
kini Renaldo berdiri di hadapan orang yang tidak diundangnya dengan tatapan tajam. Ketiga orang itu tampak sangat ketakutan melihat tatapan tajam dari Renaldo.
"Malam, tuan. Maaf kalau kami menganggu acara tuan saat ini. Kami tidak tahu kalau tuan lagi ada acara" ucap Monika gugup dengan berbohong.
"Katakan, apa tujuan kalian datang kemari?" tanya Renaldo.
Renaldo menampakkan wajahnya yang sangat tidak suka dengan kedatangan Handoko dan keluarganya. Apalagi dia melihat Sisil putri Handoko mencuri-curi pandang dengan putranya.
"Kami hanya ingin meminta maaf pada putri saya Lusi tuan" jawab Handoko.
"CK.. Kenapa kalian baru sekarang untuk meminta maaf padanya? Apa kamu sudah mengakui kalau dia adalah putri mu?"
Semua para tamu tampak memperhatikan Renaldo dan keluarga Handoko. Beberapa tamu yang hadir tampak sangat terkejut melihat kedatangan Handoko, karena mereka pernah menjalin hubungan kerjasama.
"Maaf, tuan. Itu karena suami saya baru sembuh. Iyakan, mas" Monika berusaha membela suaminya.
Renaldo langsung melihat kearah belakangnya, dia mengangguk kepalanya kepada putranya itu. Ketika melihat kode dari Papanya, Mike langsung mencari Lusi yang berada di belakang kolamnya bersama Miranda dan Dina.
Setelah lima menit Lusi datang dengan dengan menggenggam tangan Lusi erat. Miranda dan Dina juga ikut dibelakang mereka.
Handoko, yang melihat kedatangan putrinya. Entah kenapa melihat kedatangan Lusi, Handoko merasakan dadanya seperti ditekan. Karena melihat kecantikan Lusi mengingatkan dengan wanita yang telah disakiti beberapa puluhan tahun yang lalu. Bahagianya adalah karena putrinya mau bertemu dengannya.
Berbeda dengan Sisil dan Monika istrinya mereka tampak sangat malas melihat Lusi. Apalagi melihat Lusi berjalan sambil menggenggam tangan Mike, membuat Sisil sangat cemburu.
"Nak, mereka ingin bertemu dengan mu" ucap Renaldo ketika Lusi berada disampingnya.
Lusi menatap Handoko, papanya dengan malas. Apalagi melihat wanita yang telah merebut papanya darinya dan mamanya.
"Katakan apa mau kalian?" tanya Lusi dengan dingin.
Handoko menyadari kalau saat ini putrinya tampak sangat membencinya, berbeda dengan awal mereka ketemu dia melihat tatapan kerinduan dari mata putrinya untuk dirinya.
__ADS_1
"Papa mu datang ingin meminta maaf padamu" untuk Monika dengan pura-pura sendu.
"Maafkan lah papa mu, sebenarnya papa mu sangat merindukan mu. Jangan salahkan papa mu, itu semua karena Tante. Kamu salahkan saja Tante karena Tante yang melarang papa mu" ucap Monika.
Lusi tetap diam saja, dia terus menatap dingin papanya. Karena Lusi tetap diam, Monika langsung menyenggol Sisil. Sisil mengetahui kenapa mamanya menyenggol dirinya.
"Em, benar kak. Kak Lusi maafkanlah papa. Itu semua karena aku dan mama ku. Papa sangat menyayangi kakak" ucap Sisil.
Sisil pura-pura memanggil Lusi dengan sebutan kakak. Ya, meskipun jarak usia mereka berbeda dua tahun.
"Benarkah? CK.... Kenapa kalian yang harus bicara? Kenapa bukan dia yang bicara?" tanya Lusi yang masih terus memandang wajah ayahnya.
Tab...
Semuanya yang ada didalam sangat terkejut melihat Handoko bersujud di hadapannya Lusi. Monika dan Sisil tampak diam saja.
"Maaf kan papa nak. Maaf karena selama ini papa telah membuang mu. Papa juga tidak mengakui kamu sebagai putri papa dihadapan semua orang. Maaf, kan papa! Papa akan menerima hukuman yang kamu berikan untuk papa. Tolong maafkan, papa" ucap Handoko sambil menatap putrinya itu. Tidak ada yang tahu apakah permintaan maaf dari Handoko tulus atau hanya acting saja.
