You'Re My Everything

You'Re My Everything
Patungan


__ADS_3

"Ada cerita apa?" tanya Balen pada Tori setelah mereka duduk di cafe Rumah Sakit. Begitu datang tidak langsung rapat, tapi mengunjungi Oma Nina dulu. Belum ada perubahan berarti, mata Oma Nina masih terpejam walaupun dalam kondisi sadar. Kalau ada yang menangis Oma ikut mengeluarkan airmata, jika ada yang melucu Oma akan tersenyum, melihat kondisi itu, diputuskan tidak ada yg boleh menangis didepan Oma. Sekiranya tidak kuat, lebih baik tidak masuk kedalam, titip pesan suara saja, toh Oma dapat mendengarnya.


"Mantannya Bima tadi besuk Mamon." Tori pasang wajah serius, sementara yang lain menyimak dengan santun.


"Biar aja." jawab Balen santai, Tori mengeram, percuma diajak rapat kalau jawabannya begitu. Shaka menghembuskan nafas pelan sambil naikkan alisnya pada Bari.


"Kita ancam saja." kata Kia berikan saran, Balen mengerutkan dahinya.


"Memang kenapa kalau dia besuk, ndak balik lagi ini." Balen tidak peka rupanya, ia terlalu sibuk dengan enam bocah dirumahnya, jadi tidak begitu menyimak.


"Ante ih." Belin jadi kesal sendiri.


"Belum mudeng." jawab Balen, pikirnya toh hanya mantan yang membesuk, biarkan saja silaturahmi.


"Konsen dong Ante, ini si Tantri itu loh, yang Mak Lampir." Belin kembali menjelaskan.


"Oh itu, iya iya musuhan ya kalian." Balen tertawa, yang lain menatap Balen malas.


"Udah ah Ante diam aja, lanjut. Muka pada ndak enak dilihat." Balen sadar diri.


"Ya kamu dengarkan saja ya, all... sepertinya kita butuh dana segar, kita tahu kalau orang matrealistis harus disumpal pakai uang baru mau menjauh bagaimana?" Tori berikan idenya.


"Berapa?" tanya Kia.


"Kalian mau sumbang berapa? aku tiga ratus juta." jawab Tori, Richie kerutkan alisnya, Tori tidak peduli.


"Uang dari mana?" tanya Richie pada istrinya, yang lain pandangi suami istri itu bergantian


"Dari kamu." jawab Tori tanpa dosa, Bima terkikik geli, ia memilih pisah meja duduk bersama C's tapi bisa mendengar ocehan geng rusuh.


"Banyak sekali tiga ratus juta." protes Aca.


"Ck, tidak pernah baca novel atau nonton film ya? Orang tua laki-laki kasih cek minimal lima ratus juta untuk jauhkan anaknya dari calon menantu laknat." Tori menjelaskan yang lain anggukan kepala.


"Ok, aku lima puluh juta saja, uang aku pribadi." jawab Belin ikutan patungan, biar cepat beres.


"Aku seratus lima puluh juta, tuh sudah bulat lima ratus." jawab Kia, Billian gelengkan kepalanya, cewek-cewek ini berani sebut angka yang jumlahnya tidak sedikit demi kebahagiaan Bima.


"Ante berapa?" tanya Aca.


"Kalian saja dulu nanti Ante pembulatan." jawab Balen santai.


"Ya sudah Ante lima ratus juta, lebih dari cukup itu satu milyard." Billian langsung saja.


"Kalian ndak patungan?" tanya Balen pada para pria.

__ADS_1


"Ndak usah kebanyakan dia dapatnya." jawab Bari, Balen menganggukkan kepalanya saja ikuti maunya yang lain.


"Aku ada ide..." Shaka cengengesan.


"Apa?" kompak cewek-cewek buka suara.


"Ante tidak usah patungan, dia mau melahirkan." Balen mangut-mangut dengan ide Shaka.


"Jadi kalian yang gantikan Baen ya, masing-masing seratus juta?" tanya Tori.


"Kasih Lima ratus juta saja ke aku, jangan ke Tantri. Aku akan menjauhkan diri dari Bima." Richie langsung terbahak mendengar ide Shaka. Kompak semuanya mencubiti Shaka, sampai heboh tuh anak berteriak minta bantuan.


"Pssst, jangan ribut." Balen mengingatkan karena mereka di rumah sakit, walau sedang di kantin yang jauh dari ruang rawat.


"Uangnya kasih aku saja buat modal kawin." celutuk Bima sambil cekikikan setelah semuanya tenang.


"Trus nanti kamu kawinnya sama Tantri?" tanya Tori.


