You'Re My Everything

You'Re My Everything
Sedih


__ADS_3

Belin terus menatap gundukan tanah yang masih basah dengan taburan bunga, disebelahnya Ante Baen tidak berhenti menangis. Semua bersedih karena kepergian Oma Nina yang seperti mimpi, walaupun mereka tahu Oma memang sakit, tapi tetap saja ini seperti mimpi dan semua kehilangan.


Tiga hari lalu mereka masih berkumpul makan malam bersama keluarga besarnya dirumah Ayah Eja. Oma Nina mengundang mereka semua karena esok harinya Oma akan berangkat ke Malang, sementara Bima belum selesaikan urusannya di Jakarta, Oma berangkat bersama Richie dan semalam Oma berpulang di pangkuan Richie, cucu bungsunya.


"Baen tahu Oma mau dekat sama Opa huhu..." terdengar Balena sesenggukan.


"Oma belum pangku cicit Oma padahal, kata Oma mau temenin Baen sama C's kalau Aban tugas luar kota, huhu. Baen... huhu, Oma, huhu..." Balena terus saja mengoceh, Kia Dan Belin yang setia disampingnya ikutan menangis walau mereka tidak mengoceh.


"Ante, ayo pulang." ajak Bima sedikit berjongkok dengan mata memerah.


"Oma juga janji mau ikut Bima kalau mereka menikah, sekarang Oma malah pergi, huhu..." kembali Balena mengoceh.


"Ante, jangan marahin Oma, Oma sudah bahagia sekarang." bisik Bima mengusap bahu Balena, Richie yang diposisi diseberang hanya menarik nafas panjang, ia juga seperti mimpi karena mereka habis makan malam bersama, bercanda seperti biasa dan tertawa karena Oma Nina terus saja diganggu Ailen dan Galen, tiba-tiba Oma mengeluh sakit kepala minta Richie mengantarnya ke kamar. Tory yang sibuk didapur bikinkan susu Ailen harus berlari cepat mendengar teriakan Richie yang minta dipanggilkan ambulance karena Oma sesak nafas.


"Kita pulang Baen, kasihan Bang Daniel dirumah sama anak-anak." Richie ingatkan Balena.


"Oma sendirian Ichie." Balena memandanga adiknya sambil terisak.


"Kita kirim doa terus, nak. Ayo pulang." ajak Kenan yang menyusuli anak cucu yang Masih di pemakaman.


"Papon, Oma ndak ada." rengek Balena kembali seperti anak kecil padahal sudah punya tujuh anak.


"Oma sudah bertemu Opa, Ante." Belin tenangkan Balena.


"Semoga Oma dan Opa bahagia bersama Allah." desah Balena disambut kata "Aamiin" berjamaah.


"Kalau tahu Oma akan pergi selamanya, Bima ikut antar Oma sampai ke Malang, Oma." gumam Bima yang Masih tinggal setelah semua melangkah pergi.


"Bima sayang Oma, maafkan Bima belum sempat melamar Magda, maafkan Bima juga karena terlali sibuk, jadi Oma minta berangkat ke Malang lebih dulu. Bima juga maafin Oma karena tidak temani Bima melamar Magda nanti, Bima sayang Oma, Bima pulang dulu Oma." Bima mengusap gundukan tanah seakan sedang mengusap tubuh Oma Nina.


"Bim..." panggil Noah sadarkan Bima kalau ternyata yang lain sudah pergi, hanya Bima dan Noah disana.


"Gimana ini, Bang?" tanya Bima seperti orang linglung. Noah tersenyum sambil merangkul Bima, tanpa menjawab pertanyaan Bima, mereka semua kehilangan, meskipun Noah baru sebentar kenal Oma Nina, Noah pun


merasa kehilangan.

__ADS_1


"Kamu tidak kabarin Magda, Bim?" Tanya Noah sambil berjalan menuju parkiran Mobil, yang lain sudah menunggu disana.


"Lupa Bang, aku panik." jawab Bima, "Aku juga lupa handphoneku ada dimana." lanjut Bima lagi.


"Tadi Magda telepon aku, mau telepon sekarang pakai handphoneku?" Noah menawarkan, Bima gelengkan kepalanya.


"Belum konsen aku Bang, pikiranku kusut, padahal Oma sudah tidak sakit lagi, tapi hatiku seperti ada yang kosong." Mata Bima mulai basah, Noah menepuk pelan bahu Bima, ia tahu Bima banyak rencana bersama Oma, tapi tidak terlaksana karena Allah lebih sayang Oma.


