersenyum senang, janjian hadiah pada Aca.


"Betul ya, semua saksi loh aku dapat hadiah dari Ante." Aca langsung senang.


"Aca mau apa?" tanya Balen.


"Nanti aku pikir dulu Ante." jawab Aca.


"Minta posisi Om Daniel di kantor kayanya." Bima menggoda Aca.


"Boleh." jawab Daniel cepat.

__ADS_1


"Aban mau lepas tanggung jawab urusin hotel nih." Balen menepuk bahu suaminya, semua kembali terbahak,. sementara Aca hanya cengengesan, bukan itu yang Aca mau.


"Permintaan aku sederhana saja Ante, nanti kalau aku menikah Ante yang harus urus semuanya." jawab Aca.


"Waah Aca mau langkahi Bima." teriak Balen semua memandang Aca.


"Pasti Bang Bima dulu lah, aku setelah itu, mungkin setahun atau dua tahun setelah Abang." jawab Aca cepat.


"Sekalian saja kalian menikah dihari yang sama." Lucky provokasi, Nanta dan Daniel cengar-cengir saja.


"Panta Manta pasti setuju tuh." jawab Bima ikut-ikutan.


"Risa masih terikat kontrak sampai dua tahun kedepan." jawab Aca.


"Cie jadi sama Risa nih." Lucky terkikik geli, tanpa sadar Aca mengakui hubungannya dengan Risa.


"Ya kalau dia mau berhenti jadi artis menikah sama dia, kalau masih mau lanjut jadi artis aku cari yang lain." jawab Aca santai.


"Biarin aja Aca, Risa tetap nyanyi." kata Balen.


"Jangan lah Ante, capek dia kasihan."


"Berapa sih biaya pembatalan kontrak?" tanya Micko, semua langsung bersorak Opa turun tangan.


"Tuh Opa sudah turun tangan." kata Lucky terbahak lihat wajah panik Aca.


"Iya Oma setuju, bayarkan saja Micko, langsung nikahkan mereka, mana boleh pacar-pacaran." tegas Oma Nina.


"Nah loh, Ibu Suri sudah keluarkan suara." ledek Bima memeluk Oma Nina.


"Opa, Papon minggu depan ayo ke Jerman, Bima ada kerjaan, sekalian lamar Magda nih, Papa dan Mamanya lagi di Jerman." Magda langsung saja terkejut dengar ucapan Bima.


"Cie Kak Magda kaget." Aca terkikik menggoda Magda.


"Kamu dulu Bima, perkenalkan diri dengan orang tua Magda dulu." Nanta ingatkan anaknya.


"Iya aku perkenalkan diri, besoknya langsung lamar jadi tidak bolak-balik." Bima tidak sabaran. "Oma maunya begitu loh, aku sih ikuti Oma Nina." bawa-bawa Oma Nina dia, Lucky menoyor kepala keponakannya itu.


"Ok, besok saja kita berangkat, bisa kan Ken?" Micko memandang Kenan.


"Papa main Oke saja, Panta dan Manta tidak dimintai pendapat." Dania gelengkan kepalanya.


"Kalau Oma Nina sudah bilang begitu kita harus ikuti, kualat nanti." jawab Micko.


"Aku masih ada pekerjaan, kasih waktu tiga hari Pa." Nanta minta ijin Papa dan mertuanya.


"Iya, Bima juga masih menunggu surat yang harus ditanda tangan beberapa pihak." sahut Lucky.


"Magda kamu siap menikah dalam waktu dekat?" tanya Oma Nina, walah Magda bingung harus jawab apa, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kalau Mama dan Papanya setuju, Magda setuju kok." jawab Bima percaya diri.


"Jangan kamu yang jawab, Bima. Magda bagaimana? Oma lihat kamu masih ragu." tanya Oma Nina lagi.

__ADS_1


"Pasti tidak pernah siap ya Oma, tapi bagaimana Mama dan Papa saja nantinya, kalau Mama dan Papa setuju Magda menikah dalam waktu dekat, Magda setuju." jawab Magda.


"Yang mau menikah kamu loh." Lucky menggoda Magda.


"Iya, tapi tetap harus restu Mama dan Papa." jawab Magda nyengir.


"Atu Juda dong, menikah." celutuk Citra, semua terbahak dibuatnya.


"Mau menikah sama siapa?" tanya Aca masih tertawa.


"Sama Papon." jawab Citra.


"Seperti mengerti saja menikah itu apa." Kenan terbahak hampiri Citra lalu menggendongnya.


"Ayo Papon menikah." ajak Citra.


"Menikah apa itu menikah?" Kenan terbahak mencubit hidung cucunya gemas.


"Embak menikah tiap hali tuh, abis nyuci baju, jemul terus keling, menikah deh." sahut Cinta, semua kembali terbahak.


"Nyetrika itu nyetrika." jawab Aca sekarang ikutan Papon menggendong Cinta.


"Kamu mau menikah seperti embak?" tanya Aca pada Citra.


"Iya, atu bisa tau, embak ajalin. Tan atu juda punya nikahan." jawab Citra.


"Setrikaan sayang bukan nikahan." Balen menjelaskan kemudian memandang Daniel yang ikut tertawa geli.


"Anak Aban tuh mau nikahan." katanya sambil tertawa geli.


"Gemesin banget sih kalian, ikut ke Singapore yuk." ajak Magda.


"Yuk. Maaaam, topel atu dong telualin." Citra langsung gerak cepat mau ke Singapore.


"Ck, banyak gaya ah minta koper." sahut Aca tertawakan adiknya.


"Bang yuk, sinapul." ajak Citra gerakan tangannya mengajak Aca.


"Duh, bisa rewel sampai malam besok nih minta sinapul." Balen terkekeh melihat kelakuan anaknya.


"Mau ke Singapore sama siapa?" tanya Oma Nina.


"Tatak Mada." jawab Citra.


"Tipin itut yaa." Delvina tawarkan diri.


"Iya semuanya, tapi tanya Mama sama Papa boleh apa tidak." jawab Magda cekikikan, kedua adik Bima ini tampak serius.


"Eh ke Singapore naik pesawat loh." Balen ingatkan anaknya.


"Iya ote gak apa." jawab Citra, sementara Cinta hanya memandang saja tidak berminat, kalau pergi tanpa Mama dan Papa, Cinta tidak pernah mau ikut, sekalipun hanya ke rumah Papon atau yang lainnya.


"Bawa saja Magda. Tuh kopernya di kamar Om Lucky." Balen bercandai kedua gadisnya.

__ADS_1


"Hole!!!" mereka langsung melonjak senang dalam gendongan Papon dan Aca.


__ADS_2