"Hahaha itu kocak kalau sampai kejadian." jawab Bima terbahak.


"Amit-amit, dari sekarang saja kita menjauh Dari Bima." sungut Kia, langsung saja Bima hampiri sambil mencubit gemas pipi Kakaknya itu. Musuh berat Tantri dari sekolah dulu ya Kia, karena Bima selalu bersama Kia sejak kecil.


"Jadi bagaimana nih, jadi kita sumpal pakai uang tidak?" tanya Tori.


"Tidak usah." jawab Richie cepat.


"Uang tiga ratus juta kamu kira sedikit, mending kasih sedekah ketempat yang layak." Richie ajari istrinya.


"Suami tidak mendukung istri." sungut Tori, yang lain terkikik geli. "Aku minta Papa saja." lanjut Tori beneran merajuk sama suaminya.


"Jangan lupa minta yang banyakan." malah Richie menggoda istrinya yang kadang pikirannya suka ajaib.


"Bodo ah." Billian terbahak lihat Tori seperti bocah.


"Mungkin ada cara lain?" tanya Balen menengahi. "Sebenarnya ndak semua harus diselesaikan dengan uang." kali ini Balen bijaksana.


"Kalian jangan terlalu berlebihan, aku bisa atasi sendiri kok." janji Bima pada semuanya.


"Kalau aku mau, sudah dari dulu aku tetap sama Tantri, tidak pedekate dengan a,b atau c."


"Tapi dia tuh tricky." Belin pandangi Bima.


"Pasti ada saatnya dia capek dekati aku, karena aku fokus dengan masa depanku, dia kan masa lalu." Bima tersenyum.


"Tuh, Bima betul. Percayakan pada Bima. Lagipula yang menjalankan hidupnya itu Bima sendiri, kita tidak usah atur-atur, yang penting sudah mengingatkan." Richie berikan pendapatnya.

__ADS_1


"Iya sih, Baen setuju. Sekedar saran, sodorkan aja perjanjian pisah harga kalau memang Bima berjodoh dengan Tantri nanti." dasar Balen malah bikin yang lain acungkan jempol.


"Takut miskin ya?" celutuk Cadi bikin Balen tutup mulutnya, ternyata C's ikut menyimak.


"Aduh-aduh, Baen ajak anak-anak pulang ya, bisa pintar anak Baen kalau dengar yang begini." Balen langsung panik.


"Ayo pulang." Balen langsung berdiri.


"Mam, kita kan pulangnya sama Mamon. Tadi Pap pesan begitu, tidak boleh pisah-pisah." Charlie mengingatkan.


"Oh iya, ya sudah kalian tutup kuping ya, jangan ikut pembicaraan orang dewasa." Balen peringati anaknya.


"Aku kan cuma tanya." Cadi membela diri.


"Itu urusan orang dewasa Cadi." Chandra bisikkan adiknya.


"Oh gitu, ok." ya gampang saja Cadi sok gitu ok, dari pada Charlie nanti ikutan mengomel, bisa sakit kuping Cadi.


"Jadi rapat kita sampai disini? Tidak jadi patungan?" tanya Tori lagi.


"Patungan untuk disumbangkan ke rumah yatim temannya Belin saja." Billian langsung modus.


"Untuk memuluskan hubungan kamu sama my best friend ya?" tanya Belin nyengir.


"Ih buruk sangka." Billian cengengesan.


"Bagaimana, sudah ada perkembangan?" tanya Richie pada Billian.


"Jalan ditempat, sebatas baksos datingnya." Belin tertawakan Billian.


"Ih..." Billian langsung speechless, tidak bisa berkata-kata.


"Cintaku sebatas baksos uhuuiii." mulai Bima bergaya menggoda Billian.


"Cintaku sebatas konser prikitiiiww..." lanjut sekarang Aca yang kena, semuanya jadi kembali rusuh.


"Cintaku sebatas istri orang, wakwaaw." sekarang Bari yang kena.


"Eh tunggu!" sebelum ada yang lanjut kalimat yang lain, Balen hentikan kerusuhan yang ada.


"Kenapa?" tanya yang lain bingung.


"Kamu beneran sama istri orang?" Balen pandangi Bari dengan wajah galak.


"Jangan dong Ante, itu mereka saja yang zolimi aku." jawab Bari.

__ADS_1


"Mantan Bari itu sekarang satu kantor, asistennya Ante dulu, ketemu Bari tambah cantik tapi sayang sudah menikah, wakwaaaw." Kia menjelaskan, lanjut semua rusuh tertawakan Bari, dasar geng rusuh, diruangan Oma pada menangis disini kembali rusuh seakan tidak ada masalah.


__ADS_2