You'Re My Everything

You'Re My Everything
Bodyguard untuk Lusi


__ADS_3

Putra dan Veby merasa senang melihat kedatangan mereka dengan selamat. Mereka pun langsung diajak masuk karena para tamu Sudah pada berdatangan.


Miranda yang lagi asyik ngobrol bersama para pegawainya yang perempuan, langsung diam karena melihat suaminya, papanya, Mike dan Lusi sudah datang.


"Maaf saya kesana dulu" ucap Miranda dengan sopan pada pegawainya untuk menghampiri orang-orang yang dari tadi sangat dicemaskan nya.


"Mas, kenapa lama sih? Papa dan kalian juga kenapa lama datang?" ucap Miranda dengan kesal.


Felix langsung memeluk Miranda supaya menghilangkan kekesalan istrinya itu.


"Maaf ya, sayang. Jangan marah-marah nanti kasihan baby nya" ucap Felix.


Karena mendapatkan pelukan Suaminya, membuat Miranda mulai tenang. Setelah merasakan istrinya tenang, Felix langsung melepaskan pelukannya. Miranda yang sudah lepas dari pelukan suaminya, langsung memeluk papanya. Dia sangat bahagia karena keluarganya sudah datang.


"Maaf ya sayang, papa terlambat" ucap Renaldo, Miranda hanya mengangguk kepalanya dalam pelukan papanya.


Begitu juga dengan Mike dan Lusi, Miranda memeluk kakaknya dan Lusi dengan erat.


Acara baby shower Miranda pun dimulai. Miranda sangat senang seluruh keluarganya sudah berkumpul. Apalagi kedatangan Pak Jaka dan istrinya juga hadir, dia tidak menyangka kalau Felix mengundang mereka. Miranda sangat terkejut ketika mereka datang dan membawa hadiah untuk baby-nya.


Dikediaman keluarga Felix, kotak-kotak kado pada numpuk. Semuanya untuk calon baby nya nanti.


***


Kini Lusi memilliki bodyguard, mereka ditugaskan Mike untuk menjaga Lusi dari jauh.


"Kak, apa tidak berlebihan? Apa yang dikatakan orang-orang kantor nanti melihat mereka!" ucap Lusi saat mereka berada dalam mobil menuju kantor. Sedangkan para bodyguard nya mengikuti dari belakang.


"Tenang, sayang. Mereka hanya menjaga kamu dari belakang. Dan untuk saat ini kalau mereka dikantor, menyamar sebagai bodyguard untuk ku" ucap Mike.


"Baiklah. Pokoknya aku tidak ingin ada yang tau. Oh, yang kak apa kak Felix sudah ada kasih tau jati diri orang yang dikejar kemarin?"


"Belum. Mereka lagi mencari. Tenang saja, mereka sudah mencatat plat mobil itu"


"Baguslah. Dan bagaimana ke Bogor besok? Apakah kakak pergi sama pak Baim?"


"Kita bertiga yang pergi sayang. Kamu kan tau,. aku tidak ingin berjauhan dengan mu" ucap sambil mencubit pipi Lusi dengan gemas.

__ADS_1


Mendengar itu membuat Lusi sangat malu, karena Mike. Supaya Mike tidak mengetahui kalau dia merasa malu, dia langsung melarang Mike untuk tidak menggombal nya.


"Jangan gombal, kak." ucap Lusi


"Ya, sekali-kali gombal sama calon istri tidak apa kan?" ucap Mike sambil mengedipkan matanya dengan tersenyum genit pada Lusi.


Lusi hanya geleng-geleng kepala saja melihat tingkah Mike padanya.


***


Sesampainya mereka di hotel, mereka langsung bersikap biasa-biasa saja. Lusi mengikuti Mike dari belakang dan para bodyguard mengikuti mereka dari belakang.


Para pegawai yang berada di lantai bawah tampak bingung melihat ada empat pria yang berdiri tegap mengikuti Mike dan Lusi.


"Apa itu bodyguard pak Mike? Tumben pak Mike pakai bodyguard!"


"Iya, kenapa ya? Biasanya ibu Miranda saja yang pakai bodyguard"


"Namanya juga anak orang kaya. Ya, bebas lah dan mungkin saja untuk keamanan pak Mike"


Begitulah bisik para pegawai yang melihatnya. Mike dan Lusi hanya diam saja melihat para pegawai dan para tamu yang di hotelnya melihat mereka.


