
Bima menghela nafas panjang, suasana sedikit kusut karena adik-adik yang tidak mau lepas dari Magda, apalagi begitu Bima pamit mau mengantar Magda, tiga kurcaci langsung rusuh meminta koper karena mau ikut ke Singapore. Cinta yang awalnya tidak mau ikut malah sekarang menangis paling kencang takut ditinggal.
"Sama Abang Aca saja yuk." Aca yang kasihan melihat Bima, ikut membujuk adik-adiknya, tapi tidak berhasil, walaupun selama ini Aca salah satu abang ganteng favorite ketiga kurcaci.
"Abang Aca naik helicopter tuh." bujuk Bima biar semua mau ikut Aca.
"Iya ayo mau naik helicopter atau mau naik robot." tawar Aca.
"Tem Jon? nggak ah, aku mau naik sawat." jawab Delvina tengil. Aca terbahak, ternyata Delvina sudah tahu akal-akalan Aca dan Bima.
"Kakak Magda belum ke Singapore kok, ini mau abang Bima antar pulang dulu." Aca menjelaskan.
"Nginap lumah tatak Mada aja yuk." ajak Citra pada Delvina dan Cinta.
"Yuk..." keduanya main yuk saja, Balen cekikikan lihat kelakuan anak-anaknya. Daniel menghembuskan nafas kasar, sedang tidak punya energi mau membujuk Triplets.
"Cucu Papon tidak sayang Papon lagi ya?" Kenan buka suara, bisa lama kalau begini caranya. Mengingat Micko besannya sedang tidak enak badan juga, pasti ingin cepat istirahat.
"Shayang sih." jawab Cinta cepat.
"Kalau sayang menginap di rumah Papon, malam ini." tegas Kenan, ketiganya berpandang-pandangan.
"Iya Opa Eja juga menginap di rumah Papon." Reza buka suara.
"Benelan?" tanya Citra, ia penggemar Opa Eja dan Oma Kiki.
"Iya." jawab Reza
"Tapi Opa sama Oma titi nani ya." Citra pakai syarat.
"Shepelti yang pidio itu." sahut Cinta semangat, suka sekali menonton Video Kiki waktu muda.
"Oke." jawab Kiki senyum lebar, ada anak piyik pencinta Oma Kiki. Akhirnya Triplets berhasil dibujuk oleh Papon dan Opa Eja.
Delvina menepuk bahu Magda sedikit menyesal tidak bisa ikut menginap di rumah Magda, padahal siapa juga yang tawarkan itu, tapi ia kasihan pada Magda yang orangtuanya jauh.
"Nek taim aja ya." kata Delvina pada Magda.
"Apa itu?" tanya Magda bingung, Delvina menghela nafas panjang, ingin menjelaskan maksudnya, tapi Bima sudah berbisik pada Magda. "Next Time." Magda langsung terkikik geli.
"Iya Cipin." jawab Magda nyengir.
"Tidak jadi ke Singapore?" Bima mancing-mancing, langsung mendapat jeweran dari Balen. Bima meringis tanpa protes.
__ADS_1
"Maap ya sekalang belum bisha." jawab Cinta lembut wakili Delvina, jangan sampai Magda tersinggung.
"Iya, Adik yang dipelut Mam halus dijagain." sahut Citra tunjuk perut Balen. Seperti yang iya saja mau jaga adik diperut. Magda anggukan kepala seakan mengerti sambil acungkan jempol.
"Beles, ayo Opa." ajak Citra tidak sabaran langsung menggandeng Opa Eja, Cinta ulurkan tangannya minta digendong Kenan. Sementara Delvina hampiri Balen dan membelai perut Mamanya.
"Ndak boleh nanis dipelut Mam, tasian tuh Pap." ocehnya, semua jadi tertawa dibuatnya.
"Jadi Pap lemas karena adik menangis diperut Mam?" tanya Nona.
"Iya." jawab Delvina sok tahu. Bima gemas sekali dibuatnya langsung saja ciumi Delvina bertubi-tubi.
"Iih apaan sih." protesnya karena tomboy sudah pasti tidak suka dicium-cium. Tambah-tambah saja Bima ciumi adiknya itu. Kemudian perhatian ya beralih pada C's yang terlihat anteng.
"Boys, kalian kalem sekali, nanti malam mau ikut nonton tidak?" Bima tawarkan Chandra, Charlie dan Cadi.
"Memang bisa diganggu?" tanya Cadi pada Bima sambil tunjuk-tunjuk Magda, semua langsung terbahak dibuatnya.
"Bisalah, mau?" tanya Bima, kalau mengajak C's tentu tidak serepot mengajak triplets dengan segala gayanya.
"Boleh Pap? Cadi minta ijin pada Daniel yang anggukan kepalanya, "Mam?" sekarang minta ijin Balen.
"Boleh." jawab Balen cepat.
