You'Re My Everything

You'Re My Everything
Persiapan


__ADS_3

Lusi, Renaldo dan Mike memutuskan makan siang bersama di restoran yang ada didepan hotel mereka. Mereka menikmati makan siang mereka dengan penuh canda tawa. Lusi merasa bersyukur mendapatkan papa mertuanya yang sangat baik, meskipun dia tidak mendapati kasih sayang dari tapi dia dapat merasakannya dari papa mertuanya.


"Oh, ya apa rencana kalian nanti setelah menikah? Apakah kalian akan tinggal di rumah kalian sendiri?" tanya Renaldo pada Mike dan Lusi.


Renaldo berharap kalau Mike dan Lusi akan tetap memilih tinggal bersamanya. Karena dia akan merasakan kesepian dirumahnya yang cukup luas.


"Lusi ikuti Kak Mike saja om" jawab Lusi dengan tersenyum.


"Papa sih berharap kalian akan tetap tinggal bersama papa. Kalau kalian tinggal di rumah kalian, berarti papa kesepian disana" ucap Renaldo penuh berharap kalau Mike memilih tinggal bersamanya.


"Iya, pa. Kami akan tetap tinggal bersama papa. Sayang tidak apa-apa kan?" tanya Mike pada Lusi sambil menggenggam tangan Lusi dengan erat.


"Tidak apa-apa kak. Malahan aku akan sangat senang." ucap Lusi dengan tersenyum.


"Papa Senang mendengarnya" Renaldo merasa bahagia mendengar keputusan putranya dan calon menantunya.


Setelah mereka menikmati makan siang mereka, mereka memutuskan untuk kembali ke kantor.


***


Tidak terasa hari telah berlalu, hari ini hari yang ditunggu-tunggu oleh Lusi dan Mike. Lusi memutuskan untuk tidak pergi kerja, berbeda dengan Mike. Mike masih menyempatkan waktunya untuk kerja. Karena ada yang harus dia selesaikan dengan pekerjaannya.


"Lus, ayo kita berangkat sekarang" teriak Lusi setelah turun dari tangga.


Dibawah sudah ada Dina dan Miranda yang tampak sangat rapi. Lusi langsung keluar dari dalam kamarnya ketika mendengar suara Miranda.


"Sayang, ingat ya kamu harus hati-hati. Dan kalian harus sampai di sini sebelum sore" ucap Veby yang datang dari dapur.


"Ia, ma. Ma, kami pergi dulu ya. Oh, ya tadi Ira sudah kasih kabar kak Felix kalau kami akan ke salon. Mungkin kak Felix yang akan menjemput kami" ucap Miranda pada mertuanya ketika melihat Lusi sudah disampingnya.


Mereka bertiga langsung mencium punggung tangan Veby. Setelah permisi kepada Veby, mereka bertiga langsung keluar.


Sesampainya mereka di salon langganan mereka, mereka langsung disambut dengan baik.


"Oh, ya Tante apa semuanya sudah siap? Kami soalnya harus cepat!" ucap Miranda pada Pemilik salon yang telah menyambut mereka didepan pintu. Sebelumnya Miranda sudah menghubungi pemilik salon kalau mereka akan datang, jadi pemilik salon itu bisa lebih dulu mempersiapkan semuanya untuk mereka.

__ADS_1


"Sudah, mbak. Ayo masuk mbak" Pemilik salon itu yang langsung melayani mereka dengan dibantu pegawainya dua orang.


Mereka dituntun masuk kedalam ruangan yang khusus untuk VIP.


Ada empat pengunjung salon yang dari tadi datang, tapi Miranda, Lusi dan Dina bisa langsung dilayani. Bukan hanya itu saja, pemilik salon itu langsung ikut turun tangan. Padahal tidak biasanya pemilik salon itu turun tangan, kecuali sangat ramai.


"Ma, kenapa sih wanita itu bisa lebih dulu? Padahal kita yang lebih duluan datang" ucap Sisil dengan kesal pada mamanya.


Ternyata dua diantara empat pengunjung itu adalah Sisil dan Monika.


"Sebentar mama tanya dulu" ucap Monika yang juga kesal. Monika langsung menghampiri salah satu pegawai salon itu.


"Mbak, maaf ya kenapa mereka yang duluan dilayani? Padahal saya dan putri saya yang lebih dulu" ucap Monika dengan kesal.


