
"Oma sehat dong, Oma. Bima tidak bisa tepati janji untuk menikah dalam waktu dekat kalau Oma masih sakit." lanjut Bima lagi, tampak jari Oma bergerak-gerak.
"Bima..." panggil Oma Nina.
"Iya Oma, ini Bima sudah datang, buka dong mata Oma kalau kangen sama Bima." Bima mau menangis saja rasanya, tidak tegas melihat Oma penuh selang.
"Oma sehat ya, Bima sayang Oma." bisik Bima, Oma anggukan kepalanya walau mata masih terpejam.
"Oma, Bima harus keluar. Tapi Bima tetap disini jaga Oma dari depan pintu." bisik Bima ketika perawat berikan kode jika waktu Bima temui Oma sudah habis. Oma kembali anggukan kepalanya.
Bima tidak tahu kenapa Oma panggil Bima terus, mungkin ada yang ingin Oma bahas dengan Bima atau Bima bikin Oma kangen berat. Bagaimanapun Oma terbiasa berkumpul dengan anak, cucu, menantu dan cicitnya, mungkin saja karena satu hilang jadi dipanggil terus, begitu pikir Bima.
"Bim, bagaimana Oma?" tanya Aca saat Bima keluar ruangan ICU.
"Belum buka mata sih, tapi dengar gue bilang apa, beberapa kali menganggukkan kepalanya." jawab Bima, Aca menarik nafas lega.
"Padahal aku sudah pura-pura jadi Bang Bima." celutuk Cadi bikin semua tertawa.
"Kamu lawak ya? masa Oma sakit mau dibohongi." kata Aca mengacak anak rambut Cadi.
"Ya kan, Bang Bima tidak bisa dihubungi." jawab Cadi dengan wajah serius.
"Kebanyakan minum temu lawak sih Cadi." Chandra tertawakan adiknya.
"Mama sama Papa kalian mana?" tanya Bima pada adik-adiknya.
"Lagi diruang rawat Mamon." jawab Chandra.
"Iya Charlie juga disana." jawab Cadi.
"Triplets?" tanya Bima.
"Di rumah, anak kecil kan tidak boleh dirumah sakit, banyak virus." jawab Cadi.
"Kalian juga tidak boleh kan masih kecil." sambung Aca.
"Abang..." Cadi langsung bergelayut manja pada Aca.
Bima tinggalkan adik-adiknya hampiri Papon yang sedang bersama Panta, Manta dan juga Magda.
__ADS_1
"Magda antar pulang, Bim. Dari tadi pagi temani Manta disini." kata Dania sambut Bima.
"Hmm..." Bima tampak berpikir, ia sudah berjanji sama Oma untuk standby didepan pintu menjaga Oma.
"Aku pulang sendiri saja nanti supir jemput kok, Manta." jawab Magda yang mengerti jika Bima dibutuhkan disini.
"Maaf aku belum sempat temui keluarga kamu." kata Bima pada Magda.
"Tidak apa, Bang Maxim juga sudah tahu kalau Oma Nina kritis. Kamu lebih dibutuhkan disini." jawab Magda sangat pengertian.
"Aku juga tidak bisa antar kamu pulang, aku janji sama Oma menunggu didepan pintu, tetap jaga Oma dari luar." Bima kembali meminta pengertian Magda.
"Oma juga tidak tahu, sebentar saja." kata Panta kasihan Magda harus pulang sendiri.
"Tidak usah Panta, janji Bima pada Oma harus ditepati." kata Magda tersenyum pada Kedua orang tua Bima.
"Papon tidak temani Mamon?" tanya Bima.
"Ada Balen, Daniel dan Charlie. Biar gantian saja." jawab Kenan tampak santai meskipun kedua orang tersayangnya sedang terbaring sakit.
"Mamon kenapa pingsan, Papon?" tanya Bima ingin tahu kabar Mamon.
"Panta aku rasa harus pulang istirahat, Panta terlihat kusut." kata Bima jujur.
"Iya tidak tidur hampir dua malam." jawab Kenan.
"Papa juga tidak tidur." Nanta pandangi Kenan.
"Papa masih tidur diruangan Mamon, kamu sama sekali tidak." jawab Kenan.