"Aku ikut Abang ya?" Charlie minta ijin pandangi Mama dan Papa bergantian.
"Iya ikut saja." jawab Balen.
"Oke, nanti habis magrib Abang jemput." kata Bima pada keduanya.
"Serius lu?" tanya Aca khawatir acara Bima dan Magda terganggu.
"Serious, kalau C's gue sanggup, bocil urusan lu deh." kata Bima sambil pandangi triplets yang sudah sibuk bersama Opa dan Papon.
"Gue antar Magda dulu, trus pulang. Nanti malam aku sama C's jemput kamu." kata Bima pandangi Aca dan Magda bergantian. Magda mengangguk kepalanya, acara dadakan versi Bima, malam mingguan ditemani adik-adik. Mungkin karena Oma Nina bilang tidak boleh pacaran jadi harus bawa pawang, pikir Magda.
"Kamu oke kan kalau nanti kita nonton ajak C's? aku kasihan mereka tuh masih bocah harus jaga bocah. Biasanya aku sama Aca dan geng rusuh gantian ajak mereka malam mingguan." Bima minta persetujuan Magda sambil menceritakan rutinitas mereka menghibur adik-adik yang gantengnya kebangetan menurut orang-orang.
"Oke saja, aku senang kok. Malah aman kalau ada mereka." jawab Magda tersenyum.
"Maksud kamu kalau berdua saja tidak aman?" tanya Bima, Magda terbahak sambil menutup mulutnya.
"Memang apa yang ada dipikiran kamu merasa tidak aman?" tanya Bima jahil, Magda malah nyengir lebar.
__ADS_1
"Ayo jawab." paksa Bima sambil fokus menyetir
"Katanya kan kalau berdua saja ketiganya setan." jawab Magda masih nyengir.
"Fuuuh." Bima meniup tangannya setelah menyentuh ubun-ubun Magda. "Tuh setannya aku suruh pergi." lanjut Bima sambil tertawa, Magda juga ikut tertawa geli.
"Bim, kamu serius mau temui Mama dan Papa?" tanya Magda setelah mereka hening beberapa saat.
"Loh tadi kamu dengar sendiri kan? masih belum yakin?" tanya Bima.
"Terlalu cepat ya?" Magda tanyakan Bima pelan.
"Kamu mau lama-lama? nanti aku diambil orang loh." Bima pasang wajah tengil.
"Tantri? ih itu sih memang maunya kamu." Magda memukul bahu Bima sambil monyongkan bibirnya.
"Tuh kan cemburu, makanya jangan ulur-ulur."
"Bukan ulur-ulur, tapi aku takut kamu menyesal saja karena menikah muda." Magda menarik nafas panjang.
"Kamu tahu kalau Panta dan Mantaku menikah saat mereka masih kuliah, Karir Panta sebagai atlet basket nasional lagi bagus-bagusnya. Penggemar Panta juga lagi banyak-banyaknya. Sudah biasa dikeluarga aku menikah muda. Ante Baen semuda itu anaknya mau tujuh." Bima menoleh pada Magda sekilas sambil tersenyum.
"Iya Ante Baen tuh seumuran kita bukan sih? Muda betul loh dia, seperti Kakaknya Chandra saja."
"Nah itu, makanya. Aku juga mau sama anakku nanti seperti adik kakak." Bima tersenyum lebar menghayal segera punya anak setelah menikah.
"Biar tetap bisa lirik-lirik cewek ya, kalau lagi bawa anak dibilang adiknya?"
"Kamu tuh lucu kalau lagi cemburu ya." Bima terkekeh mencubit pipi Magda gemas.
"Makanya kalau cemburuan tuh, aku ya diikat." kata Bima.
"Nanti kalau sudah menikah tinggal di Singapore ya?" Magda pandangi Bima.
"Terserah kamu mau dimana." jawab Bima.
"Kantor kamu bagaimana?" tanya Magda.
"Bisa alih tugas, ada Om Winner disini, ada Aca juga, Om Lucky lagi multitasking, apa yang tidak dipegang sama Om Lucky, semua beres tuh. Shaka juga bisa diandalkan." jawab Bima sebut nama keluarganya satu persatu. Magda tersenyum pandangi Bima, sebenarnya Magda mau saja tinggal di Jakarta, tapi otaknya rusak pikirkan Bima yang masih terus diganggu Tantri, Magda pikir lebih baik menjauh saja.
"Melamun..." Bima sadarkan Magda.
"Aku sebenarnya mau sih kita tinggal di Jakarta, tapi aku kok kepikiran Tantri yang ganggu kamu terus, takut kamunya labil." Magda menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Percaya sama aku dong sayang. Kita kan sudah mau menikah." Bima mengelus puncak kepala Magda dengan tangan kirinya, baru tahu ternyata calon istrinya lumayan cemburuan. Tapi Bima senang saja, berarti perasaan Magda terhadap Bima lebih cepat berkembang dari yang Bima kira.