
Bima menatap gadis dihadapannya sambil menghembuskan nafas kasar, Tantri kembali datang ke kantornya.
"Please Tantri, masa tidak mengerti juga. Aku sudah tidak angkat telepon kamu supaya kamu bisa menatap hidup kedepannya, kalau kita terus bersama pasti kamu sulit terima cowok lain buat jadi pendamping kamu." Bima kini menghela nafas panjang, sementara Tantri mengusap air mata yang mengalir dipipinya, dengan hidung yang mulai meler.
"Aku sudah mau menikah dengan Magda." lanjut Bima, Tantri menggelengkan kepalanya tanpa mengucapkan apapun, hanya tangisannya bertambah kencang. Biasanya kalau Tantri menangis Bima akan berdiri dan memeluknya, tapi sekarang Bima tetap duduk dibangkunya hanya menatap Tantri dengan gusar.
"Aku sudah usaha..." Tantri masih sesenggukan. "Supaya pantas jadi pendamping kamu." lanjutnya setelah bisa mengatur nafas. Bima diam saja tidak berkomentar, dia sudah lama tidak ada rasa sama Tantri, hanya menganggap sahabat tidak lebih. Bukan karena kehadiran Magda, tapi memang hubungan mereka tidak lebih dari sahabat.
"Maaf kalau aku ternyata bikin kamu berharap lebih." kata Bima akhirnya.
"Memang kurangnya aku apa Bim? aku memang bukan orang kaya, tapi aku sudah berusaha menjadi pantas buat kamu."
"Tidak ada kurangnya Tantri, kita memang tidak berjodoh, sudah dong kamu nangis-nangis begini seperti aku siksa saja."
"Memang kamu siksa aku, baru sadar." kembali menangis.
"Iya aku minta maaf, kamu mau pulang diantar supirku ya, aku ada meeting lima menit lagi." Bima melirik jam dipergelangan tangannya.
"Kalau kamu anggap aku sahabat, seharusnya kamu tidak abaikan aku." kata Tantri memandang Bima, abaikan Bima yang menawarkan Tantri pulang diantar supirnya.
"Kamu tidak bisa terus-terusan andalkan aku Tan. Nanti cowok kamu juga bisa marah." kata Bima sadarkan Tantri.
"Berarti kamu jauhi aku karena Magda marah?" tanya Tantri.
"Siapapun pasangan aku pasti marah, bukan Magda saja, ayolah jangan kekanakan begini, apalagi kamu lulusan luar negeri, pasti lebih terbuka pola pikirnya." Bima tersenyum manis, tidak sadar kalau senyumnya itu malah bikin Tantri tidak rela melepaskan Bima.
"Tan, aku tahu kok selama ini cewek-cewek yang aku dekati menjauh karena kamu." kata Bima kemudian, Tantri sedikit terkejut tapi segera menahan air mukanya agar tidak berubah.
"Kenapa kamu diam saja?" tanya Tantri tanpa dosa.
"Ya karena aku juga belum berniat serius sama mereka." jawab Bima santai.
"Kamu... Bim, kamu beneran tidak mau serius sama aku, kamu baru kenal Magda Bim." kembali Tantri membujuk Bima.
"Hei Tantri, yang naksir kamu banyak loh, jangan begini lah."
"Kamu sudah tidak naksir aku?" tanya Tantri, Bima gelengkan kepalanya.
"Aku tuh cuma anggap kamu sahabat tahu." jawab Bima apa adanya.
"Nyakitin banget sih." Tantri memegang dadanya.
"Aku pikir selama ini kamu cinta sama aku." lanjut Tantri lirih.
"Maaf ya, makanya aku minta maaf bikin kamu berharap lebih." kata Bima tulus, merasa bersalah kasih perhatian lebih pada Tantri selama ini.
__ADS_1
"Kita saling mendoakan ya." kata Bima berbarengan dengan Gani yang kembali melongok di pintu kasih kode pada Bima bahwa meeting segera di mulai.
"Tan, aku meeting dulu, kamu mau diantar supirku ya."
"Tidak usah Bim, aku bawa Mobil." jawab Tantri segera beranjak tinggalkan Bima tanpa berkata-kata lagi.
"Drama lagi Bos?" tanya Gani, Bima terkikik geli Dan melempar Gani dengan pulpen yang ada dimejanya.
"Bacot." kata Bima bikin Gani terbahak. Mereka berdua berjalan bersama menuju ruang meeting.
