
Renaldo masih menatap Handoko dengan tajam.
"Kalau begitu suami ku harus tetap berada disini. Karena Suami ku adalah papa kandungan dari calon menantu anda tuan! Anda tidak bisa mengusir suami saya, dan apalagi suami saya ada calon besan anda" ucap Monika karena dia merasa tidak senang kalau mereka langsung disuruh pergi.
Apalagi dia merasa ini adalah kesempatan bagi keluarganya.
***
Lusi memandang kolam renang yang ada dihadapannya. Pikirannya saat ini adalah mamanya. Dia sangat ingin tahu bagaimana perasaan mamanya saat ini, ketika melihat papanya seperti itu.
Saat lagi melamun, Lusi merasakan dua tangan kekar melingkar di perutnya dan wajah pria yang sangat dicintainya itu berada diatas bahunya. Sehingga dia bisa merasakan nafasnya Mike.
"Kenapa langsung mudahnya kamu memaafkan nya sayang?" tanya Mike dengan penasaran.
"Tidak ada manusia yang sempurna kak dunia ini. Apalagi dia ada papa ku, aku tahu kalau dia melakukan kesalahan besar. Aku hanya tidak ingin membuat hidupku terbeban karena tidak memaafkannya." ucap Lusi dengan tenang.
"Aku bangga dengan mu sayang. Aku tidak salah mencintai seorang wanita yang baik seperti kamu. Apalagi kamu adalah cinta pertama ku, ya meskipun aku bukan cinta pertamamu!" ucap Mike dengan tersenyum.
Lusi langsung melepaskan tangannya Mike dari pinggangnya, karena mendengar ucapan Mike. Lusi meletakkan kedua tangannya di pipinya Mike.
"Ya, walaupun kamu bukan cinta pertamamu ku, kamu adalah cinta terakhir dalam hidupku" ucap Lusi dengan tersenyum. Mendengar ucapan Lusi membuat Mike terasa bahagia.
"Terimakasih sayang. Ya, sudah kita masuk saja kedalam ya" ucap Mike. Lusi langsung mengangguk kepalanya.
__ADS_1
Saat mereka masuk kedalam dan menghampiri keluarga mereka, mereka mendengar ucapan Monika yang tanpa malu.
"Maaf nyonya Monika, om Renaldo tentu saja berhak menyuruh Anda keluar." ucap Lusi tiba-tiba, Lusi tidak senang mendengar ucapan Monika pada Renaldo.
"Apa-apaan kamu ini? Dia adalah papa kamu! Papa kamu berhak ada disini, di acara pertunangan putrinya sendiri. Papa mu juga berhak, untuk membatalkan acara pertunangan ini!" ucap Monika.
"Hahaha. Anda lucu sekali nyonya. Apa karena saya sudah memaafkan dia, maka itu berarti dia menjadi papa saya?" tanya Lusi dengan mengejek.
"Saat ini umurku 28 tahun, dan dia pergi meninggalkan ku disaat umur ku 7 tahun. Bayangkan berapa tahun dia meninggalkan anaknya? 21 tahun! 21 tahun ini dimana dia? Saat kecelakaan itu, apa dia pernah kembali atau mencari keberadaan ku? Tidak sama sekali. Karena aku, tahu. Setiap aku pulang sekolah, aku selalu singgah ke rumah kontrakan ku bersama mama untuk bertanya apa papa ku datang mencari ku" dengan tegas.
Tidak ada air mata lagi yang keluar dari matanya Lusi. Karena dia merasa dia tidak perlu menangis dihadapan mereka.
Semuanya yang mendengarnya, merasa kasihan. Begitu juga Miranda dan Dina. Mereka langsung memeluk memeluk punggung sahabatnya itu untuk memberikan kekuatan.
Handoko yang mendengar ucapan putrinya sangat tidak terima. Apalagi dihadapan semua orang putrinya mengatakan kalau dia sudah mati.
"Jaga bicaramu! Aku adalah papa mu! Didalam tubuh mu ada darah ku yang mengalir" ucap Handoko dengan kesal.
"Hahaha. Aku tahu, kalau didalam tubuh ku ada darah anda tuan. Tapi, anda sendiri lay yang membuat saya berpikir seperti ini. Anda yang membuat saya berpikir kalau anda meninggal selama ini, 21 tahun!" ucap Lusi dengan kesal.
"Kenapa sekarang anda tidak terima kalau saya mengatakan kalau papa saya telah meninggal? Kenapa sekarang anda berharap kalau saya mau menerima anda sebagai papa saya? Apa karena anda mengetahui kalau saya akan bertunangan dengan kak Mike? Kalau saya bertunangan dengan Mike, maka karena itu kamu ingin mengambil keuntungan?" ucap telak Luis pada Handoko.
Handoko, Monika dan Sisil tampak sangat terkejut mendengarnya ucap Lusi. Karena apa yang dikatakan Lusi adalah benar. Itu sudah menjadi rencana mereka kalau memang benar kalau Mike yang akan menjadi tunangan Lusi.
__ADS_1
"Lebih baik kalian pergi dari sini, sebelum kalian terlalu malu. Kalian tenang saja, aku akan pastikan kalau proyek itu akan kembali pada kalian" ucap Lusi lagi.
Mendengar kalau proyek itu akan kembali membuat Monika merasa lega, karena rencananya telah berhasil. Meskipun kalau saja Lusi mau menerima Handoko jadi papanya kembali membuka mereka punya keuntungan yang besar.
"Kita pergi saja, mas." ucap Monika pada Suaminya.
Handoko menatap Lusi dengan penuh kekecewaan, karena putrinya mengatakan kalau dia telah meninggal.
"Papa tidak akan melupakan penghinaan yang kamu berikan kepada papa" ucap Handoko dengan emosi pada Lusi.
Handoko tidak terima dengan apa yang dilakukan putrinya sendiri padanya. Padahal dia sudah bersujud dihadapan putrinya untuk meminta maaf, apalagi semua orang memperhatikan dirinya. Menurutnya, Lusi harus mempertimbangkan apa yang telah dilakukannya barusan.
Sisil tidak langsung mengikuti orang tuanya, dia malah berjalan mendekati Lusi. Dia sangat marah karena Lusi telah mempermalukan papanya di hadapan semua orang.
"CK... Aku kira kamu memang tulus memaafkan papa. Tapi ternyata kamu tidak tulus memaafkan papa. Kalau kamu tulus, seharusnya kamu menerima dirinya menjadi papa kamu, bukan membalas apa yang telah dilakukannya dengan mu" ucap Sisil dengan sinis.
"Hahaha. Kamu tahu dari mana kalau aku tidak memaafkannya dengan tulus? Jangan menilai ku sembarangan. Dari awal dia hanya menganggap kamu lah sebagai putrinya. Pergilah!" ucap Lusi dengan dingin.
"CK... Dasar, kamu itu anak yang tidak tahu untung. Kamu seharusnya bersyukur kalau papa mau menerima dirimu lagi sebagai putri nya!" ucap Sisil.
"Aku tidak pernah berharap kalau dia mau mengakui ku sebagai putrinya, sejak dia mengatakan, kalau dia tidak mengenalku. Apa kamu pikir, kalau ada bahagia mendapatkan seorang papa yang hanya bisa melukai hati istrinya dan putrinya. Apa kamu pikir aku senang ada darahnya yang mengalir dalam tubuh ku? Seorang pria yang bisa dengan gampangnya telah mengkhianati istrinya hanya karena kekayaan? Seorang pria yang dengan gampangnya membuang istri dan putrinya?" ucap Lusi dengan emosi karena perkataan Sisil padanya.
****
__ADS_1