"Handphoneku dimana?" Tanya Bima pada semua yang ada di Mobil.


"Sama C's tadi dibawa pulang." jawab Aca yang lebih tenang dibandingkan yang lain, walaupun bersedih, Aca tetap bisa menahan diri supaya tetap bisa berpikir jernih tidak ikutan kusut seperti yang lain.


"Kamu sedih tidak sih Cha?" Tanya Belin menoyor kepala Aca yang Masih bisa nyalakan musik saat berkendara.


"Ish Beyin, pertanyaan macam apa itu." sungut Aca sambil mengusap kepalanya.


"Masih bisa nyalakan musik." omel Kia pada Aca.


"Sedih boleh tapi jangan berlarut-larut, Oma tidak butuh air mata aku kak, Oma butuh Doa." jawab Aca.


"Benar itu." Shaka mengangguk setuju.


"Terserah Ante sih, tapi kalau nangis terus kan capek, Ante punya tujuh anak yang harus Ante perhatikan juga, jangan sampai Ante drop." jawab Aca bijaksana, Bima terkekeh sambil menoyor kepala adiknya.


"Kenapa lo Bang?" Aca kembali bersungut.


"Bijaksana lo." jawab Bima kembali terkekeh.


"Jadi bagaimana, Oma sudah ndak ada. Bima tetap pindah ke Malang?" Tanya Balena.


"Iya kan sudah janji temani Oma di Malang, fokus urus bisnisnya Opa. Tetap harus dilaksanakan." jawab Bima yakin.


Mereka tiba dirumah peninggalan Opa dan Oma, semua berkumpul disana.


"Pengen tinggal di Malang juga jadinya." kata Belin menatap Noah.

__ADS_1


"Tidak bisa jauh dari Bima?" Noah gelengkan kepalanya, sedekat itu istrinya dengan Bima.


"Ish bukan karena itu, suasana disini tuh nyaman sekali." kata Belin menyangkal.


"Mana mau mengaku dia Bang, kalian honeymoon saja sibuk minta menyusul Bima kan?" celutuk Bary seperti kumpul meleduk.


"Eh itu kan Bima yang minta temani Noah, enak saja." Belin memukul bahu Bary.


"Kalian mau bikin Bang Noah cemburu ya?" Bima terkikik geli, mereka sudah bisa bercanda lagi.


"Oma pasti senang lihat kalian kembali error." kata Noah.


"Siaul, kita dibilang error." Billyan mendengus.


"Nah akhirnya keluar suara, tadi diam saja." Noah tertawa sambil merangkul adik iparnya.


"Kan lagi sedih." jawab Billian.


"Janji ya semua, tidak ada yang boleh menangisi kepergian Oma karena Oma sudah bahagia dan tidak sakit lagi, Oma butuh Doa bukan air mata." tegas Aca pada semuanya.


"Huhu aban mana sih." Balena malah ngacir sambil menangis mencari suaminya.


"Dasar Ante." sungut Aca kemudian tersenyum, Antenya masih saja manja Dan cengeng, padahal sudah jadi Mama anak tujuh.


"Tanggung jawab Ca." omel Kia kemudian ikut masuk menyusul Balena.


"Iyaa." jawab Aca.


"Sok kuat, sendirinya juga tadi nangis." Belin mencibir pandangi Aca.


"Menangis sih wajar Bey, tapi jangan berlebihan, Oma juga sedih kalau lihat kita sedih." kata Aca.


"Si paling waras." kata Bima tertawa.


"Oke semoga sedih kita tidak berlarut-larut, karena hidup harus terus berjalan, ingatkan Oma berapa hari lalu bilang itu." lanjut Bima pandangi semua yang masih berdiri di teras.

__ADS_1


"Baru ngeh gue, maksud Oma bilang gitu, karena Oma bakal pergi selamanya ya?" Shaka menebak-nebak.


"Iya gue kira karena kemarin kita menangisi Oma yang mau berangkat ya, ternyata hari ini kita menangisi kepergian Oma. Sekarang kita tidak punya Oma Nina lagi huaaa..." lah malah Belin sekarang yang menangis kencang. Noah menghela nafas panjang, tugasnya sekarang menghibur Belin yang ternyata masih sangat bersedih.


__ADS_2