You'Re My Everything

You'Re My Everything
Sayang


__ADS_3

"Syabda Papa pergi dulu." Lucky memeluk Syabda erat, kebiasaan setiap pagi sebelum berangkat kerja pasti memeluk erat istri dan anaknya. Berhubung Kia sedang tidak di Jakarta, jadilah Lucky hanya memeluk Syabda.


"Take care Papa." jawab Syabda menepuk-nepuk bahu Papanya, ikuti kebiasaan Mama, siapa lagi. Lucky tertawa sambil mengusap bahu Syabda.


"Thank you anak ganteng Papa." jawab Lucky, bahagia sekali dengan kehidupannya saat ini yang dirasa lengkap.


"Lama sekali pelukannya, terlambat nanti kita." protes Bima yang pagi ini akan ikut bersama Lucky, sebagai Asisten Lucky mereka wakili Suryadi Corporate untuk bertemu dengan Duta Besar Jerman.


"Masih lama, Bim. Lagipula sabtu pagi tidak macet." Lucky terkekeh.


"Bang Bima ikut Papa ya?" tanya Syabda.


"Iya, jagain Papa biar tidak nakal, Abang disuruh Mama." jawab Bima jahil, Lucky langsung menoyor kepala keponakannya itu.


"Bang Bima tuh yang nakal." omel Syabda tidak terima Papanya di bilang nakal.


"Enak saja Abang kapan pernah nakal?" protes Bima.


"Itu tadi nakal, sekarang juga nakal, pokoknya Abang nakal." sungut Syabda.


"Tuh didoain anak kecil kamu." kata Nanta terkekeh.


"Eh, Syabda jangan begitu. Doakan Bang Bima jadi anak sholeh." kata Bima pada Shaka.


"Abang kan sudah gede, masa anak sholeh." protes Shaka.


"Lah, ya sudah Abang Sholeh." jawab Bima.


"Tuh tidak usah panggil Bang Bima lagi, panggilnya Bang Sholeh." sahut Aca, Syabda anggukan kepalanya sementara yang lain tertawakan Bima.


"Sue, gue serius nih. Syabda ya doakan Abang yang baik-baik." bujuk Bima.


"Nggak usah ah." jawab Shaka tengil.


"Doakan Bang Bima tuh biar cepat punya istri Sholeha." kata Dania pada Syabda yang langsung tertawa geli.


"Loh kenapa tertawa?" tanya Bima.


"Masa Abang Sholeh nama istrinya Sholeha." jawab Syabda tertawa geli.


"Bukan begitu maksudnya, gembuuul." kata Bima kesal sendiri sementara semua cekikikan dibuatnya.

__ADS_1


"Pantaaa, masa Abang panggilnya gembul." mengadu pada Panta, kalau mengadu sama Papa, percuma saja, Papanya pun suka bilang Syabda gembul juga.


"Bima kamu jangan jahili anak aku dong." Lucky mengusap lembut pucuk kepala Syabda.


"Marahin saja Bang Bima, Papa." pinta Syabda.


"Jangan dong, Kalau Papa marah-marah nanti lekas tua, mau punya Papa keriput?" tanya Bima, Syabda menggelengkan kepalanya cepat, Nanta senyum-senyum lihat kelakuan Bima dan Syabda.


"Oke, Papa kerja dulu ya." kata Lucky pada Syabda, mengecup kembali anaknya, lalu hampiri Dania juga mengecup pipi Kakaknya itu, kemudian hampiri Nanta sambil cengengesan ulurkan tangannya.


"Tidak usah cium tangan." kata Nanta menarik tangannya cepat. Lucky terkikik geli, Abang Iparnya memang suka begitu.


"Papa take care, jangan nakal-nakal." kata Syabda bikin semua terbahak.


"Papa mana pernah nakal sih, kalau nakal nanti gantengnya hilang." jawab Lucky ikut tertawa, Syabda pasti kepikiran omongan Bima.


"Titip ya Man, Pan. Syabda harus nurut sama Manta dan Panta ya." pesan Lucky pada Shaka.


"Ya Papa, call Mama kapan?" tanya Shaka.


"Nanti pakai handphone Manta." jawab Dania, ini yang bikin Lucky tenang, Dania selalu sigap jika dititipi keponakannya.


"Siapa namanya?" tanya Lucky.


"Nyonya Abimana, itu kalau kami sudah halal sih." jawab Bima bikin Lucky terbahak.