"Maaf ya Bu. Ibu Miranda sudah lebih awal membooking. Mereka juga salah satu pelanggan kami yang sangat penting. Apalagi saat ini adalah hari pertunangan nona Lusi, jadi pastinya atasan saya yang menangani" jelas pegawai itu dengan sopan.


"Tunggu apa maksud kamu Lusi, gadis yang tadi?" tanya Monika yang terkejut mendengar kalau Lusi akan bertunangan.


Sisil yang juga mendengarnya tampak sangat terkejut. Dia sangat penasaran kepada siapa Lusi tunangan.


"Apa bersama Mike?" gumam Sisil.


Sisil langsung mendekati mamanya dan pegawai itu, dengan perasaan yang penasaran.


"Apa kamu yakin? Apa kamu tahu kepada siapa dia tunangan?" tanya Sisil dengan keponya.


"Tentu saja saya sangat yakin, mbak. Tapi saya tidak tahu kepada siapa mbak Lusi akan bertunangan" jawab pegawai itu.


Sisil langsung menarik mamanya keluar dari dalam salon itu.


"Ma, apa papa tahu?" tanya Sisil pada mamanya.


Sisil sudah mengetahui latar belakang Lusi. Dia tidak menyangka kalau dia dan Lusi adalah saudara tiri. Mamanya lah yang merebut papanya dari mama kandungnya Lusi. Tapi dia bersyukur kalau Papanya sangat menyayangi dirinya bukan Lusi. Dia tidak ingin berbagi kasih sayang papanya pada Lusi.


"Sepertinya papa kamu tidak tahu. Kita harus cari tahu sama siapa dia bertunangan? Atau jangan-jangan dia memang calon istri dari Mike" ucap Monika dengan mengkerutkan keningnya.

__ADS_1


"Aku tidak tahu, ma! Sebentar aku hubungi kak Bian. Mana tau dia tahu" ucap Sisil.


Sisil langsung menghubungi Bian.


"Ya, Sil! Ada apa?"


"Kak, apa kakak siapa calon tunangannya Lusi?"


"Apa maksudnya? Tunangan? Kamu tahu dari mana?"


"Aku kebetulan bersama mama ke salon. Jadi salah satu pegawai salon itu yang mengatakan kalau Lusi akan bertunangan hari ini. Berarti kakak tidak tahu? Bukannya kakak satu kantor?"


Tut...Tut...


"Ish, kak Bian ini. Kenapa dimatikan segala sih" ucap Sisil dengan kesal karena Bian mematikan teleponnya sebelum menjawab pertanyaannya. Sisil langsung menatap kearah mamanya.


"Ma, sepertinya tidak ada yang tahu kalau Lusi akan bertunangan. Lebih baik kita pulang, beritahu pada papa tentang ini" ucap Sisil.


Sisil dan Monika langsung pulang ke apartemen mereka dengan perasaan yang penasaran.


***


Di hotel Global, Bian yang mendapatkan kabar kalau Lusi akan bertunangan membuat dia sangat kesal. Saat Sisil menghubunginya Bian dan Cinta lagi bersama. Sejak kejadian hari itu, Cinta selalu datang keruangan Bian untuk menyalurkan hasratnya pada Bian. Cinta merasa candu dengan tubuh Bian yang sangat perfek baginya. Dia tidak peduli kalau dia akan hamil, karena itu adalah keinginannya supaya dia bisa mengikat Bian.


Bain langsung menghentikan kegiatannya, dia menyuruh Cinta untuk menghentikannya. Cinta pun langsung mengikuti kemauan Bian, tapi tangannya tidak bisa berhenti dia tetap mengelus dada Bian yang tegap itu.


Bian yang penuh emosi dia langsung mendorong Cinta dari atas pangkuannya. Cinta pun langsung terjatuh dengan rasa sakit. Sedangkan Bian langsung merapikan bajunya, Cinta tentu saja kaget dan penasaran siapa yang telah mengganggu dirinya bersama Bian, sehingga membuat Bian emosi.


"Kamu keluar dari ruangan ku!" ucap Bian tanpa menatap Cinta.


Cinta tampak terkejut, dia langsung mendekati Bian.


"Sayang kamu kenapa? Apa yang membuat kamu marah?" tanya Cinta sambil mengelus dada Bian.


****

__ADS_1


__ADS_2