
Akhirnya dari perbincangan itu, mereka pun kembali ke kamar mereka masing-masing untuk beristrahat, karena memang malam sudah cukup larut.
Keesokan harinya di ruang utama Montana, Karin masih telelap sedangkan Sedangkan Davied sudah kembali bersiap dan bergegas kekantor, Davied sudah menyiapkan susu untuk Karin, dan sarapan paginya, jika Davied pagi itu berpamitan yang akan terjadi Karin tidak akan mengizinkannya.
Di kantor sedang banyak kerjaan dari rapat bulanan serta bertemu berbagai klien penting, hari itu cukup melelahkan bagi Davied, semangatnya menyelesaikan semuanya di dalam pikirannya hanya melihat senyum Karin yang menunggu kepulangannya saat dirumah, obat lelahnya Davied adalah senyum istrinya saat menyambut kepulangannya.
***
Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat Wenwei pun melangsungkan pernikahannya dengan Aldo, sedangkan kehamilan Karin sudah memasuki bulan ke tujuh, kakek dan nenek Karin juga masih menetap di indonesia sesuai janjinya, sedangkan Stevani semenjak kepulangan tunangannya dari luar negeri mereka juga memulai bersama kembali, rencana juga akan secepatnya melangsungkan kejenjang pernikahan.
Perayaan acara bulanan Karin di adakan di rumah montana, terlihat para pelayan sibuk mempersiapakan segala sesuatu untuk pesta tersebut, undangan pun tersebar kepenjuru kota dari relasi dan juga klien-klien penting serta karyawan-karyawan kantor mereka.
Selama pesta berlangsung mereka memperkenalkan masing-masing kedua belah pihak, mengucap puji syukur, acara itu berlangsung cukup meriah.
Karin terlihat sangat gembira dan menikmati kehamilannya, wajahnya terlihat sangat cantik saat acara bulanannya, wajahnya bersemi rona merah muda, sangat sesuai dengan umur Karin, Davied pun demikian di acaranya, Davied sangat tidak sabar melihat buah hatinya, terbukti saat kehamilan masuk bulan ketujuh di tiap minggu Davied selalu mengantar Karin untuk memeriksakan kandungannya tersebut.
Setelah pemeriksaan rutin, mendengar ulasan dari dokter ahli kandungan menyatakan bahwa kandungannya sangat sehat, Davied sangat lega dan sangat menantikan saat itu tiba.
Saat dimana Davied menantikan ketulusan cinta Karin saat itu, saat Davied bersabar menunggu balasan cinta Karin, sekarang cinta mereka sudah menyatu bersama seiring berjalannya waktu.
Bulan ke delapan kehamilan Karin, urusan kantor akhitnya di serahkan penuh oleh kepecayaannya siapa lagi kalau bukan Stevani, untungnya sekarang Stevani di temani Wenwei, menjalani perkerjaan itu mereka terlihat cukup berbakat dan mampu menjalankan semuanya dengan baik.
Sesibuknya Stevani selalu datang kerumah Karin, untuk sekedar absen kehadiran dirumah Karin. Karin sering di buat kesal oleh Stevani, Karena Stevani selalu menggodanya.
Tok...tok...
Suara bel rumah Karin berbunyi.
" Ini pasti wanita itu," cebik Karin terlihat kesal
Pelayan membuka pintu sedangkan Karin hanya memperhatikan siapa yang datang, benar ucapnya pasti Stevani, gelagat bau-baunya Stevani.
__ADS_1
Sedatangnya Stevani malah tertawa, melihat tingkah Karin yang seolah membenci Stevani, entah sejak kapan dan kenapa.
" Karin, aku membawakanmu perlengkapan saat kau melahirkan nanti," ucap Stevani.
Mendengar perkataan dari Stevani, akhirnya Karin mendekatinya lalu melihat beberapa bingkisan yang di bawa olehnya. Karin pun tersenyum senang, dia bahkan lupa mempersiapkan kelahiran anaknya, yang Karin pikirkan hanya bagaimana rasanya melahirkan dan ingin cepat melihat bayinya yang tampan itu.
Sambil mengelus perutnya Karin berjalan menghampiri Stevani lalu mengucap terima kasih, tentu saja Stevani menerima ucapan Karin dengan senang hati.
Lagi-lagi setelah berterima kasih Karin mulai bersikap acuh dengan Stevani,
"Apakah ada yang salah dengan wajahku" tutur Stevani.
"Tidak ada, silahkan lanjutkan pekerjaan kamu wanita jomblo akut," Ledek Karin.