"Kalau belum halal siapa namanya?" tanya Lucky sabar.


"Magda, bagus ya Om namanya." langsung saja memuji.


"Kalau lagi jatuh cinta ya memang semuanya bagus sih." jawab Lucky, Bima pun terbahak dibuatnya. Percakapan keduanya dipenuhi tawa canda, tidak membahas pekerjaan sedikit pun.


"Apa tidak terlalu muda kalau kamu menikah sekarang ini? apalagi, belum terlalu kaya loh kamu." Lucky bercandai Bima.


"Wah sebut-sebut kaya bikin minder saja." Bima sok memelas, Lucky jadi terbahak.


"Yakin mau menikah muda, kamu tuh masih slengean loh, nanti kalau punya istri bagaimana ya, Om suka mikirin tuh, kamu sama Aca kalau jadi bapak-bapak?" Lucky terbahak.


"Ya seperti Opa Micko, Panta, Om dan Om Winner pasti, mungkin juga seperti Papon atau Ayah Eja, tapi lebih mungkin seperti Papa Lemon ya Om?" Bima cengengesan. Lucky terbahak bayangkan mertuanya yang memang konyol seperti Bima. Handphone Bima berdering, Bima langsung tersenyum saat melihat layar.


"Ya sayang..." jawab Bima, Lucky langsung cengar-cengir mendengarnya, pertama kali mendengar Bima sebut sayang begitu, wajahnya tampak sumringah.

__ADS_1


"Aku ada urusan kerjaan sebentar ya, nanti aku kerumah kamu kalau sudah selesai." kata Bima beritahukan Magda.


"Pagi ini kamu mau kemana? sama siapa? tidak usah! nanti saja sama aku, kamu istirahat dulu di rumah pagi ini." kata Bima lagi, cie-cie Lucky tambah nyengir saja ingat masa mudanya.


"Pocecip ih Abang Bima." kata Lucky dengan suara sok imut. Bima melirik Om kesayangannya sambil monyongkan bibirnya.


"Iya sayang, kamu mau makan apa memangnya? tidak usah kesana, pesan online saja." kata Bima, tidak ijinkan Magda keluar rumah.


"Eh tidak boleh begitu, anak orang di kekang." protes Lucky pelan.


"Sayang, aku bukan kekang kamu loh, semalam aku teleponan sama Bang Maxim, dia kasih pesan begitu, kamu tidak boleh pergi sendirian, aku harus jaga kamu." kata Bima pada Magda.


"Benar sayang, kamu tanya saja sama Abangmu." jawab Bima, sepertinya Magda tidak percaya.


"Kamu meragukan aku, oh sayangku aku mana pernah mengarang cerita, kita telepon Bang Maxim sekarang?" tanya Bima lagi. Lucky jahil menoyor kepala Bima.


"Om, aku lagi teleponan nih." protes Bima.


"Tutup deh, gue jadi iri dengar kamu ngobrol sama si sayang." kata Lucky, Bima langsung terbahak.


"Sayang nanti aku telepon lagi, sayangnya Om Lucky, Kak Kia lagi pergi, jadi dia iri deh dengar kita bermesraan." masih saja panasi Lucky, Bima tertawa geli, Magda diseberang juga ikut tertawa dengar ocehan Lucky dan Bima.


Tak lama Bima matikan sambungan teleponnya, Lucky pun parkirkan kendaraannya disebuah, mereka sudah masuki sebuah rumah besar, setelah Pagar dibukakan oleh security.


"Ini rumah Die Dubes Om?" tanya Bima ala-ala jermani.


"Die Dubes." Lucky terkekeh.


"Iya Om ini rumahnya?" tanya Bima bawel.


"Iya." Lucky tersenyum.


"Kok kerumahnya? bukan ke kantor?" tanya Bima kepo.


"Dia nih teman kuliah Om waktu di Inggris." jawab Lucky, Bima anggukan kepalanya.


"Eh sekarang jadi Duta Besar disini, jadi kita reuni deh pagi ini." Lucky terkekeh.


"Buset, ternyata reuni." Bima menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Lucky tertawa melihatnya.


"Sekalian bahas kerjaan Bima, Aefar siang nanti ada kunjungan ke Istana Negara." Lucky menjelaskan, Bima anggukan kepalanya. Sementara diteras sudah berdiri pria tampan yang tersenyum lebar menyambut kedatangan Lucky dan Bima.

__ADS_1


__ADS_2