"Sudah tahu kalau dia cewek tidak benar Bos?" tanya Gani.
"Aib itu Gan, tidak usah dibahas, lagian dia sahabat gue sih." jawab Bima.
"Sahabat nasehati lah Bos, Pagar makan tanaman tuh dia."
"Ish, bukan urusan gue, fokus gue Magda." jawab Bima naiki alisnya.
"Bukan sahabat kalau begitu." Gani mencibir.
"Susah Gan, dia berharap lebih sama aku, terus kalau gue buka aibnya, kasihan. Mending pura-pura tidak tahu lah. Prinsipnya kan kita tetap harus jadi orang baik, gue ikuti petuah Oma Nina." Bima merangkul Gani.
"Thanks ya Gan, selalu back up gue." Gani terkekeh.
"Disuruh." jawabnya tengil, Bima terbahak.
"Ish, itu sih tugas negara. Kenapa bisa tahu?" tanya Gani.
"Gue, apa sih yang gue tidak tahu." jawab Bima tengil.
"Tapi aku laporannya yang baik-baik kok." kata Gani membela diri.
"Ya memang cucu Papon anak baik, mana bisa lo mengada-ngada." jawab Bima, bikin Gani kembali terbahak. Memang iya mata-mata Bima dan Aca keduanya bersih tanpa cela, memang anak baik, malah Tantri yang jadi terbaca celanya.
Mereka masuki ruang meeting yang sudah dipenuhi para peserta.
"Bos Tampan yang selalu tepat waktu." komentar peserta rapat bikin Bima cengengesan.
Selesai meeting Bima segera menuju Bandara, hari ini Magda kembali ke Jakarta seperti janjinya kemarin, weekend sempatkan habiskan waktu dengan Bima.
"Besok ke rumah Ante Baen ya, habis melahirkan." kata Bima pada Magda yang sudah duduk manis di mobilnya.
"Cewek apa cowok, cari kado dulu." kata Magda.
"Cewek kembar tiga." Bima nyengir lebar.
__ADS_1
"Keluarga kamu ada turunan kembar?" tanya Magda.
"Mau nanti kita punya anak kembar?" tanya Bima jahil, Magda jadi senyum-senyum malu.
"Aku disidang sama Bang Maxim." adu Magda pada Bima.
"Karena kissing?" tanya Bima polos.
"Ih Bima." Magda memukul bahu Bima.
"Disidang kenapa?" tanya Bima lembut pandangi Magda sekilas.
"Ya karena itu." jawab Magda menutup separuh wajahnya dengan punggung tangannya. Matanya masih terlihat berkedip sesekali.
"Marah?" tanya Bima, "Aku telepon Abangmu deh, bilang kita serius."
"Tidak marah kok. Malah nyebelin komentar akhirnya." bibir Magda mengerucut.
"Bilang apa?" Bima tersenyum.
"Kalau kissing cari tempat yang tidak terlihat CCTV lah, bilang gitu terus ketawain aku berdua Kak Hilma." Magda cemberut, Bima terbahak dibuatnya. Bima menggenggam tangan Magda kemudian menciumnya.
"Disini tidak ada CCTV, Bang Maxim idenya Bagus juga." kata Bima menyeringai jahil.
"Bima jangan macam-macam, aku teriak nih." ancam Magda, Bima sekali lagi terbahak.
"Aku juga lagi nyetir sayang, mana bisa kissing, nanti ya kalau sampai rumah."
"Jangan Bima." rengek Magda.
"Kenapa? takut minta tambah ya?" tanya Bima bikin Magda lepaskan genggaman tangan Bima dan mencubit perutnya.
"Ih sakit." Bima meringis.
"Biarin..." sungut Magda manja bikin Bima tambah gemas saja.
"Magda..." panggil Bima serius sambil fokus menyetir.
"Ya..."
"Menikah cepat yuk, kapan mau ke German?" tanya Bima.
"Tunggu Bang Maxim pulang." jawab Magda pikirkan perusahaan yang sekarang sedang dipegangnya gantikan Bang Maxim.
"Lama ya, apa aku sendiri saja kesana, temui orangtua kamu dan Bang Maxim?" tanya Bima.
__ADS_1
"Serius Bim?" tanya Magda tidak percaya.
"Serius dong, masa anak orang sudah dicium bibirnya tidak dinikahi." jawab Bima bikin Magda kembali mencubit perutnya, selalu saja Bima membuat wajah Magda merah merona.