You'Re My Everything

You'Re My Everything
Clear


__ADS_3

"Ok, Clear ya. Baen sudah harus pulang, triplets mulai rewel." kata Balen ketika menerima pesan dari pengasuh anak-anaknya. "C's, Mama pulang duluan, kalian sama Papon dan Mamon, Ok?" lanjut Balen pandangi ketiga bujangnya.


"Aku ikut Mam." Chandra segera berdiri.


"Si paling nempel sama Mam." Cadi komentari Abangnya, Chandra hanya julurkan lidahnya.


"Kalian sana nempel sama Mam juga." kata Richie pada C's.


"Aku si paling nempel sama siapa saja." jawab Cadi nyengir.


"Si paling nempel sama yang suka jajanin." celutuk Charlie.


"Enak saja, aku tidak suka jajan." jawab Cadi menolak dibilang suka jajan.


"Betul ya, kalau aku beli es krim sama Pap kamu tidak boleh minta." ancam Charlie.


"Ya kalau Pap belikan ya aku mau, kamu tuh jangan suka pelit jadi orang." kilah Cadi semua jadi tertawakan keduanya.


"Jadi Chandra saja ikut Mama?" tanya Balen.


"Iya Mam, kita naik apa?" tanya Chandra.


"Sama Abang." jawab Bari cepat langsung ikut beranjak, "Gue harus cepat kembali ke kantor." kata Bari pada semuanya, "Ada yang mau ikut?" tanya Bari.


"Bima antar pulang saja, kasihan dari kemarin belum istirahat, biar aku yang disini." Billian tawarkan diri.


"Iya Bim, kamu balik deh. Jangan sampai tumbang." sahut Shaka.


"Yang disini siapa dong? tadi aku sudah ijin sama Oma sih, pulang dulu. Nanti malam kesini lagi."


"Aku masih tunggu Noah jemput kok nanti pulang kantor, amanlah aku disini." jawab Belin.


"Aku temani Billian dan Beyin sampai ada yang menggantikan jaga Oma nanti malam." kata Richie pada semuanya.


"Baiklah, nanti malam aku yang jaga Oma, sekarang aku ke kantor dulu." Aca langsung saja ikut daftarkan diri. Berhubung mereka solid tidak sulit untuk mencari siapa yang harus berjaga malam atau siang, semua dengan senang hati tawarkan diri.


Siang hingga sore hari lumayan ramai yang temani Oma Nina di rumah sakit, walaupun terhalang ruang kaca. Nanta dan geng kwartet datang sore hari, semua khawatirkan Oma Nina.


"Tidak usah, Papa di Malang saja, aku sudah sehat kok." sementara Nona sibuk tenangkan Baron Papanya, yang berniat menyusul ke Jakarta karena mendengar Oma Nina sakit dan Nona ikutan dirawat.


"Papa doakan saja Mama Nina supaya cepat sehat dan pulih kembali ya, Papa juga kondisinya kan kurang fit. Makannya dijaga, Pa. Susah sekali dikasih tahu. Jangan merokok, kalau Baen tahu bisa merepet panjang telepon Papa." kata Nona lagi terdengar oleh yang lain, ia dapat laporan dari Richie kalau Papanya mulai merokok lagi karena sering berkumpul dengan teman lamanya.


"Pasti dari Richie ya, susah punya cucu tukang mengadu." kesal Baron malah ikutan ngomel.


"Richie kan mau Papa sehat." jawab Nona merengut.


"Makanya kamu kalau Papa mau ke Jakarta jangan dilarang-larang. Papa kangen sama C's, sudah bisa apa itu sikembar?" tanya Baron.


"Setiap hari kan video call, masih juga ditanya." Nona tertawakan Papanya.


"Tinggal ceritakan saja, susah." sekarang Baron merajuk.

__ADS_1


"Papa mau videocall Mbak Nina, kalau kamu masuk kedalam Non." kata Baron kemudian.


"Nanti Papa sedih lihat Mama Nina." Nona ingatkan Baron.


"Sekarang saja sedih." jawab Baron setengah bergumam.


"Makanya tidak usah videocall dulu, Nanti kalau Mama Nina sudah sadar baru Nona ajak videocall Papa, biar bisa ngobrol sama Tante Mita juga." janji Nona pada Papanya.


"Iya tidak putus-putus doa kami untuk kesembuhan Mbak Nina." terdengar suara Oma Mita.


"Iya Tante, terima kasih."


"Kenan bagaimana? sehat?" tanya Baron.


"Sehat Pa, sekarang lagi didalam sama Bang Eja." jawab Nona.


"Mamon tidak pulang ikut Bima?" tanya Nanta ketika Nona kembali bergabung bersamanya.


"Nanti malam saja, kalau Bima dan Aca sudah datang." jawab Nona.


"Besok Mamon tidak usah kesini, Mamon harus istirahat." Nanta ingatkan Nona.


"Susah Nanta, Mamon dirumah juga, hati Mamon disini, bagaimana dong?" wajah Nona tampak sendu.