"Pagi pak Mike, nona Lusi" sapa Baim sambil menundukkan kepalanya sedikit.


" Pagi pak Baim" jawab Lusi dengan sopan,. sedangkan Mike hanya mengangguk kepalanya saja.


***


Lusi yang ingin ke pantry untuk membuat kopi Mike, merasakan ada yang mengikuti. Padahal bodyguard yang ditugaskan untuk menjaganya, dia tidak memperbolehkan mereka untuk mengikutinya.


"Mungkin perasaan ku saja" gumam Lusi dalam hati. Lusi langsung cuek, dia menepis perasaan nya.


Saat dia ingin masuk kedalam pantry, dia merasakan mulutnya kena bekap dari belakang dan dia di paksa berjalan kearah gudang yang dekat dengan ruangan pantry.


Lusi berusaha untuk melawannya, tapi karena kedua tangannya di cekal kebelakang dan mulutnya di bekap, membuat dia kesusahan.


Sesampainya di dalam gudang Lusi langsung di dorong. Barulah Lusi dapat melihat jelas siapa yang telah membekap mulutnya.

__ADS_1


"Pak Bian" gumam Lusi tidak menyangka dengan apa yang telah dilihatnya.


"Apa-apaan ini? Kenapa bapak melakukan ini pada saya?" teriak Lusi dengan emosi.


Bian langsung berjalan kearah Lusi dengan tersenyum. Lusi bukannya takut, dia tetap berdiri tegak sambil menatap tajam Bian.


Kini Bian berdiri di hadapannya, Bian merasa sangat tertantang karena Lusi tidak merasakan ketakutan padanya. Bian pelan-pelan mengarahkan tangannya ke pipi Lusi. Setelah itu dia mengelus pipi Lusi.


Lusi yang tidak sentuhan di pipinya, langsung menepis tangan Bian dengan kasar.


"Hahaha. Kamu sangat cantik kalau lagi marah. Aku tahu kalau kamu sudah menjual dirimu" ucap Bian.


Mendengar itu membuat Lusi sangat marah, karena dia merasa saat ini Bian telah menghina harga dirinya.


Plak..


"Jaga bicara anda" Lusi menampar Bian dengan keras.


Bian langsung mengelus pipinya yang kena tampar Lusi. Bukannya marah malahan dia jadi ketawa. Hingga membuat Lusi sangat terkejut, tapi dia langsung berusaha membuat Bian tidak mengetahuinya.


"Aku sangat senang kamu menyentuh pipi ku, dengan cara yang berbeda. Aku tidak akan hanya memberikan pipi ku untuk kamu sentuh, tapi aku akan memberikan seluruh tubuh ku untuk kamu sentuh cantik" ucap Bian dengan tersenyum sambil melangkahkan kakinya untuk semakin dekat dengan Lusi.


Tentu saja membuat Lusi pelan-pelan mundur, bukan karena takut dengan Bian tapi karena tidak ingin berdekatan dengan Bian.


"Bagaimana? Apa kamu ingin kita melakukannya sekarang? Tapi, aku ingin kamu menjauh darinya" ucap Bian.


"Apa maksudnya?" Lusi tampak bingung dengan ucapan Bian yang menurutnya ambigu.


"Hahaha. Jangan pura-pura tidak tahu sayang. Aku tahu kamu menjadi sekretarisnya dan bertunangan dengannya karena kamu sudah menjual tubuhmu dengannya, dan karena dia kata bukan?" ucap Bian.


Mendengar itu membuat Lusi langsung mengerti siapa yang dimaksud Bian saat ini. Walaupun Bian tidak langsung menyebutkan namanya, tapi dia sangat tau siapa yang dimaksud Bian.


"Sekali lagi saya katakan, anda harus menjaga ucapan anda. Kalau tidak saya, saya tidak akan tinggal diam" ucap Lusi dengan tajam.


Kini Tubuh Lusi terhalang dengan dinding, tapi Bian tetap terus berjalan kearah Lusi dengan tersenyum penuh arti.


"Ayolah, saya akan memberikan apapun yang kamu mau, kalau kamu mau menjadi kekasih saya. Dan saya akan selalu memberikan kenikmatan dunia yang lebih dari padanya" ucap Bian.

__ADS_1


***


__ADS_2