"Ya sudah semua pulang, biar aku sama Aca yang jaga Oma dan Mamon." Bima kasihan melihat Papon dan kedua orangtuanya.
"Dania sama Nanta saja yang pulang, sekalian antar Magda." kata Kenan pada anak dan menantunya.
"Papon juga harus istirahat." Aca hampiri mereka bersama kedua adik gantengnya.
"Iya, kata Mamon juga tadi Papon harus pulang istirahat, gantian saja yang jaga." Dania ikut bersuara.
"Kamu tidak capek habis perjalanan jauh?" tanya Kenan khawatirkan Bima.
__ADS_1
"Dipesawat aku tidur Papon." jawab Bima berbohong, mana bisa tidur saat pikirannya tidak karuan.
"Baiklah kalau begitu kita pulang dulu, kalian berdua yang jaga bisa kan?" tanya Nanta pada kedua anaknya yang mengangguk cepat.
"Jaga diruangan Mamon saja, nanti kalau Oma Nina butuh sesuatu kalian akan ditelepon. Paling tidak masih ada dilantai yang sama dengan Oma." pesan Nanta pada anaknya.
"Aku janji jaga Oma didepan pintu." tegas Bima.
"Kalau begitu kamu minta ijin untuk masuk keruangan Oma lagi, bilang kamu menunggu diruangan Mamon, karena didepan ruangan Oma harus steril." kata Kenan pada cucunya.
"Begitu ya?"
"Iya, lagi pula orang suruhan Opa Micko standby didekat ruangan Oma. Kalau ditambah kamu jadi sempit." kata Dania tersenyum.
"Aku masuk ruangan Oma dulu kalau begitu." kata Bima segera menuju ruangan Oma.
"Ijin dulu Bim, tidak bisa bebas keluar masuk." Aca mengingatkan. Bima terkekeh lalu segera menuju ruang jaga dokter untuk minta ijin temui Oma Nina sebentar. Untungnya Bima mendapat ijin dari dokter jaga. Bima masuk ditemani Opa Eja yang baru datang. Harusnya masuk bergantian tapi Bima mau temani Opa Eja yang tampak begitu sedih. Oma Kiki malah memilih tidak masuk karena tidak tegas melihat Oma Nina di tempeli banyak kabel.
"Mama..." duh Opa Eja rupanya lebih cengeng dari Papon, ia langsung saja menangis saat melihat Oma Nina
"Opa..." Bima mengusap punggung Opa Eja, memberikan kekuatan untuk Opa kesayangannya.
"Mama sembuh dong, Eja janji kalau Mama sembuh akan temani Mama terus, tidak akan sibuk kerja lagi. Eja akan ikuti maunya Mama serahkan semua pekerjaan Eja sama anak cucu." celoteh Opa Eja pada Mamanya, memang sih sekarang Bima sudah diberikan tanggung jawab pekerjaan tapi belum seratus persen, bisa tambah sibuk kalau Opa Eja lepas tangan.
"Bima..." Oma memanggil Bima lagi.
"Bima, sebelum kamu berangkat Oma mau kamu fokus bantu Papa Lemon di Syahputra Group, kamu mau kan? Opa Dwi tidak setuju kalau kita lepaskan ke orang luar. Papa Lemon keteteran." Opa Eja pandangi Bima.
"Iya Oma, asal Oma sehat." jawab Bima langsung saja setuju.
"Suryadi juga butuh Bima sebenarnya, Ma." Reza menghela nafas, tidak enak sama Micko.
"Suryadi ada Om Winner." jawab Bima, tampak Oma tersenyum. Rupanya ini yang bikin Oma panggil Bima terus.
"Oma tapi sebenarnya Bima sudah janji mau tinggal di Singapore setelah menikah." guman Bima bingung sendiri.
"Tapi demi Oma, Bima akan bujuk Magda supaya kami tinggal di Malang saja mengurus Suryadi Group disana." janji Bima lagi. Tampak Oma Nina kembali menganggukkan kepalanya.
"Oma nanti ikut Bima tinggal di Malang ya?" Bima menawarkan, Oma kembali anggukan kepalanya, Reza jadi ikut tersenyum. Rupanya Oma ingin kembali tinggal di Malang, Reza baru tahu ini, selama ini tidak pernah sebut itu.
__ADS_1