"Apakah anda sudah selesai bicara? Kalau sudah berdirilah, anda tidak perlu sampai seperti itu. Anda harus menjaga harga diri anda sendiri." ucap Lusi dengan dingin.
Lusi sengaja mengatakan itu karena dia tidak melihat papanya bersujud di hadapan papanya. Walaupun papanya melakukan kesalahan besar terhadap dirinya dan mamanya dia tidak ingin papanya melakukan yang tidak seharusnya dilakukan papanya. Seorang orang tua tidak perlu sampai bersujud di hadapan seorang anak untuk meminta maaf, tapi seharusnya dia memeluk anaknya dan meminta maaf dengan secara tulus.
Handoko langsung bangkit berdiri tapi pandangannya tetap kearah putrinya itu. Dia merasa terharu karena putrinya masih mau memikirkan harga dirinya.
"Aku cukup senang ketika melihat anda masih hidup. Itu berarti Tuhan mengabulkan doaku. Sebelum anda datang untuk meminta maaf dari ku, aku sudah memaafkan anda!" ucap Lusi dengan tulus.
Semuanya yang mendengar ucapan Lusi membuat mereka sangat terkejut dan bangga. Apalagi Mike sangat bangga mendapatkan calon istri yang memiliki hati yang sangat baik. Padahal selama ini bagaimana menderitanya Lusi karena tidak memiliki orang tua. Mike sangat pernapasan kenapa Lusi dengan mudahnya memaafkan mereka.
"Wah, terimakasih ya nak. Kamu mau memaafkan papa mu. Kalau begitu sudah jadi keluarga" ucap Monika tanpa malu.
Monika langsung menarik Sisil untuk memeluk Lusi. Lusi yang mendapatkan pelukan mereka hanya tampak diam saja. Lusi sangat tahu kalau saat ini mereka hanya berakting saja.
__ADS_1
Setelah lepas dari pelukan mereka, Lusi langsung pergi dari hadapan mereka semua. Mike yang sangat tahu bagaimana perasaan Lusi saat ini, dia ingin menyusul Lusi.
"Kak, tunggu" Sisil langsung menangkap tangan Mike sebelum Mike pergi menjauh.
"Ada apa?" tanya Mike dingin.
Dina dan Miranda yang melihat itu sangat malas. Mereka sangat tahu kalau Mike ingin menyusul Lusi.
"Kak, aku tidak dimana toilet. Bisa tolong tunjukkan padaku?" tanya Sisil dengan manja.
"Eits, sudah kami saja yang menemani mu ke toilet. Aku tahu kok dimana toiletnya, ini kan rumah ku juga" ucap Miranda sambil menarik tangan Sisil dari tangan kakaknya.
Mike merasa bersyukur karena adiknya dan Dina mau membantunya. Setelah lepas dari genggaman tangan Sisil, Mike langsung pergi menyusul Lusi kebelakang.
Sisil merasa kesal karena Miranda dan Dina membuat Mike pergi.
"Tidak perlu! Aku tidak jadi ke toilet lagi" ucap Sisil dengan kesal.
"Hahaha. Ya sudah kalau tidak jadi. Memang kamu pikir kami mau menemani dirimu" ucap Miranda dengan sinis.
Sisil langsung menatap mereka tajam karena mendengar ucapan mereka. Sisil langsung kembali ke mama dan papanya yang masih berdiri dihadapan Renaldo.
Miranda dan Dina langsung ketawa melihat tingkah Sisil. Mereka pun langsung pergi kembali bersama pasangan mereka.
"Sekarang kalian sudah mendapatkan jawaban dari calon menantu ku. Kalian sudah bisa pulang" ucap Renaldo dengan Handoko.
"Tunggu, tuan! Apa maksud anda? Menantu? Berarti putri ku adalah calon istri dari putra mu?" tanya Handoko memastikan dengan terkejut.
Tidak hanya Handoko yang terkejut, Monika dan Sisil juga terkejut, karena pemikiran mereka tadi tidak salah kalau Lusi akan bertunangan dengan Mike.
***
__ADS_1