"Iya, tidak usah dilarang-larang siapa yang mau kesini, Nan. Kalau tidak bisa pasti tidak datang." sahut Larry menepuk bahu sahabatnya sekaligus saudara iparnya itu.


"Gue cuma berfikir supaya hemat tenaga, bagaimanapun kalau Oma sadar dan kembali sehat, pasti butuh extra effort untuk merawat Oma di rumah dengan kondisi yang seperti kemarin. Jadi jangan sampai pada habis tenaga disini, nanti saat Oma sehat malah pada tumbang." jawab Nanta panjang lebar.


"Apalagi kita yang muda-muda pada kerja kantoran, sudah pasti dirumah yang sibuk Mamon dan Bunda Kiki meskipun bergantian." lanjut Nanta lagi.


"Iya sayang, kamu benar." Nona terkekeh.


"Aku juga bisa bantu jaga Oma." jawab Dania cepat.


"Iya." Nanta anggukan kepalanya.


"Minggu depan Baen melahirkan loh." Larry mengingatkan.


"Nah itu, tadi masih keluyuran dia." Nona gelengkan kepalanya.


"Sudah biasa melahirkan dia Mamon, jadi tanpa beban." Nanta tertawa ingat adiknya yang punya anak bererot.


"Mamon tenang saja, Baen serahkan pada keluarga Larry. Mamon fokus dengan kesehatan Mamon dan Oma Nina." kata Larry tenangkan Nona.


"Gue sama Seiqa juga bisa urus Baen." Mike ikutan nimbrung.


"Ada suaminya ada gue juga Abangnya." jawab Larry sombong.


"Oke gue kalah." Mike terkekeh. Nanta dan Doni cengar-cengir. Konsentrasi obrolan mereka terganggu saat dokter dan perawat berjalan tergesa masuk keruangan Oma Nina.


"Kenapa Oma?" tanya Larry panik, segera berdiri mendekati Kenan yang keluar ruangan, diikuti yang lain.

__ADS_1


"Papon Oma kenapa?" tanya Nanta cepat.


"Oma sadar, Alhamdulillah." Kenan menarik nafas lega, yang lainpun lakukan hal yang sama, mengucapkan syukur.


"Bagaimana kondisinya, Mas?" tanya Nona.


"Itu sedang diperiksa, Bang Eja saja yang temani dokter." jawab Kenan tersenyum.


"Telepon Bima?" tanya Larry teringat Oma selalu panggil Bima saat tidak sadar, pasti begitu terbangun ingin bertemu Bima.


"Telepon saja, tapi tetap nanti malam saja datangnya, biarkan saja kita dulu yang temani Oma, toh nanti Bima dan Aca yang jaga Oma." jawab Kenan kembali tersenyum, dihatinya terus saja berzikir.


"Mama tanya siapa begitu bangun tadi?" tanya Nona ingin tahu.


"Panggil saya sama Bang Eja." jawab Kenan tersenyum bangga.


"Tidak panggil aku ya?" tanya Nona kecewa, Nanta tersenyum lebar.


"Mamon, aku saja tidak dipanggil Oma." katanya tambah lebar saja tersenyum, matanya berkaca-kaca penuh haru, karena Oma sudah sadar.


"Iya sih, Raymond juga padahal paling disayang Oma."


"Aku juga Mamon." protes Nanta.


"Seperti anak kecil saja." Kenan tertawa lihat Nanta dan istrinya.


"Kenapa? pada kecewa ya karena Bima yang diingat Oma saat tidak sadar?" tanya Kenan.


"Bingung saja." jawab Nanta. "Tadinya, sekarang sudah tidak, ternyata Oma mau Bima bantu Bang Raymond urus Syahputra Group yang di Malang, Richie kan double tuh urus perusahaan Opon juga, belum lagi perusahaan Papi Mario." Nanta menjelaskan pada sahabatnya.


"Mbak Tari yang senang kalau Bima di Malang secara Ulang di Jakarta, Krisna di Jepang." Nona teringat Tari, Ibu Nanta.


"Iya, Mama pasti senang. Mama nanti malam sampai di Jakarta Mamon, aku lupa bilang. Dari sini aku nanti ke Bandara jemput Mama dan Om Bagus." kata Nanta pada Nona.


"Menginap di rumah saja." Nona menawarkan.


"Menginap di rumah Ulan dia." Nanta terkekeh.


"Pasti kangen cucu." tebak Nona.


"Iya, ikut kan Leyi, pulangnya kita bertemu Redi dan ponakan?" tanya Nanta.


"Ikutlah, gue kan nebeng, bagaimana sih." Larry tertawa.


"Ya siapa tahu ditunggu Rumi." sahut Doni.


"Rumi aman, sibuk drakor." jawab Larry.


"Wah lagi nonton apa dia?" tanya Dania semangat.


"Tidak tahu." jawab Larry jujur.

__ADS_1


"Sama aku juga tidak tahu judul drakor yang kamu tonton." Dania senyum-senyum sendiri jadinya, hingga mereka kembali fokus saat dokter keluar dari ruangan Oma Nina.


__ADS_2