" cih, kamu tidak liat tunanganku setampan sehun atau oppa kriss wu,"cebik Stevani membalas ledekan Karin, membuat Karin malah mendorong Stevani cepat keluar dari rumahnya.
Melihat hal yang di lakukan Karin nenek dan kakek Karin yang menyimak kelakuan membuat mereka tertawa, sudah hamil tua masih bertingkah kekanakan.
Setibanya Davied di kediamannya, Davied masuk kedalam kamarnya, lalu mandi bermaksud membersihkan tubuhnya dan setelah itu mengganti pakaiannya, belum sempat Davied keruang ganti, Karin memeluk Davied dari belakang, tercium aroma wangi sabun yang sangat lembut, Daviedpun membalik badannya lalu mengecup Karin, tanpa di sadari Karin malah membalasnya dengan kecupan lembut, karena hal itu tentunya Davied tidak kuasa menahan hasratnya, Akhirnya Davied menuntun Karin dengan pelan ke tempat tidurnya.
"Istriku apakah tidak masalah, aku melakukannya," Tanya Davied resah.
"Ku pikir tidak, kalau Abi melakukannya dengan pelan," Jawab Karin dengan suara lembutnya.
Mulanya Davied ragu, tetapi Karena Karin yang memulainya akhirnya Daviedpun memulainya kembali dari mengecupnya, memberikan sesapan demi sesapan, menggerayangi lecuk tubuh istrinya, dan akhirnya merekapun mencapai kepuasan mereka kembali saat melakukannya.
***
Siang itu terlihat Karin sudah cukup berat membawa perutnya yang semakin membesar, dan kemungkinan menunggu detik-detik tanda Karin akan melahirkan, Davied tidak pergi kekantornya untuk bekerja, karena Davied sedang fokus menunggu dan menjaga Karin saat akan melahirkan, seorang ibu akan membutuhkan suami di sampingnya, saat akan melahirkan karena menambah kekuatan dan dorongan tersendiri.
Tiba-tiba hari itu Karin merasakan sakit di bagian perutnya, langsung saja tanpa pikir panjang Karin meminta Davied mengantarkannya ke rumah sakit.
__ADS_1
Sesampainya dirumah sakit, Karin mulai merasakan sakit yang sangat luar biasa, ternyata Karin sudah di pembukaan ke tujuh, dengan gemetar Davied memberitahu ibunya dan juga kakek pandawa serta montana.
Saat semua keluarga berkumpul Davied menemani istri tercintanya, di luar semua keluarga menunggu termasuk Stevani, Aldo dan Wenwei, mereka terlihat sangat cemas, dan berdoa untuk kelancaran persalinan Karin.
Beberapa waktu berselang akhirnya, dengan sedikit kekuatan Karin pun melahirkan seorang putra yang sangat tampan, dengan lantangnya bayi itu menangis saat keluar dari rahim Karin.
Davied menggenggam tangan Karin dengan eratnya, lalu menghujani kecupan-kecupannya, bahagia dan juga sangat terharu, melihat proses perjuangan istrinya itu.
Saat tangis lantang sang bayi bersendung, keluarga Karin dan Davied turut bahagia mendengarkannya, dengan segala puji syukurnya akhirnya mereka memiliki penerusnya kelak, serta kesepalamatan Karin ibunya.
Wajah yang mulanya menegang akhirnya berakhir dengan senyum kebahagian, Margaret nampak memeluk nenek Montana, kabar yang sangat menggembirakan selama penantian panjang.
Didalam ruangan Karin mulai sadar, dan di pindahkan keruang perawatan, bayi yang tampan pun di bawa menemui ibu yang melahirkannya, Karin nampak sendu melihat buah hatinya itu, lalu mengecupnya dan ngecupkan " I lOVE YOU MY BABY."
Saat Karin istirahat, Margaret menggendongi cucu kesayangannya itu dan menimangnya dengan manja, mendengar hal itu Davied menatap ibunya lalu berkata.
" Aku akan terlupakan."
" Astaga, Davied kau sudah menjadi ayah sekarang jangan betingkah manja, ibu sudah berpindah kelain hati, pepatah mengatakan orang tua akan menyayangi cucunya melebihi anaknya sendiri."
Davied pun memeluk ibunya itu, dan mencium bayinya, nenek pun demikian, di ruangan itu kakek montana dan pandawa nampak berbincang, setelah situasi menegangkan terlewati.
____________
🤧🤧🤧🤧🤧🤧🤧🤧🤧🤧
Perjuangan seorang istri itu besar,
dari mengidam, mengandung dan melahirkannya
merawatnya, jadi hormatilah wanitamu, karena mereka itu adalah surga terindahmu.
__ADS_1